Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Titik Terang 2


__ADS_3

"Ngapain Lo kemari ? Gak salah alamat kan ? Apa Lo nyasar ? Eh, tunggu dulu !! Bukannya harusnya Lo di Singapore? Kenapa sekarang tiba-tiba ada disini ?? Di apartemen gue lagi !!" cecar Roy dengan tatapan heran dan penuh pertanyaan.


"Santai dulu kak. Ini gue lagi ada kerjaan di Jakarta, terus tadi gak sengaja gue lihat mobil kak Aksa di lampu merah depan dekat apartemen Lo, gue ikutin aja nyampe sini."


jelas Raka sembari tersenyum.


"Gue gak di suruh masuk nih ? Pegel kali kak berdiri terus." lanjut Raka sedikit menyindir Roy yang masih membiarkannya di luar.


"Masuk !" ucap Roy terpaksa.


Raka pun masuk di ikuti oleh sang pemilik apartemen.


Aksa sedikit terkejut saat melihat Raka masuk ke dalam apartemen Roy.


"Ngapain Lo disini ? Kapan Lo balik ?" tanya Aksa.


"Ishh... pada posesif banget nanya sama gue !! Gue ngikutin Lo tadi pas gue lihat mobil Lo pas lampu merah depan apartemen." jelas Raka.


"Kebiasaan Lo yang paling gue benci !!" gerutu Aksa kesal dengan sikap Raka yang selalu kepo dengan urusannya.


"Terus ?" tanya Aksa lagi.


"Terus apa ?" Raka bingung.


"Lo belum jawab pertanyaan gue yang satu lagi !!!" kesal Aksa karena harus mengulang pertanyaan nya.


"Oh... gue baru aja nyampe kok !"


Jika Aksa bisa percaya begitu saja dengan ucapan Raka, tapi tidak dengan Roy. Tentu saja Roy tidak bisa langsung percaya begitu saja dengan alasan yang di sampaikan oleh Raka. Karena kali ini Roy merasa ada sesuatu yang membawa Raka sampai datang ke apartemen nya. Roy terus menatap Raka penuh rasa penasaran, ia menebak-nebak apa sebenarnya yang di inginkan Raka disini.


Mata Raka tidak bisa diam. Matanya menyisir hampir setiap sudut apartemen itu.

__ADS_1


"Nyari apaan Lo ? Kayak mata-mata aja !!" Sindir Roy.


"Gue cuma lagi nyari keberadaan istri Lo !! Kok dari tadi gak kelihatan ?" selidik Raka.


"Istri gue lagi di Jogjakarta, di tempat orang tua gue. Kenapa ? Ngapain nyariin istri gue ? Lo tuh ya, kepo banget sama urusan orang lain !!" kesal Roy.


"Udah Roy, jangan di masukin hati. Tahu sendiri nih anak kayak gimana. Yang ada Lo kena serangan jantung kalo terus ladenin dia." Sela Aksa.


Raka cengengesan dan memalingkan pandangannya pada Aksa.


"Hei, tunggu !!! siapa itu ?" tanya Raka secara tiba-tiba dengan mata yang agak memerah menahan sesuatu saat ia melihat rekaman cctv yang sedang di lihat Aksa.


"Hhm, kenapa rekaman yang ini seakan tidak lengkap ?" tanya Raka penasaran sambil menunjuk layar monitor lainnya.


Aksa dan Roy sangat terkejut mendengar ucapan Raka, bertanya-tanya dalam hati, apa maksud dari ekspresi Raka yang sangat aneh menurut mereka saat melihat rekaman itu.


"Apa maksud Lo ?" tanya Roy menatap intens Raka.


Bukan hanya Roy, tapi kali ini Aksa juga sedang menatap nya dengan tatapan mengintimidasi.


Jelas semua menjadi sangat bingung atas pertanyaannya itu.


Raka kembali menampakkan wajah lugu layaknya anak penurut seperti biasanya.


"Apa maksud ucapan Lo tadi ? Ini adalah rekaman cctv dari rumah sakit yang kemarin Lo tunjukin sama kita. Itu rekaman rekayasa !!" tanya Roy dengan nada mengintrogasi dan disertai sedikit amarah.


"Roy, tenang... sejauh ini dia sudah membantu kita." Aksa mencoba menenangkan Roy.


"Raka, coba jelaskan kenapa Lo kaget saat melihat rekaman ini ?" imbuh Aksa yang ikut curiga.


"Ya jelas kaget lah, kak ! Itu pembunuh ibu Nurul kan ? Lalu orang yang satunya ? Siapa dia kak ?" Raka balik bertanya dengan mimik serius.

__ADS_1


"Jujur, gue sendiri juga gak yakin. Tapi, rasa-rasanya gue sama Roy gak asing dengan sosok pria itu." jawab Aksa.


"Bagaimana dengan cctv 28 yang gak lengkap ini ?" Roy kembali bertanya pada Raka sambil menunjuk layar.


"Oh.. itu ? Itu memang ada pembaruan di beberapa cctv, jadi mungkin rekamannya ada di cctv sebelumnya." jelas Raka.


"Entah kenapa gue merasa ada yang aneh dari keterangan Raka. Anak ini terkesan sedang menutupi sesuatu. Tapi apa ? Ini masih terlalu membingungkan." gumam Roy dalam hati.


"Untuk saat ini kita gak ada jalan lain lagi, Roy. Raka, tolong carikan rekaman cctv lainnya lagi !!" Pinta Aksa.


"Semoga Lo gak mengkhianati gue, Raka !!! Karena gue sangat membenci pengkhianat!!" gumam Aksa dalam hati.


Semua potongan puzzle satu per satu perlahan mulai terkumpul. Aksa sudah mulai bisa menebak apa sebenarnya yang terjadi pada ibu Nurul, tentang kematian yang di rasanya tidak wajar, tentang pertemuan ayahnya dengan Ricky dan tentang perpisahannya dengan Amanda.


Aksa yang di bantu oleh Roy dengan cermat mulai menyusun potongan-potongan itu menjadi satu. Antara pengkhianatan dan kepercayaan, antara cinta dan harta, semuanya semakin jelas antara fakta dan kepalsuan semata.


Aksa menatap nanar pada langit-langit apartemen Roy, seakan mencari ketenangan untuk segera menyelesaikan semua masalahnya.


***


Aksa memegang kemudi mobil, menstabilkan ritme lajunya agar tetap pelan. Sedan mewah itu membiarkan pikiran pengemudinya melayang entah kemana.


Ia kalut, dalam otaknya, rangkaian masalah yang terjadi dalam hidupnya bagai benang kusut yang belum menemukan ujungnya, belum bisa di urai.


Aksa sudah memasrahkan kasus kematian ibu Nurul kepada Roy dan detektifnya. Mereka harus menemukan cara mengurai benang kusut itu.


Aksa memijat pelipisnya. Kepalanya mulai berdenyut. Sejenak ia menarik nafas.


Amarah di dadanya masih bergejolak. Dia masih tidak bisa berpikir dengan jernih, kenapa papanya bisa memiliki misi rahasia dengan Ricky ? Itupun di belakangnya. Apa yang sebenarnya di rencanakan oleh papanya ? Ingin memberontak dari Amanda, kah ? Tapi kenapa dirinya tidak di libatkan ? Aksa menghembuskan nafasnya, kesal.


"Mungkin papa lebih percaya sama Ricky dari pada aku." gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Memikirkan hal itu sedikit membuatnya merasa kecewa.


Tapi dari dulu memang Aksa tidak pernah sejalan dengan Aris yang begitu ambisi. Mereka berdua bagaikan dua kutub magnet yang berbeda.


__ADS_2