Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Pertolongan Ricky


__ADS_3

Hari ini saat perjalanannya menuju rumah sakit untuk menjenguk Aris, papa nya Aksa, Ricky tidak sengaja bertemu dengan Dimas, salah satu dokter spesialis jantung di rumah sakit Jakarta Medical Center.


Dimas sedang menikmati cutinya, terlihat dia sedang berada di sebuah kafe bersama seseorang. Sepengetahuan Ricky, Aksa juga sedang cuti karena harus menemani Citra sepeninggal ibunya.


Yang membuat Ricky heran, kenapa mereka bisa mengambil cuti secara bersamaan ?


Ricky pun melanjutkan perjalanannya.


Sampai di rumah sakit, Ricky segera menuju ruang VVIP dimana Aris di rawat.


Tapi saat melewati ruangan Aksa, Ricky melihat Aksa dengan setelan jas putihnya sedang bertugas.


"Bukankah seharusnya dia sedang cuti dan menemani Citra di apartemen? Lalu jika dia disini, apa Roy yang menjaga Citra ?" Batinnya dengan rasa khawatir.


Untuk memastikan hal itu, Ricky pun segera menghubungi Roy.


"Hallo, Roy... dimana posisi Lo sekarang ?" tanya Ricky.


"Kerja lah, masa tidur-tiduran di rumah. Gue kan bukan pengangguran !! Tumben Lo telpon gue, ada apa ?" jawaban Roy membuat Ricky tercekat.


"Lo gak sama Citra ?" tanya Ricky memastikan.


"Gak, gue ada meeting. Lagian Aksa kan hari ini cuti, gak mungkin dong gue gangguin mereka. Emang kenapa sih, Rick ?" tanya Roy penasaran.


Ricky semakin gugup dan khawatir dengan Citra. Mengingat Amanda yang dari kemarin berusaha menemui Citra. Dia takut jika Amanda menggunakan kesempatan ini untuk melabrak Citra dan berbuat hal yang nekad.


"Amanda, kalau sampai terjadi sesuatu sama Citra, tamat riwayat Lo !!!" Janji Ricky dalam hati.


...


Dari rumah sakit menuju ke apartemen Aksa cukup memakan waktu. Ricky mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, tidak peduli berapa lampu merah di belakangnya. Pikirannya sudah terlalu kalut. Citra sedang hamil, bagaimana jika Amanda nekat? Ricky bermain-main dengan pikirannya.


Begitu sampai di apartemen, Ricky memberikan kunci mobilnya kepada petugas keamanan disitu, memintanya untuk memarkirkan mobilnya, dan Ricky langsung berlari menuju unit apartemen Aksa.


***


Pipi Citra sudah basah, ia menangis, takut dengan keselamatan janinnya.

__ADS_1


Amanda kini berada tepat di belakangnya.


Tangan kiri Amanda kembali menjambak rambut Citra, membuat Citra tak berkutik karena sebelah tangan Amanda yang memegang pisau, sudah bermain-main di leher jenjang Citra.


"Gugurkan kandungan itu !!!" perintah Amanda mengulangi permintaannya dengan nada tinggi dan mengancam.


Ia pun menekankan ujung pisau ke kulit leher Citra, membuat ibu hamil itu merintih menahan perih.


"Aku tidak akan menggugurkannya, Amanda !! Jika pun aku harus mati hari ini, biar saja aku mati bersamanya !!" jawab Citra dengan suara bergetar.


"Ohh... Baiklah kalau begitu !! Jika kalian berdua mati, itu akan membuatku lebih gampang menjadi istri Aksa satu-satunya. Dan dendamku pada keluarga Aksa akan sedikit terbalaskan. Aku tinggal membuat kematian kalian seolah-olah karena kecelakaan, tabung gas yang meledak, misalnya !! Dan Aksa pasti akan sangat terpuruk saat kehilangan kalian." Amanda menyeringai, merasa Tuhan pun sedang berpihak padanya.


"Selamat tinggal .... Wanita ****** !!!" pekik Amanda.


Bruuakk !!


"Citra !!" teriakan keras tiba-tiba terdengar dari luar, di barengi dengan pintu apartemen yang tiba-tiba terbuka karena di dobrak dengan kasar. Sontak Amanda melepaskan tangannya dari Citra dan pisau yang di pegangnya jatuh saking kagetnya.


Citra terbatuk-batuk, ia ambruk berjongkok di lantai. Sebelah tangan nya memegangi leher nya yang sedikit berdarah. Untungnya hanya luka kecil.


"Kamu tidak apa-apa, Cit ?" tanya Ricky dengan kedua tangannya mencengkram pundak Citra dari belakang.


