
"Kamu sungguh cantik, sayang..." ucap Aksa pelan. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Citra, menggunakan tangan kirinya sebagai penopang kepala dengan kedua matanya yang tak henti menekuri setiap lekuk wajah Citra, sambil sebelah tangan nya yang lain mengelus-elus pipi Citra dengan penuh perasaan.
"Kulitmu lembut, halus dan kenyal. Matamu lebar dan bibirmu mungil. Rasanya ingin sekali ku gigit." Gemas Aksa pada Citra. Ia membuka mulutnya dan menggertakkan gigi atas dengan gigi bawahnya, saking gemasnya sampai jari-jari Aksa tanpa sadar mencubit pelan pipi Citra.
"Aduh ! Sakit, Mas !! Masa istri Kesayangan di cubit ?!" Protes Citra dengan nada manja dan menggoda. Jemarinya memegang bekas cubitan Aksa dan bibirnya sedikit manyun.
Melihat itu Aksa beringsut mendekat dan mencium bekas cubitannya tadi.
"Gimana, sudah sembuh kan ?" tanya Aksa.
Citra terdiam di buatnya. Tingkah Aksa benar-benar sangat manis kepada Citra.
Tak mau kalah, Citra pun ikut beraksi. Ia masuk ke dalam selimut dan mulai menciumi tubuh Aksa dari leher, dada, hingga perut dan perlahan-lahan turun ke bawah.
Tak henti-hentinya Citra mencium dan merasakan setiap inci tubuh Aksa yang tidak begitu gempal namun atletis.
Aksa pun secara spontan mendesah karena perlakuan Citra. Kenikmatan yang di rasakan Aksa semakin menjadi saat ciuman Citra mulai semakin turun hingga bagian intinya.
"Enak, Mas ?" bisik Citra lembut sembari mendesah membuat suasana semakin terasa panas.
"Iya, sayang." Aksa menjawab tertatih-tatih menahan ******* kenikmatan yang ia rasakan.
"Terus sayang... "
Melihat Aksa yang semakin mendesah keenakan membuat Citra semakin bersemangat hingga tak tahan lagi untuk menikmati hubungan ranjangnya.
Baru saja on-fire, tiba-tiba ponsel Aksa berbunyi. Aksa dan Citra saling tatap. Tanpa mengangkat tubuhnya dari tubuh Aksa, Citra hanya sedikit mencondongkan tubuhnya tubuhnya ke samping untuk meraih ponsel Aksa di atas laci dan menyerahkan ponsel itu pada suaminya.
"Baik saya akan segera ke sana."
"Dari rumah sakit, Mas ?" tanya Citra tanpa merubah posisi nya.
"Iya sayang, dari rumah sakit. Ada operasi dadakan." jawab Aksa.
"Ya.. padahal sedikit lagi !!" Dengan wajah kecewa Citra pun berdiri.
"Aku siapkan pakaian mu, Mas !!" Lanjutnya sambil turun dari ranjang menuju lemari.
Baru saja membuka lemari, tiba-tiba Aksa menarik tangannya, membuat Citra terjatuh ke pelukan Aksa.
"Mas !!" Sentak Citra kaget.
"Ini menyiksaku, sayang !! Harus berhenti di saat lagi enak-enak nya !!" dengus Aksa kesal.
"Sama, Mas !! Aku juga rasanya hampir sampai. Tapi ini menyangkut nyawa pasien, Mas !" bujuk Citra sambil melepas pelukan Aksa.
"Nanti kalau Mas pulang, kita lanjutin lagi." sambil mencium Aksa dengan sedikit ******* Citra meyakinkan Aksa.
"Mas mandi dulu sana !!"
__ADS_1
"Oke, sayang ! Aku mandi dulu."
Citra langsung menyiapkan pakaian Aksa, sementara lelaki dengan tubuh atletis itu berjalan menuju kamar mandi.
...
"Aku berangkat dulu sayang, nanti aku langsung pulang begitu semuanya beres." pamit Aksa.
Aksa pun pergi dan Citra langsung kembali ke kamarnya dan sedikit beristirahat.
Setelah bangun, Citra ingin memanjakan dirinya dengan sedikit berendam aromaterapi.
Hampir satu jam Citra menghabiskan waktu di kamar mandi.
Citra baru saja keluar dari kamar mandi saat terdengar seseorang mengetuk pintu.
Citra bergegas mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Ia masih memakai bathtrobe saat tiba-tiba terdengar suara pintu apartemen terbuka.
"Apa Mas Aksa sudah kembali ?" gumamnya dalam hati.
"Sudah pulang, Mas ?" teriak Citra dari dalam kamar. Masih belum ada jawaban. Sekarang terdengar pintu kembali di tutup dan di kunci.
Citra mulai curiga. Ia segera keluar, melihat siapa yang datang.
"Manda ?!" suara Citra tercekat.
"Hai.. wanita malam !!"
Citra masih membisu. Sungguh, dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi wanita itu.
"Ada apa kamu datang kesini lagi ? Dan dari mana kamu tahu password apartemen ini ?" tanya Citra memberanikan diri.
Amanda bangun dari duduknya, berjalan mengitari Citra dengan tatapan menelisik dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Hei pelakor !! Apapun tentang Aksa aku mengetahui semuanya !! Baru password apartemen, hal yang lebih pribadi antara kalian berdua pun aku tahu !! Aku kesini mau memperingatkan mu lagi, wanita kotor penggoda suami orang dengan menidurninya. Cuihh! Bukankah sudah ku katakan, aku tidak akan pernah melepaskan mu !!"
Citra mengernyit mendapati Amanda meludah di depannya.
"Aku bukan wanita kotor, dan aku bukan perebut suami orang ! Bukannya kamu sendiri yang selingkuh dari suamimu ?" Gertak Citra berani membalas tatapan Amanda padanya.
"Aarghh"
Citra menjerit saat Amanda menjambak rambutnya dengan kuat. Citra berusaha memegangi rambutnya yang rasanya seperti hendak tercabut dari kulit kepalanya, hingga pori-pori di kulit kepalanya berdenyut perih.
"Beraninya kamu !!! Karena Aksa menikahimu, kamu merasa berhak menghakimi ku ??? Hah ?! Kalian hanya menikah sirih !! Aku istri sah Aksa menurut hukum dan agama ! Aku lebih berhak atas Aksa !!" teriak Amanda marah dan menarik rambut Citra semakin kuat.
"Sakit Amanda. Lepaskan !!"
"Lebih sakit mana sama perasaanku ?! Seorang istri yang mendapati suaminya menikah lagi dengan wanita ****** seperimu ?! Hah ?! Apa yang kurang dari ku ?! Kenapa Aksa bisa-bisanya menduakanku ?! Kamu !! wanita malam hina berusaha ingin menggantikan posisiku sebagai nyonya Sanjaya ???" Hardik Amanda kemudian mendorong tubuh Citra hingg hampir menabrak kursi.
__ADS_1
Spontan Citra mendekap perutnya. Yang ia khawatirkan saat ini hanyalah keselamatan bayi dalam kandungannya. Amanda tidak boleh menyakitinya lagi.
"Jauh sebelum Mas Aksa mengenalku, kamu sudah lebih dulu menjalin hubungan dengan Ricky. Aku sering melihat kalian bertemu di Club. Lalu kamu masih bertanya kenapa Mas Aksa menduakanmu ? Munafik sekali kamu, Amanda !! Lempar batu sembunyi tangan !! Menyalahkan orang lain atas kesalahan yang sudah kamu mulai sendiri." sentak Citra.
Amanda membuka mulutnya hendak menyangkal semua ucapan Citra, tapi Citra tak memberi kesempatan Amanda bicara.
"Biarkan aku menjelaskan padamu !!" kata Citra lagi.
