Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.64 Pria Bodoh Yang Menyusahkan


__ADS_3

Brandon menunggu Axel di ruang VIP rumah sakit, ia menatap ke arah sahabatnya yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu. Ia berkacak pinggang lalu menghela nafasnya kasar melihat Axel yang belum juga sadar.


Brandon mengacak rambutnya Axel membuatnya sangat khawatir sampai melupakan statusnya sebagai dokter hingga membawa pria itu ke rumah sakit padahal dirinya sendiri bisa merawat pria itu. Menunggu seperti ini membuatnya sedikit bosan karena ini pertama kalinya ia menunggui pasien sembuh biasanya dia yang mengobati.


Ia duduk di sofa kembali menghela nafasnya pandangannya tak teralihkan oleh Axel “Hah, apa yang kulakukan? Dia membuatku jadi seperti orang bodoh begini” keluhnya.


Brandon sebenarnya bisa saja membawa Axel kembali ke rumahnya terlebih lagi rumahnya lebih dekat daripada rumah sakit ini secara kan dirinya juga dokter jadi tidak ada masalah untuknya merawat Axel di rumah tapi karena terlalu panik melihat keadaan sahabatnya itu membuatnya tak bisa berpikir jernih dan membawa sahabatnya itu ke rumah sakit ini dan untung saja ia mengemudikan mobilnya dengan gesit jika terlambat sedikit saja Axel bisa menderita hipotermia.


Brandon menghubungi sahabat mereka yang lainnya memberitahukan keadaan Axel dan setelahnya karena Axel tak kunjung sadar juga ia memutuskan untuk keluar sebentar membeli makanan karena perutnya sudah demo ingin makan terlebih cuaca dingin seperti ini membuatnya kesulitan untuk menahan rasa laparnya lebih lama lagi. Namun beberapa saat setelah kepergian Brandon, Axel justru membuka matanya perlahan, ia memegang kepalanya yang pening dan berdiam beberapa saat untuk memulihkan tenaganya sembari mengingat apa yang sudah terjadi kepadanya.


“Bianca...” lirihnya, Axel mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan saat ia menyadari sesuatu seketika menjadi panik “Tidak, aku tidak seharusnya di sini. Aku berjanji untuk menunggunya” gumamnya.


Axel bangkit dari tidurnya seketika matanya memanas, dadanya sesak, hatinya perih mengingat istrinya yang bersikeras tidak ingin menerimanya kembali. Axel yang merasa dengan adanya dia di sini sekarang sama saja dengan membuatnya terlihat seperti pria yang tidak bisa dipercaya karena mengingkari janjinya kepada Bianca. Melihat ruangannya kosong tidak ada siapa pun Axel memutuskan untuk pergi ke rumah Brandon mengambil mobilnya setelahnya barulah ia bergegas menuju rumah Bianca.


Ketika Brandon kembali dengan Mark yang baru saja tiba mereka di buat kaget saat membuka pintu ruangan Axel yang kosong tidak berpenghuni karena panik dengan cepat mereka berpencar mencari keberadaan Axel di kawasan rumah sakit itu.


“Apa kau menemukannya?” tanya Brandon kepada Mark ketika mereka bertemu lagi di dalam ruangan Axel.


Mark hanya menggelengkan kepalanya sembari mengatur nafasnya dan tak lama kemudian ponsel Brandon berdering, ia mendapat telepon dari ibunya.


“Nak, kau di mana? Axel kembali tapi pergi lagi membawa mobilnya, mama dan papa sudah berusaha mencegahnya tapi dia tidak bisa dihentikan” jelas ibunya panik.

__ADS_1


Dengan panik Brandon menghubungi Axel namun tidak di angkat oleh pria itu hingga membuatnya memaki karena geram. Brandon juga memberitahukan kepada pihak rumah sakit jika salah satu pasien mereka menghilang, ia tahu pasti ke mana pria gila itu pergi di saat kondisinya lemah seperti itu dan ia pun mengajak Mark untuk menyusul sahabatnya itu.


Di sisi lain Axel kini sudah berada di dalam mobilnya, ia mengendarainya dengan kecepatan penuh. Ia mengabaikan ponselnya yang terus berdering karena Brandon menghubunginya.


“Aku akan menepati janjiku, aku akan menunggumu” gumamnya.


Jalanan di depan basah karena hujan Axel pun berniat untuk mengurangi kecepatannya namun alih-alih menginjak rem kakinya malah spontan menginjak pedal gas hingga membuat mobilnya melaju begitu cepat. Axel terlambat ia tidak bisa menghentikan mobilnya yang tiba-tiba tergelincir akibat jalanan yang licin Axel yang panik memutar kemudinya dan menginjak remnya.


Semuanya terjadi begitu cepat hingga mobil yang ia kendarai tak sengaja menabrak pembatas jalan dengan dalam sekejap mata. Axel meringis merasakan kepalanya yang sakit, dari wajahnya ada darah yang mengalir dan ia juga tidak bisa menahan rasa sakit di bagian kakinya.


Jika keadaannya saja sudah seburuk itu jangan tanyakan lagi bagaimana keadaan mobilnya, bagian depannya hancur padahal ia merasa jika ia sudah menginjak rem tapi kenapa masih terjadi benturan ini dan untungnya saja ia masih tersadar.


