Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Ikhlas


__ADS_3

Ricky terlihat mengatur posisi duduknya di dekat panggung. Ia ingin mempersembahkan sebuah lagu dan puisi untuk kedua pengantin yang berada di pelaminan.


Namun di sampingnya juga ada Amanda. Mereka terlihat begitu kompak. Mereka akan memberikan persembahan terakhir untuk Citra dan Aksa, sebelum besok mereka akan pergi ke tempat tujuan mereka masing-masing.


Terlihat Amanda sudah memegang microfon dan ponsel di tangannya. Sementara Ricky sudah siap dengan gitarnya.


Jari lentiknya menari dengan gemulai di atas senar gitar. Menciptakan alunan nada yang terdengar begitu menyayat hati. Menjadi penyampai pesan hati mereka yang sedang menangis campur haru.


Amanda mendekatkan microfon ke mulutnya dan mulai melantunkan kidung sedih itu. Sesekali matanya melirik layar ponselnya. Dia tidak terlalu hafal lirik lagunya, tapi hatinya cukup hafal bagaimana rasa sedihnya.


Ini salahku


Terlalu memikirkan egoku


Tak mampu buatmu bersanding nyaman denganku


Hingga kau pergi tinggalkan aku


Terlambat sudah


Kini kau telah menemukan dia


Seseorang yang mampu membuatmu bahagia


Ku ikhlas kau bersanding dengannya.


Aku titipkan dia


Lanjutkan perjuanganku untuknya


Bahagiakan dia, kau sayangi dia


Seperti ku menyayanginya


Kan ku ikhlaskan dia


Tak pantas ku bersanding dengannya


Kan ku terima dengan lapang dada


Aku bukan jodohnya.


###


Aku titipkan dia


Lanjutkan perjuanganku untuknya


Bahagiakan dia, kau sayangi dia

__ADS_1


Seperti ku menyayanginya


Kan ku ikhlaskan dia


Tak pantas ku bersanding dengannya


Kan ku terima dengan lapang dada


Aku bukan jodohnya.


Melantunkan lagu itu membuat Amanda berkaca-kaca. Sekali lagi dia menyesali cintanya yang telah pergi.


Cinta yang seharusnya bisa menjadikannya ratu, bisa menjadikannya putri, namun hilang begitu saja karena kebodohannya.


Begitu juga dengan Ricky, hatinya seperti tersayat-sayat untuk kesekian kalinya. Cinta yang selama ini dia pendam harus berakhir pada kepiluan yang teramat sakit.


Dia terlambat menyatakan cinta. Terlambat menunjukkan cintanya hingga di dahului orang lain.


Namun semua telah berakhir disini. Dengan ikhlas Amanda dan Ricky melepas kedua orang yang sangat mereka cintai untuk hidup bahagia bersama orang lain.


Citra menatap ke arah Ricky dan Amanda bergantian. Dari mata mereka, Citra bisa melihat ada kesedihan disana.


Kesedihan yang tak berujung namun memaksa hati untuk tetap terus berjalan.


Amanda, wanita cantik itu berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyumnya yang mengembang namun terkesan di paksa. Sedangkan Ricky, memilih untuk menundukkan kepalanya. Ikhlas bukan perkara yang mudah, namun hati telah memilih.


Tiba-tiba Citra teringat, dari tadi dia belum melihat Satria. Kepalanya celingukan kesana-kemari mencari sosok Satria.


"Hhm, itu Mas... Aku belum lihat Satria dari tadi. Apa dia tidak akan datang ?" Bibir Citra terlihat sedikit cemberut.


Tentu saja, karena Satria adalah sahabat Citra sejak lama.


"Nanti pasti datang. Satria baja Hitam KW itu gak mungkin absen. Ini kan pernikahan mu, Cit."


"Karena itu, aku takut dia tidak datang, Mas." Pandangannya masih jauh menerawang melewati ratusan kepala yang memadati bangunan mewah itu.


Dari kejauhan nampak Satria datang sendirian. Pria itu memakai batik lengan panjang berwarna gelap dengan celana warna khaki. Rambutnya disisir rapi.


Satria menangkap tatapan Citra kemudian melambaikan tangan, membuat Citra akhirnya bisa tersenyum melihat sahabatnya itu akhirnya datang.


Satria berjalan menaiki panggung dengan perasaan tidak karuan. Hatinya masih menyisakan ruang luka untuk menampung rasa sakit atas cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Selama ini dia sudah mencoba untuk berdamai dengan semua rasa sakitnya, namun perihnya tetap hadirkan de ja vu yang sama.


