Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.65 Apa Jawabanmu Masih Sama?


__ADS_3

Suara bel membuat Bianca terbangun dari tidurnya, tangannya bergerak mencoba menjangkau ponselnya dan melihat jika saat ini masih sangat pagi untuk seseorang berkunjung. Mata Bianca membulat sempurna ia kembali memastikan jam di ponselnya dan benar saja masih jam setengah empat pagi.


Berbagai pertanyaan seketika timbul di benaknya, siapa yang bertamu di jam segini? Bagaimana orang itu bisa masuk? Bukankah ia tadi mengunci pagar rumahnya. Apakah itu begal? Maling? Atau orang mesum? Bianca bergidik ngeri dan membawa tongkat kayu milik mendiang kakeknya untuk berjaga-jaga jika orang yang ada di depan sana benar orang jahat.


Dengan hati-hati ia membuka pintu dan hendak memukul orang tersebut namun cepat ia urungkan saat melihat Brandon yang berada di depan rumahnya “Ah, itu kau...” ucapnya bernafas lega.


Bianca mengernyitkan keningnya pria itu hanya diam dan menatapnya dengan tatapan yang tidak sulit untuk di artikan, sedangkan Bianca sudah memerah malu karena mengayunkan tongkat kayu yang ada di tangannya hendak memukul Brandon. Tapi kenapa Brandon bisa sampai di sini? Bagaimana bisa ia tahu alamat rumah ini? Terlebih datang di dini hari seperti ini.


“Bisakah aku bicara denganmu?” tanya Brandon yang akhirnya bersuara.


Bianca menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Brandon untuk masuk ke dalam “Ah aku penasaran hal ini, apa aku tidak mengunci pagarnya?” tanyanya.


Brandon mengangguk “Itu tidak terkunci” ucapnya.


Tongkat kayu milik mendiang kakeknya itu masih berada di tangannya, ia mempersilahkan Brandon duduk di ruang tamunya dan kini ia duduk berhadapan dengan pria itu.


“Apa ada? Kenapa berkunjung tengah malam seperti ini?” tanya Bianca langsung.


Brandon menghela nafasnya “Apa ini masih malam? Aku dari tadi menunggu pagi untuk berkunjung kemari, sebelumnya maaf untuk itu” ucapnya.


Bianca hanya menganggukkan kepalanya dan tidak mempermasalahkan hal itu “Aku membutuhkanmu saat ini” ucap Brandon lagi.


Bianca mengerutkan keningnya semakin bingung “Aku? Kenapa kau membutuhkanku?” tanyanya.


Brandon menatapnya serius dan hal itu membuat Bianca semakin bingung sekaligus canggung “A-apa kau ingin minum sesuatu?” tawarnya.


“Tidak, aku hanya sebentar saja”

__ADS_1


Bianca menganggukkan kepalanya dan menatap balik Brandon “Lalu apa yang ingin dibicarakan?” tanyanya


Pria itu menunduk dan menautkan jarinya sendiri “Kali ini tolong jawab aku dengan jujur” pintanya.


Bianca yang bingung pun hanya mangut-mangut saja “Apa kau masih mencintai Axel?” tanya Brandon.


Pertanyaan tiba-tiba itu berhasil membuat Bianca tertegun ia menggenggam erat tongkat kayu itu, kenapa tiba-tiba Brandon bertanya hal itu? Jantungnya berdegup sangat kencang terlebih lagi pria itu menatapnya lekat menanti sebuah jawaban darinya.


Bianca menggigit bibir bawahnya “A-aku... Haha bukankah itu hal yang pasti karena cinta pertama itu sulit dilupakan” ucapnya tertawa canggung.


“Bianca, tolong jujurlah. Karena jawabanmu mungkin bisa menjadi keputusan akhirku” ucap Brandon


Bianca mengerutkan keningnya dari tadi ia tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang di bicarakan Brandon ini, apa terjadi sesuatu yang buruk? Bianca menghela nafasnya kasar “Tentu, aku sangat mencintainya...”


Brandon menatapnya dengan mata yang berbinar-binar, mata itu terlihat tidak cocok dengan wajah datar pria itu “Aku tahu perlakuan Axel itu sangat kejam bahkan saat pertama mengetahuinya jujur aku kecewa kepada pria bodoh itu” ucapnya kembali teringat akan Axel yang terbaring sakit.


Bianca masih bingung dengan apa yang sedang di bicarakan Brandon saat ini “Sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya.


Pria itu menghela nafasnya “Kumohon kembalilah pada Axel”


Bianca terdiam, ia sama sekali tidak menyaka jika Brandon akan meminta hal seperti ini kepadanya “A-aku bingung”


“Kenapa kau harus bingung? Bukankah kau mencintainya, lalu apa lagi masalahnya?” tanya Brandon


“Ayolah, kumohon... Setidaknya beri dia kesempatan untuk memperbaiki semuanya, benar tidaknya dia sudah berubah atau belum kan bisa di jalani. Tapi aku bisa jamin jika Axel sudah berubah, dia tulus kepadamu, kumohon percayalah” ucapnya lagi.


“Aku juga ingin mempercayai semua itu, tapi...”

__ADS_1


Brandon memotong ucapan Bianca “Lalu apa alasanmu sampai tidak ingin kembali dengannya?”


Bianca menundukkan kepalanya entah kenapa rasanya ia seperti seorang tersangka yang sedang di interogasi “Aku hanya takut jika perasaanku semakin besar dan akan menderita lagi untuk kedua kalinya. Aku ingin mempercayai semua itu tapi aku masih takut untuk kembali mencobanya, karena kenangan itu terlalu buruk untukku”


“Bukankah sudah cukup sekarang? Axel, pria bodoh itu juga menderita selama kau pergi. Dia terus mencarimu selama dia terjaga kau bisa menemukannya di jalanan karena sibuk mencarimu bahkan si gila kerja itu meninggalkan kursinya kosong selama sebulan penuh hanya untuk mencarimu”


“Setiap harinya yang dia dapatkan selalu jalan buntu tidak satu pun yang tau keberadaanmu bahkan orang suruhan yang ia kerahkan untuk mencarimu setiap harinya selalu mengabari hal yang sama, tapi sampai akhir dia tidak berhenti untuk terus mencarimu”


“Dia mempertaruhkan hidupnya hanya untuk mendapatkan maaf darimu, dia ingin kau kembali. Dia mencintai kau dengan tulus, percaya padaku. Jadi...” Brando turun dari kursinya dan berlutu di hadapan Bianca.


Hanya sampai sini ia bisa lakukan, jika Bianca masih menolaknya setelahnya berlutut seperti ini maka itu artinya Axel harus menyerah untuk mendapatkan Bianca kembali. Bianca tersentak kaget, ia tidak suka posisi saat ini memangnya siapa dia sampai membuat seorang pria yang lebih tua dari padanya berlutut di hadapannya seperti ini.


“Kumohon Bianca, dia sekarang berada di rumah sakit” ucapnya kembali menghela nafas kasar “Pria bodoh itu mengemudikan mobilnya untuk menemuimu dengan kondisi tubuhnya yang tidak sehat setelah kehujanan kemarin siang sehingga menyebabkan kecelakaan dan kini dia kembali berada di rumah sakit lagi”.


Bianca tertegun dan menutup mulutnya tak menyangka, Axel kecelakaan? Seketika air matanya perlahan jatuh membasahi pipinya “Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi jadi hanya ini yang bisa kulakukan jika tidak ia akan kembali mencari cara untuk menemui dengan keadaannya saat ini karena sampai akhir dia tidak akan melepaskanmu begitu saja”


Bianca menangis, kebingungan itu selalu menghampirinya di saat ia harus memutuskan pilihan untuk kehidupannya itu. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus di lakukan, apa ia harus kembali atau tetap berada di sini dan merelakan semuanya tentang Axel?


“Aku mohon, aku tidak ingin di melakukan hal bodoh lagi karena jika tidak untuk hal terburuknya mungkin dia akan kehilangan nyawanya” ucap Brandon tak henti-hentinya memohon.


Brandon tersadar ketika suara ponselnya berdering dan menampilkan nama Mark di sana “Ha...” belum sempat ia menyelesaikan ucapannya suara Mark dia seberang sana memenuhi indra pendengarannya.


“Kau di mana? Apa masih lama, cepatlah kembali. Axel sudah sadar dia mengamuk ingin pergi aku tidak bisa menanganinya sendiri. Jika urusanmu tidak penting kembalilah sekarang”


“Kau sendiri? Apa tante dan om belum datang?” tanyanya panik, ia melupakan acara memohonnya kepada Bianca bahkan wanita itu pun sama paniknya dengannya.


“Belum! Apa kau masih lama? Hah, kumohon kembalilah sekarang” keluh Mark dia perlu bantuan saat ini.

__ADS_1


Brandon mengakhiri panggilan tersebut ia akan pergi kembali ke rumah sakit dan sebelum itu ia kembali menatap Bianca “Apa jawabanmu masih sama?” tanyanya.


__ADS_2