
Pagi-pagi sekali Roy sudah datang ke apartemen Aksa saat Citra dan Aksa sedang sarapan. Aksa meminta Roy untuk ikut makan, sementara Citra berjalan ke dapur mengambil piring dan sendok dan Roy.
"Isi bensin dulu, Bro !" ajak Aksa.
"Biar kuat mengahadapi kenyataan kalau Lo jomblo akut... hahahaha " cibir Aksa di sertai tawa lebar membuat Roy kesal.
"Suami, istri sama aja !! Suka bikin orang emosi !!" Gerutu Roy dengan nada pelan.
"Kan kita sehati !!" timpal Aksa melirik Citra yang muncul di belakang punggungnya. Aksa meraih tangan Citra dan mencium punggung tangan istrinya itu.
"Ishh... pamer lagi !!" ucap Roy memalingkan wajahnya seakan sudah bosan melihat adegan 21+ setiap hari.
"Seru kayaknya kalau kamu cepetan nikah, Roy ! Aku jadi punya teman dan gak akan ganggu kamu lagi deh !!" ucap Citra puas melihat raut wajah Roy seperti tomat rebus, merah berapi-api karena kesal di ledek terus.
"Hahahaha... sudah, sayang. Jangan di bully terus, ntar dia nangis. Aku butuh tenaga nya seharian ini." ucap Aksa.
Citra hanya terkekeh.
"Maafin ya, Roy..." ucap Citra sambil mengatur tempat duduknya di samping Aksa.
"Hhmm..." Roy menanggapi.
"Bagaimana progres kerja kita ?" tanya Aksa beralih ke topik lain.
Ini sudah masuk ranah pekerjaan, Citra tidak mau ikut campur.
Tangan Aksa langsung menghentikan tangan Citra yang hendak menyiapkan makanan untuk Roy. Tatapannya seakan ingin mengatakan, biarkan Roy melakukannya sendiri.
Citra lupa bahwa suaminya itu sangat pencemburu, termasuk pada Roy, orang kepercayaannya.
"Gue sudah menemukan beberapa tempat yang harus kita kunjungi, melihat apakah disana ada sesuatu yang kita butuhkan." jawab Roy dengan kalimat seakan-akan mereka akan melakukan perjalanan bisnis.
Aksa dan Roy memang tidak ingin Citra tahu tentang sesuatu yang sedang mereka rencanakan.
Mereka sudah selesai sarapan dan kini sedang bersiap untuk perjalanan bisnis. Helli milik Roy sudah menunggu di atap apartemen.
Aksa sudah memberitahu Citra bahwa dirinya ada urusan sebentar di Singapura. Citra pun berusaha untuk mengerti.
"Jangan lupa kunci pintu. Kalau tiba-tiba butuh makanan yang aneh-aneh, delivery saja. Itu lebih aman untuk kamu. Dan satu lagi, jangan menerima tamu, siapapun itu !" pesan Aksa pada Citra, memperingatkannya. Mewanti-wanti Citra untuk lebih waspada.
"Jadilah istri penurut !!" Aksa mengecup bibir mungil Citra dan langsung pergi.
...
Dalam dua jam perjalanan, Aksa dan Roy sudah sampai di rumah sakit tempat ibu Nurul menjalani operasi di Singapore. Ia sudah menghubungi Raka sebelum kesini, meminta bantuan Raka untuk mengumpulkan semua staf rumah sakit yang ikut terlibat dalam penanganan ibu Nurul dari sebelum operasi sampai sesudah.
Dengan perantaraan Raka, Aksa dan Roy di perbolehkan memasuki ruangan kontrol kendali keamanan di rumah sakit ini untuk memeriksa rekaman cctv beberapa hari yang lalu.
"Hai Kak Aksa, Kak Roy.." sambut Raka.
"Apa semua sudah siap ?" tanya Aksa tanpa basa-basi.
"Siap dong kak." jawab Raka yakin.
"Emang Lo yakin, kak Roy ? Kalau mertua lo ada yang bunuh ?" tanya Raka pada Roy.
"Kalau gue gak yakin, gue gak bakalan minta tolong sama Lo !!" jawab Roy kesal.
__ADS_1
"Terus yang gue masih penasaran sampai sekarang, ada hubungan apa istri Lo sama kak Aksa ? Apa jangan-jangan Lo ngelecehin istrinya Roy, kak ?" tuduh Raka dan langsung mendapatkan pukulan dari Aksa.
"Awwww" pekik Raka.
"Kalo ngomong suka gak di saring Lo !!" Maki Aksa.
"Bagaimana dengan para staff, dokter dan perawat saat ini ? Apakah tidak ada perubahan sejak saat itu ?" tanya Roy.
"Kayaknya biasa aja, karena emang kondisi mertua Lo masih dalam tahapan observasi pasca operasi." jawab Raka.
"Ya udah deh, buruan putar rekaman cctv di tanggal ibu Nurul Meninggal." pinta Aksa.
Aksa langsung mengambil alih. Duduk di depan beberapa komputer yang menampilkan semua aktivitas di rumah sakit ini dari segala penjuru.
"Apa ini sudah semua ?" tanya Roy.
"Sudah, Pak !" jawab petugas yang menjaga cctv.
Raka sedikit mengerutkan dahinya melihat sikap Aksa.
"Fokus pada ruangan ibu Nurul saja. Lihat rekaman pada 12 April pukul 11.20 waktu Singapore, Pak !" perintah Aksa.
Tatapannya tajam menatap layar komputer, begitu juga dengan Roy. Sementara Raka, sudah pamit lebih dulu karena masih banyak pekerjaan di ruangannya.
Petugas penjaga cctv itu pun membuka setiap folder file yang tersimpan di dalam komputer, mencari rekaman yang Aksa minta.