Ia tidak boleh berlama-lama lagi di sini karena ia baik-baik saja ia harus segara menemui Bianca pikirnya, ia tidak ingin di anggap sebagai pria yang tidak bisa menepati janjinya. Ia melihat ke arah ponsel yang berada tak jauh dari kakinya ada panggilan masuk, ia tidak bisa menjangkaunya bahkan untuk keluar dari sana saja rasanya sangat sulit entah kenapa tubuhnya terasa tiba-tiba tidak bisa di gerakan.


Ia menggelengkan kepalanya. Tidak, ini tidak boleh menjadi akhir untuknya. Ia harus membuat istrinya bahagia dulu sebelum mati dan ia juga harus mendapat maaf dulu darinya “Bianca aku mencintaimu sungguh...” ia kehilangan kesadarannya saat itu juga.


Brandon dan Mark sedang dalam perjalanan menuju rumah Bianca untuk menyusul sahabatnya yang gila itu namun di tengah perjalanan akhirnya pria bernama Axel itu menghubungi saat ingin memaki suara yang ia dengar bukanlah Axel melainkan petugas ambulans.


Sungguh perasaan Brandon menjadi tak karuan hal yang sangat ia takuti akhirnya terjadi, ia mengendarai mobilnya dengan kekuatan penuh hingga membuat Mark yang berada di sebelahnya bergidik ngeri sembari menggenggam erat safe beltnya.


“Hey, tenanglah kalau begini kau bisa menyebabkan kecelakaan juga” peringati Mark

__ADS_1


Brandon tak mendengarkan ucapan Mark, bagaimana mungkin ia bisa bersikap tenang saat ini. Ia tidak mungkin bisa tenang mengingat bagaimana sahabatnya saat itu terpukul, stres berat hingga di bawa ke psikologi dan di ragukan kejiwaannya. Tak hanya itu saja ia bahkan mengingat bagaimana sulitnya Axel untuk kembali pulih sejauh ini dan ketika kejadian itu mungkin saja kembali terjadi mana mungkin ia bisa melihatkannya saja dengan tenang.


“Kau akan menyebabkan kecelakaan, jangan mengebut seperti ini!” teriak Mark ketakutan “Aku tau kau mengkhawatirkannya, aku juga tapi tidak seperti ini yang ada kau malah menyebabkan kecelakaan” ucapnya lagi.


Brandon menghela nafasnya kasar dan memilih untuk mendengarkan ucapan Mark kali ini karena tidak ada satu pun yang salah dari ucapan pria itu. Setelah sampai di rumah sakit yang di tempati Axel dengan cepat ia menanyakan keberadaan Axel dan kini sedang menunggu di depan ruangan dengan gelisah karena sahabatnya itu masih di tangani dokter.


Ketika pria berjas putih keluar dari ruangan itu Brandon dan Mark langsung menghampirinya “Bagaimana keadaannya dok?” tanya Brandon.


Dokter tersebut melihat ke arah Brandon dan Mark bergantian “Anda keluarga pasien? Mari ikut ke ruangan saya” ujar dokter itu dan mereka pun mengikutinya.


“Kaki sebelah kiri pasien mengalami patah tulang sehingga harus di gips” ucap dokter tersebut melihatkan hasil x-ray Axel “Tapi karena tidak terlalu buruk jadi tidak memerlukan penanganan serius, untuk pemulihan mungkin akan membutuhkan waktu dan pasien juga harus melatih kakinya agar tidak terlalu kaku”


Brandon dan Mark menganggukkan kepalanya mengerti “Dan untuk benturan di kepalanya juga tidak terlalu serius jadi pasien akan baik-baik saja” jelas dokter itu lagi.


Brandon menghela nafas lega “Syukurlah...”


Setelah itu mereka berdua pergi ke ruangan Axel dan membuka pintu secara perlahan, Brandon melangkahkan kakinya cepat melihat Axel yang berada di ranjang rumah sakit itu “Menyedihkan...”


Brandon menggelengkan kepalanya dan duduk di kursi sebelah Axel “Lihatlah keadaanmu sekarang ini. Kau menyedihkan, kau pria bodoh yang hanya tau cara menyusahkan orang lain" ucapnya.


Brandon menatap iba ke arah sahabatnya, di bagian kepala pria gila itu di perban, pipi sebelah kanannya juga di perban, ia juga melirik ke arah kakinya yang telah di pasangkan gips oleh dokter.

__ADS_1


Pria gila di depannya ini sudah benar-benar berubah, yang ia lakukan kepada Bianca akhir-akhir ini tulus. Melihat pria gila ini terus mengorbankan dirinya hingga menyakiti dirinya sendiri seperti ini, ia menjadi yakin jika sahabatnya itu sungguh-sungguh tentang perasaannya kepada Bianca.


Brandon kembali menghubungi sahabat-sahabatnya yang lain memberitahukan tentang keadaan Axel, ia juga menghubungi orang tua Axel dan meminta mereka untuk datang mengunjunginya. Tentang Bianca? Ia juga harus melakukan sesuatu bukan, tapi ini sudah terlalu larut untuk mengganggu wanita itu dan ia pun memutuskan untuk mengabari Bianca tentang Axel besok.


__ADS_2