Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Jebakan


__ADS_3

Tubuh Darius bergetar tak kalah Amanda merangkak naik ke atas tubuhnya. Membuat dua buah dada besar itu bergelantungan seksi. Bibir seksi Amanda mulai menyapu setiap jengkal kulit Darius. Laki-laki tua itu semakin bergelinjang mendesah kenikmatan.


Amanda benar-benar piawai dalam membangkitkan gairah laki-laki itu.


Darius tidak kuat lagi saat Amanda mulai melepas celana laki-laki itu dan meraih batang yang sudah keras dan tegak berdiri itu.


Sempat terkejut, namun Amanda langsung memejamkan matanya agar dia kuat melakukan hal gila itu. Baru saja wanita itu mau mengumpulkan niatnya, tangan Darius sudah lebih cepat menekan kepala Amanda hingga batang keras itu masuk sepenuhnya ke dalam rongga mulut Amanda.


Wanita itu melotot saat merasakan mulutnya begitu penuh.


Namun ini kesempatan baginya. Dia harus melakukannya dengan baik, membuat Darius benar-benar melayang agar laki-laki tua itu tak curiga. Darius harus masuk dalam jebakannya kali ini.


Tangan Darius mencengkram rambut Amanda dengan kuat, semakin membenamkan wajah Amanda pada inti laki-laki nya. Pria tua itu benar-benar menikmatinya, hingga dia lupa jika itu adalah keponakannya, anak dari wanita yang dulu sangat dia cintai.


Ya, Darius sangat mencintai Erika, mamanya Amanda. Tapi Erika lebih memilih menikah dengan Farash, adiknya Darius, ayahnya Amanda.


Karena rasa cinta yang begitu besar kepada Erika, ia memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.


Amanda mengangkat kepalanya perlahan, membuat Darius sedikit kecewa. Namun Amanda kembali merangkak di atas laki-laki itu. Dia bangkit dan berdiri tepat di depan wajah Darius. Dengan gerakan erotis, Amanda mulai melepaskan gaunnya. Darius semakin melotot di buatnya. Tubuh Amanda benar-benar indah dan seksi. Apalagi setelah melihat apa yang berada di balik segitiga tipis yang di pakai Amanda. Laki-laki tua itu benar-benar ingin segera menggagahi Amanda.


Darius hendak bangkit dari posisinya tapi Amanda kembali membuatnya terbaring.


"Sabar sayangku..." bisik Amanda di dekat bibir Darius, lalu perlahan menciumi bibir itu dengan lembut lalu bangkit dan mengambil botol anggur yang sudah ia masukkan obat dari Roy tadi. Amanda juga menuangkan anggur ke dalam gelas miliknya, tapi itu anggur tanpa campuran obat.


Kata Roy, dia pernah memberikan obat itu kepada mami Rachel juga.


Darius duduk, tidak sabar melihat Amanda yang menuangkan anggur begitu lama. Dia bangkit, mendekati Amanda, dia mengangkat tubuh Amanda dan melemparnya ke permukaan ranjang. Amanda kaget. Dia takut setengah mati. Dia tidak mau pamannya itu benar-benar menggagahinya. Tapi Amanda berusaha tenang. Darius merebut botol anggur dari tangan Amanda dan meneguknya hingga habis. Amanda sedikit bisa lega, dia hanya perlu mengulur waktu lebih lama lagi sampai obat itu bereaksi.


Namun seketika tubuh Amanda membeku saat Darius mulai mendekatinya dan tiba-tiba merobek segitiga nya dengan kasar.

__ADS_1


Namun dia tidak boleh ketahuan sekarang, sedikit lagi dan ini akan berhasil.


Amanda diam, memasang ekspresi seakan-akan dia juga menginginkan nya. Meski rasanya ia ingin muntah.


"Aksa sayang... kamu sudah tidak sabar ya ? Sini..." Jemari Amanda menyentuh dagu Darius dan membuka kedua pahanya. Memamerkan intinya yang mulus dan indah. Darius semakin liar, membuat Amanda gelagapan.


"Kenapa obatnya tidak cepat bekerja ?" Geramnya dalam hati.


***


"Apa cewek itu akan baik-baik saja ?" Tanya Satria tiba-tiba, di sambut tawa Roy di sampingnya.


"Naksir Lo sama dia ?" Ledek Roy tanpa menoleh.


"Gak lah ! Bukan tipe gue !" Sergah Satria setengah berbisik. Wajahnya nampak gusar mengingat potongan gaun yang diberikan Roy untuk Amanda sangat terbuka. Mata laki-laki tidak akan tahan melihatnya.


"Ah, masa ?" Timpal Roy, sedikit menyenggol Satria.


"Oh iya, gue lupa... laki-laki lugu kayak Lo kan tipenya yang kayak emak-emak." Ledek Roy.


"Emak-emak pala Lo peyang !!!" Satria langsung menjitak kepala Roy.


Aduh !


Baru saja mau protes, tiba-tiba terdengar suara keributan yang berasal dari kamar Amanda. Seperti suara sesuatu yang di lempar hingga jatuh.


Pasti ada yang tidak beres.


Di depan rumah Darius ada banyak bodyguard, tapi Roy dan Satria sudah mengamankan mereka terlebih dahulu.

__ADS_1


Roy di susul Satria berlari dengan terburu-buru menuju kamar Amanda. Pintu kamar itu tidak di kunci. Roy membukanya perlahan.


Dia kaget saat melihat Amanda dengan tubuh polosnya berdiri di dekat Darius yang masih tak sadarkan diri, sebelah tangannya mencengkram pecahan vas bunga yang dipenuhi darah. Kepala Darius juga berdarah-darah. Sepertinya telah terjadi sesuatu.


Satria mendahului Roy, dia mengambil selimut dan menutupi tubuh Amanda. Entah kenapa, tanpa melihat siapa yang menutupi tubuhnya, Amanda langsung menangis dalam pelukannya. Satria tertegun. Dia juga tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia bisa merasakan kesedihan wanita itu saat ini.


Perlahan Satria meraih pecahan vas bunga dari genggaman Amanda dan menjatuhkannya. Kemudian dia membopong tubuh Amanda yang masih meringkuk melingkari lehernya. Sementara Roy dengan cepat dan susah payah memindahkan tubuh Darius ke dekat tangga. Tentu saja setelah memakaikan baju kepada pria tua itu.


Efek obatnya akan hilang beberapa menit lagi. Mereka harus bergerak cepat sebelum Darius sadar. Roy ingin membuat seolah-olah Darius jatuh dari tangga. Dia juga sudah membersihkan bekas darah di kamar Amanda dan menata kembali ruangan itu dengan rapi.


"Wanita itu membuat semuanya jadi sedikit kacau !"


Satria membawa Amanda hingga kedalam mobil. Dia masih belum ingin bertanya apa-apa pada wanita itu, melihat kondisi Amanda yang masih sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di bawah ceruk leher Satria. Bahkan baju Satria nampak sedikit basah terkena air mata Amanda. Roy datang setengah berlari di belakang Satria dan langsung membawa mobil itu melesat pergi dari rumah besar itu.


"Apa sebenarnya yang terjadi ?" Batin Roy sesekali menoleh ke arah Amanda.


Satria terlihat begitu khawatir. Pengacara itu hanya memeluk Amanda tanpa bertanya apa-apa.


Roy melirik jam tangannya. Pukul 02.30, bosnya pasti akan marah-marah jika mengganggu liburannya apalagi di jam seperti ini.


Namun Aksa harus tahu ini. Roy meraih ponselnya dan menghubungi Aksa.


"Ya, Hallo ?" Suara serak dan malas Aksa yang baru bangun tidur terdengar sedikit mengerang.


Aksa memicingkan mata, melirik ke arah jam di dinding. Baru saja dia mau marah-marah saat Roy tiba-tiba langsung membicarakan sesuatu yang membuatnya terdiam.


"Ganggu banget sih Lo Roy !! Gak bisa nu...."


"Manda hilang kendali. Dia melukai om Darius. Sekarang gue sama Satria sedang menuju rumah lama Lo !" Ucapan Roy langsung membungkam Aksa dan membuat mata Aksa terbuka lebar.

__ADS_1


"Oke. Besok pagi gue pulang ke Jakarta."


__ADS_2