Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.31 Keras Kepala


__ADS_3

Bianca bergerak dalam tidurnya perlahan ia membuka matanya lalu menguap sebelum akhirnya tersenyum, pagi ini entah kenapa membuatnya sedikit bersemangat mungkin karena perkataan suaminya tadi malam.


Ia bergerak cepat menuju ke kamar mandi lalu membersihkan tubuhnya dan ketika keluar dari sana ia terlihat segar, ia segera memakai pakaiannya lalu duduk di meja rias dan menatap pantulan dirinya yang sedang tersenyum itu lalu menggulung rambut panjangnya itu.


Bianca menghela nafasnya, ia terlihat bersemangat “Ayo kita buat sarapan!” ucapnya.


Bianca membuka pintu kamarnya kemudian berjalan menuju dapur dan seperti biasa Bi Asih sudah terlihat di sana.


“Selamat pagi, bi Asih” sapa Bianca tersenyum


“Ah nyonya, selamat pagi nyonya” sapa bi Asih balik menyapanya.


“Anda ingin sesuatu nyonya?” tanya bi Asih


Bianca menggelengkan kepalanya sembari membuka kulkas “Tidak bi, aku ingin memasak”


“Nyonya tidak perlu melakukan itu, katakan saja pada bibi. Biar bibi yang menyiapkannya” ucap bi Asih.


Bianca tersenyum ke arah bi Asih sambil mengeluarkan beberapa bahan masakan “Tidak apa bi, kali ini spesial untuk suamiku” ucap Bianca sedikit berbisik.


Bi Asih yang mendengar itu ikut tersenyum karena dia juga tahu kejadian beberapa hari yang lalu saat Axel membawa kekasihnya pulang ke rumah.


“Kalau begitu apa perlu bibi bantu?”


Bianca menggelengkan kepalanya “Tidak bi, aku bisa sendiri”


“Ya sudah, kalau begitu bibi pamit ke belakang ya nyonya” ucap bi Asih pamit.


Ketika semua sudah selesai Bianca meletakkan masakannya ke atas meja makan lalu mengambil kotak bekal dan meletakkan masakannya ke dalam sana. Di waktu yang bersamaan Bianca melihat suaminya yang berjalan ke arahnya dengan rambut yang acak-acakan dan Bianca bisa mengetahui jika suaminya itu belum mandi karena masih menggunakan piamanya.


Axel duduk di meja makan sembari menyisir rambutnya dengan tangannya. Ia melihat Bianca yang tengah sibuk memasukkan masakan ke dalam kotak bekalnya lalu tangannya bergerak mengambil sepotong roti bakar yang sudah di beri selai dan sudah di potong-potong sebelumnya oleh Bianca dan itu ada di salah satu piring yang ada di hadapan istrinya itu.


Bianca menggeleng-gelengkan kepalanya “Ck!”


“Jika sudah selesai buatkan aku kopi” pinta Axel


Bianca hanya menganggukkan kepalanya saja kemudian pria itu bangkit dari duduknya kembali menuju kamarnya, ia berjalan ke atas untuk membersihkan tubuhnya. Bianca dengan telaten menyusun kotak bekal Axel agar terlihat rapi lalu setelah membuatkan kopi untuk suaminya, Bianca memegang gelasnya dan sedikit melamun.


“Kenapa dia selalu bersikap aneh? Kadang dia menyakitiku dan kadang membuatku menaruh harapan padanya lalu menyakitiku lagi saat aku berharap padanya” ucap Bianca dalam hati.

__ADS_1


Bianca mengaduk kopi panas itu, ia masih tidak menyadari jika kini pria yang sedang ia lamunkan itu berada di belakangnya. Ia menghela nafasnya kasar lalu berbalik dan terkejut di saat bersamaan. Setelah mengejutkan Bianca seperti itu Axel kembali berjalan menuju ke maja makan dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di jelaskan terlihat seperti tersenyum tapi tidak sedang tersenyum.


Bianca berjalan ke arah meja makan menyusul Axel dan meletakkan kopinya di hadapan pria itu. Setelahnya ia berniat ingin pergi dari sana menuju halaman belakang, ia tidak menyukai situasi canggung yang selalu menyelimuti keduanya karena itu ia berencana pergi namun di tahan oleh pria itu.


“Kau mau ke mana?” tanya Axel


“Taman belakang”


“Sudah sarapan?”


Bianca menggelengkan kepalanya “Duduk, sarapanlah terlebih dahulu” perintah Axel.


Bianca mengikuti perkataan Axel dan duduk di hadapan pria itu, ia menuangkan segelas susu untuknya dan menikmati roti tawar yang di beri selai coklat, ia menikmati makanannya dan sesekali melirik ke arah Axel.


Setelah selesai Bianca membereskan semuanya lalu berjalan menuju dapur setelah meletakkan piring kotor di wastafel ia kembali melangkahkan kakinya hendak menuju taman belakang dan Axel yang melihat itu hanya mengernyitkan keningnya bingung.


“Kau tidak bersiap-siap?” tanya Axel


Bianca berbalik badan menatap Axel yang masih duduk di salah satu kursi meja makan “Bersiap untuk apa?” tanya Bianca yang sama bingungnya dengan Axel.


