Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Di penjara


__ADS_3

"Aku membantumu tidak gratis !" Mami Rachel menyergah, meneguk scotch miliknya. Dia sedang berbicara dengan seseorang di balik telepon.


"Aku tahu kamu memang mata duitan !" Kata seseorang dari balik telepon diiringi seringai lebar.


Mami Rachel tertawa renyah.


"Aku hanya tidak ingin dirugikan. Toh, aku juga membantumu. Menyelamatkan nyawamu yang sudah di ujung tanduk." Ucap Mami Rachel.


"Ya, kamu datang tepat waktu. Aku akan membayar mu lebih. Sebutkan saja nominalnya." Kelakarnya.


"300 juta."


***


Laki-laki itu berdiri menatap pantulan dirinya di cermin. Kulit mukanya ia rubah menjadi sawo matang, dia kenakan kacamata untuk menutupi matanya. Laki-laki itu tersenyum miring. Itu sudah tidak seperti dirinya


Dia meraih topi di depannya lalu memakainya.


Kedua tangannya mengambil ember dan alat pel yang tergeletak di sampingnya. Dia berusaha melakukan tugasnya dengan baik. Laki-laki itu berjalan hendak keluar dari toilet.


"Adi, cepat bersihkan bagian sini !" Seseorang memanggil laki-laki berpakaian cleaning servis itu untuk membersihkan lorong dekat ruangan operasi.


Laki-laki yang di panggil Adi mengangguk, sedikit membungkuk mengangkat ember dan alat pel menuju tempat yang di maksud. Tubuhnya bergerak maju dengan tatapan mata mengintai ke segala arah.


"Selamat siang, Dokter Aksa !" Panggil seseorang saat melihat Aksa keluar dari ruang operasi.


Aksa menoleh mengikuti sumber suara.


"Ya, Dokter Dimas …." Jawabnya.


"Saya turut berdukacita, Dok. Tapi saya senang dokter sudah kembali bekerja dengan normal. Dan selamat atas jabatan barunya, Dok... Sebagai Direktur rumah sakit yang baru." Dimas mengulurkan tangannya, ingin menjabat tangan Aksa. Dengan sedikit menahan emosi, Aksa tetap mengalami Dimas.


Bagaimana dia bisa menyukai posisi itu setelah kepergian ayahnya ? Padahal saat ayahnya hidup, dia bahkan tidak menginginkannya. Kini pun, dia tidak tertarik dengan posisi itu.


"Saya ke ruangan dulu, dokter Dimas." Aksa pamit.


Tapi bukan ke ruangannya, Aksa malah menemui Amanda.


Adi tak menghentikan langkahnya. Mengikuti seseorang yang dipanggil dokter Aksa itu. Adi menyeringai lebar sembari terus menjalankan perannya.


Tok...tok...tok...


"Masuk ?" Jawab Amanda dari dalam.


Dari kejauhan dengan tatapan menyelidik, dia beralih menatap Aksa.


Aksa mendorong sampai pintunya terbuka dan berbalik menutupnya kembali.


"Aksa ? Mau apa dia kesini ? Apa dia sudah baikan ?" lirih Amanda tak terdengar.


Aksa terus bergerak maju, duduk di sofa, memandang Amanda dengan dingin.


"Aku harap kamu tidak lupa, aku punya foto-foto mu yang polos !" Ucap Aksa.


"Kamu datang kesini untuk mengancamku ?" Amanda bersungut-sungut kesal.


"Aku ingin kamu laporkan padaku semua aktifitas Darius."


"Tidak ! Aku tidak bisa !" Sentak Amanda, menolak.

__ADS_1


"Baiklah. Kamu tinggal lihat, besok foto-foto mu sudah terbit di semua majalah." Aksa bangkit hendak pergi sebelum Amanda menghentikannya.


"Oke. Aku akan melakukan apa yang kamu mau. Cepat hapus foto-foto itu !" Bentak Amanda.


"Aku tunggu laporannya !" Aksa berlalu pergi, meninggalkan Amanda dengan kekesalannya.


Adi menatap Aksa yang keluar dari kamar Amanda, memperhatikan setiap gerak-gerik nya dengan seksama.


***


Hasil uji forensik yang di lakukan kemarin berjalan lancar. Mereka sudah mendapatkan hasilnya. Kepala kepolisian menelepon Roy untuk datang. Ternyata para polisi asli yang mereka utus kesana, sebelum sampai tujuan sudah di hadang oleh polisi palsu. Mereka disiksa dan dianiaya di hutan. Dan untuk menghilangkan jejak dan barang bukti, mereka membakar semua polisi itu hingga menjadi abu.


Sadis !


***


Tidak ada yang menyadari keberadaan Lena. Setelah kematian Aris, semuanya sibuk dan tidak ada yang sadar jika Lena menghilang selama berhari-hari.


Setelah tragedi kematian itu, dia benar-benar merasa simpati dengan Aris. Dia tidak tahan lagi jika setelah itu harus ada korban lagi.


Dia memutuskan mencari bukti kejahatan itu sendiri, tanpa instruksi dan laporan kepada Aksa terlebih dahulu.


Lena menyamar menjadi pegawai King's Club. Menjadi bartender wanita disana. Dari sana dia tahu bahwa yang menyembunyikan Raka adalah Mami Rachel. Lena juga berhasil mendapatkan alamat rumah Mami Rachel yang di tempati oleh Raka saat ini.


Lena pergi ke tempat itu dan bentrok dengan Raka disana. Tapi pada dasarnya Lena bukan bodyguard amatiran, buktinya Raka bisa di tumbangkan dengan sangat mudah.


"Sialan Lo !" Umpat Raka kesal. Lena berhasil mengikat tangan dan kakinya. Menyeret tubuhnya kemudian melemparnya ke dalam mobil. Membiarkannya meringkuk di belakang dengan kepala yang ditutupi karung. Lena akan membawanya langsung ke kantor polisi.


"Lepasin gue !" Raka meracau, namun Lena sama sekali tidak menghiraukannya.


Di depan ada kantor polisi. Mungkin karena sudah terlalu larut, jadi kantor begitu sepi. Lena turun dan kembali menyeret Raka dengan kepala yang masih ditutupi.


Lena akan menghubungi Roy, memintanya untuk datang.


Tawaran kerja sama dengan Darius, ditolak mentah-mentah oleh pria tua itu. Raka frustasi dan memutuskan untuk menghabisi Aksa dengan tangannya sendiri. Jika Aksa mati, jalannya untuk mencapai keinginannya terbentang luas tanpa hambatan. Begitu pikir Raka.


Untuk sementara, Raka dimasukkan dalam sel agar dia tidak kabur. Sementara Lena, dia harus menghubungi Roy.


Panggilan terhubung.


"Hallo Pak Roy, saya sudah membawa Raka ke kantor polisi. Bapak datang kesini, bawa semua bukti-buktinya." Ucap Lena dengan nada tegas.


"Bagaimana kamu bisa menemukan Raka ?" Roy masih melongo. Bagaimana mungkin wanita itu melakukannya sendirian ?


"Itu bisa kita bicarakan nanti. Bapak segera kesini, saya tunggu."


"O-oke, oke !" Roy rasanya masih belum bisa percaya, ternyata wanita itu bisa melakukan apa yang kemarin bahkan tidak bisa mereka lakukan.


...


Semua bukti yang Roy bawa sudah cukup menyudutkan Raka. Sekarang beralih ke Mami Rachel.


Selain bukti yang pihak polisi dapatkan, Roy juga sudah memiliki bukti akurat yang bisa membuat Mami Rachel kalah telak.


"Intinya jangan sampai informasi penyergapan itu ketahuan oleh mereka." Ucap Roy saat mereka sedang berjalan berdampingan menuju mobil.


"Baik, Pak." Jawab Lena mengangguk.


"Kapan kamu cerita kepada saya ? Apa saja yang sudah kamu lalui saat menangkap si brengsek itu ?! Tapi lihat-lihat kamu tidak ada yang kurang." Roy memperhatikan Lena dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Saya hanya melamar sebagai karyawan di King's Club, mengintai Mami Rachel. Dari sana saya dapat info tentang Raka, saat Mami Rachel sedang menelepon Raka. Setelah tahu keberadaan Raka, dia hendak bekerja sama dengan Darius, namun di tolak sama Darius. Raka frustasi dan mengincar Aksa. Dia bahkan sempat menyamar menjadi cleaning servis, hanya untuk bisa mengintai Aksa dan mengambil kesempatan untuk membunuhnya.


Otak Raka itu licik tapi kalau masalah otot gak ada apa-apanya." Ucap Lena panjang lebar.


"Aku juga sempat bentrok dengan dia." Tambah Lena.


***


King's Club malam ini ramai sekali pengunjung, padahal ini sudah mencapai waktu untuk penutupan dan sudah menjelang pagi.


"Siapa kamu ?" Mami Rachel kaget saat seseorang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.


"Hallo Mami, apa kabar ?" Jawab laki-laki tersebut.


"Roy ?" Pekik Mami Rachel.


Roy terkekeh melihat wajah Mami Rachel yang terkejut.


"Kenapa Mami, kok kaget ?" Tanya Roy dengan nada mengejek.


"Ck, kamu masuk seperti maling !" Mami Rachel berusaha menutupi kepanikannya.


"Ada apa ?" Tanya Mami Rachel saat Roy mulai mendekatinya.


"Masih ingin terus berpura-pura ? Hah ?!" Desak Roy.


"Apa maksudmu ?" Elak Mami Rachel.


Roy berdengus kesal.


"Baiklah. Aku kan memberitahu Mami biar lebih mengerti !"


Deg!


Wajah Mami Rachel seketika memucat, tapi dia tetap berpura-pura tenang.


"Ingat pertemuan kita di Singapura ? Saat itu Mami beralasan ingin menjenguk Ibu Nurul. Padahal itu hanya untuk mengalihkan perhatianku dan Citra terhadap Ibu Nurul. Tidak usah berkelit ! Raka sudah di tangkap oleh polisi dan sudah membeberkan semuanya. Dan kami sudah tahu siap kecoa-kecoa itu !" Ucap Roy sinis.


Mami Rachel panik, tangannya mulai gemetar. Dia tidak ingin ikut di penjara juga


"Roy, Mami mohon, tolong Mami ! Mami akan menuruti semua keinginanmu. Tapi jangan biarkan Mami di penjara !" Mami Rachel memohon di bawa kaki Roy.


Tak menggubris permohonan Mami Rachel, Roy sedikit melirik jam yang melingkar di tangannya, lalu mulai menghitung mundur.


"10 ... 9 ... 8..."


"Roy, apa yang sedang kamu rencanakan ? Mami mohon." Mami Rachel terus memohon, sementara Roy terus saja menghitung mundur.


"3 ... 2 ... 1 !!!"


Tiba-tiba pintu di dobrak dan muncullah Satria dan anggota kepolisian.


Mami Rachel terkejut. Dia tidak bisa lari lagi sekarang.


"Jangan bergerak, Nyonya Mirachel Handayani anda kami tahan atas kasus sabotase pembunuhan berencana kepada Ibu Nurul, dan rencana pembunuhan kepada saudari Citra Wulandari !"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung,


__ADS_2