Kaki Satria sedikit terasa berat, dia paksakan untuk bisa melewati anak tangga di depannya, mendekati sepasang mempelai yang membuat hatinya bergemuruh. Citra sudah menunggu disana. Dia satu-satunya teman yang belum mengucapkan selamat.


Akhirnya Satria bisa melewatinya. Terlebih dulu dia menjabat tangan Aksa.


"Selamat, Bro ! Maaf telat, tadi ada satu kasus yang harus di urus dulu." Ucap Satria.


"It's oke," Aksa menepuk pundak Satria.

__ADS_1


Kini Satria beralih, berjalan mendekati Citra. Wanita yang pernah di cintai nya itu terlihat begitu cantik.


"Selamat ya, Cit. Semoga mulai hari ini Aksa bisa membuatmu bahagia, gak jahat lagi, dan gak suka ninggalin kamu lagi."


"Amiinn..." Citra sengaja mengeraskan suaranya dan melirik ke arah Aksa.


Sontak kata-kata Satria membuat Aksa geram. Aksa mengayunkan sebelah kakinya menendang bokong Satria. Tapi Satria sudah buru-buru menghindar. Dan dengan konyolnya Satria menertawakan Aksa yang gagal menendangnya. Sementara Citra, dia juga ikut tertawa melihat tingkah suami dan temannya itu.


Ada yang bertanya-tanya Roy kemana ? Roy tadi datang bersama seorang wanita cantik. Berhubung dia membawa seorang wanita, maka dia tidak ingin membiarkan wanitanya itu merasa di abaikan olehnya.


Sepanjang pesta berlangsung, Roy hanya menemani wanitanya, tentu saja setelah memberikan ucapan selamat kepada Citra dan Aksa.


...


Semua tamu sudah mulai pulang, Citra terduduk lemas di kursi pengantinnya dengan wajah kelelahan.


Seharian memakai gaun yang cukup berat ini, sedikit terasa menyiksa.


"Kamu pasti capek. Aku gendong ke kamar ya ?" Tanpa menunggu jawaban dari Citra, Aksa langsung membopong tubuh dengan balutan gaun pengantin itu.


Membawanya naik ke lantai atas dan segera membawanya ke kamar, merebahkan tubuh itu di ranjang. Aksa juga membantu melepaskan sepatu Citra, juga membantu melepas gaun panjang itu.


"Mau aku bantu membersihkan diri ?" Aksa menawarkan.


"Terima kasih, Mas. Biar aku sendiri saja."


Citra pun segera membersihkan dirinya yang sudah sangat gerah. Begitu pun dengan Aksa, bergantian dengan Citra.


Dan begitu Aksa selesai, wanita itu sudah terlelap saking lelahnya hari ini.


Aksa pun ikut berbaring di samping Citra yang sudah pulas, tanpa berniat untuk mengganggu tidurnya. Wanitanya itu terlihat sangat lelah. Perlahan tangan kekar itu mengelus pipi mulus Citra.


"Aku berjanji akan menjadi Aksa yang lebih baik lagi, Cit. Menjadi suami yang bertanggungjawab penuh terhadap kehidupanmu. Aku juga akan mengurangi kebiasaan ku menitipkan mu pada Lena ataupun Roy. Tidak lagi, sayang. Aku akan selalu ada disisi mu. Menemanimu kemana pun kamu mau. Kamu adalah prioritas ku. Maaf atas segala salah yang tidak sengaja membuat mu terluka."


Kata-kata itu terdengar sangat tulus dan penuh kesungguhan di telinga Citra yang ternyata sudah terbangun saat Aksa memeluknya. Namun dia memilih untuk tetap terpejam.


"Aku juga sangat mencintaimu, Mas. Semoga kamu bisa benar-benar menepati semua janjimu." Ucapnya dalam hati lalu kembali terlelap dalam pelukan hangat sang suami.


Inilah akhir kisah mereka.


Besok Amanda dan Ricky akan berangkat ke Singapura.


Ricky akan mengurus perusahaan keluarga disana, menggantikan Raka. Sementara Amanda, dia memutuskan untuk berkarir di Singapura.


Menutup cerita kelam di tempat ini.


Raka dan Mami Rachel, mereka sudah terbukti bersalah atas kematian Ibu Nurul.


Dan Darius, pria tua itu juga sudah mendekam di balik jeruji besi.

__ADS_1


...TAMAT...


__ADS_2