Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Laki-laki Brengsek !


__ADS_3

Setelah sedikit beradu argumen dengan Aksa, Satria langsung menuju ke kantin, karena tidak mungkin dia kembali dengan tangan kosong, sementara dia pamit pada Citra untuk membeli makanan.


Satria kembali ke kamar rawat Nurul dengan membawa dua bungkus nasi goreng dan air mineral.


"Lama banget, Sat.." ucap Citra saat Satria masuk.


"Baru ditinggal bentar aja udah rindu..." Satria terkekeh.


"Issh ! Ngelantur aja. Kamu beli apa ?"


"Ini aku beli nasi goreng. Kamu belum makan dari pagi. Ini makan dulu !!" ucap Satria sambil membuka bungkusan nasi goreng itu dan memberikan nya pada Citra.


"Makasih ya, Sat." Citra menyambut makanan yang di berikan Satria.


Mereka pun makan dalam keheningan. Sesekali Citra melirik ke arah ibunya sambil memantau pergerakan ibunya.


Setelah selesai makan, Satria sedikit memberanikan diri untuk bertanya pada Citra mengenai Aksa.


"Citra..." panggil Satria.


"Iya, Sat.. kenapa ?"


"Apa benar kamu calon istri pria yang datang ke rumahmu tadi ?" tanya Satria.


Wajah Citra sedikit memucat.


"Gak !! Dia bohong !! Aku bukan calon istrinya. Dasar pria brengsek !!" elak dan maki Citra mengingat Aksa.


"Brengsek ?? Memangnya apa yang sudah dia lakukan sama kamu ?!" sentak Satria kesal mendengar Citra mengumpat Aksa.


"Hah ?! Ng... gak kok ! Dia cuma tamu di Club tempatku bekerja." sanggah Citra.

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu sebut dia brengsek ?" tanya Satria masih penasaran.


"Bukannya pria-pria yang suka datang ke Club itu pria brengsek !" dalih Citra.


Satria menganggukkan kepalanya sambil memperhatikan kegugupan Citra.


"Tapi sepertinya dia menyukaimu, Cit. Dari penampilannya dia terlihat kaya raya. Kenapa kamu menolaknya?"


"Aku sedang fokus dengan kesehatan ibu, Sat. Jadi aku mohon jangan bahas masalah lain denganku !!" pinta Citra mulai tidak suka dengan pertanyaan Satria.


"Maaf sudah membuatmu kurang nyaman. Aku hanya ingin memastikan saja kamu tidak ada hubungan apa-apa dengannya."


Citra mengerutkan dahinya, tidak mengerti maksud ucapan Satria.


"Kenapa kamu yang harus memastikan ?" tanya Citra.


"Bukankah tadi aku sudah mengatakannya padamu ?"


"Hah ?! tentang apa ?" tanya Citra bingung.


Degh !


Jantung Citra berdegup lebih cepat dari biasanya ketika mendengar ucapan Satria. Namun sebisa mungkin Citra menutupinya.


"Cit.. jadi apa tanggapan mu ?"


"Sat, maaf !! Tapi kalau kamu masih mau membahas hal ini, sebaiknya kamu pulang saja." tukas Citra.


"Aku bukannya mau membahas. Aku hanya menjawab pertanyaan mu tadi." elak Satria.


"Ah.. sudahlah, Sat !! Berbicara dengan mu aku pasti kalah. Sepertinya kamu memang berbakat sebagai seorang pengacara." dalih Citra.

__ADS_1


***


Sementara Aksa saat ini masih berada di ruang kerjanya. Ini sudah jam pulang, tapi entah kenapa hari ini rasanya dia malas untuk pulang ke rumah.


Ternyata hari Aksa masih kesal dengan ucapan Satria.


"Sialan !! Berani banget dia nantangin gue !! udah pasti gue yang menang lah, secara gue yang udah berhasil masukin gawangnya Citra !" Oceh Aksa sambil mondar-mandir di depan meja kerjanya.


Suara ponselnya membuat dia menghentikan aktifitasnya.


Melihat nama yang tertera di layar ponsel, Aksa langsung menerima panggilan tersebut.


"Halo Dok, ada apa ?" tanya Aksa kepada si penelepon.


"Dok, mengenai ibu Nurul sepertinya harus segera dipesankan alat pompa jantung secepatnya, Dok." lapor Dokter Dimas. Dokter Dimas adalah Dokter yang menangani ibu Nurul.


"Ya sudah, Dok.. tolong pesankan saja dan segera atur jadwal operasinya."


"Tapi dokter Aksa, bagaimana dengan biayanya ? Bantuan donasi dari yayasan masih sangat kurang."


"Tarik semua uang yang ada di donasi, kekurangannya biar saya yang bayar. Tapi dokter Dimas, saya minta jangan katakan pada keluarga pasien dulu mengenai jadwal operasi. Biar saya saja yang sampaikan." pinta Aksa.


"Baik Dok. Saya akan jalankan sesuai perintah Dokter."


Arga meletakkan kembali ponselnya di atas meja, dan memutari meja kerjanya berjalan ke arah kursinya.


Aksa duduk lalu memejamkan matanya.


Hari ini benar-benar melelahkan. Sekilas Aksa teringat permainan panasnya dengan Citra dalam mobilnya semalam.


Bahkan Aksa sengaja tidak mencuci jok mobilnya yang masih terdapat bercak noda darah. Entahlah, tapi sepertinya Aksa benar-benar sudah mulai tergila-gila dengan Citra.

__ADS_1


"Ck ! bagaimana mungkin seorang Aksa Sanjaya menyukai wanita malam seperti dia !" gumam Aksa sambil tersenyum.


~Bersambung....


__ADS_2