
Raka mendapat kabar papanya masuk rumah sakit pagi ini.
Makanya setelah Raka menghadiri rapat umum pemegang saham dengan para direksi dan juga para investor, Raka langsung segera terbang ke Jakarta melihat keadaan papanya.
"Kamu baru sampai, Raka ?" tanya Hilda, mamanya Aksa yang kebetulan juga sedang berada di ruang rawat Hardi.
"Iya, Tante. Tadi harus selesaikan pekerjaan dulu soalnya." jawab Raka.
"Jangan terlalu memikirkan pekerjaan. Luangkan waktu juga untuk keluarga." ucap Hilda menyindir Aksa dan juga suaminya Aris.
"Iya Tante." jawabnya.
"Papa gimana, Ma ?" tanya Raka pada mamanya.
"Papa udah sadar, cuma lagi tidur. Jangan di bangunin dulu ya !! Kalau mau ngobrol, nanti tunggu papa bangun. Kasihan papa, biar papa istirahat dulu." ucap Mia.
"Iya, Ma."
"Kak, kondisi papa udah ada kemajuan kan ?" tanya Raka pada Aksa.
"Sejauh ini bagus, tapi lihat dua hari kedepan." jawab Aksa.
Raka mengangguk paham.
"Oh iya Raka, Om tidak lihat Ricky ? Kamu gak kasih kabar ke Ricky ?" tanya Aris.
"Aku udah ngabarin Om, tapi gak tahu deh dia masih ingat punya papa atau gak !!' jawab Raka sedikit tidak peduli.
"Raka !!" hardik Mia, mamanya.
Raka hanya diam menatap mamanya.
__ADS_1
"Sudah-sudah, kalau begitu Om sama Tante pamit dulu, sudah bukan waktunya jam kunjung pasien juga." pamit Aris.
"Iya om. Om sama Tante hati-hati dijalan."
Setelah Aris dan Hilda pulang, Aksa pun ikut pamit kembali ke ruangannya.
Saat ini tinggal Raka dan mamanya.
"Raka.." panggil Mia.
"Iya, Ma.."
"Mama gak suka ya, kamu bicara seperti itu tentang Ricky !! Bagaimana pun dia itu adik kamu !! Mama heran sama kalian berdua, semenjak beranjak dewasa, bawaannya selalu bertengkar." ucap Mia.
"Mama terlalu memanjakan Ricky, jadinya ya seperti sekarang !!"
"Raka !!!" sentak Mia tidak suka dengan jawaban anaknya.
Apapun yang Ricky lakukan, pasti akan mendapat pembelaan dari mamanya.
Bahkan saat Ricky menghamili seorang gadis saat masih SMA, mamanya yang membela Ricky mati-matian dari kemarahan sang ayah.
Sangat berbeda jauh dengan Raka.
Apapun yang Raka lakukan, akan selalu di banding-bandingkan dengan Ricky.
Itulah sebabnya Raka menjadi tidak suka dengan adiknya itu.
Dirinya lebih nyaman menjadi seorang adik bagi Aksa, daripada menjadi kakak untuk Ricky.
Tidak ingin berdebat lebih panjang dengan mamanya, dan juga khawatir jika papanya terganggu dengan keributan yang ditimbulkan, Raka memutuskan untuk segera keluar dari ruang rawat papanya.
__ADS_1
"Raka harus pergi menemui kak Aksa. Ada yang harus Raka bicarakan." ucap Raka sekalian pamit.
Tidak ada jawaban apapun dari mulut sang mama.
Tapi Raka sudah tidak heran dengan sikap mamanya yang seperti itu. Maka Raka pun langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari mamanya.
Seperti biasa, Raka langsung masuk begitu saja ke ruang kerja Aksa. Membuat si pemilik ruangan sedikit terkejut.
"Kebiasaan Lo !!" protes Aksa.
"Udah kak, jangan nambah sakit kepala gue deh !!"
Aksa mengerutkan dahi memperhatikan ekspresi Raka, kemudian berjalan mendekati Raka yang sudah tidur terlentang di atas sofa.
"Kenapa lagi ?" tanya Aksa.
"Biasa lah, kak !!"
"Ribut lagi sama Tante Mia ?" tanya Aksa lagi.
"Hhm.."
"Karena Ricky lagi ???"
"Udah ah, kak !!! Gue mau tidur !! Pusing gue !!" ucap Raka bangkit dari tidurnya.
"Lho, katanya mau tidur ?!" ucap Aksa heran.
"Iya !! Gue tidur di kamar Lo ya..." jawab Raka langsung berjalan menuju kamar pribadi Aksa tanpa menunggu persetujuan Aksa.
Bersambung,
__ADS_1