
Disisi lain rumah Darius, beberapa bodyguard yang sudah sadar dari efek obat tidur, mereka terperanjat saat mengingat kali terakhir sebelum mereka pingsan.
Rudolf, kaki tangan Darius langsung berlari ke dalam rumah mencari keberadaan tuannya.
"Tuan ! Tuan !!!"
Betapa terkejutnya dia saat mendapati Darius sudah terkapar di lantai, di bawah tangga dengan kondisi kepalanya yang berdarah-darah.
Wajah Rudolf sangat tegang. Dia begitu takut. Dia meraih pergelangan tangan Darius dan meraba nadi tuannya itu.
"Hhh" Dia bisa bernafas sedikit lega saat masih merasa denyut nadi Darius.
Dengan segera dia langsung mengangkat tubuh Darius, di bantu oleh teman-temannya yang lain yang juga tadi menyusul di belakang Rudolf. Mereka membawa Darius ke dalam mobil untuk segera di bawa ke rumah sakit.
Tuannya itu harus segera mendapat pertolongan.
"Dion ! Kamu ikut saya, kita harus segera membawa bos ke rumah sakit. Yang lain, kalian periksa seluruh rumah, jika ada yang tidak beres atau hal mencurigakan segera laporkan pada saya. Ingat, jangan sampai ada yang terlewatkan !" Perintah Rudolf kepada beberapa anak buah lain.
"Baik, Bang."
Rudolf segera menutup pintu mobil.
"Jalan, Pak !" Ucapnya kepada supir.
Mobil yang membawa Darius pun melaju dengan cepat menuju rumah sakit terdekat.
...
__ADS_1
Di rumah sakit, Darius langsung di masukan ke UGD dan segera mendapatkan pelayanan. Kepalanya mendapat beberapa jahitan dan kini di perban.
Laki-laki tua itu sudah sadar dan kini sudah dipindahkan di kamar rawat, karena memang diminta untuk rawat inap untuk memastikan kondisi Darius.
Di atas ranjang pasien, Darius berbaring dengan perasaan aneh. Dia seperti mengingat semalam telah melakukan sesuatu dengan Amanda. Tapi ingatannya tidak begitu jelas. Tidak mungkin juga dia melakukan itu dengan Amanda, keponakannya sendiri.
Setiap dia berusaha dengan keras untuk mengingatnya, kepalanya langsung berdenyut menimbulkan rasa nyeri yang sangat hebat.
Akhirnya dia menyerah. Tangannya tergerak memegangi kepalanya yang terasa begitu sakit.
"Anda tidak apa-apa, pak ?" Tanya Rudolf memperhatikan wajah Darius yang menahan kesakitan.
"Apa yang terjadi semalam ? Saya benar-benar tidak bisa mengingat apa-apa." Tanya Darius pada Rudolf yang dengan setia duduk di samping ranjangnya menjaga tuannya itu.
"Saya sendiri juga tidak tahu pasti, Pak. Terakhir yang saya ingat ada dua orang kurir pengantar makanan cepat saji yang kami pesan. Setelah memakannya kami tidak ingat apa-apa lagi. Dan begitu sadar, saya melihat anda sudah tergeletak di bawa anak tangga dengan kepala yang terluka. Sepertinya ada yang menyerang kemarin malam." Ucap Rudolf dengan suara tercekat. Dia sangat merasa bersalah karena dia dan teman-temannya yang lain sudah sangat teledor hingga mereka kecolongan. Dia tidak bisa menjaga keselamatan tuannya.
Tiba-tiba mereka di kejutkan oleh beberapa orang yang tiba-tiba masuk ke kamar rawat Darius.
"Selamat siang." Sapa salah seorang dari mereka sembari memberi hormat, ia menggamit topinya dan membawa tongkat.
Rudolf terperanjat melihat siapa yang datang. Ia bangkit dari duduknya.
Sedangkan Darius, rahangnya terbuka dan otot-otot nya menegang seketika.
"Kenapa ada polisi disini ?"
"Maaf mengganggu waktu istirahat Anda. Kami membawa surat perintah penangkapan untuk anda, tuan Darius." Jelasnya dengan tegas, sembari memberikan surat perintah penangkapan untuk Darius kepada Rudolf.
__ADS_1
Dengan perasaan campur aduk, Rudolf menerima surat itu dan membacanya.
Kenapa begitu tiba-tiba ?
Sesaat Rudolf dan Darius saling bertukar pandang.
"Tapi saat ini tuan saya masih sakit. Bagaimana bisa beliau di bawa dengan kondisi seperti ini ?" Rudolf beralasan.
"Untuk sementara kami akan menempatkan penjagaan yang ketat disini sampai anda sedikit pulih dan dinyatakan sehat oleh dokter lalu kami akan membawa anda ke penjara." Jawab polisi itu.
Darius syok. Dia tidak menyangka bisa secepat itu kedoknya terbongkar.
Apa ingatan nya yang samar tentang kejadian semalam ada hubungannya dengan ini ?
Dimana Amanda ? Anak itu harus membantunya keluar dari masalah ini.
Laki-laki paruh baya itu tersenyum miring. Tidak menyangka, ternyata di usianya yang mendekati senja harus dia habiskan di dalam penjara. Dia tidak bisa lagi berkelit, karena dia tidak tahu pasti apa yang terjadi.
"Saya akan menghubungi pengacara anda, tuan." Ucap Rudolf saat kedua polisi yang ditugaskan menjaga di dalam ruangan, sudah mengambil posisi masing-masing.
Sesuai permintaan pelapor yang meminta agar penjagaan terhadap Darius sebelum di bawa ke penjara harus di perketat, maka mereka sudah menempatkan lebih dari 5 orang anggota untuk berjaga di sekitar ruang rawat Darius.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung,