
"Satpam, ambilkan brankar segera ! Ada orang tertembak." Aris langsung meneriaki seorang satpam yang sedang bertugas begitu mereka sampai di rumah sakit.
"Suster, bawa pasien ke ruang operasi 3 segera !!" titah Aris.
Dengan kondisi nya yang kurang baik, Aris tidak sanggup lagi mengantar Citra ke ruang operasi. Dengan wajah pucat dan terbatuk-batuk, Aris duduk di lobi depan mencoba menghubungi Aksa.
"Aksa, Citra tertembak. Dia kehabisan banyak darah dan tidak sadarkan diri sekarang ! Papa sudah meminta suster membawanya ke ruang operasi 3. Segeralah kesana !!" Aris panik.
"Apa ?! Baik, Aksa kesana sekarang, Pa !" ucap Aksa penuh kepanikan dan tanda tanya yang besar apa yang terjadi dan kenapa istrinya bisa tertembak.
"Dimas, ayo ikut aku ke ruang operasi sekarang ! Suster, segera siapkan kantong darah A+ dan bawa ke ruang operasi 3." titah Aksa.
"Ada apa, Sa ?" tanya Dimas yang ikut panik melihat kepanikan Aksa.
"Citra tertembak !!" jawabnya sambil berlari ke ruang operasi dimana Citra berada sementara Dimas pun ikut berlari di sampingnya.
Keringat dingin di dahinya bercucuran deras karena gugup, khawatir dan juga takut jika terjadi apa-apa pada istri dan calon anak nya.
Tangannya gemetar saat mulai memegang peralatan bedah dan akan memulai operasi pengambilan peluru di tubuh Citra.
"Sa, apa kamu yakin bisa melakukannya ? Karena jika kamu gugup akan berakibat fatal. Biar aku saja yang memimpin operasi kali ini." Ucap Dimas yang khawatir melihat Aksa yang begitu gugup.
"Tidak, aku masih bisa. Dia istriku. Aku harus bisa menyelamatkan nyawa istriku dan calon anak kami." jawab Aksa yakin.
"Baiklah !! Tarik nafas, tenangkan dirimu, kita mulai !!" Timpal Dimas.
Operasi pengambilan peluru berjalan dengan lancar. Meskipun letak peluru agak dalam, namun tidak membutuhkan waktu yang lama, Aksa sudah berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh istrinya.
Operasi kali ini berjalan sangat menegangkan. Kondisi Citra yang sedang hamil dan tidak sadarkan diri serta kehilangan banyak darah, di tambah lagi Aksa dengan kondisi psikologis nya yang sedang tidak stabil bersikeras memimpin jalannya operasi.
"Bagaimana, Dimas ? Apa Citra baik-baik saja ?" Aris segera menghampiri Dimas saat melihatnya keluar dari ruang operasi.
"Syukurlah kita memiliki banyak persediaan darah yang sama dengan golongan darah Citra. Jadi kita bisa dengan segera melakukan operasi pengangkatan peluru dari tubuhnya. Dan lagi, luka tembakan itu tidak terlalu berbahaya karena jauh dari organ penting. Berada di pojok kiri mendekati pundak." Dimas menjelaskan.
"Lalu dimana Aksa ? Kenapa dia tidak terlihat ?" Tanya Aris menengok ke arah pintu ruang operasi yang sudah kembali tertutup.
__ADS_1
"Dia masih di dalam menemani istrinya yang belum sadar." jawab Dimas singkat.
"Baiklah Pak, saya pamit ke ruangan saya dulu, ada pasien lain yang menunggu." Pamit Dimas pada Aris.
***
"Pak Roy, anda dimana pak ? Citra di tembak oleh orang yang tidak di kenal. Dua pelakunya berhasil saya lumpuhkan dan saya bawa ke rumah anda untuk di interogasi." Lena menelpon Roy sambil mengendarai mobil menuju rumah Roy.
"Apa ? Citra di tembak ? Lalu bagaimana keadaannya ?" Sontak Roy kaget saat mendengar laporan dari Lena.
"Semoga baik-baik saja. Citra langsung di bawa oleh Pak Aris ke rumah sakit tempat Pak Aksa." Jawab Lena.
"Baik, saya pulang sekarang !" tutup Roy.