Tatapan Ricky beralih ke Amanda. Ia bangkit meninggalkan Citra dan menghampiri Amanda. Saking geramnya, Ricky langsung menampar Amanda dengan keras.


"Ricky!! Apa yang kamu lakukan ?!" jerit Amanda sambil memegang pipinya yang merah akibat tamparan Ricky.


"Seharusnya aku yang menanyakan itu padaku, Amanda !! Apa yang kamu lakukan pada Citra ?! Kamu mau membunuh dia dan bayinya ? Hah ?!" sergah Ricky tak mau kalah.


"Kamu lebih kejam dari setan !!" bentak Ricky dengan suara tinggi.


"Memangnya kenapa kalau aku kejam ? Dia telah merebut suamiku !! Punya anak dari suami ku !! Membuat suami ku bersikeras menceraikan ku !! Kenapa aku tidak boleh membunuhnya ?! Cuihh... kamu munafik, Rick !! Kamu juga menyukai Citra, kan ? Bawa dia pergi sejauh-jauhnya. Jangan sampai dia bersatu dengan Aksa, maka aku tidak akan menyentuhnya lagi. Dan kamu juga bisa memilikinya !!"


Plak ...


Sebuah tamparan mendarat lagi di pipi Amanda.


"Aku tidak sepicik kamu, Amanda !!" bentak Ricky.

__ADS_1


Mata Amanda mulai berkaca-kaca, ia tidak menyangka, Ricky yang selama ini memuaskannya di atas ranjang pun bisa memperlakukannya sekejam ini.


"Kenapa semuanya membela wanita busuk itu ? Kenapa semua membelanya ? Aku juga punya alasan kenapa aku seperti ini !! Kenapa tidak ada yang mau mengerti ?!" jerit Amanda frustasi dalam tangisnya.


Ricky beranjak menghampiri Citra dan membantunya berdiri, berusaha menenangkan Citra yang masih gemetar.


"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Citra, tamat riwayat kamu, Manda !! Camkan itu !" ucap Ricky pelan, tapi intonasinya penuh penekanan di setiap kata.


Citra mengangkat wajahnya, melayangkan pandangannya pada Amanda. Ia menelan ludah, melepaskan tangan Ricky yang sedari tadi menggamit lengannya, lalu berjalan perlahan menghampiri Amanda.


"Amanda, maafkan aku..." ucap Citra lirih. Jemarinya menyentuh punggung tangan Amanda. Matanya menatap gadis itu kasihan. Amanda melepaskan sentuhan Citra dan menarik tangan nya menjauh, lalu bangkit dari sofa meninggalkan Citra.


"Jangan menatapku seperti itu !! Jangan pernah merasa kasihan padaku !! Aku gak butuh !!!" bentak Amanda judes,dengan posisi membelakangi Citra.


Dahi Ricky menciut merasa ragu dengan apa yang telah di lakukan Citra, kenapa dia mengasihani wanita seperti Amanda. Gak mutu !!


"Lagian kenapa sih, Cit ? Kenapa kamu malah minta maaf sama dia ?" umpat Ricky kesal dengan tingkah Citra.


Citra menunduk, wajahnya murung. Karena merasa kasihan pada Amanda, diabjadi menyalahkan dirinya atas semua penderitaan Amanda. Ditinggalkan suami dan menikah lagi itu sangat menyakitkan. Meski tidak bisa di pungkiri, Amanda memiliki begitu banyak kesalahan.


Mereka sama-sama wanita, rasa sakit Amanda, Citra bisa merasakan nya. Tapi untuk menggugurkan bayi dalam kandungannya dan meninggalkan Aksa, dia juga tidak mampu melakukannya.


"Aku tahu hatimu sesakit apa saat ini, Amanda. Aku tahu kemarahanmu padaku sangat beralasan. Aku bisa merasakannya..." Citra mencoba menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Aku berusaha tidak menyalahkan mu, aku berusaha mengerti kenapa kamu membenciku, tapi aku minta maaf, aku tidak bisa melakukan apa yang kamu minta. Maafkan aku, Manda !!"


"Cuih. Najis aku melihat air mata dan rasa simpati mu yang palsu itu !! Pelakor tetap pelakor !! Serakah !! Egois !! Jangan sok peduli kamu !! Aku akan memberimu perhitungan, ingat itu !!" ancam Amanda lagi dengan jari telunjuknya mengarah ke wajah Citra dan matanya melotot.


Melihat itu, Ricky pun langsung menangkis tangannya dan menarik tubuh Amanda kemudian mendorongnya keluar tanpa berkata-kata lagi.


Ricky langsung mengunci pintu, sementara Amanda di luar sana terus berteriak-teriak dan menendang-nendang pintu apartemen itu.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung,


__ADS_2