
Sesuai perintah, Roy segera bertindak. Tapi terlebih dahulu, dia menghubungi Leo untuk menanyakan apakah ada perkembangan tentang penyelidikannya di Singapura.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Baru saja Roy ingin menghubungi Leo, ponselnya berdering dan menunjukkan nama Leo di layar ponselnya.
"Ya, Leo... Bagaimana ?" Tanya Roy saat panggilan sudah terhubung.
"Saya sudah mendapatkan sebuah bukti yang anda minta. Silahkan periksa email anda, saya sudah mengirimkan semuanya." Jelas Leo.
"Baik, kerja bagus ! Terima kasih Leo. Aku akan segera memeriksanya." Ucap Roy dan panggilan pun terputus.
Di dalam basecamp nya, Roy sedang mengamati semua bukti yang di kirimkan Leony dengan seksama.
Flashback On
Dengan susah payah, Leony berhasil menaruh beberapa kamera di rumah dan kantor rumah sakit milik Raka.
Untuk bisa masuk ke dalam rumah Raka, Leony menyewa seorang wanita malam di tempat yang biasa Raka kunjungi saat sedang bergairah.
Leony juga berhasil menyadap ponsel Raka. Tapi Raka termasuk orang yang cerdik.
Entah dia sadar dengan adanya kamera pengintai di ruangannya, atau memang dia memiliki tingkat keberuntungan yang tinggi, Raka selalu saja luput dari pantauan kamera. Dan dari ponselnya juga tidak di temukan panggilan atau pesan yang membahas tentang kematian Bu Nurul.
Sampai suatu hari ada panggilan dari seseorang bernama Rachel. Leony menyadari siapa itu Rachel. Dia pasti Mami Rachel yang sempat di bicarakan oleh kliennya.
Karena seseorang bernama Rachel itu menghubungi Raka dengan tujuan meminta uang tutup mulut yang kedua, Leony mengambil kesimpulan jika mereka memiliki sebuah hubungan pekerjaan yang sangat penting, yang tidak boleh bocor keluar.
Kesimpulannya itu sangat mendasar, karena Raka tidak keberatan mentransfer uang senilai 200 juta ke rekening Rachel dengan sempurna.
Leony kembali memutar otaknya, mencari celah untuk bisa menciptakan bukti baru. Karena dia sangat yakin jika bukti dari rekaman cctv di rumah sakit itu sudah tidak ada.
Petunjuk utamanya adalah Charlotte, dan dia sudah mati. Leony berpikir lagi, petunjuk berikutnya adalah teman atau istri Charlotte, salah satu dari mereka pasti ada yang tahu.
Leony memiliki seorang teman yang bekerja di sebuah kantor yang menangani data kependudukan di tempat tinggal Charlotte.
Lewat bantuan temannya itu, dia memiliki akses cepat untuk menemukan tempat tinggal Charlotte dan istrinya.
__ADS_1
Leony datang kesana dan menemui istrinya Charlotte yang bahkan tidak tahu jika suaminya sudah meninggal.
Leony pun menceritakan semuanya dan memberikannya sejumlah uang untuk dia gunakan setelah pergi dari tempat ini.
Leony hanya membutuhkan identitasnya untuk meringkus pelaku pembunuhan suaminya.
Istri Charlotte sedang hamil 8 bulan. Dia memutuskan untuk pergi ke rumah orang tuanya karena sudah berminggu-minggu Charlotte tidak pulang. Dan saat dia sedang mengemasi pakaiannya, dia menemukan sebuah surat yang di tulis Charlotte sebelum dia pergi menjalankan misinya.
Dalam surat itu tertulis, jika dirinya tidak kembali, Charlotte meminta istrinya untuk menemui seseorang dan meminta sejumlah uang. Dalam surat itu juga terselip foto Raka. Tapi karena takut dan khawatir dengan keselamatan bayinya, dia tidak pernah menemui Raka.
Maka Leo yang akan menyamar dan menemui Raka. Dia butuh bukti yang lebih kuat lagi.
Leony menyamar sebagai istri Charlotte, kaki tangan Raka yang mengeksekusi kematian Bu Nurul. Untuk mendukung penyamarannya, Leony memesan topeng kulit dari Rusia yang di buat semirip mungkin dengan wajah istri Charlotte. Leony juga membuat identitas palsu berdasarkan KTP istri Charlotte. Penyamarannya sempurna. Dia juga harus berpura-pura hamil, menyuntikkan sesuatu ke dalam perutnya hingga membesar layaknya orang hamil sungguhan.
Penyamaran tidak boleh cacat sedikitpun.
Hari itu Raka pulang ke rumahnya pukul 10 malam. Leo sudah menunggu di depan rumahnya. Tapi untuk berjaga-jaga, Leo sudah menempatkan beberapa orang bayarannya di sekitar rumah Raka untuk menolongnya jika dia terancam.
"Siapa kamu ?" Tanya Raka pada wanita di hadapannya.
"Saya istri Charlotte." Jawab Leoni menyerahkan identitasnya dan juga buku nikah sebagai bukti bahwa omongannya benar.
"Siapa Charlotte ?" Tanya Raka lagi sembari menyodorkan kembali identitas Leony.
"Anda jangan berpura-pura tidak mengenalnya. Sebelum suami saya pergi, dia menuliskan sebuah surat dan saya baru menemukannya kemarin." Terang Leo, menyodorkan surat dari Charlotte yang palsu, karena yang asli sudah Leo simpan. Ia menyalin surat itu dengan meniru tulisan tangan Charlotte dan hasilnya sama persis.
Raka menerimanya dengan ekspresi yang masih datar.
"Di dalam surat itu terselip foto anda." Leony melanjutkan.
Raka menatap sekeliling dan beralih menatap Leoni.
"Masuklah, di luar dingin. Kita bicarakan di dalam." Ucap Raka lalu berjalan mendahului Leony.
Leony berpura-pura batuk, itu tanda bahaya yang ia kirimkan ke anak buahnya yang sudah memperhatikan dari balik semak-semak.
__ADS_1
"Baiklah, disini memang dingin." Ucap Leony sembari berjalan mengikuti Raka.
Leony tidak terlalu khawatir karena dia sudah menyiapkan kunci duplikat rumah Raka, agar anak buahnya bisa dengan mudah menolongnya. Feeling nya mengatakan Raka pasti akan mengunci pintunya.
Raka meminta Leony untuk duduk di kursi ruang tamu. Dia pergi sejenak untuk membuat minuman. Dirumah besar ini Raka hanya tinggal sendiri.
Dia berjalan dari arah dapur membawa sebuah nampan dengan gelas berisi jus jeruk. Jika tidak sedan dalam penyidikan sebuah kasus pembunuhan berencana yang mana Raja adalah tersangka, Leony pasti akan terperdaya oleh wajah polos itu. Raka memang memiliki wajah yang cukup tampan, pembawaan dirinya juga kalem. Siapa yang mengira jika dia otak dari pembunuhan itu ?
Dari awal Leony datang hingga detik Raka duduk di depannya, laki-laki ini masih bersikap ramah. Benar-benar lihai.
"Minumlah dulu." Raka mempersilahkan.
Leo tidak langsung menuruti, bisa saja sudah di taruh racun di dalamnya. Tapi jika dia meminumnya, Raka akan curiga.
Tapi laki-laki di depannya ini malah tersenyum dan meraih gelas Leo lalu meneguk minuman tadi.
"Apa kamu kira ada racun di dalamnya ?" Tukas Raka saat melihat raut muka Leony yang berubah takut.
"Berapa uang yang kamu minta ? Kamu pasti butuh uang, kan ?" Tanya Raka.
Leony mengangguk. Dia tidak ingin banyak bicara. Perlahan Leo menggerakkan tangan kirinya masuk ke dalam tas dan menyalakan tape recorder, ia harus merekam semua yang dikatakan Raka.
"Setelah suamiku meninggal, aku perlu biaya untuk persalinan dan kehidupan ku selanjutnya. Seharusnya anda akan memenuhi semua kebutuhanku, karena suami menghilang setelah melakukan pekerjaan dari anda." Leony menjalankan perannya dengan baik.
Dia harus memancing Raka untuk mengatakan sesuatu tentang pembunuhan itu.
"Baiklah, berapa yang kamu minta ?" Tanya Raka masih dengan ketenangan yang sama.
"1 juta dolar Amerika." Jawab Leony lebih berani.
Raka kembali tersenyum tapi tiba-tiba tangannya menarik rambut Leo dengan kuat. Leony memegangi rambutnya, merintih kesakitan. Wajah yang tenang itu berubah menakutkan bagai hewan buas dengan taring tajam yang siap mengunyah mangsanya hidup-hidup.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung,