
Setibanya di Apartemen, Aksa langsung memeluk Citra dengan erat.
"Kamu gak apa-apa, sayang ?" tanpa menghiraukan Roy yang masih berada di antara mereka.
"Emangnya ada apa, Mas ?" Citra balik bertanya tapi Aksa tidak menjawab.
"Makasih banyak Roy, udah jagain istri gue. Lo bisa pulang sekarang." ucap Aksa pada Roy.
"Oke Bro, sabar ya semua akan baik-baik saja." ucap Roy sambil berjalan keluar di ikuti oleh Aksa.
"Lo emang yang paling ngerti gue. Oh iya, gue minta tolong Lo cariin gue bodyguard cewek ya, buat jagain Citra ! Kalau bisa cari yang bisa masak dan beberes rumah sekalian !!" pinta Aksa sambil menutup pintu apartemen dari luar.
"Ngirit budget Lo? Cari yang multifungsi gitu !!" ledek Roy.
"Bukan gitu... gue tahu Citra, dia tipikal wanita yang mandiri. Jadi gue mau bodyguard cewek yang serba bisa, biar gue bisa alasan sama Citra, kalau gue cuma mempekerjakan asisten rumah tangga, ngerti kan Lo maksud gue ?!" balas Aksa.
"Siap bos, itu semua bisa di atur !!" jawab Roy terkekeh.
***
"Apa yang sebenarnya terjadi tadi siang sayang ? Baru saja aku menemui Ricky dan hampir membunuhnya !" ucap Aksa saat dirinya dan Citra kini tinggal berdua.
"Apa ? Mas Aksa berkelahi dengan Ricky?" Citra sangat kaget.
"Tadi Roy cerita kalau Ricky disini, dan kamu terlihat habis menangis. Aku tahu kalau Ricky sudah lama menginginkanmu untuk jadi istrinya, makanya aku langsung emosi. Aku terlalu takut kalau Ricky berbuat yang tidak-tidak padamu." Aksa melanjutkan penjelasannya.
"Tapi Mas..." potong Citra.
"Ricky gak salah, tapi...." Citra menghentikan kata-kata nya.
"Tapi apa sayang ? Amanda ? Ricky sudah menceritakan semuanya! Apa semua itu benar ?" Aksa masih belum yakin seratus persen dengan penjelasan Ricky tadi.
Citra menunduk menangis.
"Iya Mas, tadi Amanda..." Tak kuasa Citra melanjutkan kata-katanya.
Aksa pun memeluknya dengan erat, berharap istrinya bisa merasa nyaman dengan pelukannya.
"Citra, aku mohon jangan ada yang di sembunyikan lagi. Roy, dia adalah teman yang sudah aku anggap sebagai saudara aku sendiri. Jika ada sesuatu, pasti dia cerita. Maafkan aku sayang, aku lengah. Aku tidak tahu jika Amanda sampai sekejam itu. Aku janji tidak akan meninggalkan mu sendirian lagi." sambil kembali memeluk tubuh Citra yang masih menangis gemetar mengingat apa yang telah ia alami.
***
Pagi ini Aksa harus ke rumah sakit. Dia ingin mengecek kondisi papanya. Menurut hasil catatan rumah sakit, kondisi papanya sudah membaik.
Dari arah berlawanan, di balik pintu Citra memperhatikan Aksa yang sedang bersiap. Citra pun menghampiri Aksa.
"Pagi sayang," Sala Citra dengan senyum manisnya.
"Pagi juga sayangku, manisku, cintaku, sweetyku. Muach... muach... muach..." Aksa mencium kening Citra, hidung Citra dan bibir Citra dengan gemas.
Citra membetulkan letak kerah kemeja yang di pakai Aksa.alu menggandeng tangan suaminya itu dan berjalan beriringan menuju meja makan. Dari jarak 10 meter Aksa sudah mencium aroma masakan Citra.
__ADS_1
Di atas meja sudah ada olahan ayam suwir kemangi, sambal dan tempe goreng. Hanya untuk dua orang.
"Hhmmm... aromanya sedap. Pasti enak, nih !" ujar Aksa penuh semangat.
"Silahkan, Mas." Citra sambil mengambilkan nasi dan lauk untuk Aksa. Aksa menikmati masakan Citra, meski terlihat sederhana namun rasanya benar-benar enak.
Setelah sarapan, Citra mengantar suaminya sampai pintu dan Aksa pun pamit.
Sesampainya di rumah sakit, Aksa langsung menuju ruang rawat papanya. Disana juga ada Hilda, sang mama. Dari tempat berbaring, Aris membuang muka tidak ingin memandang Aksa.
"Hmm... papa masih marah ?" tanya Aksa mengawali pembicaraan.
"Kenapa sih kalian, bapak sama anak kok hobinya berdebat, berantem. Emang gak bisa di bicarakan baik-baik?" ucap Hilda saat melihat interaksi suami dan anak nya.
"Tinggalkan wanita itu sampai kamu berhasil menjadi Direktur di rumah sakit ini !" ucap Aris.
