Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Aris meninggal ?


__ADS_3

"Kenapa Lo baru kasih tahu gue sekarang ?!" Sentak Aksa.


"Aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu, dan baru sempat memberitahu."


Setelah beberapa jam, akhirnya pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter dan perawat keluar dari ruangan itu dan langsung menghampiri Aksa juga keluarganya.


"Bagaimana, Dok ? Apakah Operasi berjalan lancar ?" tanya Aksa,


"Iya Dok, apakah suami saya selamat ?" Hilda ikut bertanya, tidak sabar.


Sementara Citra, mematung menunggu di bangku di temani Lena di sampingnya.


Dokter melepas maskernya. Dengan tatapan nanar itu, Aksa bisa mengetahui apa jawaban dari pertanyaan mereka.


Lengan Aksa semakin kuat memeluk ibunya.


"Maafkan saya, Pak Aksa. Pendarahan di otaknya terlalu lebar dan riwayat penyakit jantung pak Aris membuatnya masih dalam kondisi kritis meski kami sudah melakukan sebaik mungkin. Sekarang kita hanya bisa menunggu semoga ada keajaiban, semoga pak Aris bisa melewati masa kritisnya. Kita lihat sampai pagi ini, jika beliau bisa melewatinya artinya beliau selamat, tapi jika beliau masih kritis, saya takut jika pak Aris tidak bisa bertahan sampai pagi datang." Ucap dokter itu seraya memohon izin untuk undur diri.


Mendengar itu membuat Hilda lemas hingga kembali jatuh pingsan. Dengan segera Aksa membopong tubuh ibunya, membawanya ke kamar inap, meminta suster untuk memasang infuse dan menitipkan ibunya kepada Lena.


Saat Aksa hendak pergi, Citra menyentuh tangan suaminya. Tanpa menoleh, Aksa hanya mencium kening Citra dan berlalu pergi.


Meninggalkan Citra yang hanya bisa menatap kepergian suaminya dengan bingung.


Aksa bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus rumah sakit. Dia ingin menemui ayahnya.


Aksa duduk di kursi di samping ranjang Aris, menggenggam tangan itu dan menangis.


"Maafin Aksa, Pa. Aksa kurang berbakti, Aksa masih sering menyusahkan papa, Aksa kurang penurut. Aksa bandel. Bangun, Pa... Pukul Aksa dan marahi Aksa, tidak apa-apa. Aksa terima, tapi bangun Pa..." Laki-laki itu tiba-tiba cengeng seperti Aksa kecil.


Lambat lain Aksa melihat jari-jari tangan Aris bergerak. Perlahan dia mendekatkan wajahnya kepada ayahnya. Aris berusaha melepas alat bantu pernapasannya, ia ingin mengatakan sesuatu.


"A-aksa, Pa-papa se-tuju k-kamu me-ni-kahi Ci-citra se-ca-ra s-sah dan me-ning-gal-kan A-aman-da. T-ta-pi be-ri-ta-hu A-man-da si-siapa I-bra-him. P-papa min-ta ma-af.


Tut... Tut... Tut...


"Pa, Papa !!! Pa, Please, Pa !!! Jangan begini ! Jangan pergi, Pa ! Aksa mohon, Pa ! Aksa butuh papa !" Tangis nya pecah.


Di tengah kesedihannya, tiba-tiba suara pesan masuk di ponselnya terasa sangat mengganggu.

__ADS_1


[Jika kamu menyayangi keluargamu. Lakukan apa yang sudah seharusnya kamu lakukan dari dulu.]


Membaca sekilas, Aksa tidak ingin ambil pusing dengan apa maksud dari isi pesan tersebut. Persetan dengan semua teror !


"Pa, jangan pergi, Pa !!!" Teriakan Aksa menggema di ruangan itu. Menembus dinding tembok rumah sakit.


Tubuh Aris sempat menegang, matanya melotot. Alat pendeteksi jantung menampilkan garis lurus panjang pada layarnya. Kaki Aksa seketika lemas, hingga ia harus berusaha bertumbuh pada tempat duduk di belakangnya. Dengan tangan bergetar Aksa berusaha meraih tombol darurat dan menekannya berkali-kali.


Citra yang sedari tadi menunggu di depan ruangan langsung membuka pintu dan berlari berhambur mendekati Aksa. Laki-laki perkasa itu tiba-tiba begitu ringkih dan lemah.


Citra tidak ingin bertanya apa-apa. Namun saat Aksa melihatnya, dia langsung memeluknya dan menumpahkan semuanya.


Seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya, dengan lembut Citra mengelus-elus rambut Aksa. Bahkan dia bisa mendengar tangisan Aksa yang tanpa suara. Begitu menyayat hati.


"Oh Tuhan, kuatkan suamiku." Citra ikut terisak, tapi buru-buru dia menghapusnya.


Dokter dan beberapa perawat datang untuk melakukan beberapa rangkaian pemeriksaan. Aksa dan Citra diminta untuk menunggu di luar.


"Papa orang yang kuat. Dia akan sembuh. Aku yakin itu !" Suara Citra begitu yakin membuat Aksa menatapnya.


"Apa kamu meragukan papa, Mas ?" Tanpa menangis dan tanpa air mata, Citra dengan mantap mengakatan hal itu sambil menghapus air mata di wajah Aksa dengan jemarinya.


Aksa menggeleng.


"Iya, Mas.. Papa akan sembuh. Kita hanya perlu kuat dan yakin." Citra berusaha meyakinkan Aksa, padahal hatinya sendiri gamang.


Mendengar suara pintu dibuka, Aksa langsung menarik tubuhnya, mendekati dokter tersebut. Laki-laki berjas putih itu terlihat gugup. Dia bingung bagaimana mau mengatakannya. Melihat mata Aksa yang di penuhi harapan, membuatnya tak sanggup untuk berkata jujur.


"Bagaimana papa saya, Dok ?" Tanya Aksa.


Melihat ekspresi mereka yang menundukkan kepala, Aksa tahu arti tatapan itu. Dia mengusap air matanya yang dari tadi tidak mau berhenti.


Citra tidak tahu harus bagaimana lagi. Dadanya pun terasa begitu sesak. Dia masih bergeming di tempatnya.


"Maafkan kami, Dokter Aksa. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin-" Suara dokter itu tertahan, seperti ada yang mengganjal di tenggorokan.


Tak perlu menunggu dokter itu menyelesaikan ucapannya, dengan gontai Aksa berjalan melewati mereka.


Dunia seakan berhenti berputar. Hanya ada keheningan dan kesunyian di depan mata. Rasa penyesalan itu menusuk tepat mengenai jantungnya. Kesedihan seorang anak yang kehilangan ayahnya, bagaikan matahari tidur. Merenggut siang dan hadirkan malam kelam yang abadi. Seperti apa lagi harus di gambarkan ? Rasa sakit dan kehilangannya bagaikan musim kemarau yang berkelanjutan. Dahaga luar biasa tanpa jumpai setetes air untuk diminum.

__ADS_1


Citra berjalan di belakang Aksa, mengikuti langkahnya yang lambat.


Kaki itu seperti menyeret berton-ton besi, terlalu berat untuk di gerakkan.


Aksa berhenti di samping pintu, berbalik menghadap dinding dan meninju dinding itu dengan kepalan tangannya berkali-kali, melampiaskan kemarahan dan kekesalannya.


"Aku bodoh ! Dasar bodoh !!!" Aksa membenturkan kepalanya ke dinding beberapa kali. Citra langsung memeluk suaminya dari belakang, memegang kedua tangan suaminya yang terlihat berdarah dan mendekapnya. Berharap pelukannya bisa sedikit menenangkan hati sang suami.


Aksa melepaskan pelukan Citra, dan memasuki ruangan Aris. Mencoba bertahan setabah mungkin untuk tetap berdiri.


Namun Cita terus mengikuti langkahnya dari belakang.


Perawat-perawat tadi sudah melepaskan semua alat bantu di tubuh Aris. Tubuh itu kini sudah tertutup selimut putih. Dengan tangan gemetar Aksa membuka ujung selimutnya. Dia ingin melihat wajah sang ayah untuk yang terakhir kalinya.


"Maafkan Aksa, Pa. Maafkan Aksa !" Laki-laki itu kembali menangis dan memeluk tubuh kaku sang ayah untuk yang terakhir kali.


***


"Borgol tangannya !" Salah satu polisi mengacungkan senjatanya, sedang yang lain melepas ikatan dan memborgol kaki dan tangan Raka. Raka ingin berontak tapi dia tidak ingin mati konyol.


Roy dan Satria berdiri di ambang pintu, menatap polisi-polisi itu melakukan tugasnya.


"Akhirnya satu masalah selesai."


"Kita pulang sekarang, Roy ? Disini sudah aman." Ujar Satria.


"Ayo." Sahut Roy.


Roy berbalik arah dan berjalan keluar pintu diikuti Satria. Mereka benar-benar lega, minimal satu penjahat sudah diringkus.


Sekarang bagaimana keadaan Aksa ? Roy mencemaskannya.


Mobil melaju dengan kecepatan penuh, menerjang kegelapan yang membentang hampir di setiap arah mata memandang.


"Semoga Lo baik-baik aja, Sa !"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung,


__ADS_2