Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.72 Nanti, Secepatnya...


__ADS_3

Kejadian dua minggu yang lalu membuat Axel tak dapat menahan rasa senangnya ketika mereka pergi mengunjungi Sherena yang melahirkan. Bianca terlihat sangat senang dan gugup saat menggendong anak Dave itu, Axel menatap istrinya haru dan berpikir bagaimana jika yang ada di gendongan Bianca saat itu adalah anak mereka dan kira-kira apa yang akan terjadi dan akan bagaimana jadinya kehidupan mereka?


Di hari yang sama setelah mendapat telepon dari Dave yang mengabari jika Sherena akan melahirkan Axel sempat bertanya kepada Bianca tentang anak dan mengajaknya untuk mencoba membuat anak tapi istrinya itu tidak menjawabnya dan mengalihkan arah pembicaraan mereka.


Mungkin saja itu masih terlalu cepat untuk Bianca dan sepertinya istrinya itu tidak mempercayainya sepenuhnya. Saat itu pun Axel tidak menuntun banyak atau memaksa Bianca karena mungkin saja keinginannya itu terlalu terburu-buru untuk istrinya terlebih saat itu mereka baru beberapa hari setelah kembali bersama.


Axel kini sedang berada di kantornya setelah seminggu penuh melakukan terapi untuk kakinya ia pun sudah bisa berjalan seperti biasanya. Ia melonggarkan dasinya saat berkas-berkas dan data-data perusahaan yang ada di hadapannya ini membuatnya pusing, sudah lama tidak melihat Axel berkutat dengan pekerjaannya ini.


Kini kehidupannya kembali damai, kini istrinya sudah kembali dan hubungan mereka juga semakin bahagia dan penuh kasih sayang. Sejak kembalinya Bianca ke dalam kehidupannya ia memulai lembaran baru dan meninggalkan semua masa lalu yang selalu menghantuinya itu bersama kenangan buruknya. Bahkan sekarang artikel-artikel negatif tentangnya pun sudah lenyap dan menghilang seperti air mengalir bahkan setiap ada berita tentangnya ia selalu mendapatkan tanggapan yang baik.


Axel menyelesaikan pekerjaannya dan pulang lebih awal, ah sebenarnya tidak awal karena ia pulang tepat waktu saat jam kantor berakhir. Tak butuh waktu lama untuknya tiba di rumah saat berada di ruang tengah ia bertemu dengan bi Asih pelayan di rumahnya.


“Bi, di mana istriku?” tanyanya kepada bi Asih


“Nyonya ada di kamar tuan”


Axel menganggukkan kepala lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mereka, ia membuka pintu kamarnya pelan berniat untuk mengejutkan istrinya dan kebetulan keadaan mendukungnya karena istrinya itu sedang berdiri di balkon dan membelakanginya. Axel mendekati istrinya itu ia tidak bersuara sedikit pun hingga akhirnya ia melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya itu.


“Aku mencintaimu, sayang” bisiknya tepat di telinga istrinya.


Bianca tersentak kaget dan geli di saat yang bersamaan “Ah, kau sudah pulang?” tanya Bianca senang saat melihat wajah suaminya itu.


“Apa kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu di setiap detiknya” ucap Axel lesu sembari meletakkan dagunya di bahu istrinya itu dengan tangan yang masih memberikan back hug pada istrinya itu.


Bianca tertawa kecil “Itu terdengar sangat berlebihan” ucapnya.


Axel membalikkan tubuh Bianca agar menatap ke arahnya, ia mengecup singkat kening istrinya itu. Bianca menyandarkan kepalanya di dada bidang Axel saat pria itu memeluk erat tubuhnya, meskipun ini semua benar adanya tetapi ia masih merasa tak menyangka jika kini ia dan Axel benar-benar bisa hidup bahagia bersama.


Tak jauh beda dengan Bianca, Axel juga merasa seperti itu. Meskipun ia bertekad untuk melupakan segala sesuatunya yang menyakitkan di masa lalu tetapi ada kalanya ia merasa tidak enak kepada Bianca atas semua yang pernah ia lakukan di masa lalu terhadap istrinya itu.


...****************...

__ADS_1


Malam ini Axel dan Bianca akan mengunjungi rumah orang tua Axel. Bianca membujuk Axel untuk menemui orang tuanya dan menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mereka terlebih semua ini terjadi karena masalah yang bersangkutan dengannya dan Bianca pun berharap agar semuanya dapat selesai secepatnya.


Axel diam dan duduk di bangku belakang dengan tenang bersebelahan dengan istrinya, ia meminta sopirnya untuk mengantar mereka ke kediaman orang tuanya. Bianca memperhatikan gerak-gerik suaminya yang terlihat gelisah, ia pun menggenggam tangan suaminya itu.


“Tidak apa, mama dan papa pasti memaafkanmu karena sekarang aku juga sudah kembali” ucapnya meyakinkan suaminya agar tidak terlalu gelisah.


Axel menghela nafasnya gugup “Ya, semoga saja” ucapnya mengecup tangan istrinya yang sedang menggenggamnya itu.


Ini pertama kalinya bagi Axel berselisih paham dengan kedua orang tuanya itu karena biasanya ia selalu di manja dan tetap terlihat seperti anak-anak di mata kedua orang tuanya itu. Namun setelah kejadian masalah rumah tangganya, ibu dan ayahnya itu memperlakukannya seperti orang dewasa dan sangat kecewa terhadap sikap atas apa yang sudah ia lakukan pada pernikahannya.


Ketika sampai di sana mereka pun memasuki rumah tersebut, Bianca sangat kaget saat tiba di ruang keluarga dan melihat ayah dan ibunya yang juga ada di sana.


“Mama, papa kalian kenapa bisa...” Bianca tak menyelesaikan ucapannya dan langsung berhambur ke pelukan kedua orang tuanya itu.


“Kapan kalian kembali? Kenapa tidak mengabariku? Aku merindukan kalian” ucap Bianca yang tak hentinya mencerocos.


Kedua orang tuanya itu hanya tersenyum dan tertawa geli mendengar putrinya itu. Axel yang melihat itu juga ikut tersenyum, ia mendekat ke arah istrinya itu dan menepuk pelan pundak istrinya itu.


Bianca memasang raut wajah khawatir “T-tapi kan...”


“Tidak apa, aku akan menyelesaikannya” ucap Axel pelan lalu mencium singkat kening istrinya itu.


Bianca menganggukkan kepalanya dengan langkah berat ia menuju lantai atas ke kamar Axel, saat menaiki setengah anak tangga ia melihat ke bawah namun Axel masih memperhatikannya sembari menganggukkan kepalanya. Bianca menghela nafasnya kasar ia khawatir takut jika orang tuanya dan mertuanya akan memarahi Axel atas kejadian yang lalu, hatinya tidak tenang ia sangat penasaran dengan apa yang akan mereka bicarakan di bawah sana.


Setelah istrinya itu tak terlihat lagi dari pandangan matanya, Axel mengambil posisi berlutut di lantai sedangkan kedua orang tuanya dan mertuanya berada di atas sofa. Ia kemudian menghela nafasnya untuk menghilangkan rasa gugupnya dan gelisahnya itu, sepertinya ini lebih menegangkan daripada menunggu pidana dari hakim.


“Aku tidak tau harus memulainya dari mana, aku tau kesalahanku sulit untuk di maafkan tapi meskipun begitu aku akan tetap meminta maaf” Axel menatap kedua orang tuanya itu “Maaf karena membuatkan kalian kecewa, aku anak yang tidak tau diri. Aku sangat menyesal dengan itu, kumohon maafkan aku untuk itu” ucapnya lirih sembari menunduk.


