Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.68 Mengungkapkan Cinta


__ADS_3

Axel bangun terlebih dahulu di banding Bianca yang masih terlelap di dalam pelukannya, ia tak hentinya tersenyum dan tangannya bergerak menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya itu. Axel menatap lekat wajah istrinya Bianca sangat cantik, apa yang selama ini ada di pikirannya sampai tidak menyadari hal ini sejak dulu.


Axel mengecup kening Bianca cukup lama kemudian ia menatap wanita itu kembali, ini masih seperti mimpi untuknya setelah satu bulan lebih ke sana kemari mencari istrinya ini akhirnya wanita itu berakhir di pelukannya sekarang ini. Rasanya kebahagiaan karena kembalinya Bianca menutupi semua rasa sakit di tubuhnya, ya meskipun kadang-kadang masih terasa sakit tapi tak apa dia bisa menahannya.


Axel bergerak memeluk tubuh Bianca sangat erat dan juga mengelus punggung istrinya itu berkali-kali “Terima kasih sayang, terima kasih karena sudah memilih untuk kembali” gumamnya mengecup pucuk kepala Bianca.


Ia merasakan tubuh istrinya yang bergerak dalam tidurnya ia melihat sekilas namun wanita itu masih memejamkan matanya. Ia tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya saat cuaca dingin menusuk kulitnya dan menciumi puncak kepalanya entah untuk ke berapa kalinya.


Saat ia menggerakkan kepalanya secara spontan ia meringis kesakitan, Bianca kembali menggerakkan tubuhnya dan kali ini ia membuka matanya perlahan dan mendongakkan kepalanya menatap Axel seketika wajahnya memerah saat mengetahui bahwa pria itu sedang menatapnya intens.


“Selamat pagi, sayang” ucapnya.


Bianca tersipu dan tersenyum “Se-selamat pagi juga.” ucapnya sedikit gugup.


Axel tertawa kecil mendengar suara Bianca yang bergetar karena gugup, Bianca mencoba bangkit dari ranjang itu karena ia merasa tidak tahan jika Axel terus menatapnya intens seperti itu. Belum sepenuhnya bangkit pria itu justru kembali menarik tangannya dan membuatnya kembali baring di sampingnya dengan Axel yang kembali memeluknya.


“K-kenapa?” tanya Bianca gugup


Tangan Axel bergerak mengelus lembut pipi istrinya itu “Tetaplah seperti ini, aku masih ingin mengamati wajahmu” ucapnya.


Wajahnya seketika memerah itu hal yang memalukan dan canggung untuk di dengar, ia berusaha menghindari tatapan Axel “H-hentikan itu, a-aku harus segera bangun” ucapnya.


Dengan gerakan cepat Axel menciumnya Bianca tersentak kaget dengan gerakan yang tiba-tiba itu, Bianca memejamkan matanya erat lalu membalas ciuman itu. Tangannya berada di depan dada Axel ia dapat merasakan jantung pria itu berdebar sangat kencang sama seperti yang ia rasakan saat ini juga.


Axel melepaskan tautannya dan sedikit terengah, ia tersenyum senang saat mendapat balasan dari Bianca terlebih lagi wajah istrinya saat ini sangat menarik untuk di pandang karena sangat merah seperti kepiting rebus.


“Aku janji mulai hari ini akan terus membahagiakanmu sampai akhir” ucapnya sembari mengecup singkat bibir istrinya itu “Terima kasih karena sudah menerimaku kembali, aku mencintaimu Bianca” ucapnya lagi.

__ADS_1


Bianca menganggukkan kepalanya dan tersenyum, ia juga sangat berterima kasih karena dirinya bisa bersatu dengan Axel.


Bianca bangun dan duduk di ranjang “Suster akan melihat kita jika tidur bersama di sini” ucapnya sembari memalingkan kepalanya.


“Lalu apa salahnya? Tidak masalah untukku, aku ingin semua orang tau kalau sekarang kau milikku. Hanya aku” ucapnya penuh percaya diri.


Bianca tertawa kecil “Tidakkah itu terlalu arogan?” tanyanya.


Axel bersandar di ranjangnya “Bisakah kau memanggilku seperti itu sekali lagi?” tanyanya membuat Bianca mengernyitkan keningnya bingung “Seperti di surat itu...”


Bianca kaget, ia tidak percaya jika surat itu sudah di baca oleh Axel karena kembali seperti ini maka surat itu akan menjadi aib untuknya karena itu sangat memalukan dan itu pertama kalinya ia menulis surat cinta kepada seseorang.


“A-apa kau membacanya hingga akhir?” tanya Bianca gugup


Axel menganggukkan kepalanya “Tentu saja, selama kau pergi hanya itu satu-satunya yang bisa kukenang dan terus kubaca setiap saat. Selembar kertas itu mampu membuatku terus berjuang untuk menemukanmu” ucapnya.


Terlebih sekarang saat melihat Axel yang terus tersenyum kepadanya, memperlakukannya dengan lembut membuat hatinya goyah dan pertahanannya runtuh begitu saja. Sulit untuk di jelaskan tapi sebesar itu rasa cintanya kepada pria yang bernama Axel Kevlar itu.


Axel merentangkan tangannya minta di peluk, Bianca hanya melihat ke arahnya dan bertanya seolah tidak mengerti apa maksud tindakan Axel tersebut “A-apa?” tanyanya.


“Peluk aku”


“Tolong mandilah terlebih dahulu, sepertinya kau sudah berhari-hari tidak mandi bukan?” ucap Bianca menolak permintaan Axel.


Axel mendengus kesal “Kalau begitu mandikan aku, aku tidak bisa berjalan ke sana sendirian. Apa sayangku ini sudah mandi? Jika belum maka kita juga bisa mandi bersama” ucapnya


Bianca mencubit lengan Axel “Dasar mesum!”

__ADS_1


“Hey! Apa maksudmu mesum? Kakiku kan sakit tentu saja kau harus membantuku untuk mandi” ucapnya tersenyum jail “Jika tidak ingin melakukan itu maka cepat peluk aku” pintanya lagi.


“Ayo cepat tanganku pegal” ucap Axel yang masih setia merentangkan tangannya.


Bianca tetap tidak ingin memeluk Axel bukan benar-benar tidak ingin, ia hanya mempermainkan pria itu saja. Saat melihat pria itu kesal dan menurunkan tangannya barulah Bianca memeluknya, ia mendongakkan kepalanya lalu menatap ke arah Axel “Bukankah ini sangat menyenangkan?” tanyanya.


Axel mengangguk setuju ia terlambat menyadari hal ini padahal jika ia menerima saja pernikahan ini tanpa membuat perjanjian bodoh itu dan kembali pada wanita ular itu pasti hidupnya dan Bianca akan baik-baik saja dan selalu bermesraan setiap harinya seperti saat ini.


Memikirkannya saja sudah membuatnya bahagia, itu sangat indah. Bianca melepaskan pelukannya dan menatap Axel lekat pria itu bersikap hangat kepadanya bahkan yang sekarang ia tatap bukan lagi wajah dingin tak tersentuh tetapi wajah yang terus tersenyum dan membuatnya merasa kehangatan yang teramat sangat.


“Lihatlah, kau terlihat sangat berbeda dari biasanya” ucap Bianca


Axel menarik tangan Bianca dan menggenggamnya “Apa sekarang semua terlihat baik-baik saja?” tanyanya.


Bianca menganggukkan kepalanya sepakat “Sekarang jauh lebih hangat tidak ada lagi wajah datar dan tatapan dingin yang selalu menatapku itu dan tidak ada lagi kata-kata kasar yang menusuk hati itu” jelasnya.


“Maafkan aku untuk itu, aku sangat kejam kepadamu saat itu dan mulai sekarang cobalah untuk terbiasa dengan tatapan dan senyuman ini karena ke depannya kau akan sering melihatnya, sayang” ucap Axel.


Bianca mengangguk mengerti “Lalu sekarang, coba panggil aku sayang” pinta Axel lagi.


Bianca berusaha menolaknya karena itu sangat memalukan jika di lakukan seperti ini tapi Axel terus memintanya agar memanggilnya dengan sebutan itu.


Dengan malu-malu Bianca pun memberanikan dirinya “S-sayang...” ucapnya lalu berhambur memeluk Axel sangat erat.


“Memalukan” ucapnya saat merasakan wajahnya perlahan memanas dan pastinya mulai memerah.


Bianca mendongakkan kepalanya sebentar dan menatap ke arah Axel dengan senyuman indahnya tapi jangan lupakan juga wajahnya yang memerah itu “Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu” bisiknya pelan kembali memeluk Axel.

__ADS_1


Axel tertawa kecil “Aku juga sangat-sangat mencintaimu dan akan terus semakin mencintaimu selamanya” ucapnya.


__ADS_2