Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Dokter Posesif


__ADS_3

Pagi ini Aksa mengajak Citra untuk sarapan di luar sekaligus Aksa ingin mengajak Citra berbelanja untuk kebutuhan rumah dan semua keperluan Citra.


Pukul 10.00 pagi mereka sampai di sebuah mall.


Mereka pun segera masuk dan mencari restoran seafood karena saat ini Citra sedang ingin makan menu itu.


Aksa mengajak Citra duduk di bangku paling pojok di samping dinding kaca karena pemandangannya lumayan bagus.


Disana juga ada sekelompok penyanyi yang di sewa untuk menghibur para pengunjung di restoran itu.


...Tak kan lelah aku menanti,...


...Tak kan hilang cintaku ini......


...Hingga saat kau tak kembali,...


...Dan ku kenang di hati saja....


Citra menikmati sekali alunan lagu yang di nyanyikan oleh penyanyi disana, melamun menatap sayu sang gitaris yang berada jauh di depan panggung.


Citra teringat saat pertama kali Satria menyanyikan lagu itu dengan memainkan gitar akustik kesayangannya di acara pentas seni sekolah.


"Pertama kali aku dengar lagu ini waktu aku SMA, mas." celetuk Citra sambil menyantap menu makanan yang sudah terhidang dengan penuh rasa syukur.


"Citra ! Kamu disini juga ? Sudah lama ?" Seorang pria tiba-tiba menyapa Citra, yang tak lain adalah Satria.


"Satria..." dengan penuh senyuman Citra membalas sapaan Satria yang sudah lama tak pernah ia jumpai.


Seketika itu juga Aksa langsung menghentikan makannya dan berdiri.


"Pulang sayang !" dengan wajah memerah menahan amarah, Aksa menggandeng tangan Citra menjauh dari Satria.


"Aksa, sebentar..." Satria mencoba menahan mereka meski hanya sebentar.


"Apa kamu ?" Aksa memegang kerah baju Satria bersiap menghantamnya.


"Mas, jangan !! Sudah mas..." Citra mencoba menghentikan Aksa.


"Ayo kita pulang." Ajak Citra.


Mereka pun langsung pergi tanpa memperdulikan Satria.


Selama perjalanan, Aksa hanya diam dengan muka dan juga mata yang masih memerah karena kejadian tadi.


"Mas, kita makan di tempat biasanya aja ya... tadi belum juga kenyang." rayu Citra.

__ADS_1


Aksa hanya diam tak menjawab dan semakin menaikkan kecepatan mobilnya hingga tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di tempat parkir apartemen.


"Mas... sampai segitunya marah sama aku." Citra menggandeng tangan Aksa saat terburu-buru menuju unit apartemen mereka.


Aksa pun langsung menuju ke kamar dan tidur memunggungi Citra.


"Maafkan aku mas, aku gak sengaja teringat Satria. Dan Satria itu...,"


"Stop !!! Jangan sebut nama superhero KW itu lagi di depanku !!!"


"Iya mas, maaf... Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Citra memeluk Aksa yang kembali memunggungi nya.


"Dasar Dokter posesif." batin Citra.


***


Aksa mengerjapkan mata, suara alarm dari ponsel yang tergeletak di atas nakas di dekat ranjang, menimbulkan suara dan getaran yang cukup membuat Aksa merasa terganggu hingga akhirnya terbangun.


Namun Aksa masih diam tak beranjak satu senti pun. Terlebih saat ia merasakan sebuah kepala yang masih menempel rapat di dadanya. Juga dengan aroma manis dari rambut hitam itu, membuat Aksa seakan terhipnotis dan ingin terus berlama-lama.


Bibir tipisnya mengecup lembut puncak kepala Citra, menyesap aroma memabukkan yang menyeruak dari tubuh Citra.


Ya, Citra adalah candu bagi Aksa.


"Jangan ulangi lagi, Cit. Kamu boleh menusukkan ribuan pedang di tubuhku sayang, tapi jangan membuatku cemburu. Itu sangat-sangat menyiksaku sayang. Kamu milikku !! Bukan hanya tubuh dan hatimu, tapi aku ingin hanya aku satu-satunya laki-laki yang akan kamu pikirkan." Batin Aksa.


