Di Kejar Cinta Om Dokter

Di Kejar Cinta Om Dokter
Pertemuan Aris dan Citra


__ADS_3

Hari ini Citra sengaja mengajak Lena untuk jalan-jalan di Mall. Acara shoping nya kemarin bersama Aksa kan gagal karena Aksa keburu marah.


Saat dirinya sedang asik memilah baju hamil yang ia sukai, ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk di ponselnya.


Citra mendelik kaget melihat siapa yang mengiriminya pesan. Dia adalah Aris, papa mertuanya sendiri.


"Datang ke rumah sekarang, saya ingin membicarakan sesuatu."


Pesan yang sangat singkat namun cukup membuat Citra tercekat saat membacanya.


"Lena..." panggil Citra masih dengan suara tercekat.


Wanita yang di panggil itu menoleh lalu menghampirinya.


"Ada apa, Bu ?" Tanya Lena.


"Papa Aris, mertuaku meminta aku untuk datang ke rumahnya. Bisa antarkan aku kesana ?" Jelas Citra.


"Bisa Bu."


Citra pun meninggalkan beberapa baju yang sudah di pegangnya dan langsung menuju rumah sang mertua di temani oleh Lena.


Namun ada satu hal yang Citra lupa, yaitu memberitahu Aksa jika ia akan pergi ke rumah orang tua Aksa.


Dengan dada yang terasa sesak, rongga pada paru-paru nya seakan menyempit, membuatnya harus sedikit berjuang untuk mengambil satu tarikan nafas. Citra terlalu grogi. Dengan sedikit ragu, ia menekan bel dan beberapa saat kemudian keluarlah seorang pria paruh baya dengan rambut yang sudah mulai memutih.


Aris berjalan menuju halaman luas di pekarangan rumah, sementara Citra mengikuti nya dari belakang.


Sambutan keduanya ini terasa lebih menakutkan, meski Citra tahu Aris masih belum bisa menerimanya, tapi orang di depan nya ini masih memperlakukan nya dengan baik.


Mereka duduk di sebuah bangku taman di halaman rumah.


"Hilda sedang keluar, ada acara kumpul-kumpul dan arisan bersama teman-temannya." Aris menjelaskan sembari tangannya menyodorkan minuman yang baru saja di bawa oleh asisten rumah tangga mereka.


Mereka duduk berhadapan dengan penghalang sebuah meja kecil berbentuk bundar, dengan warna cat pucat.


Citra masih belum berani memandang mata mertuanya sebelum kata-kata Aris membuat matanya membelalak lebar, terkejut.


"Langsung saja, saya ingin menanyakan satu hal. Apakah kamu sudah tahu kalau Aksa akan menceraikan Amanda ?"


Citra menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aksa sudah melayangkan gugatan cerai untuk Amanda. Niatnya untuk menikahinya secara sah ternyata sungguh-sungguh. Tapi dia tidak sadar akibat ulahnya, dia akan kehilangan semuanya. Bahkan karirnya."


"Maksud anda ?" Citra memberanikan diri untuk bertanya.


"Amanda adalah pemegang saham terbesar di rumah sakit Jakarta Medical Center. Amanda bisa melakukan apapun dengan kekuasaan nya. Kamu pasti tahu apa maksud saya. Jika mereka berpisah, Aksa akan di keluarkan dari rumah sakit itu dan saya akan di pecat dari jabatan Direktur rumah sakit. Saya yakin kamu bukan wanita egois yang akan membiarkan lelakimu hidup menggelandang nantinya hanya karena dalih cinta."


Setiap jengkal perkataan Aris membuat tubuh Citra kaku. Matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya kelu tak mampu berucap satu kata pun.


Aris bangkit dari duduknya. Sebelum pergi dia mengatakan sesuatu lagi tanpa menghadap Citra.

__ADS_1


"Jika kamu benar-benar mencintai Aksa, bicaralah padanya. Demi masa depan suamimu, mintalah Aksa untuk tidak menceraikan Amanda. Bersabarlah sampai saya bisa memberikan posisi Direktur itu pada Aksa." pintanya dengan suara parau di Sergai batuk.


Tangannya gemetar memegang dada kirinya.


Citra bangkit meraih minuman dan hendak memberikannya pada Aris sebelum tiba-tiba....


Duarrr !!!


Suara tembakan itu menggelegar memenuhi udara, membuat Aris terkejut dan kalang kabut dibuatnya.


Lena yang menunggu di depan rumah segera berlari sekuat tenaga menghampiri sumber suara.


Di samping Aris, tubuh Citra jatuh terkulai. Tepat mendekati letak jantungnya, banyak darah segar bercucuran.


"Citra !!"


Tergopoh-gopoh Aris menutupi darah yang terus mengalir dengan tangannya yang gemetar sembari berusaha menghubungi ambulan dan seseorang.


Melihat tubuh Citra terkulai, Aris terlihat sangat ketakutan. Wajahnya berubah pucat.


Citra butuh pertolongan segera.


Wanita yang datang bersama Citra tadi berlari dengan cepat menghampiri mereka.


Di belakangnya disusul pak satpam, pembantu dan supir pribadi Aris.


"Citra ?!" Teriak Lena, matanya mengitari sekeliling.


"Siapkan mobil saya, segera !!" Aris meminta pak supir menyiapkan mobil tanpa memperdulikan pertanyaan Lena.


Wanita itu berlari dengan tangan kanannya memegang pistol penuh siaga, siap menarik pelatuknya untuk mengejar pelaku penembakan itu.


Belum sempat ia berlari, Aris menghentikannya sembari tangan kirinya menekan titik keluarnya darah dengan sebuah kain penutup meja di depannya.


"Tunggu dulu, jangan pergi !! Tolong bantu mengangkat Citra. Dia harus segera di bawa ke rumah sakit atau dia akan semakin kritis." Aris meminta bantuan Lena dengan perasaan gugup dan cemas.


"Citra !! Dengarkan saya !! Kamu harus tetap sadar, jangan tertidur. Citra !!" Aris berteriak, kedua tangannya menepuk-nepuk pipi Citra dengan keras agar Citra tetap sadar.


Kelopak mata menantunya itu hampir saja tertutup sebelum tangan Aris mengguncang bahu Citra dengan kuat, membuat Citra terhenyak dengan satu tarikan nafas.


Matanya melotot menahan sakit. Nafasnya tersengal-sengal melihat darahnya bercucuran, hingga dia pingsan.


"Citra !! Bangun Citra !!" Aris semakin bertambah gugup.


"Supir, segera !! Ayo !!!" hanya itu yang bisa di katakan Aris saking gugupnya.


"Saya akan naik motor di depan kalian untuk mencarikan jalan. Bibi tolong temani Pak Aris mendampingi Citra ke rumah sakit." Terang Lena.


Lena segera mengendarai motor milik tukang kebun yang bekerja di rumah Aris. Dengan begitu dia bisa menghalau setiap kendaraan yang menghalangi mobil Aris menuju rumah sakit.


Lampu merah pun merek terjang demi melawan waktu dan maut yang setiap saat bisa saja menghampiri Citra yang sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Disisi lain, sang supir melihat dua pengendara motor yang berboncengan melaju dengan kencang mengejar mobil mereka.


Das..,


Tiba-tiba terdengar suara keras dari bagian belakang mobil. Ternyata itu peluru yang mengenai body belakang mobil.


Supir semakin panik. Dia meng-klakson berulang-ulang kali berusaha memberi kode bahaya pada Lena.


Dass !!! Das..,


Suara tembakan semakin menjadi-jadi.


Syukurlah Lena yang merupakan bodyguard profesional paham benar dengan keadaan ini.


Lena berputar seratus delapan puluh derajat menuju pengendara motor itu.


Hanya butuh sekian detik, Lena telah berada di belakang bersiap menyerang balik kedua orang itu dengan pistol otomatis yang sudah siap dari tadi.


Dar !!!


Satu tembakan Lena tepat di ban belakang salah satu motor hingga motor mereka oleng dan akhirnya terjatuh.


Lena pun bergegas mengejar mereka untuk merebut senjata mereka yang telah terjatuh.


Satu dua tiga pukulan dilayangkan Lena dan,


Dar... Dar...


Dua tembakan tepat di paha masing-masing sudah membuat mereka terlumpuhkan.


Lena melihat pengendara lainnya langsung kabur dan tidak mengejar mobil Aris lagi.


Tok...tok...tok


Lena mengetuk salah satu mobil pengendara sambil menodongkan pistol di tangan kanannya.


"Tolong, jangan berteriak. Bawa motor gue, ikuti dari belakang jika mau mobil Lo kembali !! Jangan coba-coba kabur lapor polisi, ingat ...!!!"


Dengan sorotan mata tajam dan pistol yang ad di tangannya, pemilik mobil pun langsung meng-iyakan dengan tubuh yang sudah gemetar ketakutan.


"Cepat masuk !!" Lena menghardik kedua pelaku dengan memberi tembakan tepat di samping mereka hingga mereka pun langsung masuk ke dalam mobil dalam keadaan tangan terikat.


Dan sekarang Lena akan membawa merek ke tempat Roy untuk di interogasi.


.


.


.


Bersambung,

__ADS_1


__ADS_2