
Di bawah kaki langit yang cerah, sepasang suami istri tengah bercengkrama membahas masa depan. Menikmati makanan yang tersaji di atas meja sambil sesekali terdengar tawa yang menjadi candu bagi sang suami.
Restoran yang seharusnya tempat untuk makan malah menjadi tempat untuk saling mengungkap, berbicara dari mata ke mata yang saling menatap. Kedua tangan saling menggenggam, membuat iri orang-orang yang melihat.
"Nanti kita pergi menemui orang tua ku." ucap Aksa masih menggenggam erat tangan halus Citra.
Citra sedikit tersentak mendengar ajakan Aksa. Matanya menjadi sedikit sayu, masih ragu apakah ini waktu yang tepat untuk dirinya bertemu dengan orang tua Aksa.
"Tapi Mas...." ingin Citra mengungkap keraguan hatinya, Aksa langsung mencoba meyakinkannya lagi.
"Tenang saja, orang tua ku pasti akan menyambut mu dengan tangan terbuka."
Entah kenapa hatinya merasa sangat tidak karuan saat ini. Antara senang atau ketakutan.
Citra pun mengangguk pelan, mencoba mengikuti keinginan suaminya walau sedikit enggan.
"Sayang, kamu adalah istriku. Keluargaku adalah keluargamu juga. Aku ingin saat anak kita lahir nanti, dia di sambut bahagia oleh kakek neneknya. Aku ingin kita menjadi keluarga yang paling bahagia, begitu juga dengan anak kita nanti." Aksa kembali meyakinkan Citra sembari memberikan pelukan erat untuk menenangkan semua kekhawatiran istrinya itu.
Melihat Citra yang sudah lebih siap, Aksa langsung mengajak Citra ikut bersama nya menuju ke rumah orang tuanya, untuk mempertemukan Citra dengan keluarganya.
Rasa takut disertai khawatir masih saja menghantui perasaan Citra di sepanjang perjalanan.
Namun Citra berusaha tegar. Semua demi Aksa dan calon bayi yang sedang di kandungnya.
"Nanti aku panggil kedua orang tua mu apa ya, Mas ?" tanya Citra bingung.
"Panggil papa dan mama saja, sayang " jawab Aksa singkat.
"Hah ?! Langsung panggil papa dan mama ? Emangnya gak apa-apa, Mas ? Aku takut nantinya mereka gak suka.." Ucap Citra masih ragu-ragu.
"Gak lah, mereka sudah tahu semua kok."
Deg!
Pernyataan Aksa malah semakin membuat Citra gugup, bagaimana harus menghadapi orang tua Aksa nanti.
Setibanya di rumah kedua orang tua Aksa, wajah Citra seketika memucat. Tubuhnya getir, jantungnya berdegup lebih kencang dan nafasnya sedikit berantakan. Tawa kecil terdengar keluar dari bibir Aksa saat melihat ekspresi Cita saat itu yang di anggap lucu baginya.
"Jangan ketawa, Mas !! Aku lagi gugup setengah mati, nih !!" protes Citra dengan suara pelan, takut terdengar sampai dalam.
"Iya sayang, maaf.."
__ADS_1
Baru saja selangkah memasuki rumah, mereka telah di sambut oleh kedua orang tua Aksa dengan tatapan tajam terus memperhatikan Citra.
"Selamat siang, Ma..." dengan menahan semua rasa yang bercampur aduk, Citra menyapa mama mertuanya sembari mencium punggung tangan Hilda.
Tanpa di duga, Hilda menyambutnya dengan tangan terbuka. Senyuman lebar menghiasi wajah Hilda dan langsung mengajak Citra untuk duduk di sampingnya.
"Selamat siang Citra, mari masuk." jawab Hilda.
Jika Hilda begitu ramah menyambut kehadiran Citra, tidak dengan Aris, papa nya Aksa. Ekspresinya masih sangat datar. Sangat jelas terlihat bahwa dia tidak setuju dengan hubungan putranya dan Citra.
Aksa mulai menjelaskan secara perlahan, meminta restu kedua orang tuanya agar bisa secara resmi memulai hubungan baru bersama Citra.
"Pa, Ma... Aksa ingin jujur. Aksa ingin menikahi Citra secara sah. Aksa benar-benar mencintainya dan ingin memulai hidup baru bersama dengannya." lirih Aksa penuh harap pada kedua orang tuanya.
"Mama setuju-setuju saja sayang, karena yang akan menjalaninya adalah kamu. Ah, tidak... maksud mama, kalian. Mama harap hubungan kalian selalu harmonis dan tetap bersama selamanya." balas Hilda dengan senyum bahagia dan mata bercahaya.
Aris masih bungkam. Menatap calon menantunya pun enggan. Sikapnya sedikit angkuh, menolak kehadiran Citra dengan penuh rasa sopan. Antara mama dan papa nya Aksa, keduanya memiliki pendapat yang berbeda.
"Papa ?" sebuah tanya tertuju pada Aris. Aris masih diam, pura-pura tidak mendengar. Sikapnya membuat Citra sedikit sedih karena sadar mendapat penolakan dari papanya Aksa. Namun hatinya masih memaksa untuk berpikiran positif, karena adalah hal yang wajar jika seorang ayah tidak bisa langsung merestui hubungan anaknya, apalagi dengan status Aksa yang masih belum bercerai dengan Amanda.
Tiga pasang mata tertuju pada sosok Aris, membuat nya sedikit merasa tidak nyaman.
Dengan sopan Hilda meminta Citra untuk menunggu sebentar.
"Mas, ikut aku sebentar. Ada beberapa hal penting yang ingin aku katakan." Ajak Hilda.
"Hhmm..." Aris dengan enggan pergi mengikuti istrinya ke belakang.
Sementara itu, hati Citra menjadi sedikit tidak tenang. Kini bertambah lagi ketakutannya. Dia takut jika kedua orang tua Aksa malah bertengkar karena mama Hilda yang terlihat membela dirinya, namun tidak dengan papa Aris.
Aksa menangkap kecemasan di mata Citra. Ia pun mendekap Citra lembut, serta membelai halus rambut Citra yang tertata rapi.
Hangatnya pelukan Aksa memberikan rasa nyaman dan tenteram hingga mampu membuat perasaan Citra kembali membaik.
"Tidak ada yang perlu kamu takutkan, sayang. Papa pasti akan bisa menerima hubungan kita ini. Dia hanya masih belum rela pada kenyataan, karena aku harus berpisah dengan Amanda. Tapi kamu tenang saja, mama pasti bisa meyakinkan papa."
Aksa mengatakan banyak hal, berharap bisa membuat Citra tenang. Nyatanya salah, hatinya malah semakin tidak karuan. Senyum di wajahnya menjadi topeng, memaksakan hantu untuk percaya.
Hilda mengatakan semuanya pada Aris. Semua yang ia ketahui tentang Amanda.
"Apa Mas tahu kalau Amanda telah berselingkuh dengan Ricky?! Sepupu suaminya sendiri !!!" geram Hilda.
__ADS_1
"Memangnya tahu dari mana kalau Amanda selingkuh? Bukannya hubungan mereka baik-baik saja selama ini ?" Aris memasang wajah kaget, berpura-pura tidak tahu, padahal dirinya lah yang menyuruh Ricky untuk mendekati Amanda.
"Mama sudah pernah bilang kalau mama akan menyuruh orang untuk memata-matai Amanda. Dan dari orang suruhan mama, akhirnya mama tahu kelakuan Amanda dan Ricky selama ini di belakang Aksa."
Hilda menceritakan semua yang ia ketahui tentang perselingkuhan Amanda, bahkan sampai hal kecil pun.
"Jujur saja mama sangat kecewa dengan Ricky. Bukan hanya kecewa, mama sudah sangat dan sangat membenci merek berdua karena berani bermain cinta di belakang Aksa !!" sambung Hilda memelototi suaminya.
Namun hal itu tidak berhasil membuat Aris merubah keputusannya.
Aris masih menentang hubungan Aksa dan Citra. Dia tidak ingin kehilangan saham atas rumah sakit yang dimiliki oleh Amanda.
"Tapi Ma, kalau Aksa sampai benar-benar berpisah dengan Amanda, kita akan kehilangan aset berharga kita. Kita tidak akan lagi mendapatkan bagian dari saham rumah sakit." balas Aris yang masih saja kolot.
"Pikirmu anak kita itu apa ? Sebuah alat untuk memenuhi hasrat kita ? Jika di pikiranmu hanya uang dan uang, untuk apa aku susah payah merawat dan membesarkan Aksa ? Pikirkan kembali jawabanmu, karena hal ini menyangkut kebahagiaan anak kita !!" Ucap Hilda kesal dan langsung meninggalkan Aris.
Hatinya di penuhi amarah pada suaminya, dan benci kepada Amanda, karena keduanya sama-sama tidak memikirkan perasaan Aksa.
Adam bersandar pada dinding, menatap lekat langit-langit rumah. Pikirannya kalut, terbawa hanyut oleh rasa bimbang.
Masih enggan hatinya untuk melepaskan saham yang begitu bernilai baginya, tapi juga tidak bisa menjual anaknya hanya demi keuntungan pribadi.
Sementara Aris masih berpikir keras tentang pilihannya, Hilda menjadi lebih dekat dengan Citra. Aksa pun senang melihat kedekatan dua wanita yang sama-sama berarti baginya.
Namun sayangnya, bahkan sampai kepergian mereka, Adam masih tidak memberikan jawaban dan lebih memilih untuk bungkam.
Senja pun tiba. Aksa dan Citra pamit untuk pulang. Tidak langsung menuju apartemen, Aksa ingin menikmati senja bersama Citra.
Mereka berhenti di sebuah taman.
Duduk berdekatan di sebuah bangku,saling menatap dan bergandengan tangan.
"Aku hanya ingin selalu bersamamu, seperti ini setiap waktu. Sekalipun tidak ada yang merestui ku, aku akan tetap bersamamu. Menua hingga rambut kita memutih. Menghilang dari dunia dan kembali menyatu di surga."
.
.
.
Bersambung,
__ADS_1