
Berani-beraninya kamu mengkhianati ku, dan masih berlagak sok baik ?!" Emosi Aksa sudah sampai ubun-ubun.
"Aku tidak mengkhianati mu, kak." Bohong Raka lagi.
Aksa meninju hidungnya, membuat darah segar keluar dari sana.
"Aku tidak akan berhenti memukulmu sampai kamu mengakuinya sendiri. Meski bukti yang aku miliki sudah cukup membuatmu di penjara !" Bentak Aksa, menyeret tubuh Raka dan mendudukkannya di sebuah kursi kayu.
"Katakan, cepat !" Perintah Aksa dengan satu kali bentakan membuat Raka kaget.
Namun ternyata itu tidak cukup membuat Raka bicara jujur, bahkan wajahnya sudah babak belur.
Aksa mengangkat kursi kayu di sampingnya hendak memukul Raka dengan kursi itu.
"Sa !" Roy mendekat dan menyentuh pundak Aksa saat melihat sahabatnya itu mulai hilang kendali. Aksa melempar kursi itu ke samping, menimbulkan suara bedebum yang sangat keras. Raka ketakutan. Matanya tertunduk kebawah tidak berani menatap Aksa.
"Syitt !" Umpat Aksa saat melihat celana Raka basah.
"Bawa dia ke kamar mandi, Roy. Setelah itu masukan ke dalam bersama preman-preman itu."
***
Amanda mengendap-endap, berjalan melewati rumah kosong tua berdinding kayu. Dia mengintip dari lubang-lubang dinding. Amanda terbelalak syok mengetahui di ruang depan ada Aksa, Roy, satu orang laki-laki yang tidak dia kenal, dan juga ada Ricky.
Entah kenapa Amanda merasa kecewa mengetahui Ricky telah mengkhianatinya lagi. Di banding Aksa, Ricky yang lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya. Apa karena itu juga, kemarin dia menolak saat di ajak bertemu ? Katanya sedang bisnis di luar kota, nyatanya disini ! Pikiran Amanda kalut. Dia beralih berjalan lagi mencari sebuah kamar, siapa tahu Raka ada disana.
Jantung Amanda mau copot saat melihat Raka di ikat pada sebuah kursi dengan kondisi yang menyedihkan. Amanda sendiri ngilu melihatnya. Wajahnya memar dan berdarah-darah di mana-mana.
Amanda mengusap kasar wajahnya. Dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sebentar..." Dia berpikir lagi, memutar otak, siapa tahu masih ada jalan.
Akhirnya dia memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk mengintai di sekitar lokasi, jika ada kesempatan, mereka harus mengeluarkan Raka, jika tidak biarkan saja. Daripada menimbulkan masalah baru. Amanda berjalan jongkok, pelan... pelan... hingga ke mobil. Hari ini dia syok berkali-kali. Besok dia akan menjalankan rencana B.
***
Sebuah pesan masuk dari Amanda.
[Pa, Aksa sudah tahu semuanya. Manda memang salah dari awal sudah membuat onar. Sekarang Manda bingung, Manda takut jika Aksa akan melaporkan Manda ke polisi. Tolong cegah Aksa, Pa. Besok Manda akan menginstruksi untuk mengadakan pertemuan dewan direksi, semua saham akan saya kembalikan kepada papa.]
Aris membaca pesan itu, senyuman menghiasi pipi yang mulai ada guratan garis-garis karena umur.
Apa kesalahan yang Amanda buat, hingga Aksa melaporkannya ke polisi ?
__ADS_1
Aris pun mengirim pesan balasan.
[Papa tidak janji, Manda. Besok papa akan coba berbicara dengan Aksa. Papa tidak tahu kejahatan apa yang sudah kamu lakukan, tapi akan papa usahakan untuk berbicara dengannya.]
Aris meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.
***
Amanda menghubungi semua dewan direksi. Dia akan menjalankan rencananya. Amanda sudah menunggu di dalam ruangan rapat. Dia sudah tidak memikirkan Darius yang akan marah jika Amanda memberikan semua saham kepada Aris. Amanda sudah mentok, pikirannya buntu.
Beberapa saat kursi-kursi pemegang saham itu terisi penuh, Aris juga datang. Disusul Darius di belakangnya. Amanda menarik nafas panjang melihat Darius melirik aneh ke arahnya. Dia sudah siap.
Amanda memulai rapat itu tanpa Aksa. Kata Aris, Aksa masih ada urusan di luar sehingga tidak bisa hadir.
"Baik, saya akan langsung saja. Kemarin-kemarin saya berniat memindahkan posisi direktur rumah sakit ini kepada paman saya. Akan tetapi, terjadi beberapa hal hingga membuat saya mengurungkan niat saya itu. Saya akan memindahkan semua saham saya untuk papa Aris." Amanda menatap pamannya, terlihat sekali Darius tidak menyukainya.
"Baik, Bu Amanda, kami akan mengurus semuanya." Jawab salah satu dewan direksi.
Rapat selesai, semua berhambur keluar ruangan.
Aris mendekati Amanda, duduk di sampingnya dan mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih, Manda." Ucap Aris.
"Nanti jika Aksa pulang papa akan membicarakannya dengan Aksa. Papa juga akan memberitahu Aksa tentang putusan rapat ini. Semoga saja dengan itu bisa sedikit melunakkan hatinya." Jawab Aris.
"Semoga saja begitu. Hanya papa yang bisa membantu Manda sekarang. Manda benar-benar minta tolong, Pa." Matanya berkaca-kaca. Kali ini Amanda benar-benar takut.
Dari balik pintu yang sedikit terbuka, Darius menatap tajam ke arah Amanda dan Aris yang masih berada di dalam ruangan rapat. Entah apa yang ada di pikirannya.
"Tunggu saja pembalasanku !"
...
Setelah rapat usai, Amanda memutuskan untuk langsung pulang. Baru saja dia akan memasuki mobil, saat tiba-tiba matanya melihat keempat ban mobilnya bocor.
"Kok bisa bocor barengan gini, sih ?"Gerutunya. Padahal dia harus cepat. Dia juga harus menemui Mami Rachel, ada sesuatu yang harus dia bahas dengan wanita itu. Dia tidak mau germo itu mencuci tangan begitu saja.
Baru saja Amanda mau memesan taksi online, Aris muncul dari balik punggungnya.
"Kenapa, Manda ?"
Amanda kaget dan menoleh.
__ADS_1
"Ban mobil Manda bocor, Pa." Jawab Amanda singkat.
Mata Aris beralih menatap ban mobil Amanda. Benar, empat-empat nya bocor.
Sesaat Aris terlihat berpikir sesuatu.
"Mau bareng papa saja ?" Tanya Aris menawarkan.
Amanda berpikir Aris sedang kegirangan sampai tiba-tiba bersikap baik padanya. Yah, biarkan saja ! Nanti kapan-kapan bisa direbut lagi.
"Oke, Pa. Antarkan Manda ke King's Club saja ya." Ucap Amanda.
Kening Aris bertaut mendengar tempat yang akan Amanda datangi.
"Manda ada sedikit urusan disana, Pa." Lanjutnya seakan mengerti arti tatapan mantan ayah mertuanya.
Amanda pun langsung menyusul Aris memasuki mobil.
***
Saat ini Citra sedang berada di rumah Hilda, bersama Lena.
Semalam Aksa mengabari tidak bisa pulang ke apartemen. Dia meminta Citra dan Lena untuk pergi ke rumah orang tuanya dulu.
Citra tentu saja dengan senang hati segera bersiap dan berangkat.
Dan siang ini ketiga wanita itu menghabiskan waktu bersama, cukup menyenangkan. Rumah jadi ramai.
Tiba-tiba ponsel Hilda dan Citra berdering secara bersamaan. Mereka sempat tertawa bersama, merasa lucu. Sampai akhirnya mengangkat telepon masing-masing, dan...
"Apa ?!" Tidak mungkin, itu tidak mungkin terjadi ! Saya akan segera kesana !" Jerit Hilda. Air matanya sudah tumpah.
Sedangkan Citra, wajahnya berubah pucat, rahangnya mengeras. Toples kacang yang dipegangnya pun jatuh, menumpahkan isinya berhamburan di lantai.
Tuhan, kenapa cobaan itu datang bertubi-tubi ?
.
.
.
Bersambung,
__ADS_1