
Ricky sedang menjalani pemeriksaan pada lukanya yang sudah mulai mengering, menunjukkan tanda-tanda sembuh yang signifikan.
Dokter sudah memperbolehkan nya pulang, membuat Ricky merasa lega. Dia laki-laki, tidak perlu terlalu mempermasalahkan lukanya. Anggap saja kenang-kenangan dari Citra.
Ricky memang tidak memiliki hubungan yang baik dengan keluarga nya. Bahkan saat dia di rawat di rumah sakit selama beberapa hari pun, tidak ada yang datang menjenguk atau menanyakan kabarnya kenapa tidak pulang.
Setelah berhari-hari, insiden itu membuat layar ponsel nya rusak dan baru selesai di perbaiki. Dia baru membuka ponselnya lagi, dan mengecek semua panggilan dan chat yang masuk.
Ada panggilan tak terjawab dari Amanda dan Aris. Ya, di dunia ini hanya mereka berdua yang sering mencarinya.
Sebuah senyuman menyedihkan tergambar di wajah Ricky.
Ya, dia sedang menertawakan hidupnya yang sangat menyedihkan.
Dia bahkan lupa kapan terakhir pulang ke rumah.
Ricky mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum menghubungi Aris. Dia duduk di tepi ranjang, lalu menekan tombol angka pada ponselnya.
"Hallo Om." sapa Ricky begitu panggilan terhubung.
"Kemana saja, Rick ? Beberapa hari tidak bisa di hubungi." Tanya Aris cemas.
Bagaimanapun juga Ricky yang setia berdiri di belakangnya selama ini. Di bandingkan orang lain, hanya Aris lah yang tahu seberapa baik anak itu.
"Om pasti sudah mendengar kabar tentang seseorang yang ingin mencelakai Citra lagi, dan sempat terjadi ledakan di dekat rumah sakit. Saya menjadi salah satu korbannya, Om." Terang Ricky.
"Ya, Om sempat mendengar desas-desus itu. Tapi Om tidak tahu kalau kamu ikut jadi korban. Kenapa bisa, Rick ? Apa yang kamu lakukan disana ?" Tanya Aris lagi.
"Hari itu aku ingin menjenguk dan menghibur Citra atas kepergian bayinya. Baru saja sampai di loby, tidak sengaja melihat wanita yang selalu bersama Citra terluka parah. Aku mencoba menolong dan akhirnya terjadi kecelakaan itu." Imbuhnya.
"Kamu memang anak baik, Rick ! Sayang sekali banyak yang tidak mengerti akan hal itu." Puji Aris.
"Lalu bagaimana keadaan mu ? Maaf, Om benar-benar tidak tahu kalau kamu juga ada disana dan menjadi korban." Lanjut Aris.
"Tidak apa-apa, Om. Ini Ricky sudah mau pulang. Oh ya, beberapa waktu lalu Om sempat menelepon, ada apa Om ?"
"Darius mengajak Om bertemu. Niat Om mau mengajak kamu, tapi karena kamu tidak bisa di hubungi jadi Om pergi sendiri di antar supir. Sudah, tidak apa-apa. Kalau tidak sibuk, kamu datang ke rumah Om sekarang. Temani Om main catur." Pinta Aris.
"Baik, Om."
Ricky memutuskan sambungan itu.
__ADS_1
Ia bangkit dari duduknya berjalan keluar ruangan, sembari jari-jarinya mengetik sesuatu, mengirimkan pesan kepada Amanda.
To : Manda
Ponselku kemarin rusak. Ini baru selesai di perbaiki. Ada apa mencariku ?
Beberapa saat muncul balasan dari Amanda.
Manda :
Aku butuh teman, Rick. Aku kesepian.
Ricky menarik nafasnya dalam. Mungkin untuk beberapa Minggu ke depan Ricky akan melupakan gairahnya. Mengingat punggungnya sekarang memiliki tato yang belum 100% kering.
To : Manda
Aku belum bisa, aku harus ke luar kota mengurus pekerjaanku.
Manda :
Oke
Amanda hanya membalas singkat. Batin Ricky pun bertanya-tanya, kenapa wanita itu ? Tidak biasanya datar seperti itu. Biasanya dia akan merengek memaksa untuk di puaskan. Ah, sudahlah. Ini bukan waktunya. Mungkin Amanda hanya sedang galau karena perceraian nya dengan Aksa.
Ricky sadar, dirinya sudah terlambat. Maka dia akan merelakan Citra, menjaganya tetap aman, dan memendam cintanya untuk Citra. Yang terpenting wanitanya itu bahagia. Dia tidak butuh apapun lagi.
***
Di tempat lain, Amanda tidak percaya jika Ricky benar-benar sedang melakukan bisnis di luar kota. Jadi dia berniat mengetahui posisi Ricky sekarang dengan melacaknya menggunakan nomor ponsel Ricky.
Amanda paling mengenal Ricky, dia paling tidak bisa menolak ajakan Amanda untuk bercinta. Jadi, aneh saja jika kali ini dia menolak dengan alasan pekerjaan.
Amanda membuka sebuah web khusus untuk melacak lokasi seseorang hanya dengan menggunakan nomor telepon. Dan dari sana dia tahu jika ternyata Ricky sedang berada di rumah Aris. Amanda hafal betul alamat rumah itu.
Dia menutup situs web itu dan langsung mengganti pakaiannya, meraih kunci mobil yang tergeletak di atas nakas dekat tempat tidurnya.
...
Dalam perjalanannya, Amanda menerima telepon dari nomor yang tidak di kenal. Awalnya Amanda enggan menerima panggilan itu, namun karena sekali lagi nomor itu menghubungi nya, Amanda pun akhirnya menjawab panggilan itu.
"Amanda... tolong aku !!" Dengan mulut penuh darah Raka mengucap melalui telepon.
__ADS_1
"Raka ??? Kamu, kamu kenapa Raka ?" Amanda sangat yakin itu suara Raka. Tapi dia bingung, kenapa Raka menghubungi nya menggunakan nomor yang tidak di kenal.
"Halo... Halo... Raka !!! Halo !!!" Panggilan telepon itu tiba-tiba sudah terputus. Amanda sangat bingung, ada apa sebenarnya dengan Raka ? Apakah Om Darius mau membunuh Raka ? Atau siapa ? Pertanyaan demi pertanyaan semakin membuat Amanda bingung sekaligus takut.
Tangannya gemetar dan ponselnya jatuh. Amanda berusaha meraih ponsel yang jatuh di bawa kemudi.
Dia kemudian membuka situs web pelacak yang sering dia gunakan, memasukkan nomor Raka. Dia ingin tahu dimana posisi Raka saat ini. Web menampilkan gambar peta dan muncul titik merah, itulah posisi Raka.
Masih dengan tubuh yang kaku di balik kemudi, Amanda menelepon seseorang.
"Mami Rachel, aku butuh bodyguard sekarang ! Suruh mereka ke lokasi yang sudah aku kirimkan."
Amanda menutup telponnya dan langsung menjalankan kembali mobilnya ke lokasi Raka berada.
Sesaat dia melupakan niatnya menemui Ricky, karena jika Raka dalam bahaya, keselamatan nya juga terancam. Hubungan Raka dan Amanda memang hanya sebatas rekan kerja yang bertukar keuntungan. Jika saja itu tidak ada hubungan dengan dirinya, Amanda tidak peduli apakah Raka hidup atau mati.
"Psikopat itu bisa juga di gertak." Amanda memijat pelipisnya pelan.
Mobil melaju keluar dari jalur perkotaan dan mulai memasuki jalur yang sepi. Kanan kiri hanya ada hutan, pohon-pohon besar itu membuat Amanda bergidik. Kenapa dia kesini sendirian ? Amanda memasang earphone di telinganya, menghubungi mami Rachel.
"Mi, mana bodyguard yang aku minta ?" Suara Amanda berubah kesal. Keningnya sudah penuh dengan keringat dingin.
"Sudah otw. Lagian kenapa kamu kedengarannya gelisah dan takut gitu ?" Tanya Mami Rachel penasaran.
"Raka di sekap !" Jawab Amanda, bola matanya beralih menatap layar ponsel. Tinggal satu tanjakan dan satu belokan lagi, dia sudah sampai.
"Apa ?!" Teriak mami Rachel histeris. Yang di pikirkan nya sama, ini pasti mengenai kematian Bu Nurul, yang akan menyeretnya juga.
"Oh, tidak ! Tamat, Manda, semuanya akan selesai !!!" Pekik mami Rachel.
"Jangan bikin aku tambah pusing, Mi ! Mami mikir sesuatu kek, gimana jalan keluarnya biar kita selamat. Biar Raka aja yang di celakai dan di masukkan ke penjara." Amanda tercekat saat mengucapkan kata penjara.
"Iya, ini juga lagi mikir ! Aku mau minta maaf aja sama Citra. Siapa tahu dia mau maafin aku. Aku balikin semua uang kamu deh, Manda ! Tapi jangan bawa-bawa aku ya ?" Wanita di telepon itu mulai panik.
"Enak aja ! Aku gak butuh uang Mami !!!"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung,