
"Bu ! Kenapa Bu ? Siapa yang telepon, ada apa ? Katakan pada saya, Bu... ada apa ?" Lena mengguncang tubuh Citra yang masih kaku. Hanya pelupuk mata nya yang meneteskan air mata. Citra tidak menjawab pertanyaan Lena, malah berhambur memeluk Lena, dan terisak disana.
Sedangkan Hilda, tangan nya begitu gemetar saat sambungan telepon terputus. Bibirnya pun kelu. Dia bahkan tidak sadar jika menantunya juga sedang menangis di sampingnya. Entahlah, tidak sadar, atau hatinya terlalu kacau untuk sekedar menengok ke arah lain ?
Citra pun sama, kakinya masih lemas, dia bahkan tidak kuat menopang badannya untuk bangun. Hingga Lena harus membantunya.
Lena bingung dan mulai cemas melihat merek berdua yang tiba-tiba berekspresi seperti itu. Apa sebenarnya yang terjadi ? Lena tidak bertanya apa-apa lagi, dia hanya menepuk punggung Citra, berusaha menenangkan tangisannya.
"Tarik nafas, Bu. Saya ambilkan minum dulu." Baru Lena melepaskan diri dari pelukan Citra, untuk kemudian bangkit mengambil air minum, tiba-tiba Hilda lemas dan jatuh pingsan.
"Astaga !!! mama !" Pekik Citra, kaget. Dia bergegas mengangkat tubuh Hilda ke atas sofa, di bantu dengan Lena.
Bodyguard cantik itu segera berlari mengambilkan air minum dan minyak kayu putih untuk Hilda. Lena menyuruh Citra untuk minum terlebih dahulu, sementara sebelah tangannya yang lain mendekatkan minyak angin itu ke hidung Hilda, berharap cara itu bisa menyadarkannya dari pingsan.
Citra meneguk air putih di tangannya, lalu dengan gugup memijat kaki Hilda juga mengipasi Hilda.
Apa yang harus dia lakukan ?
"Sebenarnya siapa yang menelepon tadi, Bu ?"
Hilda belum sadar, sedang Lena beralih menatap Citra. Bosnya itu selalu saja tidak mau berterus terang.
"Mulai sekarang panggil aku Citra saja ya, Len." Ucap Citra belum menjawab pertanyaan Lena. Dia sengaja mengalihkan pembicaraan dengan membahas topik lain. Lena membuang nafas berat.
"Oke, Cit. Sekarang bilang sama aku, siapa tadi yang telepon ? Ingat Citra, Untuk keadaan yang di penuhi bahaya seperti ini, kalau kamu menyayangi suamimu, kalau kamu menyayangi keluargamu, dan kalau kamu menyayangi dirimu sendiri, jangan terbiasa menutupi apapun dariku atau kepada yang lain yang benar-benar peduli dan khawatir dengan keselamatan mu. Mengerti ?" Sentak Lena. Kesabarannya benar-benar sudah hampir habis.
Mendengar Lena berbicara seperti itu kepada nya, membuatnya tersentak dan kaget. Meski dia sadar, apa yang di katakan Lena selalu benar. Dia terlalu egois menyimpan semuanya sendiri. Tidak memikirkan orang lain yang sedang berjuang menyelamatkan hidupnya.
"Mami Rachel yang menelepon ku. Dia nangis-nangis memohon untuk tidak dilaporkan ke polisi karena ternyata dia juga terlibat dalam kasus pembunuhan Ibuku." Belum selesai Citra bercerita, air matanya sudah menggenang.
__ADS_1
"Kamu tahu siapa mami Rachel bagiku, Len ?" Tanya Citra parau.
Lena menggeleng pelan.
"Aku menganggapnya sudah seperti ibu kedua ku. Karena dulu, saat aku butuh biaya untuk pengobatan ibu, mami Rachel yang selalu membantu ku." Citra menarik nafas sebelum dia melanjutkan lagi kata-kata nya.
"Aku tidak menyangka hanya karena uang, dia mau di suruh untuk ikut andil dalam pembunuhan ibu. Dia tega melakukan itu padaku, padahal aku tidak pernah punya salah pada mami Rachel. Kenapa dia tega mengambil ibuku dari sisiku ? Apakah nyawa ibuku semurah itu ! Mereka sudah mengambil satu-satunya orang yang aku miliki di dunia ini. Hanya demi imbalan uang. Lalu Karena takut aku akan melaporkan nya ke polisi, dengan entengnya dia mengakui semua kesalahannya dan meminta maaf. Apa itu setimpal ?" Citra kembali terisak.
"Cit..." Jemari Lena menyentuh pundak Citra. Entah Lena mau mengatakan apa, lidahnya pun kelu. Hatinya ikut sedih melihat Citra yang selalu di permainkan perasaannya.
"Terkadang dunia memang tidak adil, Cit. Kita harus kuat, untuk bisa bertahan. Musuh tidak pernah datang dari orang yang tidak kita kenal. Tapi sebaliknya, mereka adalah orang yang paling dekat dengan kita."
"Sabar ya Cit..." Lena menepuk-nepuk pundak Citra, menenangkan.
Sesaat Citra merasakan tangan Hilda bergerak. Dia segera menghapus air matanya. Hilda mengerjapkan matanya. Citra bangkit, menopang tubuh Hilda membantunya untuk duduk.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Tadi Amanda telepon, katanya papa Aris kecelakaan. Keadaannya kritis." Terang Hilda parau.
Kesedihan nampak jelas di wajahnya.
"Apa ?!" Jerit Citra, berusaha menguasai dirinya yang hampir saja kehilangan kesadaran.
Dadanya sesak, tidak tega membayangkannya, apa dia kuat memberitahu hal ini pada Aksa ? Kenapa ini harus terjadi sekarang ?
"Siapkan mobil, Len." Ucap Citra pelan, berusaha untuk tetap tegar menahan gempuran hebat yang terus menggedor-gedor jiwanya.
***
"Pa.. Papa !!!" Amanda terus berteriak di samping Aris, mengguncang tubuh yang penuh darah itu, membiarkannya dengan pasrah di bawa oleh para perawat dan dokter memasuki ruang UGD.
__ADS_1
Kepala Aris mengucurkan darah begitu banyak, tangan dan lengannya terkena pecahan kaca mobil. Dia masih belum bisa berpikir dengan jernih. Kenapa dan bagaimana semua itu bisa terjadi ?
Saat itu mobil melaju dengan normal, sampai Amanda merasa ada yang membuntuti mereka. Dia meminta Aris untuk menambah kecepatan tapi saat melewati belokan tajam, tiba-tiba rem blong dan untuk menghindari tabrakan dengan mobil lain, Aris membanting setir ke arah berlawanan yang malah membuat mobil mereka menabrak tiang listrik.
Amanda juga terluka, tapi tidak separah Aris.
Amanda ketakutan, dia teringat kejadian saat kedua orang tuanya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Kini takdir memaksanya untuk merasakan de ja vu itu lagi.
Dia duduk menekuk kedua lututnya, merapatkan tubuhnya di samping kursi. Kedua tangannya menutupi wajahnya. Dia menangis sejadi-jadinya. Kenapa bukan dia saja yang terluka parah ? Kenapa ?!
"Arghhh !! Tuhan, tolong jangan hukum aku dengan cara seperti ini ! Bagaimana aku akan mampu menatap Aksa ? Bagaimana aku bisa melihat dia semakin membenciku ? Dia pasti akan menyalahkan ku. Tidak ! Aku tidak salah ! Aku tidak tahu apa-apa soal ini !" Amanda masih terus meracau sampai ada suster yang datang menanyakan dimana keluarga Pak Aris.
Dengan susah payah Amanda bangkit, dalam keadaan sangat kacau. Perutnya tiba-tiba sakit, sakit sekali. Amanda berusaha menarik nafas panjang, mengatur emosinya.
"Saya akan menelpon keluarganya, sus." Katanya pelan.
"Baik, segera ya Bu. Kami butuh persetujuan untuk segera di lakukan tindakan operasi, karena Pak Aris mengalami pendarahan hebat di otaknya."
Mendengar itu membuat Amanda semakin lemas. Hampir saja dia jatuh sebelum dia berpegang pada kursi dan perlahan duduk disana.
Dengan tangan gemetar dia pun menelepon Hilda.
.
.
.
Bersambung,
__ADS_1