Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Ternyata benar, Kamu !!!


__ADS_3

Citra dan Satria menoleh saat terdengar suara pintu berdecit, terbuka. Wajah Aksa muncul dari balik pintu. Aksa tersenyum pada Citra, mendekatinya dan mengecup keningnya pelan.


Pandangan Aksa beralih menatap Lena. Wanita tangguh itu kini terlihat pucat dan sedikit lemas.


"Bagaimana keadaan mu, Lena ?" Tanya Aksa.


"Alhamdulillah sedikit sakit, Pak." Lena tertawa kecil berusaha mencairkan suasana.


"Cepat pulih, musuhnya masih gentayangan. Saya akan membawa Citra pulang. Mungkin sampai kamu benar-benar sembuh, saya akan menyewa beberapa bodyguard lagi untuk memperketat penjagaan di apartemen." Ucap Aksa.


"Baik, Pak. Bagaimana kondisi 4 preman yang terluka tadi, Pak ?" Lena beralih bertanya.


"Saya belum melihat mereka. Sepertinya mereka masih belum sadar, tadi saya hanya mengintip sekilas di ruang UGD." Jawab Aksa.


Satria yang sedari tadi fokus memperhatikan Aksa bicara, terkesiap saat merasakan getaran di bokongnya. Tangannya merogoh saku celana dan meraih ponsel yang dia temukan tadi.


Ada panggilan masuk dari seseorang, nama kontaknya tersimpan 'Bos'


Buru-buru ia memberitahu Aksa.


"Sa !" Tangan Satria menarik lengan Aksa, membuat Aksa menoleh.


"Aku menemukan ponsel ini di dekat preman-preman tadi. Sekarang bosnya telpon." Lapor Satria sedikit berbisik di telinga Aksa.


Pria berjas putih itu langsung berlalu pergi keluar ruangan, disusul Satria. Dia tidak mau Citra ikut memikirkannya.


Aksa menekan tombol berwarna hijau itu dan panggilan langsung tersambung. Satria masih memperhatikan. Aksa mendekatkan telunjuknya menyentuh bibir, memberikan isyarat untuk lebih mengecilkan volume suara. Ia menekan tombol loud speaker agar Satria juga bisa mendengarnya.


Aksa masih diam menunggu orang di seberang sana berbicara terlebih dahulu. Dia akan mencoba mengenali suaranya.


"Bagaimana, beres ?"


Orang yang menelepon itu benar-benar cerdik. Dia menyamarkan suara, membuat tidak bisa dikenali. Aksa masih berusaha untuk tidak berbicara. Seperti tahu siapa yang menerima telepon dan karena lama tidak ada jawaban, panggilan telepon di putus oleh pihak yang menelepon.


"Sial !!!" Maki Aksa. Wajahnya diliputi amarah.


"Mereka semua ingin mempermainkan ku !!!"


Aksa membuka catatan panggilan ponsel preman itu, menemukan satu nomor yang beberapa jam lalu masih saling kirim chat dan telepon.


Aksa menyimpan nomor kontak itu lalu menyimpan ponsel itu dalam sakunya.


Aksa akan mencoba menghubungi nomor itu lagi.

__ADS_1


"Pinjam ponsel Lo, Sat !" Pinta Aksa.


Satria pun menyerahkan ponselnya. Mereka sibuk menatap layar ponsel saat tiba-tiba ada seseorang mendekat.


"Kak Aksa ! Ternyata kakak disini. Dari tadi aku cariin !" Pekiknya kaget.


Aksa melirik ke arah sumber suara, tidak merasa heran saat tiba-tiba Raka mencarinya.


Anak itu memang suka menguntit dirinya dari dulu. Mata Aksa kembali menatap layar ponselnya. Dia harus tahu siapa bos di sini.


"Lo ngapain nyariin gue ?" Tanya Aksa tanpa memperhatikan Raka. Jemari Aksa menekan beberapa nomor lalu menekan tombol hijau, menghubungi nomor bos tadi.


"Telepon siapa sih, Kak ?" Celetuk Raka, ingin tahu. Ia mencondongkan badannya sedikit ke depan, mengintip. Aksa langsung mendorong kepala Raka kembali menjauh. Sementara tangannya yang lain mendekatkan ponsel ke telinganya.


Menunggu jawaban, tapi... tak jauh dari tempatnya berdiri, terdengar suara dering ponsel dan getarannya. Aksa dan Satria kaget, suara itu begitu dekat. Reflek tangan Aksa meraba saku baju dan celana Satria, mencoba menemukan sumber suara. Namun nihil, muka Aksa kecewa. Karena di depan ruangan itu hanya ada dirinya, Satria dan....


Aksa dan Satria saling pandang. Kemudian menoleh secara bersamaan, menatap tajam laki-laki di depan mereka.


Raka !


Raka gelagapan saat menyadari ponselnya berdering.


"Sial !" Geramnya dalam hati. Raka mulai panik.


Dengan cekatan Raka langsung mengambil ponselnya, menekan tombol power sehingga suara getaran itu berhenti dan berpura-pura menerima telepon dari seseorang.


Dengan ekspresi yang sengaja dibuat-buat, ia pamit seakan-akan kebelet ke kamar mandi.


"Aku ke toilet dulu, kak ! Kebelet." Selorohnya sembari membekap ponselnya dan berlari mundur, menjauhi Aksa dan Satria.


"Ya, Hallo..."


"Ya.. ya.. nanti saya hubungi lagi." Raka memutar tubuhnya mulai berjalan normal, berpura-pura sedang berbicara dengan seseorang lewat panggilan telepon, berharap Aksa tidak mencurigainya. Belum saatnya dia ketahuan. Tujuannya masih belum tercapai. Tanpa menoleh ke belakang, Raka terus saja berjalan meninggalkan Aksa dan Satria.


Aksa kembali mengangkat ponselnya. Ia sekali lagi menghubungi nomor itu. Ingin memastikan apakah nomor itu benar-benar milik Raka.


Nomor itu masih tersambung. Di layar ponsel Aksa tertulis berdering. Aksa menatap tajam ke arah Raka, begitu juga Satria.


Dari kejauhan Aksa melihat Raka merogoh saku celananya, meraih benda pipih berwarna hitam itu. Jemari Raka menyentuh layar ponsel dan tiba-tiba panggilan terputus.


"Sial !!! Ternyata benar itu kamu !" Umpat Aksa hendak membanting ponsel yang digenggamnya namun di tahan oleh Satria.


Aksa terduduk lemas di bangku ruang tunggu. Sementara Satria, dia juga bingung harus berbuat apa. Ternyata kehidupan Aksa begitu pelik, mau tidak mau Citra juga pasti kena imbasnya. Tapi Satria sudah bisa melakukan apa-apa.

__ADS_1


Satria menatap bingung ke arah Aksa. Melihat Aksa tidak berusaha menghentikan Raka, padahal dia sudah tahu semuanya. Satria jadi tidak sabar.


"Kamu mau aku mengejarnya, Sa ?" Tawar Satria. Dia tidak mau kesempatan itu berlalu begitu saja. Bagaimana jika Raka berniat kabur ?


Aksa menggeleng lemah, membuang nafasnya dengan berat.


"Biarkan saja dulu." Jawab Aksa dengan nada pelan.


"Kalau dia kabur, bagaimana ?" Gertak Satria, tapi menahan suaranya agar tidak terlalu keras.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika Raka terlibat, Sat. Selama ini hubungan kita sangat baik." gumam Aksa.


Satria pun menata duduknya di samping Aksa.


"Abaikan emosi itu. Aku sudah biasa menghadapi kasus seperti ini. Wajah-wajah penjahat memang memiliki dua sisi, dan itu akan mengecoh mu. Kamu laki-laki ! Kenapa begitu terbawa perasaan ? Buktikan lagi, kamu telepon lagi nomor itu. Jangan biarkan kesempatan berharga ini hilang begitu saja." Geram Satria, meninju lengan Aksa sedikit kuat hingga laki-laki itu terperanjat, tapi tidak marah seperti biasanya.


Entah sejak kapan Satria merasa peduli, berbicara dengan Aksa kayaknya sudah berteman lama, padahal sebelumnya hubungan mereka bahkan tidak baik.


"Kamu tega mengkhianati ku, Raka !" Geram Aksa, tangannya mengepal kuat menahan emosi.


Dadanya panas terbakar api amarah. Sekuat tenaga Aksa menahannya, ia akan memberi Raka perhitungan.


"Sa !!!" Bentak Satria lagi.


"Kamu harus tegas ! Demi Citra ! Jika tidak, aku akan membawa Citra pergi dari kehidupanmu ! Aku tidak akan membiarkan dia selalu berada dalam bahaya !"


Satria bangkit dari duduknya, dengan berani berjalan melewati Aksa, hendak membuka pintu kamar Lena.


"Jangan lancang kamu, Sat !" Sentak Aksa, berdiri menarik tubuh Satria menjauh dari pintu.


"Aku punya rencana ku sendiri !" Tegas Aksa, mengatur nada bicaranya senormal mungkin.


"Baiklah, apa rencanamu setelah tahu Raka terlibat ?" Tanya Satria.


"Aku tidak berniat memberitahumu !!!"


.


.


.


Bersambung,

__ADS_1


__ADS_2