"Ya, aku mungkin dulunya seorang wanita malam. Tapi aku bukan wanita yang dengan sengaja mau di tiduri suami orang, demi merebut hatinya. Bukan !! Aku bukan wanita seperti itu, Amanda !! Aku bekerja di Club hanya demi mendapatkan banyak uang untuk pengobatan ibuku. Lalu malam itu Roy datang bersama Mas Aksa ke Club. Roy menyewa jasaku untuk menemani mereka. Dan Roy menjebak aku dan Mas Aksa dengan memasukan pil perangsang ke dalam minuman kami hingga terjadilah hal itu. Saat Mas Aksa mendapati aku masih perawan, sedangkan profesiku sebagai wanita malam, dia sedikit simpati padaku lalu entah bagaimana Mas Aksa tiba-tiba menyukaiku. Dia memintaku menjadi istrinya dan berjanji akan bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi malam itu. Awalnya Mas Aksa memberikan perjanjian, jika aku mau menikah dengannya maka ia kan membiayai semua pengobatan ibuku sampai sembuh. Tapi lama-kelamaan kami saling mencintai. Dan itu semua mengalir tanpa di sengaja, Amanda !!" jelas Citra panjang lebar.
Amanda tertawa sinis mendengar pengakuan Citra dan berjalan mendekat ke arah Citra. Sebelah tangan Amanda menyambar vas bunga di atas meja, sengaja menabrakkannya hingga pecah, bertebaran dimana-mana.
Amanda mengambil pecahan yang paling runcing dan tajam.
Amanda benar-benar sudah gila. Citra berharap jika saja Aksa ada disini, atau Roy, siapa saja yang bisa membantunya keluar dari sini.
Citra berjalan mundur ketika Amanda semakin mendekati nya. Kedua bola mata Citra mengikuti setiap gerakan Amanda yang terus tertawa bak orang gila.
Jalan Citra sudah buntuh. Tubuhnya sudah mentok menabrak tembok di belakangnya.
"Ya Tuhan, jika aku terlalu hina untuk Kau selamatkan, setidaknya selamatkan bayiku dengan menyelamatkanku, Tuhan " Batin Citra sambil berjongkok dan menyembunyikan kepala nya di antara kedua lututnya.
"Aku akan memberimu dua pilihan." ucap Amanda tepat di samping telinga Citra sambil memainkan rambut Citra menggunakan pecahan kaca yang di pegangnya, membuat Citra bergidik ketakutan.
Amanda ikut berjongkok di depan Citra dan menarik rahang Citra dengan kasar.
"Gugurkan bayi itu, dan pergi tinggalkan Aksa, maka kamu selamat. Atau... ?" Cengkraman Amanda semakin kuat menyisakan bekas kuku miliknya pada kulit Citra.
"Gila kamu, Amanda !!" Citra bangkit, mendorong tubuh Amanda hingga Amanda terjerembab menabrak punggung sofa.
"Dasar, wanita ****** !!! Sini, kubunuh kamu !!!" Amarah Amanda semakin menjadi-jadi.
"Aku tidak mungkin menggugurkan janin ini demi menyelamatkan hidupku, karena janin ini lebih penting daripada hidupku. Bagaimana aku bisa hidup tanpanya ?" sergah Citra berusaha melawan Amanda dengan sisa tenaganya.
Perutnya mulai keram, ia terlalu hysteria dan takut, menjadikan otot-otot rahimnya tegang.
"Yang kuat ya sayang..." Gumam Citra sembari memegang perutnya.
"Kalau begitu aku yang akan menggugurkannya dengan paksa. Aku bisa merobek rahimmu sampai kamu tidak bisa punya keturunan lagi." Ancam Amanda melempar pecahan vas bunga tadi ke arah Citra, tapi meleset.
Meski salah sasaran, itu sudah cukup membuat jantung Citra hampir copot.
Melihat lemparannya meleset, Amanda segera berlari menuju dapur mencari sesuatu. Citra tahu apa yang Amanda cari. Citra segera berusaha membuka pintu yang sudah di kunci oleh Amanda. Citra mondar-mandir mencari kunci pintu itu tapi ia tak kunjung menemukannya sampai Amanda kembali.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung,