
Pertemuan pun berakhir dengan kepergian Mami Rachel.
Roy dan Citra pun segera kembali ke kamar rawat ibu Nurul karena sudah terlalu lama meninggalkan ibunya.
Namun saat Citra dan Roy mau masuk ke dalam, Citra sedikit bingung karena ada banyak perawat dan dokter yang berada di kamar rawat ibunya.
Deg!
Dada Citra mulai sesak, dan jantungnya mulai panik. Ia masuk ke kamar rawat dan betapa terkejutnya dia melihat tubuh sang ibu sudah di tutup dengan kain putih.
Para dokter dan perawat menghampiri Citra dan Roy dengan mimik wajah sendu.
"We're sorry, the patient had a post-op complication. And we were late to save the patient. At precisely 11.20 p.m., Singapore time, a patient in the name of Nurul Rahmawati died." Ucap sang dokter.
(Maafkan kami, Pasien mengalami komplikasi pasca operasi. Dan kami terlambat menyelamatkan pasien. Tepat pukul 11.20 waktu Singapura, pasien atas nama Nurul Rahmawati meninggal dunia.)
"Gak .... Ibu .... Ibu !!!" lirih Citra.
"Citra... yang ikhlas, Cit !" ucap Roy.
"Gak... Gak !!! Ini cuma mimpi kan, Roy ??? Iya kan !!!" teriak Citra.
__ADS_1
"Tadi ibu masih tersenyum, masih bercanda sama kamu, kamu lihat kan tadi, iya kan Roy ?!" oceh Citra sambil membuka kain putih penutup jenazah ibunya.
"Citra... " lirih Roy yang sangat tidak tega melihat Citra seperti ini.
"Ibu... Bangun Bu, ini Citra udah datang !! Ibu jangan tidur terus dong, Bu !! Baru Citra tinggal sebentar, masa ibu marah sama Citra !!" ucap Citra sambil mengguncang tubuh ibunya yang sudah pucat.
"Ibu ... Bangun, Bu !!!" pekik Citra semakin kuat dengan air mata yang sudah membanjir.
"Citra... cukup !! Ikhlaskan ibu Nurul, setidaknya beliau bisa tenang disana. Bukankah kamu ingin ibumu tidak sakit lagi ? Sekarang ibumu sudah tidak sakit lagi disana, sudah tenang Cit !!" ucap Roy.
"Gak !!! Bukan ini yang aku mau !!! Aku mau ibu sembuh, Roy !!! Sudah sejauh ini, ibu udah sehat kok tadi. Ini pasti cuma mimpi. Iya kan, Roy ??? Iya kan ??? Jawab Roy !!! Ini cuma mimpi kan ???" teriak Citra histeris kali ini mengguncang-guncang lengan Roy seolah menuntut jawaban.
"Ibu... bangun, Bu... Katanya ibu mau lihat cucu ibu. Citra belum melahirkan, ibu bangun yuk, Bu !!" lirih Citra di samping jenazah ibunya.
"Kenapa ya Allah, baru saja aku bahagia. Aku memiliki ibu, suami dan anak dalam kandunganku. Tapi secepat ini Kau ambil ibuku..." batin Citra.
Roy meninggalkan Citra keluar untuk menghubungi Aksa, namun ponselnya tidak dapat di hubungi.
"Argh... sial !! Kemana sih Lo, Sa ?" gerutu Roy.
Roy pun mencoba menghubungi pihak rumah sakit, ternyata Aksa sedang berada di ruang operasi.
__ADS_1
Roy pun mengirimkan pesan kepada Aksa, berharap setelah selesai operasi Aksa membaca pesannya. Roy pun segera kembali menemani Citra.
Tak lama seorang perawat datang menanyakan pada Roy untuk prosesi pemakaman jenazah mau di bawa ke Indonesia, atau mau di makamkan di pemakaman Singapura.
Roy meminta jawaban Citra, dan Citra ingin ibunya dimakamkan di samping makam ayahnya.
"Bisakah jenazah ibu aku bawa ke Indonesia untuk dimakamkan di samping makam ayahku ?" tanya Citra masih terisak.
Roy mengangguk.
"Aku akan mengurus semuanya, Cit !"
"Terima kasih, Roy !! Apa Mas Aksa akan kesini ?"
"Aksa sedang di ruang operasi. Aku sudah mengiriminya pesan. Tapi, jika kamu ingin jenazah ibumu di makamkan di Indonesia, sebaiknya biar Aksa saja yang mengurus disana dan aku akan mengurus pemulangan jenazah ibumu ke Indonesia." papar Roy.
Citra mengangguk sambil menatap wajah pucat ibunya yang tersenyum tidak bergerak.
Citra masih ingat senyum ibunya saat bersenda gurau dengan Roy beberapa saat yang lalu.
Tuhan memang selalu membuat hidup Citra bagaikan sedang menaiki wahana rollercoaster. Disaat Citra sedang merasa di atas dengan kebahagiaan atas kesembuhan sang ibu, juga atas kehamilannya, tiba-tiba Tuhan langsung menjatuhkannya ke bawah tanpa persiapan apapun dengan kepergian ibunya.
__ADS_1