
"Lo gak pulang ?" Tanya Roy menghampiri sahabatnya itu yang kini sedang duduk di ambang pintu. Aksa masih belum bisa memejamkan matanya.
Sedangkan Ricky dan Satria sudah tertidur di depan pintu kamar, tempat mereka menyekap Raka dan 4 preman itu.
Aksa duduk menekuk kedua kakinya, menyandarkan kedua tangannya di atas lutut.
"Gue ingin segera menyelesaikan ini semua, Roy. Kasihan Citra jadi ikut memikirkan ini. Tapi, gak tahu kenapa tiba-tiba gue jadi teringat bokap."
Pandangan Aksa menatap jauh melewati kegelapan di depannya.
Entah apa yang menjadi sekat di antara mereka berdua. Hubungan ayah dan anak itu sudah seperti itu semenjak Aris menikahkan Aksa dengan Amanda.
"Om Aris itu sebenarnya baik, Sa. Cobalah untuk memaafkannya dan bicaralah pelan-pelan agar kalian bisa mengerti satu sama lain." Roy menyentuh pundak Aksa.
"Lo bener, tapi tumben banget Lo jadi bijak ? Kesambet apaan ?" Ucap Aksa sedikit menggoda Roy.
"Sialan Lo !" Roy menyenggol lengan Aksa, membuatnya tertawa lirih.
Kemudian dokter tampan itu tersenyum, dia lupa menyadari sesuatu, tanpa keberadaan Roy, dirinya akan pincang sebelah.
"Makasih, Bro !" Ucao Aksa.
Roy menatapnya tidak percaya, menyentuh kening Aksa yang bahkan tidak panas.
"Lo sakit, ya ?" Gantian Roy yang di buat heran.
"Ya, Sa-..." Kalimatnya terkesan karena Aksa mendengar suara gerakan dari arah kamar tempat Raka di sekap. Aksa dan Roy saling tatap. Tanpa berkata apa-apa mereka meloncat bangun dan bergegas menuju kesana. Roy mengguncang tubuh Satria dan Ricky hingga terbangun.
"Sepertinya ada penyusup !" Ujar Roy, membuat Ricky dan Satria yang masih setengah sadar langsung berubah waspada. Aksa berusaha membuka pintu itu dengan kunci. Mungkin karena gugup jadi membuat pintu itu susah di buka. Akhirnya Aksa mendobrak pintu itu. Menabrakkan tubuhnya berkali-kali hingga pintu terlempar jauh menabrak salah satu orang yang berusaha melepas ikatan tangan Raka.
"Ah, sial !!!" Umpat Raka. Tinggal sedikit saja dan dirinya bisa lolos.
Anggotanya yang lain sudah berhasil melepaskan ke empat preman itu. Kini mereka berempat harus melawan kurang lebih 15 orang.
perkelahian sengit pun terjadi.
__ADS_1
Empat melawan lima belas. Seimbang kah ? Tentu tidak ! Tapi ke empat pria tampan itu tentu memiliki keterampilan bela diri yang tidak main-main, hingga orang-orang suruhan Amanda itu mulai kewalahan mengahadapi mereka.
Aksa semakin berapi-api. Dia meraih kursi dan memukulkannya kepada mereka satu persatu. Meninju wajah dan perut mereka berkali-kali. Bahkan sekarang dia tidak peduli jika harus membunuh mereka. Dia juga sudah tidak takut kehilangan gelar dokternya. Dia terlalu muak dengan semua ini.
Roy berbalik arah, mencari sesuatu di laci meja. Ada seseorang yang mengikutinya, dia kembali melompat dari atas meja dan memukulinya dengan keras. Tubuh orang itu terjengkang ke belakang, kepala menabrak dinding kayu. Setelah dia jatuh dan masih berusaha untuk berdiri, Roy menemukan senjatanya. Tanpa pikir panjang Roy menarik pelatuk senjatanya dan menembak orang-orang tadi tepat di pangkal kaki mereka, melumpuhkan mereka satu persatu.
Satria langsung menelpon polisi, dia sudah tidak sabar jika harus menunggu besok atau nanti.
Mendengar kata polisi membuat Raka menegang. Dia berusaha memutar otak bagaimana caranya agar bisa kabur.
Aksa berlari keluar untuk membantu Ricky. Roy menyusul di belakang Aksa. Ricky kurang fokus akibat luka di punggungnya yang sempat terkena tendangan. Itu teramat sakit, rasanya seperti terbakar. Membuatnya di hajar habis-habisan oleh ketiga orang yang melawannya.
"Heiii !!!" Teriak Aksa marah, melihat Ricky yang tak berdaya di tendang dan di pukuli oleh mereka.
