
Bianca ibunya dan nyonya Kevlar duduk di meja makan menunggu para pria datang, sekitar lima menitan menunggu ayahnya dan tuan Kevlar tiba di ruang makan bersamaan.
“Di mana Axel?” tanya tuan Kevlar menatap istrinya
“Axel masih mengantuk pa, katanya dia enggak ikut sarapan” jelas Bianca
Suara dari arah sana mengagetkan Bianca “Siapa yang bilang begitu?”
Axel berjalan menuju meja makan dengan rambutnya yang masih basah dan mendudukkan dirinya di samping Bianca, sedangkan Bianca hanya menatap kesal ke arahnya.
“Cih, yang benar saja” gerutu Bianca pelan yang hanya dapat di dengar oleh Axel yang berada di sampingnya. Axel yang mendengar itu pun hanya tersenyum gemas sambil menundukkan kepalanya agar tidak ketahuan oleh orang sekitarnya.
Mereka menyantap sarapan dengan damai setelah selesai sarapan Bianca membantu ibunya dan nyonya Kevlar membersihkan meja makan. Bianca mengangkut piring kotor ke wastafel sedangkan para prianya berjalan ke ruang tengah untuk berbincang-bincang.
“Biar aku aja ma” ucap Bianca pada ibunya yang berdiri di depan wastafel ingin mencuci piring.
“Biar mama bantu ya”
“Enggak ma, aku aja. Mama istirahat saja di sana” ucapnya kepada ibu dan calon ibu mertuanya itu.
“Ya sudah, makasih ya sayang” ucap ibunya
“Kami tinggal ya nak” ucap nyonya Kevlar.
Bianca hanya tersenyum menatap kedua ibunya itu, setelah para ibu itu sudah tidak terlihat lagi di jangkauan pandangannya barulah Bianca memulai kegiatan mencuci piringnya itu. Bianca mencuci piring kotor itu satu persatu, ia bersenandung kecil sembari mencuci piring namun tiba-tiba ia di kejutkan oleh seseorang.
“Perlu bantuan?”
Bianca yang fokus dengan kegiatan mencucinya sontak kaget dan terpekik pelan “Astaga!” pekiknya tertahan sambil meletakkan tangannya di depan dadanya.
Bianca menoleh ke samping ke arah sumber suara itu dan ia mendapati Axel yang kini tengah berdiri memperhatikannya. Bianca memutar bola matanya jengah, pria yang membuatnya kesal itu selalu saja mengejutkannya.
__ADS_1
“Perlu bantuan?” tanya Axel lagi
“Tidak, aku bisa sendiri” ucap Bianca tersenyum sekilas menatap Axel lalu mengalihkan pandangannya pada piring kotor itu lagi.
“Kau yakin?”
“Hem, ini hanya pekerjaan kecil lagi pula sebentar lagi bakalan selesai”
“Baiklah, aku akan menemanimu” ucap Axel.
Bianca terdiam dan tidak lagi bersenandung, jantungnya tiba-tiba berdegup dengan sangat kencang. Bagaimana tidak kini Axel sedang menemaninya dan berdiri di sampingnya, ia mencoba menenangkan dirinya entah kenapa ia selalu menjadi gugup saat berada di samping Axel.
“Sudah selesai?” tanya Axel saat melihat Bianca mengelap tangannya.
Bianca menganggukkan kepalanya menatap Axel “Hem...”
Bianca dan Axel berjalan beriringan menuju ruang tengah tempat di mana para orang tua mereka berada. Bianca duduk di sebelah Axel, ia merasakan kecanggungan yang teramat. Bianca memainkan jarinya sesekali ia curi-curi pandangan melirik ke arah Axel dan kadang-kadang ia juga ikut masuk ke dalam pembicaraan para orang tua tersebut.
Di sore harinya, Bianca terlihat tengah bersiap-siap karena sebentar lagi ia dan keluarganya akan pulang ke mereka. Bianca turun ke bawah dan di sana terlihat orang tuanya dan orang tua serta Axel sendiri sudah selesai bersiap-siap.
Bianca dan orang tuanya pamit kepada keluarga Kevlar “Terima kasih ma, maaf kalo kamu banyak ngerepotin” ucap Bianca tidak enak hati.
“Tidak kok sayang, jangan sungkan begitu” jawab nyonya Kevlar
“Iya ma, kami pamit ya ma” ucap Bianca, kedua orang tuanya juga pamit kepada nyinya dan tuan Kevlar.
“Oh iya, Bianca pulangnya biar di anterin Axel aja ya nak” ucap nyonya Kevlar “Ya kan xel? Kau juga akan pulangkan?” tanyanya sambil menyikut anaknya.
“Tidak ma, tidak perlu. Bianca sama mama papa aja kan satu rumah juga” tolak Bianca
“Enggak apa-apa kok nak, biar kalian tambah dekat jadi nanti enggak bakal canggung lagi”
__ADS_1
“Tapi ma...”
“Sudah pulang sama Axel aja, toh Axel juga enggak keberatan tuh”
Pada akhirnya Bianca dan Axel pulang bersama menggunakan mobil pribadi Axel dan orang tua Bianca pulang terlebih dahulu menggunakan mobil mereka sendiri. Seperti biasanya mobil Axel hanya ada keheningan setelah setengah perjalanan akhirnya Axel membuka suara memulai percakapan.
“Besok kau ke kampus?” tanya Axel
“Hem? Ah iya, kenapa?”
“Tidak ada” ucap Axel singkat dan keheningan kembali menyelimuti mereka.
Lalu beberapa menit kemudian Axel kembali memecahkan keheningan itu “Besok akan kujemput” ucap Axel pelan
“Hem?” tanya Bianca bingung ke arah Axel “Apa kau mengatakan sesuatu?” tanyanya
“Ya, aku akan menjemputmu besok”
Axel dan Bianca saling menatap selama beberapa detik sebelum akhirnya Axel mengalihkan pandangannya cepat ke arah depan. Bianca? Jangan di tanya lagi jantungnya kini berdegup sangat kencang dan pipinya sedikit memerah saat ini.
“Ba-baiklah...” ucap Bianca
Bianca tersenyum kikuk dan mengedarkan pandangan matanya ke arah jalanan melalui kaca jendela mobil sedangkan Axel kini fokus menyetir dengan wajah datarnya. Tak lama setelahnya mereka pun sampai di depan rumah Bianca, Bianca pun turun dari mobil yang di ikuti oleh Axel.
“Apa kau ingin mampir dulu?” tawar Bianca
“Tidak terima kasih, lain kali saja. Aku sedang buru-buru kebetulan ada yang harus kukerjakan sedikit di kantor”
“Ah, maaf karena sudah menyita waktumu” ucap Bianca tak enak hati.
“Tidak apa, masuklah. Aku akan pergi, sampai jumpa”
__ADS_1
Keesokan harinya Axel benar-bebar datang menjemputnya pulang kuliah namun ternyata bukan karena tidak ada alasan kenapa pria itu dengan baik hati ingin menjemputnya. Dan ternyata nyonya Kevlar lah yang memintanya untuk menjemput Bianca untuk memilih baju yang akan mereka kenakan nantinya di hari pernikahan mereka.