
Setelah dua hari berada di rumah sakit di Pioner akhirnya hari ini Axel dan Bianca memutuskan untuk kembali ke kediaman mereka bersama kedua orang tua Axel. Sebelumnya Bianca juga sempat kembali ke rumah neneknya untuk mengemas barang-barangnya yang tidak seberapa itu. Mereka pulang agak petang karena sebelum keluar dari rumah sakit Axel harus melakukan beberapa tes lagi dan pengobatan untuk kakinya.
Sepanjang perjalanan mulai keluar dari kawasan rumah sakit Axel tak henti-hentinya menciumi punggung tangan Bianca hingga membuat istrinya itu malu karena ibu mertuanya memperhatikan mereka bahkan saat pandangannya tak sengaja bertemu dengan ibu mertuanya itu Bianca jadi salah tingkah.
Bianca tersenyum dan menatap Axel dengan lembut tapi ia merasa sedikit aneh dengan suasana mobil ini dan kedua mertuanya itu yang seakan menghindari Axel, apa yang sebenarnya sudah terjadi?
Setelah dua jam lebih di perjalanan akhirnya mereka pun tiba di kediaman Axel, Bianca membantu suaminya itu yang sedang berjalan susah payah dengan kruk di sisi tubuhnya. Pelayan menyambutnya dengan hangat dan juga membantu mereka membawa barang miliknya.
Tidak ada yang berbeda, suasana rumah itu terlihat sama. Setelah bersusah payah menaiki tangga akhirnya mereka berada di dalam kamar Axel “Apa kau ingin mandi terlebih dulu?” tawar Bianca
“Tidak, tapi jika kau ingin memandikanku akan kupikirkan dulu” ucap Axel menggoda Bianca.
Bianca menatap horor ke arahnya, ia berusaha semaksimal mungkin menyembunyikan fakta bahwa ia sedang salah tingkah saat ini. Axel sangat suka menggodanya yang terburuk dari semua itu adalah reaksi yang diberikannya sudah tahu suaminya itu hanya sekedar menggodanya tapi wajahnya ini tidak bisa membedakannya sama sekali.
Axel tertawa puas sembari menutup mulutnya karena Bianca tak berhenti memelototinya, Bianca menghela nafasnya “Kalau butuh sesuatu panggil saja aku” ucapnya hendak pergi.
Axel mencegahnya “Tunggu, kau mau ke mana lagi?” tanyanya.
Bianca berbalik dan menatap Axel “Aku lelah, ingin mandi terus tidur” ucapnya.
Axel menghela nafasnya kasar “Kemarilah!” pintanya.
Bianca mendekat dan duduk di sisi ranjang menghadap ke Axel, pria itu sekali lagi menghela nafasnya “Jangan kembali ke kamar itu, tidurlah di sini bersamaku” ucap Axel menangkup wajah istrinya itu
Bianca tersenyum menatap ke arahnya, matanya kembali berkaca-kaca “Maaf, saat itu aku sudah keterlaluan” ucap Axel.
__ADS_1
Bianca dengan cepat menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin membahas itu lagi saat ini “Tidak apa, tidur saja aku akan mandi terlebih dulu” ucapnya.
Axel tersenyum dan mengecup kening Bianca “Apa kau tidak ingin membawaku mandi bersama?” tanya Axel.
Bianca memukul pelan lengan Axel, ia menjadi salah tingkah dan wajahnya kembali memerah karena Axel mengatakan itu tepat di depan wajahnya “Dasar mesum!” gerutunya sembari melangkah menuju kamar mandi.
Axel tertawa keras ternyata menggoda istrinya itu sangat menyenangkan.
Setelah beberapa menit kemudian Bianca pun telah menyelesaikan mandinya, ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di kepalanya dan sudah memakai piyamanya dan berjalan ke arah meja rias mengeringkan rambutnya lalu menyisirnya juga.
Setelah itu ia berbalik dan melihat ke arah Axel yang merentangkan tangannya, pria itu sudah mengganti pakaiannya sendiri dengan baju tidurnya. Bianca menghampirinya dengan tersenyum lalu memeluk tubuh suaminya itu, entah kenapa melakukan skin ship seperti ini tidak lagi membuatnya merasa canggung.
