Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Kecemburuan Aksa


__ADS_3

Sementara di Indonesia, Aksa baru saja keluar dari ruang operasi. Asistennya mengatakan jika Roy menghubungi ke rumah sakit mencari dokter Aksa.


Aksa langsung berlari ke ruangannya, segera mengambil ponselnya. Karena ia tahu, jika Roy sampai menghubungi rumah sakit pasti ada hal yang penting.


"Hallo Roy, bagaimana keadaan Citra ?" tanya Aksa yang langsung menghubungi Roy begitu membaca pesan dari Roy.


"Dia terpukul banget, butuh dukungan." adu Roy.


"Gue berangkat kesana sekarang !!"


"Jangan Sa !! Lebih baik Lo urus disana. Citra minta pemakaman ibunya di samping makam ayahnya. Lo bisa urus itu disana, biar gue urus pemulangan jenazah dari sini. Gue udah sampein ke Citra, dan dia ngerti.' ucap Roy.


"Makasih banyak, Roy. Bisa gue ngomong sama Citra ?" tanya Aksa.


"Bentar,"


Kemudian Roy memberikan ponselnya pada Citra yang masih terisak di samping jenazah sang ibu.


"Cit, Aksa mau ngomong !"


Citra meraih ponsel Roy.


"Hallo Mas..." suara Citra bergetar dan air mata Citra kembali tumpah saat berbicara dengan sang suami.


"Sayang... ikhlaskan ya!! Ingat, kita sudah berusaha selebihnya Tuhan yang punya kuasa." ucap Aksa.


"Tapi... Aku sudah gagal, Mas... Aku tetap gak bisa buat ibu sembuh !!' Citra semakin terisak.


Aksa semakin tersiksa memikirkan keadaan Citra disana. Saat ini dirinya benar-benar ingin memeluk Citra.


"Gak sayang... kamu gak gagal !! Kamu udah lebih dari cukup selama ini berjuang untuk kesembuhan ibu !!"


Citra tidak menjawab, ia hanya bisa menangis tersedu-sedu.


"Sayang, aku akan mengurus semuanya disini. Dan disana akan di urus oleh Roy. Aku akan menunggu mu disini. Apa kamu tidak keberatan ?" tanya Aksa.

__ADS_1


"Iya.. terima kasih untuk semuanya, Mas."


"Jangan ucapkan terima kasih padaku. Ini tanggung jawabku sebagai suami mu !! Kamu yang kuat dan tegar ya sayang. Itulah Citra yang aku kenal. Ingat sayang, ibu sudah bahagia disana !!" balas Aksa berusaha menenangkan Citra.


Panggilan pun berakhir.


***


Tepat pukul 18.30 jenazah tiba di Bandara Halim Perdana Kusumah.


Aksa sudah menanti sang istri tercintanya dan juga sahabatnya.


Saat sosok Citra terlihat sedang di rangkul oleh Roy berjalan di belakang mengiringi peti jenazah yang akan di masukkan ke Ambulance, Aksa segera menghampiri mereka.


Aksa sebenarnya sangat tidak suka melihat Roy yang terlalu dekat dengan Citra, namun dia berusaha mengabaikan perasaan itu karena dia sadar ini bukan waktu yang tepat untuk cemburu.


Saat ini Citra memang sangat butuh sandaran.


"Sayang... Your strong, oke !!" bisik Aksa sambil mengecup kepala Citra.


Ia hanya merasakan sesak di dadanya, mengingat tentang perjuangannya, saat ia bekerja di malam hari dan siang harinya dia menjaga ibunya.


Ingin rasanya dia berteriak pada dunia ini, yang tidak pernah adil kepadanya.


Citra benar-benar lelah tapi dia harus tetap terlihat kuat di depan orang-orang yang selalu meremehkannya.


Jenazah tiba di rumah duka yang sudah dipersiapkan Aksa.


Satria datang melayat dengan kedua orang tuanya. Satria sempat beradu pandang dengan Aksa, namun Satria mengabaikannya. Dia fokus pada Citra dan menghampiri Citra.


Melihat itu, Aksa langsung menarik tubuh Citra lebih dekat dengannya dan melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Citra.


Hal itu tentu menjadi pusat perhatian para tetangga. Pasalnya mereka belum tahu jika Citra sudah menikah.


"Mas... jangan seperti ini. Malu, banyak yang lihatin !!" protes Citra dengan tingkah Aksa.

__ADS_1


"Ssstt... udah, biarin aja !! Toh, yang lain juga udah tahu aku suami kamu !" Jawab Aksa.


"Hah !"


"Aku harus menjagamu dan anak kita dari superhero KW itu !!" bisik Aksa.


Citra mengerutkan dahinya.


"Superhero KW ?" tanya Citra mengulangi ucapan suaminya.


"Itu si Satria Baja Hitam menuju kemari !!" ucap Aksa.


"Astaghfirullah... Mas !!" Citra hanya bisa beristighfar dengan kecemburuan suaminya yang suka datang tidak tepat waktu.


"Citra... Aku turut berdukacita." ucap Satria saat sudah berhadapan dengan Citra dan Aksa.


"Iya, Sat... terima kasih !" jawab Citra.


"Boleh aku membantu untuk memakamkan ibumu ?" tanya Satri.


"Si-," belum sempat Citra menjawab, Aksa sudah memangkas ucapannya.


"Sudah ada aku suaminya, dan beberapa orang yang akan membantu !" tolak Aksa.


"Oh, baiklah kalau begitu." Ucap Satria lalu menjauh.


Dan lagi-lagi Citra hanya bisa menghela nafas.


.


.


.


Bersambung,

__ADS_1


__ADS_2