
Waktu berlalu dengan cepat Bianca dan putri kecilnya itu kini sudah kembali ke rumah mereka, ia merasakan kerinduan yang teramat sangat saat berada di depan kediamannya itu. Saat pertama kali melangkahkan kakinya masuk ke dalam bersama putrinya itu, bi Asih dan pelayan lainnya menyambutnya dengan hangat.
Kehangatan dan kenyamanan yang orang sekitarnya tunjukkan dan berikan membuat Bianca secara perlahan mulai melupakan kejadian mengerikan itu, dan tentunya ia bisa menjalani hari dengan baik karena suaminya itu selalu memberikan cinta dan kebahagiaan yang teramat sangat.
Bianca membuka matanya dan menguap, ia merenggangkan ototnya dan melihat ke arah jam. Seketika tubuhnya terbangun dan matanya melotot ketika pandangannya tak sengaja melihat ke arah jam. Ia berlari membuka pintu penghubung untuk menyusui anaknya dan memandikannya, Bianca terkejut karena di box bayi tersebut tidak ada anaknya.
Pikiran buruk memenuhi kepalanya dengan tergesa-gesa Bianca menuruni tangga "Bi, bi asih” panggilnya saat melihat bi Asih berjalan melewati tangga.
“Bi, apa bibi melihat anakku?" tanya Bianca cemas.
Bi Asih menggelengkan kepalanya “Saya baru saja keluar dari belakang nyonya, saya tidak melihatnya” ucap bi Asih ikut cemas.
Bianca berlari dan menanyai pelayan ia menangis dan tangannya gemetaran, karena tadi si kecil sudah tertidur karena tidak ada yang ingin ia lakukan Bianca pun memutuskan untuk tidur siang sebentar tapi ia tidak menyangka jika tidur siang membuatnya kehilangan anaknya.
Bianca terduduk lemas di ruang tamu, ia sudah tidak mampu menopang tubuhnya. Axel pasti akan sangat marah dan kecewa padanya memang bukan saatnya ia seperti ini tapi kakinya benar-benar lemah seakan semua tenaganya telah terkuras habis.
“Sayang ada apa, apa yang terjadi?” tanya Axel cemas melihat istrinya terduduk lemas sembari menangis.
Bianca menolehkan kepalanya di sana ada Axel yang belum berganti baju dan pria itu tengah menggendong anaknya dengan sayang, Bianca memejamkan matanya sebentar kemudian menghela napasnya lega.
“Astaga, aku kira anakku menghilang” ucapnya lemah menangis sembari meremas bajunya erat di depan dadanya.
Bianca menopang tubuhnya dan perlahan bangkit dan menghapus air matanya, ia menatap Axel yang masih bermain dengan si kecil.
“Kalian dari mana saja? Kenapa tidak membangunkanku?” tanya Bianca kembali menghela nafasnya.
Axel tersenyum dan menghapus air mata istrinya itu “Kau tidur sangat lelap aku jadi tidak tega untuk membangunkanmu”
"Aku takut sekali saat bangun tidur dan melihat Ayana tidak ada di kamarnya" ucap Bianca cemas.
Axel mengecup kening Bianca "Maaf sayang, pas aku pulang kau masih tidur jadi aku ke kamar Ayana dan kebetulan dia terbangun jadi aku membawanya bermain” jelas Axel tak enak hati karena sudah membuat istrinya cemas seperti ini.
__ADS_1
Bianca menganggukkan kepalanya mengerti dan melihat Ayana yang tersenyum melihat ayahnya, ia menyunggingkan senyumannya ketika Axel menggoda bayi itu.
“Tumben sekali pulangnya cepat”
Axel masih memainkan jarinya di pipi gembul anaknya itu "Pekerjaanku tidak banyak lagi pula aku lebih suka berdiam di rumah saat ini”
Bianca mengerutkan keningnya “Seorang Axel Kevlar? Kenapa tiba-tiba?” tanyanya tak percaya
"Karena aku terlalu rindu dengan si kecil” ucapnya sembari mengecup bayinya bertubi-tubi
Bianca memegang lengan Axel dan mengusapnya, ia tersenyum melihat anaknya itu. Hingga bayi itu pun menangis dengan keras di sana.
“Astaga maaf sayang jangan menangis lagi, hem?" ucap Axel sembari menimang bayinya itu.
Bianca semakin tersenyum "Sepertinya dia lapar"
Axel melirik ke arah Bianca sebentar "Benarkah? Apa kau lapar, sayang?" tanya Axel pada Ayana.
“Ternyata putri kecilku kelaparan sekali” ucapnya gemas
Bianca melirik ke samping dan tersenyum menatap Axel yang masih melihat putrinya sedang menyusu. Wajahnya ia dekatkan dengan wajah Axel kemudian bergerak mengecup bibir berisi milik suaminya itu, Bianca tersenyum ketika Axel menatapnya terkejut
“Buruan mandi sana, baumu nanti menempel ke Ayana” ledek Bianca pada suaminya.
Axel membuang wajahnya kasar ke samping, kemudian cemberut menatap Bianca "Jangan menggodaku seperti itu” ucapnya.
Bianca tersenyum dan menaikkan alisnya "Hem, apa maksudmu sayang, aku tidak menggodamu"
"Hah, jangan memancingku Bianca Shaenette karena sekarang aku sedang berusaha menahannya" ucap Axel dengan suara paraunya.
“Kau berlebihan sekali”
__ADS_1
Axel cemberut dan mengecup Ayana namun bukan itu saja pria itu mengecup payudara Bianca, Ia tersenyum penuh kemenangan ketika Bianca menatapnya tajam.
Axel mengedikkan bahunya “Kau yang memulainya tadi”
“Apa?”
Axel tersenyum “Apa perlu aku buktikan?”
Belum sempat menjawab Axel sudah bergerak dan mengecup bibir Bianca, ia semakin gencar ketika Bianca melongo menatapnya pria itu mengecup bibir wanita itu lagi.
"Seperti itu, kau tidak lupa karena sudah lama tidak melakukannya kan sayang?" Axel menyeringai dan menggoda Bianca "Apa perlu bantuanku untuk mengingatnya lagi?"
“Dasar mesum!” ucap Bianca kesal
Axel terkekeh dan mengusap kepala Bianca, ia lakukan berulang kali dan membuat Bianca kesal karena terkadang Axel mengacak-acak rambut miliknya.
Ia mendesis dan menatap Axel tapi suaminya itu malah tertawa, saat sudah merasa kenyang anaknya itu tidak meminum asinya lagi. Bianca membenarkan pakaiannya sebelum pria mesum di hadapannya ini melakukan hal-hal yang tidak jelas seperti tadi.
Dan di waktu yang tepat mertua dan orang tuanya datang bersama Bianca tersenyum ke arah mereka, dengan gerakan pelan ibunya menggendong putri Bianca dan Axel, cucu pertama mereka.
“Ya ampun, cucuku cantik sekali” ucap nyonya Veronica gemas menimang cucunya itu.
“Itu cucuku juga” ucap nyonya Kevlar tak mau kalah
Bianca menggelengkan kepalanya dan tersenyum selalu saja begitu ketika melihat Ayana, ia tersenyum ketika bayi itu tertawa akibat ulah neneknya.
“Ma, aku titip Ayana sebentar ya” ucap Axel tiba-tiba
Bianca menolehkan kepalanya bingung sembari memikirkan ke mana lagi suaminya itu akan pergi, Axel yang menyadari tatapan itu juga menatap balik istrinya sembari tersenyum penuh kemenangan.
“Dengan senang hati” ucap ibu dan mertuanya itu bersamaan.
__ADS_1
Kedatangan ibu dan mertuanya itu bukan waktu yang tepat bagi Bianca untuk menghentikan Axel malah kini menjadi waktu yang tepat bagi Axel untuk menghabiskan sedikit waktu berdua dengan istrinya itu.