
Aksa membopong tubuh Amanda yang basah kuyup. Mendekapnya erat, dan dengan satu tangan berpegangan pada tangga, dia membawa tubuh Amanda naik ke permukaan.
Meski dia membenci wanita itu, namun dia masih memiliki rasa kasihan melihat keadaan Amanda yang begitu hancur. Dia tidak menyangka, seorang Amanda bisa memiliki perasaan sedalam itu kepadanya.
Aksa menelan saliva nya saat melihat tubuh Amanda yang nyaris tanpa pakaian. Lingerie tipis yang ia kenakan, basah kuyup membuatnya hampir telanjang. Dua buah kembar itu pun terlihat begitu jelas. Dan belahan daging kenyal sensitive milik Amanda pun sedikit terlihat. Lelaki manapun yang melihat pasti akan tergoda. Tubuh sintal dan mulusnya benar-benar seperti hidangan mewah di depan mulut-mulut yang kelaparan.
Aksa sempat melupakan niat awalnya untuk mendatangi Amanda, hingga membuatnya gusar.
"Fokus, Aksa !" sergahnya pada dirinya sendiri.
Aksa menekan dada dan perut Amanda bergantian, berusaha mengeluarkan air yang tertekan olehnya. Beberapa kali Aksa melakukannya tapi tidak ada pergerakan dari Amanda. Cara terakhir adalah memberikan nafas buatan. Tapi... haruskah ???
"Bukankah bagus jika dia mati ?" pikiran jahat Aksa hinggap.
Ah, tidak ! Aksa bukan orang jahat. Dia menarik nafas panjang dan meniupkan oksigen ke mulut Amanda.
Beberapa kali, namun belum ada pergerakan juga. Aksa panik. Tubuh Amanda juga mulai dingin. Dia harus membawa tubuh Amanda ke dalam. Dia butuh berganti pakaian. Aksa akan meminta Bi' Ana untuk menggantikan pakaian Amanda, tapi di sudut manapun dia tidak menemukan keberadaan asisten rumah tangganya itu.
Perlahan Aksa merebahkan tubuh Amanda di atas ranjang mereka, bagaikan malam pertama. Di luar hujan turun begitu lebat, AC di kamar ini membuat tubuh Aksa yang juga basah merasa kedinginan.
Dia juga harus berganti pakaian, tapi itu bisa di lakukan nanti. Sekarang Amanda harus di urus dulu.
Aksa mengambil sebuah kemeja putih, meletakkannya di samping Amanda. Dada Aksa bergetar hebat, jantungnya berpacu begitu kuat.
Mungkin karena kamar ini di penuhi bisikan-bisikan setan untuk melemahkan imannya.
Dengan tidak yakin, Aksa melepas ****** ***** Amanda. Segera memalingkan pandangannya dan berusaha memakaikan ****** ***** yang baru.
Aksa berpindah meraih kaitan kain penutup buah kembar milik Amanda, dan melepasnya.
Dia kembali menelan Saliva nya. Dia tahu, dia tidak akan kuat jika terlalu lama. Bagaimana pun dia laki-laki normal.
Tanpa menutupi buah kembar itu dengan kain pembungkus lagi, Aksa langsung memakaikan kemeja putih itu pada tubuh Amanda.
Sekali lagi Aksa berusaha menekan dada Amanda agar dia sadar, namun nihil.
Aksa akan berganti pakaian terlebih dahulu lalu akan membawa Amanda ke rumah sakit.
Mengingat Amanda yang masih pingsan, Aksa tidak berniat untuk berganti pakaian di kamar mandi. Ia membuka lemari yang masih berisi pakaian nya, lalu segera membuka pakaian nya yang basah.
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Itu pasti Amanda. Aksa bisa merasakan kulit dingin Amanda menempel di tubuhnya.
Tapi entah kenapa kehangat seketika menjalar di sekujur tubuhnya.
Apakah dari tadi Amanda hanya berpura-pura ? Dan bukankah ia sudah mengganti pakaian Amanda ? Kenapa sekarang bisa tidak memakai apa-apa ? Dasar Amanda, licik !!!
Aksa menutup matanya, menahan gejolak nafsunya yang memuncak. Amanda semakin erat memeluk tubuh Aksa dari belakang.
"Kamu datang disaat yang tepat. Aku sangat merindukanmu, Aksa !" bisik Amanda manja tepat di belakang telinga Aksa disertai ******* yang membuat darah Aksa berdesir.
"Lepaskan, Manda ! Aku datang bukan untuk ini." Sekuat tenaga Aksa menolak, namun tak satupun anggota tubuhnya yang protes saat Amanda mulai menciumi setiap jengkal punggungnya.
"Sial ! Ada apa denganku ?" batinnya.
Ciuman Amanda semakin liar, tangannya mulai meraba lengan Aksa mesra. Terus turun ke bawah hendak menyentuh rudal perkasa Aksa, tapi Aksa menghentikannya.
Memegang tangan Amanda dan melempar tubuh ramping itu ke atas kasur.
Anehnya Amanda malah tersenyum menggoda. Dia mengira Aksa sudah jatuh oleh godaannya.
Aksa membentangkan selimut lebar menutupi tubuh Amanda. Wajahnya seketika berubah kaget.
Sementara Amanda masih kebingungan, Aksa membuka laci lemarinya, mencari sesuatu dan menemukan sebuah tali. Dengan sigap ia langsung mengikat tangan Amanda pada tepi ranjang.
Dia berontak, berusaha melepaskan cengkeraman Aksa pada tangan kirinya menggunakan tangan kanannya, memukuli punggung Aksa, namun percuma. Tubuh kekar itu jauh lebih kuat dari pada tangan kurus milik Amanda.
Dengan kasar Aksa mendorong tubuh Amanda hingga jatuh ke atas kasur dan langsung mengikat tangan yang satunya lagi.
"Lepaskan aku, Aksa !!" Teriak Amanda terus berontak.
"Tadi aku sempat merasa simpati, lalu kamu dengan sengaja memanfaatkan keadaan dan ingin menggodaku. Otakku langsung menolak meski semua anggota tubuhku bereaksi berbeda ! Tubuh lelakiku masih normal, dan merespon setiap sentuhan mu. Tapi hatiku sudah menolak mu jauh sebelum aku mengetahui semuanya. Lalu apa kamu pikir kali ini aku akan menerima mu lagi ?" Sergah Aksa.
"Tidak Amanda !! Dengan murahnya kamu menggunakan tubuhmu demi mencapai tujuanmu. Lalu apa tadi ? Kamu bilang mencintaiku ? Itu bukan cinta. Itu nafsu. Cinta bukan seperti itu. Andai kamu bersikap lebih baik dari dulu, mungkin ceritanya akan berbeda. Tapi kamu terlanjur jahat !" pungkas Aksa menatap tajam wanita di depannya yang terus berontak ingin melepaskan diri.
"Kenapa kamu begitu tega, Sa ? Kamu kejam mengikatku seperti ini !!" Amanda mulai menangis.
"Aku bisa lebih kejam dari ini. Kamu sudah membangunkan sifat jahatku. Semua yang telah kamu lakukan sudah melampaui batas ! Kamu lihat keadaan Citra sekarang ? Kamu tega melakukan semua itu terhadapnya. Apa salahnya padamu !" Tanya Aksa dengan sorot mata berapi-api.
"Dia menjauhkanmu dariku !!" ucap Amanda pelan.
__ADS_1
Melihat dari ekspresi Aksa yang tingkat kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun, Amanda yakin jika Aksa mengira dirinya adalah pelaku penembakan Citra.
"Tapi jika kamu mengira aku adalah pelaku penembakan wanita ****** itu, kamu salah besar !" sergah Amanda.
Aksa tertawa sinis.
"Hahh... Dan kamu pikir aku akan percaya ? Tidak ada pencuri yang mengakui dirinya sebagai seorang pencuri !!" ucap Aksa.
Aksa mendekati Amanda, menarik selimut yang menutupi tubuh polosnya. Wanita itu panik saat mengetahui Aksa menyalakan kamera ponselnya, mengambil gambar dirinya yang begitu polos.
"Aksa, apa sebenarnya niatmu ?" Bentak Amanda ketakutan.
Namun Aksa terus mengambil foto dirinya sebanyak mungkin dari berbagai sisi yang berbeda.
"Lepaskan aku !" Teriaknya.
"Aku akan mengekspose foto polosmu ini ke semua media sosial, jika kamu tidak mengakui semua kesalahnmu ! Kamu tahu kan, karirmu akan hancur Manda !!!"
Mata Amanda melotot kaget.
"Jangan, Sa ! Kumohon..." Rengeknya.
"Kalau begitu, katakan! Atau.... ?" gertak Aksa menunjukkan layar ponselnya yang sudah siap mengirim semua foto-foto Amanda.
"Jangan, Sa ! Jangan..." Amanda memohon dengan Isak tangis dan suara mengiba.
Mana mungkin dia rela jika harus kehilangan karir dan popularitas yang sudah dia bangun selama ini. Tapi...
"Aku benar-benar tidak tahu, Aksa ! Aku memang ingin melenyapkan Citra, tapi yang kemarin menembaknya bukan aku. Cobalah kamu selidiki Om Darius !!"
Ucapan Amanda terlihat begitu meyakinkan.
Tiba-tiba...
"Amanda sayang...."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung,