Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.60 Menjadi Semakin Rumit


__ADS_3

Axel dan Brandon dalam perjalanan menuju ke toko bunga tempat yang biasa di kunjungi oleh Bianca. Suasana mencengkam memenuhi mobil Brandon, Axel tak henti-hentinya bergumam dan menanyakan hal yang sama kepada sahabatnya itu entah kenapa percakapan Brandon dan kasir toko bunga itu membuatnya sangat gelisah.


“Siapa pria itu?” tanya Axel penuh penasaran dengan jantung yang berdegup kencang saat ini “Apa mungkin dia penggantiku?”


“Apa Bianca sudah melupakanku? Apa dia benar-benar ingin berpisah dariku? Tidak mungkin bukan?” tanyanya berulang kali


Brandon hanya menatap Axel dengan diam, ia tidak tahu harus mengatakan dan melakukan apa saat ini karena ia juga tidak tahu siapa sebenarnya pria itu.


Axel menghela nafasnya kasar kemudian tersenyum kecut hatinya terasa nyeri, apalagi kenyataan yang akan ia terima nantinya “Tidak, jangan lakukan ini. kita kembali saja, lagi pula semuanya sudah selesai” ucapnya.


“Apa yang selesai? Kau gila, kenapa kau harus menyerah bukankah ini alasan kau selama ini ke sana kemari mencarinya agar bisa bertemu dengannya?” ucap Brandon mendengus tak suka.


“Sekarang dia ada di depan matamu, tentang pria itu kita belum tau pasti siapa dia. Ada apa denganmu?!” ucapnya lagi geram.


Axel balik menatap marah Brandon “Setelah semua ini kau pikir aku akan sanggup menerima kalau pria itu benar penggantiku?!” bentaknya.


“Sejak kapan kau menjadi pengecut seperti ini? Ke mana perginya sikap brengsek kau itu?!” ucap Brandon


Axel menghela nafasnya, ia mengalah “Ya aku memang pengecut, aku bajingan yang melukainya dan takut dengan kenyataan jika ia benar-benar akan pergi meninggalkanku” ucapnya frustrasi.


“Itu tidak akan pernah terjadi, bukankah kau yang seharusnya lebih menyadari betapa besarnya Bianca mencintaimu?”


Axel hanya diam melihat ke Brandon sejenak lalu mengedarkan pandangannya ke arah jalanan melalui kaca jendela. Brandon benar jika ia menyia-nyiakan kesempatan ini mungkin saja ia akan benar-benar kehilangan Bianca untuk selamanya.


Setelah sampai Brandon langsung berjalan masuk ke dalam toko bunga dan diikuti oleh Axel namun di sana tidak ada lagi sosok wanita yang ia cari Brandon melangkahkan kakinya menuju meja kasir dengan di ikuti oleh Axel yang kelihatan sangat frustrasi itu.


“Apa kau kenal pria itu? Penampilannya? Tidak, siapa namanya? Apa kau tau di mana alamat rumah wanita itu? Bisakah kau katakan semua yang kau tau tentang wanita itu?” tanyanya bertubi-tubi begitu sampai di meja kasir itu.


Brandon menghela nafasnya, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya itu “Apa dia sudah pergi dari sini?” tanyanya kepada kasir tersebut.

__ADS_1


Kasir itu mengangguk “Iya tuan, sekitar lima atau sepuluh menit yang lalu” ucapnya.


Axel mengacak-acak rambutnya kesal, ia kehilangan jejak istrinya itu “Apa kau tau mereka pergi ke arah mana?” tanya Brandon.


“Tadi kulihat mereka menuju arah selatan, aku tidak terlalu tau pasti karena tadi sedang ada pelanggan lainnya” ucap kasir wanita itu.


Pikiran Axel sangat kacau saat ini setelah kehilangan jejak istrinya kepalanya juga di penuhi tentang siapa pria yang bersama istrinya itu “Apa mereka terlihat sangat dekat?” tanyanya.


“Ya tuan, mereka terlihat dekat karena mereka saling bercanda bersama tadi bahkan bunga yang di beli nona itu dibayar oleh pria yang bersamanya” jelas wanita itu.


Axel keluar dari toko itu, ia berteriak seperti orang gila dan menendang apa pun yang ada di bawah kakinya itu “Sialan!” makinya.


Ia mengusap kasar wajahnya, sekarang semua keadaan menjadi semakin rumit kenapa pria itu harus muncul di saat seperti ini dan lagi pula siapa pria itu? Kenapa bisa akrab dengan istrinya.


Sedangkan di dalam sana Brandon masih berbicara dengan wanita kasir itu “Kalau nomor telepon wanita apa kau mendapatkannya?”


“Ah kalau untuk itu tidak tuan, karena rasanya kurang sopan untuk tiba-tiba meminta nomor teleponnya begitu saja” ucap kasir itu.


Setelah urusannya dengan wanita kasir itu selesai Brandon menyusul Axel yang berada di luar toko itu, dari dalam sana dapat ia lihat betapa kesal dan frustrasinya sahabatnya itu. Brandon mendekat dan memegang bahu sahabatnya itu entah kenapa ia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Axel terlebih lagi ingatan tentang betapa tersiksanya Axel di masa lalu kembali terlintas di pikirannya.


“Kenapa aku selalu saja kehilangannya” gumam Axel lirih


Jika dulu Axel terpuruk atas kematian adiknya dan menyalahkan dirinya berbeda dengan sekarang ia terpuruk benar murni karena kesalahannya. Brandon hanya menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu guna menenangkannya, karena pikirnya sekarang bukan waktu yang tempat untuk menghibur Axel setidaknya biarkanlah dia seperti ini untuk sebentar saja agar pria itu sadar betapa salahnya perlakuannya di masa lalu terhadap istrinya. Mungkin terdengar sangat jahat tapi itu guna agar Axel sadar seharusnya ia tidak berbuat seperti itu, mau menghiburnya pun sepertinya tidak ada hiburan yang tepat untuk sekarang ini.


...****************...


Malam ini hujan kembali turun, Bianca kini tengah duduk di kasur besarnya dengan selimut yang membungkus tubuh kecilnya itu. Seperti biasa matanya tidak bisa terpejam, ia selalu terjaga di malam hari mungkin saja ia mengalami insomnia. Tapi kenapa bisa padahal dia sangat mudah tertidur sebelumnya bahkan ia bisa tidur di mana pun, apakah itu tanda-tanda jika ia sedang stres saat ini?


Bianca menghela nafasnya lalu mengambil ponselnya dan menghubungi nomor sahabat kecilnya, cukup lama berdering akhirnya panggilan tersebut tersambung juga.

__ADS_1


“Al, apa yang kau lakukan?” tanya Bianca saat panggilan itu tersambung


“Apa lagi tentu saja tidur, apa yang kau lakukan belum tidur jam segini?” tanya Alvaro mendengus kesal, ia terbangun karena suara ponselnya yang berdering.


Bianca kaget dan menjadi tidak enak hati, ia lupa ini sudah tengah malam tentu saja pria itu sedang tidur “Ah maafkan aku, apa aku mengganggumu? Ah tidak lupakan saja, kembalilah tidur” ucapnya


“Tidak apa lanjutkan saja, ada apa sampai menghubungiku tengah malam begini?” tanya Alvaro.


Bianca merapatkan giginya, tidak ada alasan khusus untuknya menghubungi pria itu hanya saja ia merasa bosan karena tidak bisa tidur “Bukan apa-apa hanya saja aku sulit tidur jadi aku menghubungimu tapi aku malah melupakan kalo saat ini sudah larut” jelasnya.


Pria itu terdengar menghela nafasnya “Lalu apa yang bisa kulakukan untukmu di larut malam seperti ini?” tanyanya.


“T-tidak, kau tidak perlu melakukan apa pun. Maafkan aku kembalilah tidur, sorry” ucap Bianca tak enak hati.


“Aku akan menemani sampai kau tidur jadi sekarang bersiaplah untuk tidur” ucap Alvaro


“Apakah itu akan baik-baik saja?” tanya Bianca, ia senang jika sahabat kecilnya itu ingin menemaninya tapi ia juga merasa tidak enak hati karena sudah mengganggu tidur Alvaro.


“Tentu”


Alvaro menemani Bianca berbicara mengenai kenangan masa kecil mereka dan banyak hal lainnya. Alvaro menahan kantuknya selama tiga puluh menit hanya untuk menemani Bianca dan hingga akhirnya wanita itu secara perlahan masuk ke dalam alam mimpinya.


Sebelum matanya terpejam sempurna ia sempat tersenyum sekilas menatap ke arah bingkai foto yang berada di bawah lampu tidurnya “Apakah dia benar mencintaiku?” gumamnya tak jelas.


Alvaro yang mendengar itu mengernyitkan keningnya “Kau mengatakan sesuatu? Aku tidak mendengarnya” ucap pria itu.


“Bianca? Hey, nona Shaenette?” ucap Alvaro berkali-kali namun tidak mendengar jawaban apa pun dari seberang sana.


“Apa kau tertidur?” tanyanya lagi.

__ADS_1


Pria itu menghela nafasnya lalu tersenyum tipis “Ya seperti itu, tidurlah aku akan menemuimu lagi. Good night, Shaenette” ucapnya mengakhiri panggilan tersebut.


__ADS_2