"Maaf, aku gak bisa meninggalkannya pa !" Aksa menggeleng lalu duduk di samping papanya.
"Aku gak menginginkan posisi Direktur itu, pa. Aku sudah benar-benar gak tahan dengan Amanda, pa !" ucap Aksa sambil merapikan alat periksa yang baru saja dia gunakan.
"Papa tetap akan memberikan posisi itu padamu, karena itu memang hak kita ! Sejak dulu rumah sakit ini adalah milik kakekmu, sebelum hal buruk itu terjadi."sergah Aris. Pandangannya kosong, ingatannya melayang ke memori beberapa waktu lalu.
"Aku akan tetap memperjuangkannya !!" Kedua bola mata nya kembali menatap Aksa tak berkedip.
Seorang ayah yang berusaha meyakinkan anaknya. Aksa ikut menarik nafas, merasa jengah dengan sikap ayahnya yang ngotot.
"Terserah papa saja lah ! Aksa kembali ke ruangan dulu."
Aksa menyentuh punggung tangan Aris sebelum akhirnya membalikkan badan, hendak keluar meninggalkan ruangan. Hilda pun hanya bisa menghembuskan nafas pasrah dengan tingkah laku bapak dan anak ini.
"Padahal mama baru saja mau ngobrol." protes Hilda.
Mereka hampir tidak pernah punya waktu untuk sekedar membicarakan keadaan masing-masing. Dan itu membuat Hilda sedih.
***
Amanda mengetuk pintu ruangan Aksa.
"Masuk." suara Aksa dari dalam ruangan. Laki-laki itu merubah posisi duduknya saat tahu siapa yang datang.
"Argh.... mau apa lagi sih !" tanyanya malas tanpa menatap Amanda.
"Pak Dokter, aku ini masih istri sah kamu. Istri menemui suaminya boleh dong !" timpal Amanda sembari duduk di hadapan Aksa.
"Gak usah ngaco kamu !! Aku masih berusaha sabar menghadapi mu meski aku tahu kelakuan kriminalmu, Amanda !!" hardik Aksa.
"Ck-, kamu benar-benar memiliki tempramen yang buruk. Bagaimana keadaan papa mu ?"
Pertanyaan dari Amanda sontak membuat Aksa tertawa sinis.
"Sudah tidak sabar ya ?"
__ADS_1
Amanda mengerutkan dahi.
"Tidak sabar apa ? Aku cuma mau tahu keadaan papa." timpal Amanda berusaha mengelak.
"Papa sudah membaik, dan siap melawanmu !!" sergah Aksa.
"Oh ya ? Baguslah. Jadi nanti papamu bisa menghadiri rapat jajaran pemegang saham dengan keadaan prima." Amanda mulai bangkit dari duduknya.
"Hanya itu yang ada di pikiranmu ! Aku sudah hafal !!" ucap Aksa ketus.
"Itu karena kamu !!" tukasnya.
"Kebiasaan mu yang lain adalah mengkambing hitamkan orang atas kesalahan mu sendiri !" jawab Aksa.
"Ishh ... menilai keburukan orang memang mudah. Aku pergi dulu !" ucap Amanda sambil sebelah tangannya sudah menegang gagang pintu.
"Jaga dirimu baik-baik, agar kamu bisa mengusirku dari hidupmu !!" ledek Amanda sebelum ia pergi.
Aksa menatap kepergian Amanda dengan kesal.
"Aku sangat dalam keadaan prima, sampai rasanya ingin olahraga !!" sungutnya marah. Pikirannya liar memikirkan Citra.
"Astaghfirullahaladdzim..."
gumamnya dalam hati sambil mengusap wajahnya kasar.
***
Beberapa saat sebelumnya di sebuah restoran, Amanda dan Darius sedang bertemu.
"Kenapa mengajak ketemu disini pagi-pagi sekali, Om ?" tanya Amanda.
"Aku mendengar kabar bahwa Aris sudah sehat. Memangnya kamu tidak tahu ?" tanya Darius mencari jawaban.
Amanda hanya mengangkat bahunya dengan acuh.
"Tanya lah sama suami di atas kertas mu itu. Aku sudah tidak sabar menggantikan posisi Aris sebagai Direktur. Kita percepat waktunya, Manda !!" Usul Darius bersemangat, membuat Amanda risih.
Entah kenapa kini ia sudah tidak terlalu tertarik dengan permainan balas dendam ini. Dia hanya memikirkan Aksa yang semakin menjauhinya
Jika posisi itu benar-benar di ganti, tidak ada alasan lagi bagi Aksa untuk tidak menceraikannya.
"Sabarlah, Om !! Tunggu sampai papa Aris itu benar-benar pulih. Jangan sampai di tengah acara ada drama nge-drop lagi !!" jawab Amanda.
Darius terlihat tidak terlalu suka dengan rencana Amanda.
Darius pun meminta bill kepada pelayan dan langsung membayarnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung,