Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.37 Seperti Tak Terlihat


__ADS_3

Kini sudah seminggu sejak kekasihnya Sheryl tidak datang mengunjunginya bahkan tidak memberinya kabar dan Axel juga sudah sering kali menghubunginya tapi tidak menerima balasan.


Axel sangat mencemaskan kekasihnya itu memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada kekasihnya itu tapi hari ini sebelum ia berangkat menuju kampus Bianca kekasihnya itu menghubunginya mengatakan bahwa ia baik-baik saja, dia memiliki pemotretan di luar negeri jadi tidak bisa menghubunginya.


Karena pemotretan itu terlalu mendadak Sheryl tidak sempat mengabarinya dan Axel pun tidak terlalu mempermasalahkan hal itu karena kekasihnya sudah meminta maaf kepadanya dan kembali ke sisinya lagi.


...****************...


Bianca membuka bajunya dan berjalan ke arah kamar mandi, ia merendam tubuhnya dengan air hangat untuk menenangkan pikirannya serta otot-otot tubuhnya yang terasa sedikit kaku. Kehidupannya setelah menikah selalu seperti ini terkadang ia merasa bahagia dan terkadang ia merasa sedih dan letih dan lebih gilanya lagi dalam satu hari ia bisa merasakan dua perasaan yang tak menentu itu.


Bianca adalah wanita yang plin-plan, tidak daripada itu hatinya yang mudah goyah karena perlakuan Axel yang kadang berubah. Entah kenapa saat Axel bersikap baik kepadanya ia merasa lemah dan menyukai sikap lembut Axel padanya, rasa sakit yang di berikan pria itu dan rasa lelahnya menjalani semua itu hilang begitu saja saat pria itu bersikap lembut.


Ia menghela nafasnya lalu memejamkan matanya, tangannya bergerak mengelus perut ratanya itu. Kejadian tadi siang membuatnya berandai-andai, apakah ia akan mempunyai anak nanti atau dia akan menjadi janda yang perawan? Janda perawan, setelah menikah satu tahun? Itu terdengar konyol sekaligus menyedihkan.


Apa dia tidak semenarik itu? Sampai-sampai dalam kurun waktu satu tahun ia tidak pernah melakukannya dengan pria yang berstatus suaminya? Jika setelah satu tahun pernikahan mereka dan itu benar-benar terjadi maka Bianca adalah wanita bodoh yang menyedihkan.


Bianca tertawa kaku. Jangankan nanti sekarang saja dia sudah terlihat menyedihkan karena berandai-andai suaminya melakukan hal itu dengannya. Bianca bangkit dari bath up dan berdiri di bawah shower membiarkan air dingin itu mengguyur tubuhnya ia ingin menyegarkan pikirannya.


Beberapa saat kemudian Bianca selesai dengan kegiatan mandinya, ia keluar dari kamarnya menuju dapur untuk makan malam. Namun saat pintu kamarnya terbuka ia di buat kaget dengan pemandangan di ruang keluarga melihat suaminya yang sedang bercumbu mesra dengan kekasihnya.


Kapan wanita itu datang? Kenapa harus berada tepat di depan kamar Bianca? Apa harus menyakitinya secara terang-terangan begitu, tidakkah mereka harusnya malu dengan pekerja lainnya yang ada di rumah ini. Apa yang pria itu lakukan padahal baru saja tadi siang dia membuat Bianca berbunga-bunga tapi sekarang kembali menyakitinya.


Entah berapa kali lagi ia harus merasakan sakit ini dan sampai kapan pria itu akan menyakitinya. Disakiti terus menerus ia sudah lelah hingga membuatnya ingin menyerah tapi saat pikiran itu menghampirinya ia justru kembali mengingat orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


“Lain kali kau harus menghubungi terlebih dahulu jika akan pergi selama itu”


Sheryl tersenyum lembut ke arah Axel “Maaf aku benar-benar terburu-buru saat itu, aku bahkan di sana tidak sempat membeli sim card. Aku benar-benar ke sana hanya untuk bekerja”


“Bukankah kau saat ini seharusnya menyemangatiku?” ucap Sheryl cemberut.


Axel menempelkan keningnya dengan kening Sheryl tangannya tidak berpindah dari pinggang wanita itu “Maafkan aku, aku hanya mencemaskanmu”


Mereka berdua berpelukan sangat erat. Bianca yang tidak tahan harus melihat kemesraan dua sejoli itu lebih lama lagi melangkahkan kakinya dengan cepat menatap lurus ke depan seolah tidak memperdulikan sekitarnya.


Sheryl mendorong kasar Axel saat matanya menangkap sosok Bianca yang berada di belakang tubuh Axel “Ck. Kenapa wanita sialan itu masih ada di sini?” tanyanya kesal


Axel memalingkan tubuhnya lalu memandang ke arah mata Sheryl memandang secara bersamaan Bianca juga berpaling memandang ke arah mereka berdua “Dia istriku, wajar saja dia di sini”


“Secepatnya, jadi bersabarlah sedikit lagi saja” ucap Axel dengan santai tak peduli jika Bianca mendengar ucapannya karena menurutnya yang terpenting adalah membuat kekasihnya tidak cemberut lagi.


Bianca berjalan menundukkan kepalanya, pria itu benar-benar tak pernah menganggapnya ada. Rasa sesak di dadanya menambah luka dihatinya, kenapa dunia harus kejam terhadapnya? Kenapa dunia tidak adil kepadanya.


Axel menatap punggung Bianca yang perlahan menjauh dari pandangannya, ia juga dapat melihat dengan jelas bahu wanita itu bergetar, ia sangat mengetahui jika Bianca sedang menangis.


“Aku juga ingin menjadi pasangan hidupmu” ucap Sheryl


Sheryl menatap cemberut Axel “Jangan menatapnya!”

__ADS_1


Axel mengalihkan pandangannya ke arah kekasihnya “Sabar ya sayang, setelah berpisah dengannya”


Axel tidak mengerti ada apa dengannya ini sudah satu minggu sejak ia meminta pengacaranya untuk mengurus surat perceraiannya tapi ia tidak lagi menghubungi pengacaranya itu menanyai tentang surat perceraian. Ia belum bisa menentukan hatinya dengan benar, tentu saja ia mencintai Sheryl sangat mencintai malah tapi entahlah ia juga bingung dengan perasaannya.


“Honey, aku mencintaimu” ucap Sheryl


Axel tersenyum lalu mengecup singkat kening kekasihnya itu “Aku tau, aku juga mencintaimu”


Sesampainya di dapur Bianca menghapus air matanya dan untung saja di dapur tidak ada bi Asih yang biasanya nangkring di sini. Ia menghela nafasnya dan kembali meyakinkan hatinya untuk bertahan sedikit lagi, ia percaya rasa sakit ini akan segera berakhir dan Axel akan segera melihatnya.


“Kau makan saja, aku akan keluar”


Bianca terkejut mendengar suara itu, ia membalikkan tubuhnya dan menatap suaminya itu. Hidung Bianca memerah dan matanya masih sedikit basah, Axel dapat mengetahui jika wanita itu baru saja menangis.


Axel tetap acuh lagi pula itu bukan urusannya. Padahal ia sudah mengatakannya dengan jelas agar tidak mengharapkan apa pun dan wanita itu tetap saja menaruh harapan kepadanya. Bukankah itu tidak salahnya?


“Aku akan pergi keluar” ucap Axel lagi


“Ah ya, berhati-hatilah” ucap Bianca serak


Axel mengabaikan istrinya itu dan berlalu pergi menghampiri kekasihnya yang sedang menunggunya di luar, mereka akan pergi makan malam bersama.


Sungguh miris bukan? Padahal ada istri di rumah tapi suaminya malah lebih memilih makan malam di luar bersama kekasihnya ketimbang istrinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2