Aksa berlari cepat dan menendang mereka dengan kuat, membuat mereka terhuyung jatuh. Roy menembak mereka satu persatu tepat di pahanya, membuat mereka meraung kesakitan.
Aksa langsung membantu Ricky berdiri, memapahnya untuk kembali masuk ke dalam basecamp. Membaringkannya di ranjang kayu tanpa kasur. Ricky meringis menahan sakit yang menjalar melemaskan tubuhnya. Baru saja Aksa ingin mengecek luka Ricky, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Ya, sayang ?" Jawab Aksa berusaha tenang saat tahu yang menelepon adalah Citra.
"Sayang ? Ada apa ?"
Roy dan Ricky ikut khawatir dan menunggu suara Citra. Mereka semakin cemas karena Citra tak kunjung bersuara. Sampai akhirnya terdengar suara Kena yang mengambil alih telepon.
"Maaf pak Aksa, Pak Aris mengalami kecelakaan, sekarang kondisinya kritis dan harus segera di operasi. Pihak rumah sakit menunggu persetujuan keluarga. Saya, Bu Citra dan Bu Hilda sudah berada di rumah sakit. Kami menunggu bapak."
Kedua bola mata Aksa memerah. Hujan yang tak pernah turun itu mulai menghadirkan gerimis, ponsel yang di pegangnya terjatuh dan di tangkap oleh Roy. Dia menjawab mewakili Aksa.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk pak Aris, Lena. Aku akan segera kesana." Roy menutup telponnya.
Memandangi Aksa yang tiba-tiba duduk meringkuk di bawah meja, matanya basah. Layaknya anak kecil yang baru saja kehilangan sesuatu yang berharga. Hati Roy pun ikut hancur melihat Aksa terpuruk seperti itu.
"Sa, Lo harus cepat ke rumah sakit, sebelum semuanya terlambat." Desis Roy, mengatakan dengan pelan dan setenang mungkin.
Tanpa menjawab, Aksa langsung menyambar kunci mobilnya dan segera pergi.
__ADS_1
Setelah kepergian Aksa, tubuh Roy seketika ambruk. Semuanya seperti sedang memusuhi Aksa dan Citra, menguji kekuatan Cinta mereka.
Roy memeluk lengannya dan menangis dalam diam disana. Dia juga bisa merasakan apa yang Aksa rasakan. Sedangkan Ricky, tatapannya menatap langit-langit, sudut matanya menjatuhkan tetesan bening itu. Baginya Aris adalah lebih dari ayahnya sendiri. Dadanya sesak, terlalu sesak hingga dia melupakan rasa terbakar pada punggungnya. Dengan tangan gemetar, dia berusaha bangkit. Dia harus ke rumah sakit sekarang.
***
Aksa sampai di rumah sakit. Hilda pun langsung berhambur memeluk putranya. Citra bisa melihat kesedihan di mata suaminya. Dia tidak mampu melihat mata itu mengeluarkan air mata. Dia menarik nafas dan menyeka air matanya. Dia harus menjadi kekuatan untuk suaminya. Saat ini bukan saatnya menjadi beban.
Beberapa saat setelah Aksa datang, Ricky berjalan dengan susah payah berpegangan pada dinding rumah sakit, berusaha menyeret kakinya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
Lena segera berlari menghampirinya, melingkarkan lengan Ricky di pundaknya dan memapahnya berjalan.
Setidaknya karena Lena sudah tahu siapa Ricky.
"Rick, sebenarnya apa yang terjadi ?" Tanya Citra saat Lena sudah berhasil membawa Ricky ke dekat mereka.
Namun, tak menjawab pertanyaan Citra, Ricky berpaling kepada Aksa.
"Gue Yakin yang mencelakai Om Aris adalah Darius !" Kata Ricky tiba-tiba.
"Lo tahu dari mana ?" Sergah Aksa.
"Gue dan Om Aris sudah lama menyelidiki bahwa sebenarnya Darius menginginkan posisi Direktur rumah sakit. Dan kalau tidak salah, hari ini Amanda sudah menyerahkan saham nya kepada Om Aris, mengembalikan jabatan Direktur itu kepada Om Aris, demi Om Aris mau berbicara dengan Lo untuk tidak melaporkannya ke polisi." Terang Ricky sambil menahan rasa sakit di punggungnya.
"Asal Lo tahu, Sa ! Amanda jadi jahat juga karena hasutan dari Darius yang mengarang cerita kepada Amanda bahwa yang membunuh orang tuanya adalah keluaran Sanjaya. Padahal itu hasil sabotase Darius sendiri." Ricky melanjutkan.
Hilda hanya diam mendengarkan tanpa menyahut.
"Kenapa Lo baru memberitahu gue sekarang ?"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung,