Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.43 Mendapat Sedikit Kebebasan


__ADS_3

Axel terdiam di ruang kerjanya menunggu Bianca sembari membaca buku yang ada di rak buku di ruang kerjanya itu. Axel mengerutkan keningnya saat menyadari jika kini sudah tiga puluh menit ia menunggu tapi istrinya itu belum juga datang menemuinya.


Axel membuka dasinya lalu jasnya dan menggulung lengan kemejanya sampai siku setelahnya ia menutup buku yang ia baca menyandarkan kepalanya di kursinya dengan telapak tangannya yang di jadikan bantalan.


Axel memejamkan matanya “Kenapa lama sekali dia?” gumamnya sedikit kesal.


Axel bangkit dari tempat duduknya waktu terbuang sia-sia hanya untuk menunggu Bianca datang menemuinya, ketika masuk ke dalam kamar ia tidak menemukan Bianca. Ia melangkahkan kakinya mendekati pintu kamar mandi keningnya mengerut saat mendengar suara shower yang masih menyala.


Axel mengetuk pintu kamar mandi itu berkali-kali namun tetap tidak ada tanggapan dari dalam sana, hal itu membuatnya semakin bingung sekaligus gelisah sebenarnya apa yang terjadi di dalam sana? Dengan gerakan cepat ia membuka pintu kamar mandi itu yang kebetulan tidak di kunci dari dalam sana, ia sangat terkejut ketika melihat istrinya yang tergeletak di kamar mandi dengan shower yang masih menyala.


“Ya! Bianca” teriak Axel menggema di dalam kamar mandi itu.


Axel mendekati Bianca dan mengguncang tubuh istrinya itu. Kemeja putihnya basah, dengan paniknya ia berkali-kali mengguncang bahu istrinya itu dan menampar pelan pipi Bianca. Axel mematikan shower itu lalu mengangkat tubuh mungil Bianca, ia berteriak kencang memanggil pelayannya untuk menghubungi dokter.


Axel menggendong tubuh Bianca menuju kasur besar milik Bianca, dengan panik ia menyuruh pelayannya untuk mengganti baju Bianca yang basah. Dan begitu pula dengan dirinya, ia kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian dan setelahnya barulah ia kembali lagi ke kamar Bianca.


“Di mana dokter itu, kenapa lama sekali?” tanya Axel kesal


“Sedang dalam perjalanan, Tuan”


Axel gelisah, ia mengacak rambutnya kasar. Pelayan itu hanya menunduk heran melihat tingkah Axel yang panik ketika melihat Bianca yang terbaring lemah. Bukankah Axel tidak peduli kepada istrinya? Terus kenapa dia bersikap seperti itu.


Tak lama kemudian dokter pun datang, Axel yang tadinya duduk di tepi ranjang Bianca berdiri sedikit menjauh membiarkan para pria berjas putih itu mengecek keadaan istrinya, ia bersedekap memperhatikan dokter itu.


“Istri Anda hanya demam biasa, mungkin karena kelelahan saja” jelas dokter tersebut setelah memeriksa kondisi Bianca.


Dokter itu meresepkan obat untuk Bianca lalu berdiri dari duduknya “Anda hanya perlu memperhatikan suhu tubuhnya dan jaga pola makannya lalu ini resep obatnya” sambungnya.


Axel menerima resep itu dan masih memperhatikan Bianca “Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu” pamit dokter tersebut.


“Ah, terima kasih banyak dok” ucapnya sembari menjabat tangan dokter tersebut.

__ADS_1


Sepeninggalan dokter itu Axel menyuruh pelayannya untuk pergi menebus resep obat tersebut. Axel mendekati Bianca dan duduk di pinggiran ranjangnya, ia menatap wajah istrinya yang pucat dan rambutnya yang masih sedikit basah. Nafas wanita itu terdengar teratur, wajahnya damai dalam tidurnya.


Pria itu menjaga Bianca sembari menyesap minumannya berdiri diam di dekat jendela. Bulan perlahan muncul menyapa, udara malam menerpa wajah tampannya saat ia membuka jendel kamar tersebut.


Bianca mengerang dan perlahan membuka matanya, ia mencoba bangun dari tidurnya rasa sakit di kepalanya masih ia rasakan “Jangan bergerak, tetaplah berbaring”


Bianca terkejut mendengar suara itu perlahan memalingkan wajahnya ke samping, ia dapat melihat suaminya yang kini tengah berjalan mendekatinya. Pria itu dengan tiba-tiba menempelkan punggung tangannya ke kening Bianca mengecek suhu tubuh Bianca.


Axel menganggukkan kepalanya “Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan makananmu” ucapnya.


Bianca mengernyitkan keningnya heran, apa yang sudah terjadi kenapa pria itu tiba-tiba memperdulikannya seperti ini? Bukankah lebih baik jika dia mati saja.


Axel kembali dengan membawa nampan di tangannya yang berisi semangkuk bubur, segelas air hangat dan obat-obatan yang tadi sudah di tebus pelayannya. Ia meletakkan nampan itu di nakas lalu membantu Bianca bersandar di ranjang kemudian ia pun duduk di sebelah istrinya itu.


“Aku akan membantumu makan” ucap Axel sembari mengaduk dan sesekali meniup bubur Bianca yang masih panas itu.


Bianca menggeleng kepalanya lemah “Biarkan saja, aku tidak ingin makan” ucapnya.


Bianca menghindar, tubuhnya memang lemah dan butuh asupan makanan tapi ia tidak mau itu, yang saat ini ia inginkan hanyalah kebebasan dan yang ia lakukan sekarang ini adalah bentuk pemberontakannya.


“Kau harus makan, sampai kapan kau akan terus seperti ini?” tanya Axel menghela nafasnya kasar.


“Sampai mati”


Axel mengerang frustasi dan meletakan sendok itu kembali “Baiklah, jadi apa maumu?”


“Kebebasan”


“Hah, baiklah, jadi buka mulutmu”


Bianca menoleh menatap Axel “Aku ingin pergi dari sini”

__ADS_1


“Jika permintaan itu tidak akan kuizinkan”


“Kau bilang akan menurutinya” protes Bianca


Axel menatap lekat istrinya itu “Kebebasan yang aku maksud, kau bebas keluar dari kamar ini. Berkeliling di rumah ini atau kau juga bisa berada di tamanmu itu tapi tidak dengan pergi dari rumah ini”


“Apa kau pikir itu kebebasan? Tidak bisa, aku ingin pergi dari sini” bantah Bianca


“Hanya itu pilihannya, tapi jika kau tidak ingin ya sudah tetaplah berada di dalam kamar ini”


Bianca bungkam, suaminya itu benar-benar menjengkelkan. Kebebasan macam apa itu? Tetap saja pria itu masih mengurungnya hanya saja gerak-geriknya jadi sedikit besar tapi itu lebih bagus dari pada tidak sama sekali.


Bianca mengangguk setuju “Jangan mencoba untuk melarikan diri” peringati Axel.


“Merepotkan sekali, ayo sekarang makan” gerutu Axel


Axel menyuapi Bianca perlahan, dengan telaten ia merawat istrinya. Bianca menatap Axel sebentar lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya saat Axel juga menatapnya. Jantungnya kembali berdegup, ia kembali merasakan kehangatan dari sosok Axel.


Setelah selesai Axel kembali menyuruhnya untuk tidur dan Bianca hanya menurutinya saja. Axel membantunya rebahan, ia memejamkan matanya namun beberapa detik setelahnya ia kembali membuka matanya dan melirik ke samping. Axel masih berada di sampingnya pandangan mata mereka bertemu, Bianca ragu ia ingin sekali memeluk pria itu dan mengucapkan rasa terima kasihnya tapi ia urungkan mengingat hubungan mereka yang tidak biasa ini. Jika ia melakukan itu mungkin akan terasa canggung untuknya dan kemungkinan buruknya pria itu bisa saja menolak pelukannya.


“Tidurlah” ucap Axel membetulkan selimut istrinya itu.


...***


...


Keesokan harinya Bianca terbangun dari tidurnya pagi sekali, ia membalikkan tubuhnya berniat untuk melanjutkan tidurnya namun ia di buat kaget saat melihat Axel yang berada di sampingnya tengah tertidur menyamping menghadap ke arahnya. Kenapa pria itu ada di sini?


Bianca memandang wajah tampan suaminya itu dan tangannya perlahan terulur menyentuh wajahnya. Bianca memainkan jari-jarinya menyusuri rahang tegas Axel, hidung mancungnya serta bibir lembut milik Axel hal itu membuatnya tertawa geli sendiri.


Axel menggeliat dalam tidurnya dengan cepat Bianca menarik tangannya kembali lalu memejamkan matanya. Pria itu bangun dari tidurnya lalu menguap, ia mengedarkan pandangannya ke ruangan ini lalu menatap istrinya yang berada di sampingnya. Tangannya bergerak membetulkan selimut Bianca, ia kembali mengecek suhu Bianca menggunakan punggung tangannya yang ia tempelkan di kening istrinya itu. Setelahnya barulah ia beranjak keluar dari sana.

__ADS_1


Bianca membuka matanya ketika mendengar suara pintu yang sudah tertutup itu, jantungnya kembali berdebar perasaan ini lagi. Ia tersenyum sembari merasakan jantungnya yang berdebar, benar kata Johannes kalau rumah tangganya akan baik-baik saja jika ia ingin bertahan sedikit lagi.


__ADS_2