***
"Pa, bagaimana ini bisa terjadi ? Kenapa Citra bisa bersama papa ? Apa papa yang merencanakan ini semua ?" pertanyaan demi pertanyaan menghujani Aris setelah mereka bertemu selepas operasi.
Plakk...!
"Bagaimana mungkin kamu berpikir seperti itu ? Apa papa terlihat seperti penjahat, hah ?!" Aris sangat marah. Di saat ia juga merasakan kekhawatiran yang sangat, ia malah di tuduh anaknya sendiri sebagai dalang dari insiden yang menimpa Citra.
Sesaat Aris mencoba menenangkan diri. Menarik nafas yang dalam lalu menghembuskan nya perlahan.
"Begini kronologi nya. Papa mengundang Citra ke rumah untuk berbicara empat mata. Kita berbicara di taman. Saat papa beranjak dari tempat duduk, tiba-tiba Citra tertembak dari depan." Jelas Aris.
"Siapa yang menginginkan kematian Citra ? Hanya Amanda dan Papa yang tidak suka dengan keberadaan Citra." Aksa masih bertanya-tanya penuh emosi.
"Tenangkan dirimu dulu. Sepertinya sasaran utama mereka bukanlah Citra. Karena setelah tahu bahwa Citra yang tertembak dan di bawa ke rumah sakit, mereka masih mengejar dari belakang dan menembaki mobil papa secara membabi-buta. Untungnya seorang wanita yang ikut bersama Citra bisa menangani mereka." Terang Aris.
"Apa ?! Artinya, sasarannya adalah papa ? Tapi siapa musuh papa ? Bukannya hubungan papa baik-baik saja dengan siapapun ?" Aksa terlihat masih belum percaya dengan cerita papanya.
"Jika tidak percaya, silahkan kamu telpon wanita itu. Kamu pasti mengenalnya kan ?" imbuh Aris.
Aksa pun langsung menghubungi Lena. Dan hanya dalam satu kali panggilan, Lena langsung menjawab panggilan itu.
__ADS_1
"Hallo, Lena...!"
"Iya Pak, bagaimana keadaan Bu Citra, pak ? Apa beliau selamat ?" Lena lupa siapa bosnya. Dia malah melontarkan banyak pertanyaan pada Aksa yang seharusnya terbalik.
"Dia selamat !! Bagaimana kronologi penembakan itu terjadi ? Lalu kenapa kamu tidak ikut mengantar Citra ke rumah sakit ? Bukankah itu sudah tugasmu, memastikan keamanan Citra, hah ?!" Dengan nada tinggi Aksa memarahi Lena.
"Maaf pak, tadi Citra ingin berbicara secara pribadi dengan pak Aris, jadi saya mengawasi beliau dari jarak jauh. Sedangkan saat saya mengawal mengantarkan Bu Citra ke rumah sakit, ada dua pengendara motor yang mengejar dan menembaki mobil pak Aris dari belakang. Terpaksa saya harus menghentikan mereka terlebih dahulu." Terang Lena.
"Lalu bagaimana pelakunya ? Apakah ada yang tertangkap ?" Tanya Aksa.
"Iya Pak, dua dari mereka berhasil saya tangkap. Dan sekarang saya sedang membawa mereka ke rumah Pak Roy untuk kami interogasi siapa yang menyuruh mereka." jawab Lena.
"Baiklah. Cari tahu dengan baik siapa dalang dari penembakan ini dan apa motif mereka. Segera hubungi saya lagi nanti. Sepertinya Citra sudah sadar." perintah Aksa segera mematikan ponselnya.
Melihat Aksa sudah selesai dengan ponselnya, Aris segera menghampiri Aksa.
"Bagaimana, Aksa ?" Tanya Aris.
"Dua dari mereka berhasil tertangkap, Pa." jawabnya dengan suara parau, merasa bersalah karena sudah menuduh papanya sendiri.
"Benar kata papa, sepertinya sasaran mereka bukan Citra, tapi papa !! Tapi siapa mereka ?" Aksa bertanya-tanya.
"Papa juga tidak tahu." jawab Aris menerawang, berpikir siapa orang yang menginginkan kematiannya.
"Maaf Pa, sepertinya Citra sudah sadar. Kita bicarakan lagi nanti." Pungkas Aksa ingin segera menemui istrinya.
"Jaga istrimu baik-baik !!!" ucap Aris menepuk pundak putranya.
Sementara Aksa hanya mengangguk dan segera berlalu dari hadapan Aris.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung,