Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.62 Apa Semua Ini?


__ADS_3

Setelah kejadian kemarin malam entah kenapa tapi hatinya menjadi semakin kuat dan yakin, kini pria itu sedang dalam perjalanan untuk membeli coklat setelah membeli bunga mawar dari toko yang baru-baru ini ia datangi.


Pria itu bersenandung riang sembari tersenyum senang arah pandangannya selalu tertuju pada buket bunga di kursi sampingnya, ia mengambil ponselnya yang ada di dekat buket itu dan mencoba menghubungi seseorang.


“Halo Al” sapa seorang wanita dari seberang sana


Alvaro tak bisa menahan senyumnya “Apa kau sedang sibuk? Bisa bertemu denganku sebentar?” tanyanya


“Hem tidak, ingin bertemu di mana?” tanya wanita itu


“Aku akan menunggu di tempat biasa, dandanlah dengan cantik jika kau tak ingin malu berada di samping orang tampan” candanya sembari tertawa.


Wanita yang di hubunginya itu juga ikut tertawa dan sedikit kesal mendengar ucapannya itu. Alvaro tak henti-hentinya tersenyum sepertinya wanita itu benar-benar berhasil menarik perhatiannya, setelah panggilan itu berakhir Alvaro kembali memfokuskan dirinya dengan jalanan pergi menuju toko coklat lalu ke tempat ia akan bertemu Bianca.


Di sisi lain Axel kini sedang berada di dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari rumah yang di tempati istrinya itu, ia sudah berada di sana sejak tadi tapi ia tidak melihat ada pergerakan di rumah istrinya itu. Ia kemari tanpa sepengetahuan Brandon ia bahkan mematikan ponselnya agar tidak di omeli oleh sahabatnya itu, ya mungkin saja sekarang sahabatnya itu pasti sudah menyadari jika ia tidak ada di rumah.


Keningnya mengernyit ketika melihat sebuah taksi berhenti tepat di depan rumah istrinya itu dan benar saja tak lama setelahnya istrinya itu terlihat keluar dari rumah dan memasuki taksi tersebut “Dia mau pergi ke mana?” gumamnya penasaran.

__ADS_1


Axel mengikuti taksi yang di naiki istrinya itu dari belakang, ia ingin tahu ke mana sebenarnya istrinya itu akan pergi. Sebelumnya ia sudah berjanji pada dirinya jika tidak akan menyerah begitu saja, ia tidak ingin mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya.


Tak lama kemudian Axel menghentikan mobilnya tak jauh dari taksi yang di tumpangi Bianca itu berhenti, wanitanya itu terlihat memasuki sebuah kafe dan setelah taksi itu bergerak menjauh barulah ia memajukan mobilnya di depan kafe tersebut. Axel tidak turun dari mobilnya dan memutuskan untuk hanya sekedar memperhatikan saja istrinya dari dalam mobilnya.


Tak lama kemudian pandangan matanya menatap seorang pria yang sedang berjalan mendekati istrinya dengan membawa sebuah buket bunga di tangannya. Axel mengernyitkan keningnya apa dia pria yang terlihat akrab dengan istrinya di toko bunga waktu itu? Bahkan istrinya tersenyum hangat menyapa pria itu.


“Apa kau sudah lama menunggu?” tanya Alvaro menatap Bianca dengan wajah bersalahnya “Aku mampir membeli ini sebelum kemari” ucapnya sembari menyodorkan coklat ke arah Bianca.


Bianca menerima coklat itu dengan senang hati “Woo thanks, tumben sekali. Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?” tanya Bianca


Bianca mengernyitkan keningnya saat melihat sebuah buket bunga mawar di tangan Alvaro karena pria itu hanya memberinya coklat sudah pasti bunga mawar itu bukan untuknya, saat ia berniat untuk meledeknya pria itu terlebih dahulu berlutut di hadapannya dan menghadapkan buket bunga mawar itu ke arahnya.


Pria itu tersenyum dan menatap Bianca hangat lalu menarik nafasnya “Aku tau ini mengejutkan tapi aku tidak ingin menyembunyikannya lebih lama lagi. Sebenarnya aku menyukaimu sejak lama dan alasan kukembali berharap bisa bertemu denganmu lagi dan akhirnya itu terjadi karena itu kupikir ini sudah saatnya untuk mengungkapkan semua yang kupendam selama ini” ucap Alvaro panjang lebar.


Axel yang melihat pria itu berlutut di hadapan Bianca dengan menyodorkan buket bunga itu menggertakkan giginya geram, meskipun ia tidak mengetahui apa yang dibicarakan pria itu tapi ia paham betul apa yang sedang dilakukan pria itu. Axel melempar ponselnya yang ada di genggamannya ke samping persetan dengan itu, yang lebih penting saat ini pemandangan yang terus mengganggu pandangannya dan membuat hatinya panas itu.


Axel keluar dan membanting pintu mobilnya kuat, kesabarannya sudah habis ia tidak sanggup jika harus melihat itu hingga akhir dengan langkah cepat ia mendekati mereka.

__ADS_1


“Apa yang sedang kau lakukan padanya?” tanya Axel dengan rahang yang mengeras.


Axel menatap tajam ke arah pria itu, tangannya mengepal kuat. Ia tidak butuh jawaban dari pria itu dengan cepat ia menarik pria itu lalu menggenggam kerahnya sebelum akhirnya satu pukulan melayang ke wajah Alvaro. Sebenarnya ia bisa mendengar penjelas pria itu tapi pikirannya justru di penuhi dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja membuat istrinya menerima pernyataan cinta pria di hadapannya itu. Tak memberi jeda setelah pukulan pertama itu Axel kembali melayangkan pukulannya berkali-kali hingga sudut bibir pria itu terluka dan lebam di tulang pipinya.


Bianca sangat terkejut dengan kedatangan Axel yang tiba-tiba, tak bisa dipungkiri ia sangat takut melihat kemarahan Axel yang meluap-luap itu “A-apa yang kau lakukan? Hentikan itu” pekik Bianca tertahankan berusaha untuk menghentikan Axel.


Alvaro menatap Axel tak mengerti, pria itu sudah berkali-kali memukulinya tanpa tau sebabnya “Lepaskan ini brengsek! Siapa kau?!” tanya Alvaro geram balik menggenggam erat kerah Axel.


Tangan Axel melayang di udara begitu pula dengan Alvaro mereka bisa saja beradu tinju jika di biarkan dengan cepat Bianca meleraikan keduanya dengan berada di tengah-tengah mereka, Bianca menahan tangan Axel yang sudah siap untuk melayangkan tinjunya itu.


“Cukup, hentikan itu kau melukainya...” ucap Bianca


Axel tersenyum miring ketika melihat pria itu meringis kesakitan ia bahkan bisa melihat dengan jelas sudut bibir pria itu yang pecah dan lebam di tulang pipinya, tapi ia menjadi sedikit tidak puas karena sepertinya ia tidak mengerahkan segala tenaganya saat melayangkan tinjunya tadi.


Bianca menggelengkan kepalanya, berbalik lalu melangkahkan kakinya mendekati sahabatnya itu ia dipenuhi rasa bersalah saat ini “Al maaf, aku tidak bisa karena kau sudah menikah. Dan juga aku tidak pernah menganggapmu lebih dari teman” ucap Bianca menghela nafasnya kasar “Maaf untuk kejadian ini, terima kasih untuk kebaikanmu selama ini”


Bianca mengambil tasnya yang berada di meja tempat ia duduk tadi lalu melangkahkan kakinya keluar dari sana, ini sangat memalukan. Axel menatap istrinya yang melangkah pergi keluar itu dan kemudian menatap tajam ke arah Alvaro.

__ADS_1


“Dia itu istriku, jangan pernah mengganggunya lagi. Ini peringatan terakhir dariku!”


__ADS_2