Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Kehilangan


__ADS_3

Citra sedang di tangani oleh dokter kandungannya.


Saat dalam perjalanan, Aksa sudah menghubungi dokter kandungan Citra terlebih dahulu. Jadi, dia sudah bersiap-siap dan langsung menangani Citra begitu mereka sampai. Sementara Aksa, dia tetap harus menunggu di luar.


Harap-harap cemas, Aksa seperti setrika yang mondar-mandir kesana kemari.


Sambil berdoa, ya... hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.


Membayangkan hal buruk apa yang bisa saja terjadi akibat pendarahan hebat yang di alami Citra.


Setengah jam kemudian dokter keluar dengan wajah yang Aksa sendiri sudah tahu artinya.


Aksa menggeleng berulang-ulang. Hatinya menolak menerima kenyataan.


Satria dan Lena segera berdiri mendekati Aksa.


"Maafkan saya, Dokter Aksa ! Tapi janin nya tidak bisa di selamatkan."


Ucapan Dokter itu seakan membuat dunia Aksa runtuh. Dia benar-benar jatuh sedalam-dalamnya sekarang.


Kakinya seketika lemas hingga ia jatuh.


Satria yang berada di sampingnya segera membantunya berdiri dan membawanya duduk.


"Dokter Aksa harus kuat ! Ibu Citra sangat membutuhkan Dokter, sekarang ! Dia juga sangat terpukul dengan kehilangan ini." Lanjut dokter kandungan itu.


Mendengar ucapan dokter itu, Aksa berusaha menguatkan hatinya yang sangat tidak baik-baik saja.


Seperti ini rasanya kehilangan ? Sakit ! Sakit sekali !!!


Aksa pun bangkit dari duduknya. Mengusap wajahnya dengan kasar. Menarik nafas dalam dan menghembuskan nya berulang-ulang.


Mengatur nafasnya agar Citra tidak mengetahui kerapuhannya. Dia harus menjadi tiang untuk Citra berpegang di saat terpuruk seperti ini. Meskipun dia juga sedang terpuruk, namun dia seorang suami.


"Kamu pasti bisa !" Ucap Satria menyemangati.


Aksa hanya mengangguk dan perlahan masuk ke dalam ruangan dimana Citra berada.


Di dalam sana terdengar suara tangisan sang istri. Suara tangisan itu begitu menyayat hati.


Aksa segera menghampirinya dan membawa tubuh rapuh itu kedalam pelukannya. Membenamkan wajah sedih itu di dadanya yang sebenarnya juga sedang bergemuruh sangat hebat.


"Anak kita, Mas..." Ucap Citra di sela-sela tangisnya.


Aksa membelai kepala Citra. Bibirnya pun seakan tak mampu berucap.


"Anak kita..." Sekali lagi Citra menangis.

__ADS_1


"Ini sudah takdir sayang, kita harus mengikhlaskan nya. Anak kita akan menjadi malaikat yang akan selalu menjaga kita. Dan kita, akan selalu mengenangnya disini..." Ucap Saga menyentuh dada Citra.


Tangis Citra semakin pecah.


Untuk kedua kalinya dia harus merasakan sakitnya kehilangan.


Anak yang sudah dia nanti-nantikan, anak yang akan menjadi temannya menjalani hari-hari nya sebagai orang tua, sekarang telah tiada.


"Aku tahu ini berat. Sangat berat ! Aku juga tidak bisa menerimanya. Sakit ? Iya ! Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi aku harus kuat, demi kamu ! Karena aku tahu, kamu rapuh."


Tubuh Aleta berguncang karena tangisnya yang tak ingin berhenti.


Saga hanya bisa memeluknya, membelainya, berharap pelukannya bisa sedikit menenangkan hati istrinya.


Setelah cukup lama menangis hingga matanya benar-benar sembab, Citra mengangkat kepalanya dari dada Aksa.


"Maafkan aku, Mas..." Citra menatap mata basah milik suaminya.


Di mata itu juga sangat jelas tergambar kesedihan yang sama dengan dirinya.


"Kenapa minta maaf ?" Aksa mengusap sisa-sisa air mata yang sesekali masih menetes di wajah Citra.


"Aku gagal menjadi seorang ibu, bahkan saat anak kita masih dalam kandungan. Aku tidak bisa menjaga nya dengan baik hingga dia harus pergi sebelum bisa melihat mama dan papanya." Lirih Citra.


"Ssstt..." Aksa meletakkan jarinya tepat di bibir Citra hingga Citra tak lagi berucap.


Yang seharusnya kamu rileks, malah harus memikirkan semua masalahku dan mempengaruhi anak kita. Maafkan aku sudah menyeret mu masuk ke dalam kehidupan seperti ini. Maafkan aku yang selalu membuatmu dalam bahaya." Ucap Aksa tak mampu lagi membendung perasaannya.


Pertahannya runtuh. Air matanya lolos membasahi pipinya.


"Aku tidak pernah menyesal telah masuk ke duniamu, Mas." Sahut Citra singkat namun bisa membungkam Aksa.


Aksa kembali membawa Citra ke dalam pelukannya. Citra kini sudah semakin tenang. Begitupun dengan Aksa.


Mereka masih saling berpelukan di dalam ruangan itu.


"Mas..." Panggil Citra.


"Aku ingin ikut mengantar janin anak kita ke tempat istirahat nya." Lanjutnya.


Aksa memegang kedua pundak Citra, membawa tubuh itu sedikit menjauh, hingga dia bisa dengan jelas menatap mata sedih itu.


"Kamu masih belum pulih sayang. Rahimmu masih terluka." Ucap Saga mengingatkan Citra akan kondisinya.


"Aku bisa, Mas ! Aku bisa menahannya ! Setidaknya hanya mengantar saja, setelah itu kamu bisa membawaku kembali ke rumah sakit ini. Aku mohon, Mas..." Citra memelas.


Aksa tidak mungkin membuat Citra kecewa dan bertambah sedih jika dia menolak permintaan Citra.

__ADS_1


"Baiklah ! Tapi setelah itu kita kembali ke rumah sakit. Kamu harus di rawat dulu." Ucap Aksa membuat sedikit senyuman kembali terukir di wajah Citra.


"Terima kasih, Mas..."


.


.


Di atas sebuah tumpukan tanah, tertancap sebuah nisan. Di depan nisan itu, semua orang menumpahkan air mata kesedihan mereka bersama bunga yang di tabur di atas tanah itu.


Di balik kacamata hitam, air mata nya terus saja mengalir tanpa ingin berhenti.


Citra sangat ingin memeluk pusara anaknya, namun Aksa tidak mengizinkannya beranjak dari kursi roda nya.


"Kamu yang sabar, Citra... Mama yakin ada maksud Tuhan di balik semua peristiwa ini." Ucap Hilda menguatkan hati menantunya.


"Iya, Ma. Terima kasih." Jawabnya lirih.


Beberapa keluarga yang ikut melayat pun mulai pulang satu per satu, termasuk Hilda dan Aris.


Tinggal Aksa, Citra, Roy, Lena dan Satria.


Aksa ingin memberi Citra lebih banyak waktu disini.


Setelah merasa cukup, Aksa pun mengajak Citra untuk segera kembali ke rumah sakit.


"Sayang, kita kembali ke rumah sakit sekarang ya..." Ucap Aksa.


"Iya, Mas !" Jawabnya.


Aksa pun segera memegang pegangan kursi roda itu hendak mendorongnya.


"Sayang, mama dan papa pulang dulu ya... Kamu baik-baik disana. Mama dan papa akan sering-sering mengunjungimu disini." Ucap Citra sebelum meninggalkan makam anaknya.


Aksa pun tersenyum mendengarnya, dan mereka langsung pergi di ikuti oleh yang lain.


Aksa membantu Citra untuk masuk ke dalam mobil, sementara Roy memasukkan kursi roda nya ke dalam bagasi.


"Segera selesaikan sekarang juga ! Gue gak mau berlama-lama lagi !!! Sudah cukup gue kehilangan anak gue !!! Gue gak mau kehilangan lebih banyak lagi." Aksa memberikan perintah pada Roy. Suaranya terdengar begitu berat karena menahan emosi.


"Lo tenang aja ! Biar gue dan Satria yang menyelesaikannya. Lo fokus ke Citra aja dulu !"


.


.


.

__ADS_1


Bersambung,


__ADS_2