
Sementara di ruang kerjanya, di sebuah gedung firma hukum, Satria terlihat sedang berpikir sambil duduk berputar-putar di atas kursi kerjanya.
Sepertinya ada yang mengganjal dengan hubungan antara Citra dan Aksa.
Itu yang terus berputar dalam pikiran Satria saat ini.
"Bagaimana mungkin Aksa yang notabene berada di kalangan kelas atas ingin menikahi Citra ?" pikirnya.
Memang bisa jadi kalau Aksa menyukai Citra karena kecantikannya. Karena dirinya juga tidak munafik. Dia terpikat dengan kecantikan yang dimiliki Citra.
Tapi Satria menyukai Citra bukan hanya karena kecantikan nya saja, tapi karena Satria kagum dengan sifat dan baktinya Citra pada ibunya.
Dia saja yang dibesarkan di lingkungan agama yang cukup, masih sering membantah orang tua nya.
Tapi Aksa ? Apakah orang tua Aksa bisa menerima keberadaan Citra ? Orang tua Satria saja yang berada di kalangan biasa-biasa saja, tidak bisa menerima Citra karena profesinya. Bagaimana dengan orang tua Aksa ? Rasanya tidak mungkin.
Satria benar-benar berperang dengan pikirannya. Dia ingin memantaskan Citra agar orang tuanya bisa menerima Citra dan mereka bisa melanjutkan hubungan yang lebih serius. Tapi tampaknya kerja kerasnya akan bertambah dengan adanya Aksa yang di anggap sebagai saingannya sekarang.
Satria meraih ponselnya dan membuka sebuah situs pencarian. Dalam kolom pencarian dia mengetik nama Aksa Sanjaya pemilik rumah sakit Jakarta Medical Center (JMC).
Tak lama hasil pencarian pun keluar.
Satria terperangah.
__ADS_1
"Apa !!! Gila !!! Jadi dia ?!" pekik Satria saat membaca artikel tentang Aksa Sanjaya, seorang Dokter Spesialis Jantung, pewaris tunggal perusahaan keluarga Sanjaya, sekaligus suami dari seorang model ternama Amanda Caroline.
Tangan Satria mengepal kuat. Ingin rasanya dia meninju wajah pria sombong itu sampai hancur tak berbentuk.
Satria kembali fokus pada ponselnya tapi kali ini dia menghubungi Citra.
"Halo Cit, kamu dimana ?" tanya Satria begitu panggilan terhubung.
"Di rumah sakit lah !! Dimana lagi..." jawab Citra.
"Kenapa, Sat ?" tanyanya lagi.
"Gak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan saja. Pulang kerja nanti, aku mampir ya. Sekalian ada yang mau aku bicarakan sama kamu." ucap Satria.
"Kenapa gak bicara sekarang aja ?" tanya Citra.
"Alasan aja kamu, Sat ! Bilang aja kamu pengen ketemu aku." goda Citra.
"Hehehe ... itu tahu !! Ya sudah ya, Cit... sampai ketemu nanti."
"Iya." jawab Citra.
Panggilan pun berakhir.
__ADS_1
"Sepertinya kamu yang akan tersingkir lebih dulu, Aksa Sanjaya !!" gumam Satria.
Matahari mulai menenggelamkan dirinya hingga malam pun datang. Satria baru saja menyelesaikan pekerjaannya dengan asistennya pun bersiap untuk pulang. Tapi kali ini Satria tidak langsung pulang karena dia sudah janji akan mampir ke rumah sakit.
Dalam perjalanan, tak lupa Satria membeli martabak keju spesial kesukaan Citra.
Satria berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar rawat Ibu Nurul. Seketika mata Satria memicing saat melihat pria sombong itu dari arah berlawanan menuju ke arahnya, hingga mereka saling berhadapan.
"Sepertinya kita berjodoh !" ucap Satria tersenyum remeh.
"Sayangnya gue gak Sudi berjodoh sama Lo !!" balas Aksa.
"Sebaiknya dokter cepat pulang !! Takut istrimu menunggu !!" bisik Satria sambil menepuk pundak Aksa.
Aksa yang mendengar ucapan Satria pun geram.
"Jangan ikut campur urusanku !! Dengan mencari tahu siapa aku, itu akan membuat kamu semakin dekat dengan kekalahan !!" ancamnya.
"Oh iya ?? Sayangnya aku gak takut dengan ancaman mu itu !! Citra gak akan mungkin memilih pria beristri untuk dijadikan suami." balas Satria.
Emosi Aksa tersulut. Dia langsung menarik kerah baju Satria dengan tangan kirinya dan tangan kanannya siap meninju wajah Satria.
Namun gerakan itu terhenti saat terdengar suara seseorang disamping mereka.
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian lakukan ???"
Bersambung,