
Amanda menutup telponnya, mematikan earphone dan memutar kemudi, lalu menepikan mobil yang di kendarainya perlahan di sekitar semak-semak. Kedatangannya tidak boleh terlihat oleh mereka. Amanda mencari sesuatu di dalam laci mobil dan di bawah kursi. Kalau tidak salah dia pernah menyimpan senjata di mobilnya buat berjaga-jaga saja. Amanda mencondongkan badannya ke depan, tangannya meraba-raba dan akhirnya menemukan sebuah senjata.
Dari belakang mendadak ada yang menepuk punggungnya. Reflek saja Amanda menarik pelatuk sembari memutar tubuhnya kebelakang dan mengacungkan senjata itu tepat di kepala orang di depannya.
Orang berpenampilan preman itu langsung mengangkat kedua tangannya, diikuti beberapa preman yang lain.
"Bu Amanda ? Kami orang yang di bayar Mami Rachel, kami di minta untuk datang kesini." Kata salah satu dari mereka.
Amanda belum menurunkan senjatanya, dia menatap mereka satu persatu, penuh selidik. Wanita licik seperti Amanda selalu waspada. Orang bertubuh gempal di depannya menepis senjata Amanda hingga terjatuh.
Namun sedetik kemudian Amanda membuang nafas lega saat laki-laki tadi menunjukkan chat dari mami Rachel kepadanya.
"Oke, kalian atur posisi. Aku ingin tahu siapa saja yang ada di dalam. Kalian harus menjagaku." Pinta Amanda seraya berjalan terlebih dahulu. Mereka mulai mengambil posisi masing-masing.
***
...Flashback on...
Roy duduk di atas sebuah meja, sedangkan Aksa duduk di kursi di sampingnya. Satria dan Ricky mengikat ke 4 preman yang berniat mencelakai Citra di rumah sakit kemarin. Setelah di rawat dengan penjagaan yang ketat, kondisi mereka sudah membaik dan Roy membawa mereka ke basecamp sesuai perintah Aksa.
Ricky dan Satria mendudukkan preman-preman itu di kursi, mengikat kaki dan tangan mereka, sedang mulut mereka di lakban. Mengunci mereka dalam sebuah kamar. Kesaksian mereka akan dibutuhkan nanti.
"Sebaiknya Lo langsung aja laporkan merek ke polisi, Sa !" Roy memulai pembicaraan.
Aksa masih terlihat berpikir.
"Iya, betul kata Roy. Lagian kita sudah mengantongi semua bukti." Satria menyahut, menyetujui usul yang Roy berikan.
"Lebih cepat memang lebih baik." Ricky ikut bersuara, mendukung. Ricky seperti lupa bahwa yang akan di laporkan itu adalah adiknya sendiri. Atau memang hubungan itu sudah tidak berarti apa-apa lagi baginya. Keluarga hanya status tanpa ada ikatan atau kehangatan layaknya keluarga lain. Biarkan Raka mempertanggungjawabkan perbuatannya.
__ADS_1
"Baiklah, Lo urus semuanya, Sat ! Lo yang lebih paham soal hukum. Meski tindakan ini akan membuat keluarga gue terguncang. Om Hardi pasti akan kaget. Apalagi mama Lo, Rick. Dia sangat menyayangi Raka." Aksa menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Gue gak peduli. Gak ada juga yang peduli sama gue." Ricky menimpali, membuang tatapannya menjauhi Aksa.
"Oke, demi Citra aku siap melakukan apapun. Akan aku perjuangkan sampai titik darah penghabisan !" Ucap Satria dengan logat layaknya pahlawan. Dengan suara yang di berat-beratkan, mengundang tatapan tidak suka dari ketiga laki-laki di depannya, yang semuanya tampan. Satria berlagak menjadi satu-satunya laki-laki yang memiliki perasaan kepada Citra, yang siap mengorbankan nyawa sekalipun. Dia lupa, semua laki-laki di depannya juga menyimpan perasaan suka yang sama untuk Citra, bahkan lebih.
Dan parahnya, tidak ada yang ingat bahwa suami Citra ada disana. Masing-masing dari mereka hanya merasa semuanya rela mengorbankan apapun untuk wanita itu.
Aksa yang merasa paling berhak terhadap Citra pun jadi emosi. Dia melepas sebelah sepatunya dan melemparkan sepatu itu pada Satria. Belum sempat Satria protes, Ricky juga ikut-ikutan mengacak-acak rambut Satria.
"Lo kira, Lo aja yang siap berkorban ? Lihat, nih ! Gue bahkan mengorbankan kemulusan punggung gue demi Citra !"Ricky mengangkat bajunya memperlihatkan guratan coklat yang cukup lebar membekas di punggung nya.
"Aku juga punya, nih !" Satria menyingkap lengan kaosnya, pada pangkal lengannya ada sebuah tato bertuliskan 'Citra'.
Senyum kebanggaan itu tergambar jelas di bibir Satria.
Bukan cuma Ricky, kini Aksa juga ikut melongo, dia saja tidak punya tato nama Citra di tubuhnya, dan melakukan pengorbanan fisik apapun.
Sontak Satria dan Ricky melompat turun dari meja dan berlari menjauhi Roy yang terus berlari mengejar mereka, berputar-putar mengitari meja. Tawa mereka menggema memenuhi seisi ruangan.
Tanpa mereka sadari, Citra lah yang menjadi penyebab mereka bisa bersatu padu melawan kejahatan.
Melihat tingkah mereka, Aksa yang awalnya ingin marah, jadi ikut tertawa lirih. Namun tetap, Citra hanya milik Aksa !
"Maaf, Kak. Aku datang terlambat !" Suara itu ngos-ngosan, seperti baru saja saja berlari sejauh puluhan kilo meter, semua kaget menatap ke arah sumber suara.
Raka ! Kenapa dia selalu muncul tiba-tiba. Tatapan Aksa berubah tajam.
"Dari mana kamu tahu lokasi kami ?" Sentak Aksa merasa curiga.
__ADS_1
Ia bangkit dari duduknya dan mendekati Raka yang masih membungkuk, kedua tangannya bertumpu pada lutut. Kepalanya mendongak menatap Aksa menyeringai.
"I-itu, aku sengaja melacak lokasi kakak. Aku mau membatu menyelidiki kasus ini, kak. Kak Ricky saja di ajak, masa aku tidak ?" Telunjuk Raka menunjuk ke arah Ricky. Nafasnya masih tersengal-sengal. Entah itu sungguhan atau juga hanya tipuan belaka.
Merasa muak, Ricky pun membuang pandangannya ke arah lain, enggan menatap ular di hadapannya. Sekalipun itu adalah adiknya sendiri.
"Kami memang tidak berniat mengajakmu, pulang sana ! Kamu belum cocok untuk tugas ini !" Aksa mendorong pundak Raka. Jujur, dada Aksa sudah bergemuruh, menabuh genderang perang. sekuat tenaga Aksa menahan gejolak emosi itu.
"Nanggung, Kak. Sudah sampai sini. Aku mendengarkan saja, gak akan ganggu." Tukasnya Raka lagi, berbohong. Bagi Raka kebohongan adalah makanannya.
Aksa masih belum menjawab sampai Raka mengatakan sesuatu lagi.
"Apa kakak sudah menemukan semua buktinya ? Jika belum, aku siap bantu, kak. Tapi jika sudah, aku lihat boleh, kak ? Ingin tahu pelakunya siapa, geram juga berani-beraninya dia mengusik kehidupan kak Aksa !" Raka terus mengoceh membuat semua yang ada di sana saling melempar pandang.
Ular yang satu ini memang tidak tahu malu.
"Pulanglah sebelum aku lapar !" Ucap Aksa melengos begitu saja, melangkah meninggalkan Raka.
"Gak mau kak, pokoknya aku mau bantu !" Raka ngotot.
Tak tahan lagi, Aksa memutar tubuhnya, mencengkeram kerah baju Raka dan menghujani wajahnya dengan pukulan bertubi-tubi.
Roy dan yang lainnya hanya menonton, membiarkan semuanya terjadi. Bahkan jika di beri kesempatan mereka juga akan melakukan hal yang sama.
"Kak Arga ! Aduh, sakit, kak !" Teriak Raka, kedua tangannya berusaha melindungi wajahnya dari serangan Aksa yang membabi buta.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung,