Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.73 City Of Light, Paris


__ADS_3

Sepasang suami istri kini tengah menginjakkan kakinya di Kota City Of Light, Paris. Axel dan Bianca sedang dalam perjalanan menuju hotel karena sebelumnya tidak ada bulan madu, Axel pun memutuskan untuk membawa istrinya pergi bersamanya ke kota Paris untuk mengurus cabang baru perusahaannya yang akan di bangun di sini sekaligus liburan bersama istrinya itu.


Bianca tak membawa banyak barang begitu pula dengan Axel karena suaminya itu mengatakan untuk membelinya saja saat tiba di sini. Seorang petugas hotel menunjukkan kamar yang akan mereka tempati dan mereka pun memasuki kamar mereka.


“Welcome to Paris Mr. and Mrs.” ucap pelayan itu sopan kemudian menundukkan kepalanya lalu pergi.


Bianca tak henti-hentinya mengagumi kamar mewah hotel ini sampai-sampai ia mengabaikan suaminya dan terus terpaku pada megahnya kamar ini.


Bianca tersentak kaget saat Axel memeluknya dari belakang “Kau ingin mandi atau makan terlebih dulu?” tanya Axel.


Bianca mengusap pelan lengan suaminya yang melingkah di pinggangnya itu “Aku akan mandi tapi aku ingin istirahat sebentar” ucapnya.


Axel hanya menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan istrinya itu “Apa barang-barangku belum sampai?” tanya Bianca.


“Hem, sepertinya itu sebentar lagi. Kenapa, kau perlu sesuatu?”


Bianca menggelengkan kepalanya “Tidak, aku akan mandi setelah barang-barangku tiba”


Axel mengernyitkan keningnya tak mengerti kenapa harus menunggu barangnya tiba baru mandi namun detik itu juga Axel menyeringai pikiran nakalnya muncul saat itu juga.


“Kenapa sayang? Kau kan bisa menggunakan handuk” ucap Axel berbisik tepat di telinga istrinya itu sembari mengeratkan pelukannya “Kau akan terlihat sangat seksi” ucapnya.


Wajah Bianca menjadi panas dan memerah ia menatap Axel sejenak lalu memukul dada pria itu “Hentikan, dasar mesum!”


Axel tertawa, ia sangat suka melihat tanggapan yang di berikan saat ia mencoba menggoda istrinya itu “Aku akan memesan makanan dulu” ucapnya sembari mengacak rambut istrinya itu.


Bianca menganggukkan kepalanya setuju, ia ikut melihat menu makanan yang di sediakan hotel ini dan setelah itu mereka menunggu makanan yang mereka pesan tiba. Tak lama kemudian makanan mereka pun datang, Bianca dan Axel sama-sama menikmati makanan mereka.


Ini santapan pertama Bianca di Paris dan ini adalah pertama kalinya ia datang ke negara impiannya ini, itu pun karena ikut menemani suaminya trip bisnis. Tapi tidak apa-apa yang terpenting adalah ia mewujudkan salah satu harapan kecilnya sejak dulu, sudah bisa melihat menara Eiffel secara langsung saja ia sudah sangat bersyukur.


Bianca menyelesaikan makannya lalu menatap suaminya itu tersenyum, suaminya itu sangat tampan batinnya. Tak lama kemudian Axel bangkit dari duduknya dan mendekatinya “Aku akan menemui rekan kerjaku dulu, kau mau ikut?” tanya Axel.


Bianca menggelengkan kepalanya “Tidak, aku di sini saja. Itu akan membosankan” ucapnya.


Axel tersenyum mencubit gemas pipi istrinya itu, sebenarnya saat di pesawat tadi Axel sudah memberitahukan apa saja kegiatan-kegiatannya saat berada di sini.


“Kalau terjadi sesuatu atau kau butuh sesuatu hubungi aku secepatnya ya” ucap Axel lalu mencium kening istrinya sebelum benar-benar pergi menemui rekan kerjanya itu.


Manisnya batin Bianca, ia selalu menganggap suaminya itu menggemaskan di saat-saat seperti ini. Sepeninggalan Axel, ia mengambil novel yang ia bawa lalu duduk dekat balkon sembari melihat pemandangan indah menara Eiffel. Bianca membalikkan halaman demi halaman novel itu, ia membacanya penuh penghayatan hingga akhirnya suara bel kamarnya berbunyi.


Bianca berjalan menuju pintu dan melihat siapa yang datang dengan perlahan ia membuka pintu kamarnya dan menampakkan dua orang pria berbadan kekar dengan jas yang membalut tubuhnya.

__ADS_1


“Nyonya saya mengantarkan barang-barang Anda” ucap pria itu, Bianca tersenyum ramah dan mempersilahkan pria itu masuk ke dalam.


Setelah orang-orang bertubuh besar tadi meninggalkannya Bianca mulai membongkar barang belanjaan suaminya itu, mulutnya dengan otomatis terbuka lebar saat melihat yang di beli suaminya itu semuanya dari Brand terkenal Chanel. Bianca menggelengkan kepalanya melihat itu semua, pria itu benar-benar menggunakan uangnya dengan baik. Bianca tertawa geli sendiri lalu mulai merapikan barang belanjaan suaminya itu yang kebanyakan adalah miliknya.


Bianca mengambil pakaiannya yang berbahan rajut kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Ia berendam sebentar dengan air hangat untuk menghilangkan penatnya setelah melakukan empat belas jam lamanya penerbangan, tak lama setelahnya ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian lengkapnya dan handuk kecil yang ia di lilitkannya di kepalanya.


“Ah, kau sudah kembali?” tanya Bianca saat melihat Axel kini tengah duduk bersandar pada kepala ranjang tersebut.


Axel hanya tersenyum manis menanggapi istrinya itu sedangkan Bianca berjalan menuju meja rias dan duduk di sana, ia mencolokkan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya dan di saat yang bersamaan Axel turun dari ranjang mendekati Bianca dan mengambil alih hairdryer itu.


Suaminya itu membantunya mengeringkan rambutnya bahkan setelah itu dengan telaten Axel menyisirkan rambutnya dengan lembut. Bianca membiarkan suaminya itu melakukannya setelah selesai Bianca memalingkan tubuhnya menatap lembut suaminya itu dengan senyuman yang terbentuk di bibirnya.


“Terima kasih” ucapnya


Axel mengelus lembut kepala istrinya itu lalu berjalan menuju tempat tidur dan duduk di tepinya, Bianca pun mengikuti suaminya itu saat ia ingin mengambil novelnya di nakas samping tempat tidur suaminya itu justru menahan tubuhnya lalu menariknya dan berakhir ia duduk di pangkuan suaminya itu.


“Ada apa?”


“Aku rindu”


Bianca tertawa geli, akhir-akhir ini suaminya itu suka bersikap berlebihan “Kau keluar hanya sebentar, tuan” ucapnya.


Axel cemberut dan memeluk tubuh istrinya itu “Aku serius, aku benar-benar merindukanmu dari tadi pikiranku hanya ada kamu” ucapnya.


Axel bergerak untuk mengecupi bahu hingga leher istrinya itu, ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya itu “Aku sangat suka aroma ini, sayang” ucapnya setengah berbisik.


Bulu tengkuknya meremang, suaminya itu tetap melakukan kegiatannya itu dengan lembut bahkan saat ini tangan suaminya itu sudah bergerak menjalar ke atas hendak menyentuh dadanya.


“C-cepat mandi!” ucap Bianca setengah terpekik menghentikan suaminya saat tak tahan lagi dengan tindakan suaminya itu.


Axel mendengus kasar lalu menghentikan aksinya itu, ia pikir ini sudah waktu yang tepat untuk mereka tapi sepertinya Bianca tidak berpikiran sama dengannya, dengan sedikit kecewa ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sedangkan Bianca bernafas lega saat melihat pintu kamar mandi itu sudah tertutup, ia memegang dadanya yang berdebar sangat kencang seakan ingin meloncat keluar dari tubuhnya itu.


Bianca mematikan lampu kamarnya hanya menyisakan lampu tidur yang menyala lalu berjalan menuju balkon dan menatap menara Eiffel yang kini semua lampunya sudah menyala karena hari sudah gelap, ia sangat menikmati pemandangan itu hingga terhanyut ke dalamnya.


“Kenapa bergelap seperti itu?” tanya Axel yang berjalan menghampirinya.


Bianca berbalik badan dan menatap suaminya itu meski remang-remang tapi ia bisa melihat suaminya dengan jelas “Tidak apa, bukankah itu terlihat lebih indah jika seperti ini?” tanya Bianca sembari menunjuk objek yang membuatnya hanyut seperti ini.


Axel berdiri di samping Bianca dengan gelisah Bianca menyadari itu pun bertanya penasaran “Kamu kenapa? Apa ada masalah?” tanya.


Tiba-tiba suaminya itu berlutut di hadapannya sontak membuatnya kaget lalu mengeluarkan sesuatu di tangannya bahkan terdengar helaan nafas dari pria itu yang terlihat sangat gugup itu.

__ADS_1


“Ah aku hanya ingin memberikan ini karena selama ini aku tidak pernah memberimu hadiah dan aku akan memperbaiki semuanya kali ini” ucapnya tersenyum kikuk “Apa ini tidak romantis?” tanyanya bingung saat Bianca tak menanggapi apa pun hingga membuat wanita itu tertawa.


Bianca terkejut saat suaminya itu membuka kotak yang ada di tangannya itu sebuah kalung berbentuk hati dengan inisial A&B di tengahnya kecil menambah kesan elegan pada kalung itu.


“Ini edisi terbatas hanya ada sepuluh dunia tapi untuk inisialnya itu tidak edisi terbatas karena aku meminta mereka mendesain ulang liontinnya” jelas Axel membuat Bianca menahan tawanya.


“Ah apa ini tidak berjalan dengan baik?” tanyanya bingung sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.


Bianca tertawa pria di hadapannya ini benar-benar menghancurkan kesan romantis itu, bagaimana bisa dia menjelaskan sebegitu detailnya tentang kalung itu dan bertanya seperti itu di saat ini.


Axel mendengus kesal lalu bangkit dari berlututnya kemudian dengan lembut memasangkan kalung itu ke leher istrinya meskipun tidak romantis sama sekali ia tidak peduli lagi yang penting ia menyampaikan keinginannya dengan baik.


“Ini cocok untukmu” ucapnya lalu menangkup wajah istrinya itu dengan kedua tangannya “Maaf karena baru memberimu hadiah sekarang” ucapnya.


Bianca menggelengkan kepalanya menandakan bahwa itu tidak jadi masalah untuknya, ia menatap Axel sembari mengelus lembut tangan suaminya yang berada di wajahnya itu.


“Maaf atas sikap kasarku saat itu sekarang aku akan memperbaikinya perlahan dan aku harap kau mau mempercayaiku lagi dan mengertiku. Aku berjanji akan menjaga dan membahagiakanmu selamanya”


Bianca menganggukkan kepalanya dan tersenyum penuh haru “Aku mencintaimu, sayang” ucapnya.


Axel tersenyum lembut ke arah Bianca dan mengecup kening, mata, pipi, hidung dan berakhir di bibir istrinya itu sekilas “Sayang, apa sekarang aku boleh melakukannya?” tanya Axel


Bianca hanya diam, ia mengerti apa keinginan suaminya itu dan Axel mengartikan diamnya Bianca itu sebagai tanda setuju. Saat itu juga Axel mencium bibir istrinya yang awalnya hanya kecupan biasa kini menjadi ciuman yang panas. Axel menarik tengkuk Bianca dan memperdalam ciumannya yang semakin memanas berubah menjadi kasar. Bianca mencoba mengimbangi ciuman suaminya itu meskipun ini bukan pertama kalinya Axel menciumnya seperti ini tetap saja itu membuatnya kewalahan.


Axel melepaskan tautannya dan membiarkan Bianca menghirup oksigen terlebih dahulu, suara detak jantung mereka beradu seakan berlomba siapa yang berdetak paling cepat dan deru nafas mereka pun beradu Axel menatap istrinya itu dengan rakus ia tidak bisa jika harus menahannya lagi.


“Apa kau tahu? Aku sudah menahannya sejak lama” ucap Axel berharap agar istrinya itu tak lagi menolak atau menghentikannya di tengah-tengah nanti.


Saat merasa cukup Axel kembali mengecup kening, lalu mata, kemudian hidung, pipi dan terakhir bibir istrinya itu Axel ********** lagi tanpa ampun. Saat merasa cukup Axel perlahan turun ke rahang Bianca dan mengecupnya dan perlahan berakhir di leher jenjang milik istrinya itu.


“Shh, Axel...” pekiknya saat pria itu menggigit kecil lehernya.


Axel menyeringai mendengar itu dan kembali beralih ke bibir istrinya lalu melahapnya dengan rakus dan ganasnya, ia seperti kesetanan saat mencumbu istrinya itu bahkan ia mengabaikan bibir Bianca yang perlahan mulai membengkak karena kebrutalannya.


Tangannya bergerak masuk ke dalam rajutan yang menutupi tubuh istrinya itu dengan gerakan pelan sehingga membuat Bianca kegelian akibat sentuhan itu. Axel kembali melepaskan tautannya itu lalu perlahan membantu istrinya itu untuk menanggalkan pakaiannya. Bianca memalingkan wajahnya karena malu dan Axel membuang pakaian istrinya itu ke sembarang arah.


...****************...


Napasnya tersengal-sengal lalu bergerak mengecup kening Bianca, Axel melepaskan dirinya dari istrinya itu dan ia tersenyum saat mendengar desahan kecil saat ia melepaskannya. Ia berbaring di samping Bianca lalu mengangkat kepala istrinya dan meletakkan lengannya sebagai bantalan untuk istrinya itu.


Axel mengecup kening Bianca lama, deru nafas mereka masih tidak teratur Axel memeluk tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang. Axel menatap Bianca dan mengusap peluh di kening istrinya itu lalu tangannya bergerak mengusap perut rata istrinya berharap benih yang ia tanam dapat tumbuh dengan baik dan segera terbentuk.

__ADS_1


“Terima kasih, sayang” ucapnya haru karena kini istrinya itu sudah mempercayainya sepenuhnya, jantung mereka berdebar saling bersahutan.


__ADS_2