“Tidak pergi ke kampus?”


“Kenapa?”


Bianca mengernyitkan keningnya “Hah? Pertanyaan macam apa itu?” ucap Bianca dalam hatinya lalu memutar malas bola matanya.


“Minggu depan aku sidang, aku perlu menyiapkan segala keperluanku nanti” jelas Bianca


Mendengar penjelasan darinya Axel hanya menganggukkan kepalanya saja. Seperti yang sudah di bayangkan tidak ada yang bisa di harapkan dari pria seperti Axel, bukan hanya dingin tapi juga tidak peka. Apa sesulit itu untuk mengatakan selamat dan memberi reaksi yang sedikit lebih baik? Hah entahlah, mungkin dari awal dia memang pria yang seperti itu.


“Itu, jangan lupakan bekalmu” ucap Bianca menunjuk kotak bekal Axel yang sudah di kemas rapi lalu beranjak pergi dari sana.


Bianca menghela nafasnya kasar sembari mengusap tengkuknya, ia berjalan menuju taman belakang dan melihat-lihat sebentar. Pandangan matanya tertuju pada bunga-bunga yang ia beli semalam dengan cepat ia memakai sarung tangannya dan mengambil peralatan berkebunnya.


Seorang pelayan datang menghampiri Bianca dengan membawa teh hijau dan sepiring biskuit “Karena nyonya taman ini terlihat semakin indah”


“Dulu taman ini tidak seperti ini kondisinya sama seperti saat pertama kali nyonya pindah ke sini, Anda membuatnya menjadi indah kembali” ucapnya memuji Bianca dan Bianca hanya tersenyum berjalan mendekati pelayan itu.


“Benarkah?” tanya Bianca

__ADS_1


“Iya nyonya, sejak kejadian itu tuan tidak pernah melihat apalagi mengurus taman ini” ucap pelayan itu TMI.


“Kejadian itu?” Bianca mengernyitkan keningnya “Apa yang sudah terjadi sebelumnya?” tanyanya penasaran.


Ketika pelayan itu hendak bicara tiba-tiba suara Axel mengejutkan kedua orang itu dengan cepat pelayan itu pamit undur diri dari sana.


“Suruh saja pelayan yang mengerjakan semua itu” ucap Axel


Bianca menggelengkan kepalanya “Tidak, aku akan melakukannya”


“Dasar keras kepala” cibir Axel namun Bianca mengabaikannya dan tetap melanjutkan pekerjaannya.


“Apa tidak ada pekerjaan lain?” tanya Axel entah kenapa itu sedikit mengganggunya.


“Tidak ada” jawab Bianca cepat.


“Kau mengotori tanganmu” ucap Axel namun lagi-lagi di abaikan oleh Bianca.


“Hah, kau tuli atau bagaimana? Kau akan terluka jika duri itu menancap di kulitmu. Berhentilah melakukan itu minta saja pelayan yang mengerjakannya” ucap Axel sedikit berteriak.


Bianca berhenti mencabuti daun layu lalu menatap heran Axel “Ada apa denganmu? Kenapa kau selalu mengomentari dan mengaturku?”


“Karena aku suamimu”


Bianca terperangah mendengar jawab Axel “Alasan konyol apa lagi itu?”


“Alasan konyol? Aku suamimu jadi aku berhak mengaturmu, karena kau istriku. Lakukan saja yang kuperintahkan jangan terus membantah setiap perkataanku” ucap Axel.


Bianca memutar bola matanya malas, perkataan terdengar seperti deja vu baginya “Istrimu? Sejak kapan kau menganggapku sebagai istrimu?”


“Lalu itu salah?” tanya Axel


Entah apa yang merasukinya Bianca mengeluarkan semua keluh kesahnya pagi ini “Apa kau menganggapku sebagai istrimu saat kau dengan teganya membawa kekasihmu pulang mengenalkannya padaku dan kau juga bersikap kasar padaku. Dan sekarang apa yang terjadi padamu kenapa kau bersikap manis seperti ini? Kau bahkan mencurigai kedekatanku dengan temanku. Jangan samakan aku dengan kau, karena aku tau dan aku mengerti statusku”


“Berhenti bersikap baik dan manis jika setelah ini kau akan menyakitiku lagi. Dan jangan bersikap seolah kau melindungiku menyayangiku di luar sana, aku muak dengan sandiwaramu itu” ucap Bianca.


Rahang Axel mengeras “Pembicaraanku tidak mengarah ke sana” ucapnya geram.


Bianca pun tidak tahu kenapa pembicaraannya bisa melenceng jauh seperti ini, seharusnya ia tidak boleh bertingkah seperti ini seharusnya ia nikmati saja kebaikan Axel selagi pria itu memperhatikannya. Tapi entah kenapa hatinya mendesak untuk mengungkapkan semua kesakitan yang selama ini ia pendam, kata-kata itu keluar begitu saja tanpa ia sadari.

__ADS_1


Dan sekarang ia menyesali perbuatannya itu.


__ADS_2