
Seperti biasa Bianca kembali seorang diri lagi berada di rumah neneknya ini setelah dua hari menginap di sana kedua orang tuanya terpaksa meninggalkannya lagi karena harus berangkat ke luar negeri lagi untuk urusan bisnis.
Kebosanan melandanya Bianca pun memutuskan untuk pergi jalan-jalan sebentar di luar dan akhirnya pun ia memutuskan untuk pergi ke kafe sebelum kembali ke rumah neneknya itu.
Bianca menghela nafasnya kasar ketika berada di kafe tersebut “Ternyata keadaanku sama saja, tidak berubah” gumamnya
Bianca menyesap coklat panasnya kemudian menatap cincin pernikahan di jari manisnya, ia merindukan Axel dan masa-masa saat awal pernikahannya. Tapi ketika ia mengingat kenangan indahnya bersama Axel, kenangan buruk itu justru nimbrung masuk ke dalam ingatannya dan berapa kali pun itu tetap terasa sangat sakit bahkan hanya sekedar mengingatnya saja.
Seketika lamunannya buyar ketika ada seseorang menepuk kuat pundaknya saat ia menoleh ke belakang ia melihat seorang pria tengah tersenyum ramah ke arahnya dan menggunakan pakaian tebal. Bianca mengernyitkan keningnya, siapa pria ini kenapa tersenyum seperti itu kepadanya. Apa pria cabul?
“Siapa ya?” tanya Bianca waswas
Pria itu tertawa saat menyadari raut wajah Bianca “Kau sudah melupakanku? Ya, itu mungkin saja terjadi” ucapnya.
Kening Bianca semakin mengerut “Kau mengenalku?” tanyanya canggung.
“Tentu saja, Bianca” ucapnya sembari melangkahkan kakinya untuk duduk di hadapan Bianca “Aku Alvaro” ucapnya kembali tersenyum.
Bianca masih menatapnya ragu nama itu terdengar tidak asing di telinganya, saat otaknya mulai bekerja memikirkan nama itu matanya seketika membulat dan menunjuk ke arah pria itu.
Bianca kaget tak percaya, ia menutup mulutnya yang ternganga itu “K-kau...” ucapnya.
“Hai, Bianca Shaenette. Sudah lama bukan?” sapa pria itu dengan senyuman manisnya dan tangannya yang melambai ke arah Bianca yang berada di depannya ini.
Seketika senyuman mengembang di bibir Bianca, ia memajukan tubuhnya ke dekat meja lalu memukul cukup kuat lengan pria itu. Kenapa baru ketemu sekarang pikirnya padahal selama di sini ia merasa sangat bosan karena tidak punya teman dan tempat untuk di tuju selain rumah neneknya.
“Wah, kau kasar sekali” ringisnya sembari mengelus lengan yang di pukul Bianca.
Bianca hanya tertawa kecil, ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu teman mainnya sewaktu kecil mereka benar-benar bertemu setelah sekian lama. Alvaro adalah pria yang baik, pria ini sudah seperti seorang kakak baginya. Ia selalu menemani Bianca ke mana pun dan kapan pun karena Bianca adalah cucu satu-satunya di rumah neneknya itu jadi ia pun berteman dengan Alvaro.
Alvaro dulunya tetangga neneknya sebelum akhirnya keluarga Alvaro memutuskan untuk pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis kedua orang tuanya mau tidak mau Alvaro terpaksa ikut orang tuanya. Jika mengenang masa lalu maka kenangan saat sesudah Alvaro pergi masih jelas di ingatannya dan saat itu ia benar-benar sendiri tanpa pria itu.
Bianca menatap pria itu sinis “Kenapa kau tidak pernah mengabariku sejak pergi meninggalkanku saat itu? Apa kau sudah melupakan temanmu ini?” tanyanya.
Pria itu tak dapat menahan tawanya, Bianca terlihat sangat lucu dimatanya “Maaf, aku terlalu sibuk dengan studiku maafkan aku” ucapnya dengan senyuman lembut khasnya.
“Aku hanya bercanda” ucap Bianca tersenyum “Kau terlihat sangat berbeda, aku sampai tidak mengenalimu” ledek Bianca heboh.
__ADS_1
“Terlihat jauh lebih tampan bukan?”
Bianca mencibir “Semuanya berbeda, kecuali itu” ucapnya bercanda
“Padahal semua orang mengatakan aku ini tampan, bahkan di luar tadi saja juga ada yang mengatakannya” jelas Alvaro menggoda Bianca.
Bianca hanya memutar malas bola matanya lalu tangannya terulur mengacak rambut pria itu “Tidak, kau jauh lebih jelek dari yang kukira” ucapnya balik menggoda Alvaro.
Keduanya tertawa, mereka pun meminum minuman merek masing-masing “Omong-omong kau ada urusan apa di sini?” tanya Bianca penasaran.
“Apa ada alasan untuk kembali kemari?” tanya pria itu.
Bianca menatap Alvaro bingung “Jika itu kau bukannya tentu saja harus ada alasan untuk kembali? Apa pun itu, lalu kapan kau tiba di sini?”
“Satu hari yang lalu, aku menyewa apartemen tak jauh dari rumah nenekmu. Kemarin aku melihatmu keluar masuk rumah itu, jadi aku pikir itu mungkin saja benar kau. Tadi saat aku ingin keluar aku tak sengaja melihatmu naik taksi jadi aku mengikutimu” jelasnya panjang lebar.
Bianca terdiam dan menggelengkan kepalanya “Jadi kau mengenaliku karena kau melihatku di rumah nenek? Kau sudah terlihat seperti penguntit” ucap Bianca ngeri.
