Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.48 Bebas


__ADS_3

Kini sudah seminggu sejak kejadian di Villa terakhir kali. Brandon yang marah besar saat itu menarik tangan Bianca tanpa pikir panjang dan membawanya pergi ke tepi pantai yang cukup jauh dari Villa. Pria itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Bianca tidak mengerti kenapa Brandon bereaksi seperti itu tapi ia juga tidak menolak itu karena rasanya jika berdiam di Villa dia akan terlihat seperti orang bodoh.


Setelah membuat keributan seperti itu sahabat-sahabat Axel memintanya untuk menyuruh Sheryl pulang dan kebetulan Sheryl datang bersama manajernya jadi Axel tidak perlu repot-repot mengantarnya pulang. Axel menceritakan apa yang terjadi tapi tidak semua di ceritakannya dengan benar, karena jika ia menceritakan semuanya pasti ia akan menjadi sasaran amukan sahabatnya itu.


Bianca ataupun Brandon tidak ada satu pun dari mereka yang membawa ponsel sehingga membuat orang yang ada di Villa menjadi khawatir. Bianca menceritakan semuanya kepada Brandon toh mereka sudah ketahuan seperti ini, tanpa ia ketahui jika ucapannya itu akan membuatnya dalam masalah nantinya.


Mereka berada di pantai hingga petang, Brandon menawarkan untuk pulang ke rumah tapi Bianca memilih untuk pulang ke Villa saja karena ia merasa lelah. Sebenarnya hal seperti ini bukan masalah besar lagi untuk Bianca hanya saja ia sedikit khawatir karena kini selain dirinya dan Axel ada orang lain yang mengetahui rumitnya rumah tangganya.


Liburan mereka menjadi berantakan dan berakhir dengan tidak menyenangkan dan terlebih lagi dua hari yang lalu Axel menemuinya dengan amarah yang meluap-luap karena dirinya sudah membeberkan masalah rumah tangganya ke Brandon. Hubungan Axel dan Brandon pun menjadi sedikit rumit karena Axel tidak menyukai sahabatnya itu ikut campur masalahnya lalu dengan mudahnya menuduh kekasihnya yang tidak-tidak.


“Tidak akan ada perceraian hingga perjanjian itu berakhir, tidak akan pernah!” Kata-kata itu yang terakhir kali ia dengar dari suaminya itu saat bertengkar dua hari yang lalu.


Bianca bekerja di butik milik ibunya seperti biasa dan kini sedang dalam perjalanan pulang ke rumah suaminya, ia kembali mengingat perkataan Brandon yang tadi siang sempat menemuinya. Brandon membawakan bukti perselingkuhan Sheryl yang tidak terlalu jelas karena mendapatkan itu dari rekaman CCTV basement apartemen tempat wanita itu tinggal.


Sampai sekarang bukti CCTV itu ada bersamanya tapi dengan itu apa yang bisa dia lakukan? Brandon mengatakan akan membantunya untuk menyadarkan Axel tentang betapa busuknya wanita itu dan menyuruhnya untuk bertahan sedikit saja lagi tapi Bianca tidak berharap banyak dari itu mengingat Axel sangat mencintai kekasihnya itu. Dan meskipun itu terbukti benar perceraian mereka pun akan tetap terjadi karena tiga bulan ke depan pernikahan ini akan berakhir sesuai perjanjian yang pernah mereka sepakati.


“Bi Asih, apa tuan ada di rumah?” tanya Bianca berjalan menuju kulkas mengambil sebotol air mineral dingin.


Bi Asih memasang wajah gelisah, Bianca mengerutkan keningnya menanti jawab darinya “I-itu nyonya, sejak dua hari yang lalu tuan tidak ada di rumah” jelasnya.


Bianca tertegun, bagaimana bisa dia tidak menyadari itu. Ia pikir selama dua harian ini Axel sengaja menghindarinya dengan pergi ke kantor lebih dulu dan pulang larut dan juga setelah pertengkaran itu Bianca tidak lagi menunggu Axel pulang dari kantornya.


Bianca lengah ia tersenyum lembut ke arah Bi Asih “Ya sudah, aku ke kamar dulu ya bi” pamitnya.


Bianca melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya, ia merebahkan tubuhnya di kasurnya. Ia menghela nafasnya kasar, apa yang sudah ia lakukan selama dua harian ini sampai-sampai tidak menyadari jika suaminya tidak ada di rumah. Bianca merutuki dirinya hingga akhirnya suara notifikasi pesan dari ponselnya berbunyi, ia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya di sana terlihat nama suaminya dengan cepat ia bangkit dari rebahnya dan duduk.


Dengan cepat Bianca menggerakkan jemarinya untuk membuka pesan itu dan saat pesan itu terbuka matanya membulat sempurna saat melihat foto suaminya bersama Sheryl berada di tempat tidur yang sama dengan keadaan Axel yang bertelanjang dada dan Sheryl yang menutupi tubuhnya dengan selimut mengambil foto itu.

__ADS_1


[Axel Es Batu] 'Hai Bianca, apa kau cemas karena mencari suamimu? Bagaimana ini dia sama sekali tidak mengkhawatirkanmu. Apa foto ini sudah cukup atau perlu kukirimkan foto yang lainnya'


Satu pesan baru kembali masuk 'Ah jangan salah paham, aku dan Axel selalu seperti ini dan kami juga sudah sering melakukannya'


Bianca menitikkan air matanya tangannya bergetar, hatinya remuk sekali. Sekarang sudah cukup Axel sudah melampaui batas, ia tidak bisa untuk menahan yang satu ini. Ia akan mengurus surat perceraian itu, selama ini ia terlalu terbuai dengan sikap manis Axel sampai melupakan lukanya.


Pria itu benar-benar menahannya hanya karena takut reputasinya buruk bukan karena peduli terhadapnya, ia bodoh sangat bodoh sampai akhir masih mengharapkan pria itu memiliki rasa kepadanya. Bianca melempar ponselnya ke sembarang arah dan menghapus kasar air matanya.


“Tidak apa Bianca, kini kau akan bebas” gumamnya.


...****************...


Bianca bangun dari tidurnya hari ini ia kesiangan dengan cepat ia membersihkan tubuhnya dan setelahnya ia keluar dari kamarnya hendak menuju ruang makan. Sesampainya di sana ia dibuat kaget dengan kehadiran Brandon yang tengah menyantap makanannya.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Bianca


Brandon memalingkan wajahnya menatap ke arah Bianca “Hey, aku menunggumu dari tadi” ucapnya.


Brandon mengantar Bianca ke butik selama perjalanan Brandon memberikan sebuah map berisi bukti tentang kelicikan Sheryl dan Bianca tidak mengerti apa maksud dari bukti yang Brandon punya itu.


“Wanita itu hanya memanfaatkan Axel, sejak awal ia hanya mengincar harta suamimu saja. Seperti yang kau tau ayah mertuamu pengusaha sukses sejak awal perusahaannya sudah berkembang dengan pesat” jelas Brandon.


“Sejak awal? Maksudmu sejak pertama kali berkencan pun Sheryl merencanakan itu?” tanya Bianca dan diangguki oleh Brandon.


Itu terdengar tidak masuk akal bagi Bianca itu terdengar sedikit seperti dibuat-buat. Sheryl seorang model terkenal bahkan ia beberapa kali menjadi model perusahaan fashion terkenal sangat tidak mungkin jika Sheryl melakukan itu karena mengincar harta Axel bukankah model sepertinya mendapat penghasilan yang sangat besar?


Bianca mengerutkan keningnya ia sama sekali tidak mempercayai itu “Tenanglah aku akan membantumu, aku juga tidak ingin Axel jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya”

__ADS_1


Bianca tersenyum canggung, tentu saja ia berterima kasih untuk hal itu dan ia juga berharap Brandon berhasil menolong Axel. Tapi keputusannya untuk pergi meninggalkan Axel sudah bulat karena bagaimana pun mereka nantinya juga akan tetap bercerai hanya saja saat ini ia sudah tidak sanggup menahannya lagi.


Mereka pun sampai di butik, Bianca turun dari mobilnya “Terima kasih untuk semuanya” ucapnya ambigu sembari melambaikan tangannya


Ia berdiri di depan butiknya menunggu mobil Brandon menghilang dari pandangannya, ia menghela nafasnya kasar lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam butik. Ia menyelesaikan sketsa rancangannya beberapa lembar banyaknya, ia bekerja tanpa ibunya hanya ada dirinya dan pegawai butik kebetulan ibunya pergi menemani ayahnya ke luar negeri untuk mengurus bisnis.


Di siang hari Bianca merasa suntuk namun saat ia melakukan perenggangan pada tubuhnya sebuah ide berhasil menarik perhatiannya. Dengan tergesa-gesa ia membereskan meja kerjanya lalu keluar dari ruangannya menghampiri pegawai butiknya.


“Ah aku memiliki janji penting, jadi butiknya tutup sekarang saja. Tidak perlu masuk kerja hingga ibu kembali” ucap Bianca pada pegawai-pegawai butik itu.


Bianca menyetopkan taksi menuju ke suatu tempat sebelum akhirnya kembali menuju ke rumah suaminya itu. Dengan terburu-buru ia berlari masuk ke rumah menuju kamarnya, ia mengambil koper besarnya dan memasukkan pakaian dan peralatannya ke dalam sana. Ia membawa dua koper, koper besar dan koper kecil.


Bianca mengeluarkan sebuah map dan meletakkannya di meja kerja Axel setelahnya ia turun ke bawah menemui Bi Asih. Ia hanya perlu berbohong kepada Bi Asih karena kali ini tidak ada pengawal yang mengawasinya membuatnya bisa bergerak dengan bebas.


“Bi, aku akan dinas ke luar negeri beberapa hari. Kalau tuan pulang dan menanyakan keberadaanku katakan saja aku dinas ke Jepang. Hanya butuh dua sampai tiga hari” ucapnya berbohong.


Bi Asih berdiri gelisah “Tidak apa bi, aku juga sudah mengatakannya pada suamiku hanya saja ponselnya tidak aktif” Bi Asih hanya mengangguk mengerti lagian tidak mungkin nyonya akan melakukan hal yang tidak di sukai tuan pikirnya.


[Mommy] 'Ma, maaf butik aku tutup sementara, suamiku mengajakku honeymoon ke Jepang'


Bianca sebelumnya sudah menghubungi taksi untuk menjemputnya, ia menarik kopernya itu menuju depan rumah. Sopir taksi yang akan mengantarnya pergi dari rumah ini memasukkan kopernya ke dalam bagasi. Bianca masuk ke dalam mobil dan menatap rumah besar itu untuk terakhir kalinya dari balik kaca jendela mobil.


Bianca menghela nafasnya lalu tersenyum “Kini aku benar-benar bebas” gumamnya dalam hati.


“Tuan, tolong antar saya ke Pioner, ini alamat lengkapnya” ucapnya.


Bianca memberikan selembar kertas yang berisi alamat lengkap yang akan dia tuju. Ia tidak pergi jauh sampai harus meninggalkan Singapura ia hanya pergi ke kota kecil di Singapura, ia pergi mengunjungi rumah neneknya yang sudah lama tidak ia kunjungi sejak kematian neneknya itu. Bianca memilih kampung neneknya karena ia rasa tidak akan ada satu pun dari mereka yang akan mengetahui keberadaannya karena ia bersembunyi di kota yang tidak banyak penghuninya ini.

__ADS_1


[Brandon] 'Hem aku tidak tahu harus mengatakan apa tapi terima kasih untuk semuanya. Dan aku harap kau bisa mendapatkan bukti yang kuat dan menolongnya, aku akan sangat berterima kasih untuk itu. Maaf karena mengatakannya melalui pesan teks'


Pesan terakhir yang Bianca kirimkan menggunakan ponselnya sebelum akhirnya ia membuang ponselnya itu ke jalanan.


__ADS_2