Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.27 Aku Mencintainya


__ADS_3

Bianca berjalan dengan cepat ia menundukkan kepalanya karena air matanya mengalir begitu saja tak dapat ia tahan lagi dan ia tidak ingin di ketahui orang lain karena itu ia jalan menunduk namun tiba-tiba ia menubruk seseorang hingga hampir terjatuh.


“Ah maaf, aku tidak melihatnya sekali lagi maaf” ucapnya yang masih menundukkan kepalanya sembari menghapus kasar air matanya.


“Kau selalu saja seperti itu”


Bianca yang mengenali suara itu langsung mengangkat kepalanya “Johannes” ucapnya.


“Selamat pagi, Bianca” sapa Johannes senang


Johannes mengerutkan keningnya saat pandangan matanya tertuju pada mata Bianca yang sedikit basah dan memerah “Kau menangis? Ada apa, apa yang terjadi?” tanyanya.


Bianca menjadi gelagapan “Ah i-itu t-tidak”


“Bohong” ucap Johannes lalu menarik tangan Bianca dan menarik Bianca pergi menuju taman belakang kampus tempat duduk kesukaan Bianca.


Johannes dan Bianca duduk di salah satu kursi panjang yang ada di taman belakang kampus itu “Sekarang kau bisa menceritakannya” ucap Johannes


“C-cerita? Tidak ada yang ingin kuceritakan” ucap Bianca gugup.


“Kau tidak perlu menyembunyikannya dariku, ceritakan saja aku akan menjadi pendengar yang baik dan aku juga tidak akan menyebarkannya jika kau takut” ucap Johannes berusaha membujuk Bianca untuk bercerita.


“Ya, aku tidak mungkin melakukan itu terhadapmu” sambungnya.

__ADS_1


Bianca menatap Johannes dengan serius, ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia hanya akan mendapat malu jika mengatakan yang sebenarnya bahwa kehidupan pernikahannya tidak berjalan lancar sesuai keinginannya.


“A-aku...”


Ucapannya terhenti kala bayangan Axel kembali terbayang jelas di kepalanya kemudian ia menangis dengan kuat, rasa sakit itu kembali hadir saat mengingat suaminya itu.


“A-aku... N-nenek, iya aku merindukan nenekku. Aku merindukannya yang dulu, aku ingin memeluknya tapi itu sepertinya tidak mungkin untukku” ucap Bianca asal menyamarkan Axel menjadi neneknya yang sudah tiada karena ia tidak mungkin menceritakan tentang kehidupan pernikahannya pada Johannes.


Bianca tidak bisa mengatakannya rasanya sangat sulit untuk menceritakan kebenarannya, bibirnya seakan di rekatkan dengan lem agar dirinya tidak mengatakan hal itu kepada siapa pun.


“Aku mencintainya, sangat-sangat mencintainya. Aku hanya ingin dia tau kalau aku benar-benar mencintainya dengan tulus” ucap Bianca.


Johannes sama sekali tidak mengerti apa maksud perkataan yang baru saja di lontarkan oleh Bianca itu terdengar sedikit ambigu untuknya. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Bianca dan neneknya di masa lalu, apakah Bianca pernah berbuat salah hingga membuatnya berada di situasi yang tidak baik dengan neneknya sampai-sampai membuat Bianca menangis kencang seperti ini.


Johannes menghela nafasnya pelan “Menangislah, untuk saat ini menangislah dengan kuat dan jangan menahannya” ucapnya menatap ke arah depan “Keluarkan semuanya tapi setelah ini aku harap kau bisa berhenti menangis seperti ini dan jika kau ingin menangis kau bisa memanggilku”


Johannes merasa tidak tega melihat Bianca yang menangis seperti sangat terpukul itu pun menarik Bianca perlahan untuk bersandar di bahunya dan ia juga mengelus kepala Bianca dengan lembut menenangkannya dan memberinya sedikit kenyamanan.


“Tidak apa menangislah sepuasnya dengan begitu setidaknya itu bisa sedikit menenangkanmu” ucap Johannes yang menjadi sedikit terpukul mendengar tangisan lirih Bianca.


Bianca yang mendengar itu kembali menangis dengan kencang, air matanya tak terhentikan lagi. Ini terlalu menyakitkan untuknya dan ini pertama kali untuknya merasakan semua ini, yang di katakan Johannes benar setidaknya dengan menangis seperti ini sesak di dadanya sedikit berkurang.


“Aku mencintainya...”

__ADS_1


“Aku sangat mencintainya, Jo” gumam Bianca lirih


Johannes tetap mengelus kepala Bianca lembut “Iya aku tau itu, nenekmu juga pasti mencintaimu” ucapnya menenangkan Bianca.


Bianca menggelengkan kepalanya pelan, ini semua tidak benar kata-katanya barusan semua ditujukan untuk suaminya hanya saja ia tidak bisa mengatakan hal itu kepada Johannes karena itu ia menyebut neneknya.


Tangisan Bianca perlahan-lahan mulai mereda, ia mengangkat kepalanya lalu menatap Johannes sembari menghapus air matanya. Ia menghela nafasnya kasar lalu tersenyum dan langsung memeluk Johannes, ia sangat bersyukur karena di saat seperti ini ia tidak sendiri ada teman yang menemaninya dan mengertinya.


“Terima kasih, Jo” ucap Bianca


Di sisi lain terlihat seorang pria yang berdiri tak jauh dari dua orang yang sedang berpelukan itu, ia memegang kuat jam tangan di genggamannya. Saat melajukan mobilnya tak jauh dari kampus Axel melihat jam tangan Bianca yang tertinggal dan berniat mengembalikannya. Saat di kampus dia bertanya dengan seseorang tentang keberadaan istrinya dan untungnya ada yang mengetahui itu namun saat ia berada di taman belakang itu ia justru melihat Bianca yang menangis dengan keras lalu memeluk pria yang berada di sebelahnya itu.


Axel menunduk sejenak ia menggenggam kuat jam tangan Bianca yang berada di genggamannya itu, kemudian ia pergi dari sana menuju mobilnya. Axel memegang kemudi mobil dengan erat dan ia berpikir sejenak dengan apa yang tadi sempat Bianca katakan kepadanya entah kenapa itu mengusik pikirannya.


Sebelum keluar dari mobilnya tadi Bianca menunjukkan tangisannya pada Axel dan saat berada di taman belakang kampus ia sekali lagi melihat Bianca menangis dengan sangat terpukul dan itu sangat mengganggunya.


“Apa dia menangis karenaku?” gumamnya


“Tapi karena apa? Apa yang sudah kulakukan? Hah, ini membuatku sangat bingung” ucapnya kemudian menghela nafasnya kasar.


Ia tidak mengerti apa masalahnya, ia sama sekali tidak mengerti wanita itu “Hah sudahlah, itu tidak penting. Kenapa aku harus memperdulikannya” ucapnya.


Axel menghela nafasnya sekali lagi lalu menyalakan mesin mobilnya dan beranjak dari sana dengan jam tangan Bianca yang masih berada bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2