“Wah, bukankah kau keterlaluan? Bagaimana mungkin pria tampan sepertiku menjadi penguntit?” ucapnya bercanda
“Hey, kau kan mengenalku” ucap Alvaro lalu menghela nafasnya kasar “Mungkin saja akan terlihat seperti itu, maafkan aku” ucapnya.
Tawa Bianca meledak “Hahaha, aku hanya bercanda”
“Kau ada masalah, apa kau kabur dari rumah?” tanya Alvaro penasaran dengan alasan Bianca yang kemari dan diam di rumah kosong itu sendiri.
Bianca tersenyum kikuk “Kabur dari rumah? Kau pikir aku ini seorang remaja?” ucapnya.
Pria itu menganggukkan kepalanya “Kau ingin ke mana setelah ini?” tanyanya.
Bianca berpikir sejenak “Mungkin ke toko bunga, kenapa?”
“Baiklah kalau begitu aku akan menemanimu tapi sebelum itu apa kau mau menemaniku pergi ke store baju dekat sini?” tanya Alvaro dan Bianca pun mengangguk setuju.
“Kalau begitu bagaimana jika pergi sekarang?” tawar Bianca
Bianca dan Alvaro melangkahkan kakinya keluar dari kafe itu dan mereka pun masuk ke dalam mobil pria itu. Alvaro mengemudikan mobilnya menuju store baju, sebenarnya itu hanya sebuah alasan untuknya agar bisa bersama Bianca sedikit lebih lama lagi saja.
__ADS_1
Bianca membantunya memilih baju dan setelah mendapatkan beberapa lembar baju dan dua lembar celana mereka pun memutuskan untuk pergi dari sana lalu menuju ke tempat bunga langganan Bianca.
Seperti biasa sampai di sana Bianca kembali membeli bunga mawar dan lily “Sampai sekarang kau masih menyukai bunga?” tanya Alvaro
Bianca menoleh ke sampingnya dan tertawa kecil, itu benar dari kecil ia sangat suka bunga dan Alvaro pria yang selalu menjadi tukang cabut bunga untuknya “Anda ingin bunga juga tuan?” canda Bianca
...****************...
Axel duduk dengan gelisah di atas kasurnya, ia ingin sekali pergi dari rumah sahabatnya ini dan pergi mencari Bianca tapi Brandon justru menahannya mengatakan untuk menunggu kabar dari toko bunga langganan istrinya itu.
Brandon mendapatkan informasi jika Bianca biasa datang tiga sampai empat kali dalam seminggu jadi ada kemungkinan hari ini ia bakal datang juga. Axel mengerang frustrasi ia benar-benar ingin pergi dari sini sekarang juga karena siapa tahu jika ia mencoba mencari, ia dapat menemukan Bianca lebih cepat daripada menunggu seperti ini.
Brandon yang juga berada di sana bangkit dari duduknya lalu menepuk pundak sahabatnya itu “Aku tau apa yang kau pikirkan, tapi tenanglah semua akan baik-baik saja”
Axel menunduk, ia menyatukan jari-jari tangannya dan menggenggam erat tangannya sendiri. Helaan nafasnya kembali terdengar ketika pikirannya kembali melayang akan kejadian sebelumnya yang membuat hubungannya dan Bianca menjadi serumit ini.
Axel menatap Brandon tajam “Menurutmu apa yang harus kulakukan saat ini? Apa yang bisa kulakukan agar semuanya kembali normal seperti sebelumnya? Aku benar-benar menyesali semua itu” ucapnya sembari mengacak kasar rambutnya.
Brandon hanya menepuk pundak sahabatnya itu, jika melihat sisi Axel yang seperti ini membuatnya menjadi prihatin “Aku merasakannya meski samar tapi aku selalu menyangkalnya bahkan kadang aku memarahinya karena perasaan itu” ucap Axel lagi.
Brandon menghela nafasnya “Itu benar, semua salahmu tapi kau tidak seharusnya menyalahkan dirimu seperti ini terus-terusan karena ini bukan saatnya untuk menentukan siapa yang salah dan benar” ucapnya.
“Meski aku tidak mengalaminya tapi aku mengerti sedikit banyak bagaimana perasaanmu. Aku tau kau merasa bersalah kepadanya dan tentunya kau juga harus memperbaiki keadaan agar kembali seperti semula tapi kau tidak seharusnya menyalahkan dirimu seperti ini”
Dan di saat yang sama ponsel Brandon berbunyi dengan langkah gontai pria itu mendekati meja rias yang ada di kamar tidur yang di tempati oleh Axel itu, saat melihat nomor yang tertera di sana tidak dikenali dengan cepat pria itu mengangkatnya.
“Halo tuan, ini dari toko bunga yang waktu itu”
Dengan cepat Brandon menanggapinya, ia tidak menyangka jika akan mendapat telepon secepat ini “Apa dia ada di sana?” tanyanya.
Axel mendongak ke arah Brandon, ia merasa tertarik dengan pembicaraan itu. Itu pasti orang suruhan Brandon yang memberi informasi tentang istrinya.
“Ya, tapi kali ini nona itu datang dengan seorang pria” ucap wanita itu dari seberang sana.
Brandon mengerutkan keningnya “Seorang pria? Apa kau juga mengenalnya?”
Axel terpaku, apa maksud percakapan Brandon itu? Seorang pria, apakah Bianca bersama dengan pria lain? Apa dia benar-benar ingin berpisah darinya? Apa Bianca sudah melupakannya? Apa yang sebenarnya terjadi selama wanita itu pergi dari sisinya, apa sekarang sudah sangat terlambat untuknya?
__ADS_1