Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Kesedihan Amanda


__ADS_3

Satria duduk di tepi ranjang menatap nanar Amanda. Entah kenapa dia mengasihani wanita di depannya itu. Mata Amanda sembab, dia pun masih sesenggukan. Menekuk kedua lututnya, mendekapnya dan membenamkan kepalanya di atas lutut.


Amanda memang belum menceritakan apapun dan mereka pun enggan untuk bertanya. Namun sepertinya dia amat sangat terluka.


Satria bangkit mendekati lemari pakaian dan mencari sesuatu yang bisa di pakai Amanda.


Roy yang berdiri di ambang pintu menatap heran ke arah Satria.


Namun tak bisa di pungkiri juga, Roy pun merasa kasihan pada apa yang Amanda alami.


"Anak malang. Otaknya sudah di cuci oleh pamannya sendiri, hingga membuat kehidupan nya hancur."


Ya, Roy sudah mendengarkan rekaman yang diberikan Amanda saat tadi mereka baru sampai di rumah.


"Pakailah, kamu bisa membersihkan dirimu dulu. Siapa tahu bisa sedikit lega. Kami akan menunggu diluar." Tangan Satria mengulurkan kemeja putih milik Aksa, karena di lemari itu sudah tidak ada pakaian Amanda sama sekali.


Setelah resmi bercerai, Aksa sudah membersihkan semua hal yang berhubungan dengan Amanda dari rumah itu.


"Terima kasih, Sat." Ucap Amanda memaksakan senyumnya.


"Sama-sama, mandilah. Kami keluar dulu."


***


Aksa memutar tubuhnya menatap Amanda. Menatap kedalam matanya. Aksa bisa melihat ada banyak kesedihan disana. Aksa tahu, kali ini Amanda benar-benar sedih.


Matanya masih merah, dengan ragu Amanda hendak menyandarkan kepalanya di bahu Aksa, tapi dia ingat mereka bukan lagi suami istri. Aksa juga pasti tidak akan mengijinkannya. Lagipula Amanda tidak mau membuat Citra salah paham jika melihat mereka.


Aksa seperti bisa menangkap bahasa tubuh Amanda. Dia bereaksi berbeda . Dia duduk di samping Amanda menghadap ke depan. Saat ini wanita itu butuh seseorang. Seseorang yang bisa menjadi sandaran baginya walau hanya sebentar untuk melepaskan semua rasa yang berkecamuk dalam hatinya. Wanita itu tidak memiliki siapa-siapa lagi sekarang kecuali dirinya untuk berbagi kesedihan.


"Cerita lah ! Aku akan menjadi pendengar yang baik malam ini." Ucap Aksa tanpa menoleh untuk melihat Amanda.

__ADS_1


Amanda masih menatap Aksa tidak percaya. Bagaimana mungkin Aksa masih bersikap baik terhadapnya setelah semua yang telah terjadi di antara mereka.


Lalu Aksa menepuk-nepuk bahunya sendiri.


"Jangan banyak berpikir. Bersandar lah kalau butuh sandaran. Aku tidak akan menawarkan untuk kedua kalinya."


Dengan ragu Amanda mendekatkan kepalanya dan bersandar di bahu Aksa. Dia juga mulai menggamit lengan Aksa, lalu menangis disana. Aksa berusaha untuk mengerti keadaan Amanda saat ini. Meski dalam hatinya berulang kali dia meminta maaf kepada Citra karena sudah melanggar kesepakatan mereka.


Ya, Aksa memang sudah menceritakan semuanya kepada Citra. Aksa bahkan izin untuk menemui Amanda. Citra mengizinkan karena disana juga ada Roy dan Satria. Dan Citra juga masih punya hati yang tidak Setega itu membiarkan Amanda dalam keadaannya sekarang. Maka ia pun harus berlapang dada, membiarkan sang suami untuk pergi.


"Aku tahu Om Darius jahat, tapi aku tidak menyangka dia yang telah menyabotase kematian orang tua ku." Amanda mulai membuka suara.


"Dia melakukannya hanya karena harta warisan kakek yang sebagian besar di berikan kepada papa dan mama ku. Dia benar-benar kejam !"


Aksa masih terus mendengarkan dengan tatapan lurus ke depan, melewati gelapnya malam.


"Tapi yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa semua kebenaran yang sudah aku yakini selama bertahun-tahun, sampai merubahku menjadi orang jahat dan harus merusak hubungan kita, bahkan aku juga sampai kehilangan kamu, semuanya adalah bohong ! Dia menjadikanku boneka yang sangat hina ! Aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri !" Jerit Amanda menumpahkan segalanya.


"Darius sialan ! Kamu juga sialan, Sa ! Dia hampir meniduriku ! Untung obat yang Roy kasih bereaksi tepat pada waktunya. Aku akan benar-benar membunuhnya jika dia berhasil menggagahiku !"


Amanda memukul lengan Aksa berkali-kali.


"Maaf, hanya dengan cara itu agar Darius tidak curiga dan kita bisa tahu semuanya." Jawab Aksa pelan. Untuk itu dia memang merasa bersalah.


"Iya, karena itu aku sampai hilang kendali. Aku pukul kepalanya dengan cas bunga berkali-kali. Aku sangat membencinya!" Geram Amanda.


"Tapi semua yang ku lakukan, aku tidak menyesalinya. Tua bangka itu, dengan santainya bilang bahwa dia sangat mencintai mama. Karena cemburu dan iri mengetahui kebanyakan harta kakek diberikan pada papa, membuatnya berhasrat untuk membunuh mereka. Lalu dia menuduh Om Aris sebagai pelakunya. Aku benar-benar ingin mencincangnya hidup-hidup !"


"Iya, aku tahu. Dia juga yang sudah sengaja membunuh papaku. Lagi-lagi hanya karena harta dan jabatan. Besok bukti-bukti nya akan di serahkan Satria ke kantor polisi." Aksa memberitahu.


Amanda menatap lekat wajah Aksa.

__ADS_1


"Terima kasih telah membiarkan ku tahu semuanya. Terima kasih karena telah memberikan ku kesempatan kedua. Terima kasih karena sudah melepaskan ku, tidak memasukkan ku ke penjara." Ucap Amanda lirih. Dia masih memunggungi Aksa tak berani menatap Aksa.


"Jika Om Darius tidak membodohiku, kita pasti masih jadi suami istri, hidup bahagia bersama anak-anak kita. Aku akan sangat bersyukur karena memiliki mu. Tapi... Aku menyia-nyiakannya. Membuatmu pergi begitu saja."


Aksa menyentuh pundak Amanda yang kembali berguncang.


"Sudahlah, kamu bisa mendapatkan yang jauh lebih baik daripada aku. Kamu cantik, dan sebenarnya hatimu juga baik." Kata Aksa.


Amanda menghapus air matanya dan menoleh menatap laki-laki di depannya, laki-laki yang sangat dia cintai namun bukan suaminya lagi.


Meski dia tahu, melepaskan Aksa sama saja melepaskan sebagian hidupnya, namun dia menyakini jika mungkin memang ini yang terbaik untuk semuanya.


"Aku janji akan berubah menjadi wanita yang lebih baik dari aku yang dulu, Sa ! Aku akan membiarkanmu dan Citra hidup bahagia. Aku sudah merelakan mu untuknya. Aku janji, aku juga akan bisa bahagia bersama laki-laki lain nanti." Bibirnya bergetar saat mengucapkan semua itu.


Apa yang di katakan Amanda membuat Aksa terenyuh. Dia tahu betapa kalimat itu sangat berat untuk di ucapkan, tapi Amanda berhasil mengucapkannya tanpa air mata.


Dengan ragu Aksa menarik Amanda ke dalam pelukannya.


"Sekali ini saja, Cit... Aku hanya ingin menenangkan nya, membesarkan hatinya yang sudah sangat hancur. Dia tidak punya siapa-siapa lagi. Maafkan aku karena menemaninya malam ini hingga membuat liburan kita sedikit berantakan." Desah Aksa dalam hati.


"Aku yakin kamu bisa hidup lebih baik lagi setelah ini." Ucap Aksa.


Amanda mengangguk di dada Aksa. Jemarinya meremas baju Aksa, sekuat tenaga menahan diri agar tidak menangis. Karena ini untuk yang terakhir kalinya dia menikmati bau parfum Aksa, menikmati kenyamanan dalam dekapan Aksa yang menenangkan dan hangat, untuk yang terakhir kalinya bisa sedekat ini, dan untuk yang terakhir kalinya sebelum berpisah.


Wanita malang yang di permainkan oleh takdir. Kehilangan cinta dan hidupnya karena keserakahan laki-laki pendendam yang bejat !


.


.


.

__ADS_1


Bersambung,


__ADS_2