Dan setelah menunggu beberapa saat, Akhirnya mereka menemukannya.
Dalam video terlihat seseorang memasuki ruangan ibu Nurul beberapa saat setah Citra dan Roy keluar ruangan.
Terlihat saat itu ibu Nurul sedang istirahat dan pria tersebut masuk kemudian menyuntikkan semacam cairan atau obat ke dalam tabung infus milik Bu Nurul. Sementara pada rekaman cctv di ruangan lain, Aksa melihat Roy dan Citra sedang mengobrol dengan Mami Rachel.
"Kenapa waktunya berbarengan ? Apa ini yang di maksud Ricky tentang Mami Rachel yang bersekongkol dengan Amanda ?" selidik Aksa mulai curiga.
"Apa Mami Rachel sengaja datang di waktu itu sebagai pengalihan ? Agar kalian tidak segera kembali menemui ibu Nurul !" Aksa mulai bermain-main dengan pikirannya, mengarahkan kalimat pertanyaan itu pada Roy.
"Mungkin." timpal Roy.
Roy berinisiatif memperbesar wajah seseorang yang menyamar sebagai perawat itu. Lalu memotretnya dengan kamera ponsel.
"Jika orang ini adalah bagian staff dari rumah sakit ini, pasti akan lebih mudah untuk ditemukan." gumam Roy yakin.
Roy juga sudah mentransfer data file-file yang ia butuhkan ke ponselnya.
"Rekaman ini masih kurang, jika kita ingin tahu apakah Amanda terlibat atau tidak, kita harus temui mami Rachel." Roy membuka argumennya. Mulai menemukan titik terang dari teka-teki ini.
"Gampang, lah. Mami Rachel sangat suka uang, dia pasti akan menceritakan semuanya. Tapi untuk menarik Mami Rachel ke dalam kasus ini, kita harus menemukan orang yang menyamar sebagai perawat itu. Karena dia pelaku sebenarnya." timpal Aksa.
Mereka pun keluar dari ruangan cctv, berjalan menuju ruang HRD mencoba mencari informasi disana.
Setelah menjelaskan kepada kepala HRD, serta menunjukkan pengaruh dirinya terhadap rumah sakit ini, akhirnya kepala HRD bersedia menunjukkan berkas-berkas data dari beberapa staff rumah sakit wktu melamar kerja dulu, sesuai permintaan Aksa.
Selang beberapa jam, akhirnya merek menemukan seseorang yang wajahnya mirip dengan yang ada di video.
Tapi beberapa hari yang lalu, orang ini sudah mengundurkan diri, tanpa menyebutkan alasannya berhenti kepada kepala HRD.
Pria yang merek cari sebenarnya bukan berprofesi sebagai perawat. Ia hanya bekerja sebagai cleaning servis. Dari berkas lamaran yang di simpan oleh pihak rumah sakit, Aksa berhasil mendapatkan alamat tempat tinggal orang itu.
__ADS_1
Setelah keluar dari ruangan HRD, merek pun berinisiatif untuk segera menuju ke alamat yang sudah mereka kantongi.
Merek pun sampai di sebuah perkampungan. Roy memarkir mobil di sekitar surau.
Bertanya pada beberapa orang penduduk di sana, dengan menunjukkan foto yang Roy simpan di ponselnya. Namun tak ada satu pun yang tahu.
Hari sudah mulai gelap, Aksa pun memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
"Untuk saat ini kita kembali ke Indonesia dulu." ujar Roy.
"Baiklah."
Mereka kini dalam perjalanan pulang ke rumah sakit.
Jalanan Singapore di malam hari cukup lengang. Selama perjalanan tidak ada obrolan apapun. Mungkin karena mereka sudah kelelahan dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Mobil berhenti di halaman rumah sakit.
"Roy, gue ada tugas buat Lo. Besok Lo urus mami Rachel. Dia suka uang, bayar berapapun yang dia minta, asal dia menceritakan semuanya. Gue gak bisa terus-terusan meninggalkan Citra sendirian. Jika perlu, kita sewa detektif. Suruh beberapa orang untuk mencari Charlotte disini. Dia juga bisa menjadi kunci dari kasus ini." Ungkap Aksa.
"Siap Bos !" Roy menegakkan tubuhnya, menggerakkan tangannya dengan posisi hormat, seperti pemimpin upacara yang memberi hormat kepada pembina upacara.
"Satu lagi." lanjut Aksa.
"Apa ?"
"Gue laper !" ujarnya seraya merangkul pundak Roy.
"Dokter bisa laper juga ?" sindir Roy.
"Bisa dong ! Apalagi laper gue beda sama laper orang-orang." sahut Aksa.
"Beda gimana ?" tanya Roy bingung.
"Gue kalau laper, makanannya cuma Citra !!" bisik Aksa.
"Sialan... dasar Dokter mesum !! Lagi begini bisa-bisanya otak Lo traveling kemana-mana!!" maki Roy kesal. Bagaimanapun Roy itu laki-laki normal. Setiap habis melihat Aksa dan Citra, dirinya harus berujung senam jari dan bersolo karir di kamar mandi.
"Hahaha...." Aksa tertawa.
"Gue akan memperjuangkannya, Roy !! Besok gue mau bawa Citra ketemu sama mama dan papa." lanjut Aksa, mantap.
"Baguslah. Gue suport Lo 100%." timpal Roy.
Mereka pun langsung pulang ke Indonesia menggunakan Helikopter dari Helipad gedung rumah sakit.
Pukul 04.30 Aksa sampai di apartemen nya dan mendapati Citra sedang sholat subuh.
"Duh, bidadari ku..."
.
.
.
Bersambung,
__ADS_1