
Setelah selesai sarapan bersama di apartemen Aksa, Aksa dan Roy langsung pamit karena ada sesuatu yang harus mereka urus.
"Sayang, aku pergi dulu. Kamu istirahatlah dirumah. Nanti sore kita ke dokter untuk mengecek kondisi junior." ucap Aksa saat Citra mengantarnya sampai depan pintu.
"Iya, Mas. Kalian hati-hati ya..." jawab Citra sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Lena, tolong pastikan istri saya baik-baik dirumah." ucap Aksa pada Lena yang berada di belakang Citra.
"Baik Bos." jawab Lena.
Aksa dan Roy pun akhirnya segera pergi di ikuti tatapan mata Citra sampai punggung suaminya menghilang dari pandangan.
...
Hari ini Aksa meminta Roy untuk menemaninya bertemu dengan pengacara barunya, yang tidak lain adalah Satria.
Aksa tahu ini bukan ide yang bagus, tapi menurut rekomendasi dari beberapa orang kepercayaan Aksa, kemampuan kerja Satria cukup bagus. Jadi dia mengesampingkan egonya dan menjalin kerja sama dengan Satria, karena Pak Edi pengacara lamanya sudah berkhianat, bersekongkol dengan Amanda. Tidak mungkin dia terus menggunakan jasa orang yang diam-diam menusuknya dari belakang.
Selain itu, Aksa juga sebenarnya mempunyai tujuan khusus. Ia ingin membuktikan pada Satria bahwa dirinya benar-benar serius akan menjadikan Citra satu-satunya wanita yang akan menjadi teman hidupnya.
__ADS_1
Aksa, Roy dan Satria membuat janji bertemu di kantor Satria, pukul 10.00 pagi dan mereka sampai tepat waktu.
Aksa pun menjelaskan maksud dan tujuannya, meminta bantuan Satria untuk mengurus perceraiannya dengan Amanda, dan ingin melayangkan surat gugatan cerai hari itu juga.
Tekadnya sudah bulat.
"Baiklah, aku akan mengurusnya." Satria menyanggupi.
Meski dadanya bergemuruh, setidaknya dengan Aksa menceraikan Amanda, itu akan menjadikan Citra satu-satunya wanita dalam hidup Aksa. Harusnya Satria ikut senang dengan hal itu meski itu artinya kisah perjuangan cintanya terhadap Citra pun sudah tutup buku. Tamat !
"Soal kemarin, maaf. Aku hanya ingin menegaskan kepada setiap laki-laki yang menyimpan perasaan terhadap Citra, bahwa Citra kini sudah menjadi istriku, dan hanya milikku. Kenangan kalian biarlah menjadi kenangan, masa lalu... ya sudah ! Biarkan jadi masa lalu. Masa depannya kini sudah berbeda. Tolong mengerti... dia jodohku, bukan jodohmu." Tangan Aksa menepuk pundak Satria pelan dan berlalu meninggalkan nya seorang diri di ruang kerjanya.
Satria tersenyum getir mencerna semua perkataan Aksa yang terasa begitu menusuk.
***
"Sial !!!" Amanda mengumpat kesal, merobek-robek dengan penuh amarah lembaran surat yang baru saja ia terima dari tukang pos.
Amanda sedang berada di luar kota, dan dia akan disana selama beberapa hari.
__ADS_1
Tiba-tiba saat dia sedang istirahat, ada kiriman pos atas nama dirinya dari pengadilan Agama, surat gugatan cerai dari Aksa.
Dia bangkit dari tempat duduknya dengan marah, membuang semua alat make up di depannya hingga berserakan.
"Jangan harap kamu bisa menceraikan ku, Aksa !!"
Gundukan gunung dalam dirinya meletus sudah, mengeluarkan lahar panas yang menyiksa hatinya.
Dia harus melakukan sesuatu. Amanda mulai berpikir keras, memutar otaknya.
"Ahaa !!" Amanda berteriak kegirangan.
Jemari lentik Amanda menekan beberapa tombol di layar ponselnya, menghubungi seseorang.
"Aku yakin ini pasti akan berhasil !!!"
.
.
__ADS_1
.
Bersambung,