Axel menarik Bianca untuk berbaring di sebelahnya dan ketika istrinya itu sudah berbaring, ia pun merendahkan tubuhnya lalu memeluk erat tubuh istrinya itu. Bahkan ia juga menuntun tangan istrinya untuk mengelus kepalanya, Bianca yang mengerti keinginan suaminya itu pun hanya menurutinya dan melakukannya tanpa banyak bicara, Axel memeluknya semakin erat.
“Axel...” panggil Bianca, entah kenapa sekarang nama itu terasa canggung untuk di sebut tidak seperti sebelumnya.
“Jadi intinya kau memintaku memanggilmu sayang?” tanya Bianca.
“Tentu saja, karena aku menyayangimu aku akan memanggilmu sayang. Karena kau juga menyayangiku jadi kau harus memanggilku seperti itu” pintanya.
Bianca menganggukkan kepalanya mengerti “Baiklah, aku akan mencobanya tapi bersabarlah karena aku tidak terbiasa dengan panggilan itu” ucapnya.
“Hem tidak apa, aku akan menantikannya”
Bianca masih mengusap-usap pelan kepala Axel dan seketika ia kembali teringat dengan kedua mertuanya dengan ragu ia pun menanyakan hal yang membuatnya menjadi sangat penasaran.
__ADS_1
“Mama dan Papa kenapa bersikap seolah menghindarimu? Di rumah sakit juga dan tadi saat di mobil juga, apa hanya perasaanku saja?” tanya Bianca.
Axel menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya itu dan menghela nafasnya kasar sebelum menjawab pertanyaan Bianca “Ini semua karena kesalahanku, rahasia pernikahan kita terbongkar bahkan perjanjian yang saat itu aku tulis sampai ke tangan mereka” ucap Axel.
Bianca terkejut “Hah? B-bagaimana bisa?” tanyanya
“Aku tidak tau, saat itu aku berada di kantor mereka tiba-tiba menemuiku membawa surat perjanjian itu bahkan papa memukuliku saat itu” ucapnya, Bianca sedikit geli dan merinding saat merasakan hembusan nafas Axel di lehernya.
Axel menghela nafasnya “Tapi itu tidak apa, mereka melakukan itu karena kecewa padaku dan sekarang yang paling penting kamu sudah kembali. Ke depannya aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi karena aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaanmu lagi” jelasnya.
Axel bergerak kembali menenggelamkan wajahnya lebih dalam lagi pada leher istrinya itu “Aku mencintaimu, Bianca Shaenette” bisiknya lembut.
Pria itu menjauhkan kepalanya dan menatap Bianca dengan intens, suasana dan perasaan yang saat ini mereka rasakan tanpa sadar membawa bibir mereka saling bertemu dan beradu. Axel menggerakkan bibirnya mencium Bianca dan menggigit kecil bibir bawah istrinya itu dan terbuka, lidahnya bergerilya masuk ke dalam hingga ciuman itu berubah menjadi semakin panas.
Tangan Bianca yang berada di dada Axel mulai meremas piayamanya saat pasokan oksigennya menipis, Axel yang mengerti itu melepas ciumannya dan tersenyum ke arah Bianca. Napas keduanya tersengal-sengal, jari Axel bergerak mengusap dagu Bianca yang sedikit basah akibat ciuman panas mereka tadi.
Meskipun singkat tapi ia sangat menyukainya, mulai hari ini ia akan menjadikan bibir Bianca sebagai candunya. Axel dengan cepat kembali mengecup tipis bibir Bianca “Ayo tidur” ajaknya.
Bianca memperbaiki posisi baringnya “Berikan tanganmu” pinta Axel
Bukan memberikan tangannya Bianca justru mengangkat tangan kirinya ke atas dan memainkan jarinya memperlihatkan cincin pernikahan mereka yang masih melingkar indah di jari manisnya.
Axel yang menyadari itu langsung menggenggam tangan istrinya “K-kau masih memakainya ternyata” ucapnya haru ketika melihat jari manis Bianca.
Bianca mengangguk mantap “Hem, jika saat itu aku mengatakan akan melepasnya saat perjanjian ini berakhir tapi sekarang aku akan mengatakan untuk tidak pernah melepaskan cincin ini” ucapnya.
__ADS_1
Axel mengecup jari manis itu kemudian membawa tangan Bianca itu ke dadanya untuk merasakan detak jantungnya saat ini. Bianca bisa merasakan jantung Axek yang berdegup sangat kencang, ia senang karena sekarang bukan hanya dia yang berdebar saat bersama dan ia senang karena pria itu terus meraih tangannya terlebih dahulu.
“Selamat malam, sayang”