Axel menolehkan kepalanya menatap ke arah ibu dan ayah mertuanya itu “Ma, Pa, aku tau kalian pasti tidak bisa memaafkanku tapi selain kata maaf aku tidak tau apa yang bisa kulakukan lagi” Axel menghela nafasnya kasar “Aku bahkan sudah menyakiti putri kalian seperti itu tapi aku dengan tidak tau malunya masih memohon maaf dari kalian. Aku mohon berikan aku waktu, aku akan membuktikan semua perkataanku sebelumnya. Aku akan membahagiakannya jadi kumohon maafkan aku dan tolong percayakan Bianca lagi kepadaku”


Nyonya Kevlar menghela nafasnya kasar “Tapi bagaimana dengan perceraian? Apa kau akan melakukannya?” tanya ibunya itu.

__ADS_1


Axel menggelengkan kepalanya “Tidak! Aku tidak akan melakukannya”


“Apakah kami bisa mempercayaimu, nak?” tanya ibu mertuanya itu.


“Tentu saja kalian bisa mempercayaiku, aku akan mempertahankan pernikahan ini hingga akhir. Aku akan berubah, aku tidak akan melakukan hal yang menyakitinya lagi, aku janji untuk itu”


Axel menundukkan kepalanya, suaranya tercekat dan semakin melemah entah kenapa suasana mencengkam saat ini terasa seperti ia kehilangan kepercayaan orang-orang yang ada di hadapannya sekarang ini.


“Aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangannya lagi” ucap Axel


Tuan Frans menghela nafasnya “Kau mengatakan mencintainya setelah menyakitinya seperti itu?”


Axel terdiam seketika ia menjadi bingung sebenarnya apa yang sudah terjadi di sini, bukankah awalnya ayah mertuanya itu mempercayainya bahkan ia juga memberinya kesempatan untuk kembali mendapatkan Bianca. Lalu apa yang terjadi saat ini?


“Tidak, itu tidak seperti itu. Aku mencintainya bahkan sebelum kehilangannya hanya saja aku yang berusaha keras untuk menyangkalnya” ucap Axel kemudian ia menghela nafasnya lagi “Aku mohon jangan pisahkan kami”


Tuan Frans tersenyum “Baiklah, tapi ingat ini kesempatan terakhirmu jika setelah ini kau masih melukainya maka aku tidak akan tinggal diam”


Axel mengangguk mengerti, ia bernafas lega karena kini mertuanya itu sudah memberi restu sepenuhnya untuknya ia berterima kasih kepada kedua mertuanya itu. Axel bangkit dari berlututnya itu kakinya terasa sedikit kram ia pun mendekat ke arah ibunya dan memeluknya.


“Maafkan aku, ma” ucapnya lirih, ayahnya menepuk punggungnya saat ia masih memeluk ibunya itu “Jangan kau ulangi lagi atau aku dan ibumu tidak akan pernah memaafkanmu lagi” ucap ayahnya.


Axel melepaskan pelukannya itu dan menganggukkan kepalanya mengerti, ia sangat bersyukur karena semuanya selesai tanpa ada halangan. Ia masih berada di bawah sana dan berbincang-bincang dengan kedua orang tuanya dan mertuanya itu, sebenarnya ia ingin segera berlari ke atas menemui istrinya tapi itu tidak mungkin setelah apa yang baru saja terjadi di sini.


“Lalu bagaimana dengan bayi?” tanya nyonya Vero penuh tanda tanya sekaligus menggoda menantunya itu.


“Iya itu benar, kami semua menunggu-nunggu cucu pertama kami” sambung ibunya yang ikutan menggodanya.


Axel menggaruk tengkuknya malu, sepertinya inilah yang di rasakan Bianca saat sahabat-sahabatnya menggoda istrinya itu saat di rumah sakit kemarin. Axel hanya tersenyum menatap semua orang yang ada di sana bergantian, memikirkannya saja membuat Axel menjadi bersemangat.


Nanti, aku akan memberikan kalian cucu secepatnya...

__ADS_1


__ADS_2