"Apa kamu tahu ? Betapa sakitnya hati ini disaat kamu sedang bersamaku dan tiba-tiba kamu mengingat kenangan indah dengan lelaki lain. Itu menandakan aku masih belum memenangkan hatimu seutuhnya."


Citra melenguh begitu merasa lidah Aksa mulai bertingkah semakin nakal.


Perlahan Citra mulai membuka matanya tapi tidak berniat untuk menolak ciuman suaminya.


"Si Dokter sudah gak marah lagi." Gumam Citra dalam hati.


Tangan kurus Citra kini melingkar mesra di leher kokoh sang suami, lalu kembali memejamkan matanya menikmati setiap ciuman.


Citra merasa tergelitik ketika tangan Aksa melingkari pinggang rampingnya.


*******-******* yang beralih menjadi begitu liar membuat Citra mulai kewalahan.


Dan Aksa cukup mengerti akan hal itu dan memilih untuk menyudahi pertarungan lidah mereka.


"Sudah ? Sudah bangun sayang ?" tanya Aksa memastikan.


Citra mengerucutkan bibirnya yang mungil dan menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Aksa.

__ADS_1


Ah ! Rasanya Aksa bisa gila.


Sesekali Citra memang harus di beri sedikit peringatan bahwa Aksa tidak bisa menerima alasan apapun itu jika menyangkut kedekatan Citra dengan lelaki manapun selain dirinya. Meski itu hanya masa lalu, teman, atau pun kenangan.


Karena Aksa berkeyakinan bahwa tidak ada hubungan pertemanan lawan jenis yang murni hanya pertemanan.


"Terima kasih karena sudah tidak marah lagi padaku, mas. Yakinlah, hati dan hidupku hanya untuk kamu. Tolong jangan pernah ragu akan hal itu." ucap Citra dengan suara parau.


"Siapa yang ragu ? Aku marah karena aku cemburu. Dan aku cemburu karena aku cinta." timpal Aksa.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar mereka. Mungkin itu Lena.


Citra segera turun dari ranjang untuk membuka pintu, sementara Aksa langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Ada apa, Len ?" Tanya Citra saat melihat Lena yang berdiri di depan kamarnya.


"Ada Pak Roy, Bu. Nyari bos Aksa." jawab Lena.


Citra melirik ke arah jam dinding di kamarnya. Baru pukul 07.00 pagi.


"Oke. Tolong siapkan sarapan untuk Roy juga ya Len. Biar dia menunggu." pinta Citra.


"Iya, Bu." jawab Lena sembari undur diri. Sementara Citra masih berdiri disana menatap kepergian Lena.


Citra baru menyadari, meski Lena hanya memakai daster biasa tapi Citra bisa tahu, tubuh dan perawakannya bukan seperti pembantu pada umumnya. Tapi kehadiran Lena benar-benar membantunya.


Citra kembali menutup pintu kamar dan mendapati Aksa sudah selesai mandi dengan selembar handuk yang melilit pada tubuhnya, dari bawah pusar sampai pangkal paha.


Citra mengulum senyum, tubuh suaminya itu lebih menawan dari pada model-model majalah dewasa.


Tapi ia menyembunyikan kekagumannya dan memilih berlalu ke kamar mandi karena dia juga harus membersihkan dirinya.


"Oh iya, diluar ada Roy, Mas." tiba-tiba kepala Citra menyembul dari balik dinding kaca kamar mandi.


"Iya sayang. Hari ini aku ada urusan penting dengan Roy. Nanti kalau urusannya susah selesai, aku mau ajak kamu periksa kandungan. Memastikan kondisi junior dalam keadaan sehat." Terang Aksa sambil tangannya sibuk mengancingkan kancing kemejanya.


"Iya Mas." Jawab Citra dengan sedikit berteriak dari dalam kamar mandi.


.


.


.


Bersambung,

__ADS_1


__ADS_2