Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.74 Kedatangan Tamu Special


__ADS_3

Urusan mereka di Paris sudah selesai meskipun tidak punya banyak waktu untuk berlibur berdua tapi Bianca sudah merasa cukup dan senang karena suaminya itu tetap memperhatikannya di saat sibuknya. Setelah kejadian yang terakhir kali suaminya itu tak henti-hentinya menggodanya bahkan sekarang pria mesum itu mencoba untuk melakukannya lagi.


“Aku janji akan bermain lembut” ucap Axel sembari mengelus lembut wajah istrinya itu.


Axel mencium Bianca, ia mengecup gemas seluruh wajah istrinya itu. Ketika hendak tangannya hendak menjalar masuk ke dalam pakaian istrinya tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu kamarnya.


“Hah, sial!” umpatnya.


Bianca tertawa pelan dan bernafas lega karena terbebaskan dari serangan tiba-tiba suaminya itu, sejak di Paris terakhir kali asal melihat kesempatan Axel selalu menggodanya dan memintanya untuk melakukan hubungan suami istri.


“Huh sayang sekali” ledek Bianca terburu-buru bangkit dari pangkuan suaminya itu.


Axel menatap Bianca kesal sembari menatap sinis istrinya itu “Awas saja, aku tidak akan melepaskanmu nanti” ucapnya.


Bianca menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum senang karena membuat kesal suaminya itu, ia mengabaikan ucapan suaminya itu dan tetap membuka pintu kamarnya itu. Ketika pintu itu terbuka terlihat pelayan rumahnya yang di depan sana.


“Nyonya, di bawah ada teman-teman tuan yang datang berkunjung” ucapnya.


Bianca menganggukkan kepalanya “Baiklah, kami akan ke bawah”


“Baik nyonya”


Bianca menutup pintu kamarnya setelah pelayannya itu pergi menjauh dari kamarnya lalu berbalik mendekati suaminya yang masih duduk diam di tepi ranjang sembari menatap sinis ke arahnya. Bianca tersenyum gemas melihat Axel yang masih kesal karena kegiatannya terganggu.


“Astaga, sayangku kenapa cemberut gitu?” tanya Bianca merapatkan bibirnya menahan tawanya “Ayo ke bawah, ada tamu spesial di sana” ucapnya menarik lengan Axel.


Axel memutar bola matanya jengah lalu menghela nafasnya kasar, ia tetap diam ia masih sangat kesal “Hah!”


Bianca terkekeh lalu berjalan beriringan dengan suaminya itu “Kau marah, hem?” tanyanya sembari memiringkan kepalanya menatap suaminya.


Axel menatap lurus dan tidak menatapnya sedikit pun “Tidak”


Bianca mengerucutkan bibirnya lalu menghadang jalan Axel dengan berdiri di hadapan suaminya itu “Kau marahkan? Benar, kau marah” Bianca menghela nafasnya “Aku hanya bercanda, maaf” ucapnya lagi.


“Jangan marah oke, hmm?” ucapnya menatap memelas ke arah suaminya itu.


Axel mendengus kasar lalu menatap tajam istrinya itu “Tidak, aku tidak marah hanya kesal saja” ucapnya.


Bibir Bianca melengkung ke bawah dengan tatapan sedih lalu ia merentangkan tangannya meminta suaminya itu agar memeluknya, ia merasa bersalah karena ia pikir ia sudah membuat suaminya kesal kepadanya. Axel menghela nafasnya kasar lalu mendekat dan memeluk erat istrinya itu, ia bahkan menarik pinggang istrinya itu agar lebih dekat dengannya.

__ADS_1


“Aku tidak kesal apalagi marah denganmu, aku kesal dengan pelayan itu karena mengganggu kita” ucapnya menjelaskan kepada istrinya itu.


Bianca mengelus punggung suaminya itu “Aku tau kok” ucapnya sembari terkekeh menutupi fakta bahwa ia sudah salah paham.


Axel menghirup dalam aroma tubuh istrinya itu “Tapi kita akan melanjutkannya nanti, jadi siapkan dirimu sayang” ucapnya berbisik di telinga Bianca lalu mengecup kening istrinya itu.


Setelah mengatakan hal itu Axel berlalu pergi meninggalkan Bianca yang terdiam dengan wajahnya yang memerah itu. Bianca mengerucutkan bibirnya bergidik ngeri sepertinya suaminya itu benar-benar tidak akan melepaskannya malam ini.


“Ck, lihatlah pria itu menggemaskan sekali” cibirnya sembari tersenyum gemas mengingat bagaimana suaminya itu merajuk kemudian ia melangkahkan kakinya menyusul suaminya itu ke bawah.


“Aunty...” teriak seorang anak kecil.


Seketika wajah Bianca berseri dan tersenyum lebar saat melihat seorang gadis kecil meneriaki namanya sembari berlari ke arahnya ketika gadis itu sampai di hadapannya dengan riang Bianca mengangkat tubuh gadis kecil itu ke pelukannya.


“Hay sayang, sudah lama sekali bukan? Apa kau merindukan Aunty?” tanya Bianca mencubit gemas hidung Mikha putri dari pasangan Perrie dan Mark itu.


Gadis itu menganggukkan kepalanya gemas dan menatap ke arah Bianca lalu tertawa geli saat Bianca mulai menyerangnya dengan kecupan. Di sisi lain semua mata tertuju pada Bianca dan Mikha, Axel tersenyum penuh arti pandangannya tidak bisa lepas dari istrinya itu, ah sial! Istrinya itu sangat cocok menjadi ibu melihat itu membuat keinginannya memiliki anak semakin besar.


“Aunty punya sesuatu, mau ikut Aunty?” tanya Bianca kepada Mikha dan gadis kecil itu pun mengangguk setuju, ia pun membawa Mikha menuju ke arah dapur. Sesekali terdengar suara tawa Bianca karena tingkah gemas gadis kecil itu.


“Anakku itu jika sedang bersamaku lincah sekali tapi jika bersama Bianca tenang sekali” ucap Mark sembari menatap ke arah Bianca yang menggendong anaknya menuju arah dapur itu.


Axel tersenyum dan mengedikkan bahunya “Ya begitulah, menyenangkan” ucapnya yang masih tersenyum.


“Whooo! Sepertinya terjadi sesuatu” tebak Brandon yang sangat memahami ekspresi wajah sahabatnya itu.


Axel berdehem, ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang menjadi bersemangat namun ia malu karena di goda oleh sahabat-sahabatnya ini karena itu sebisa mungkin ia menyembunyikan perasaannya.


“Apa mempunyai anak itu sangat menyenangkan?” tanya Brandon tiba-tiba.


Axel menatap ke arah Mark dan Dave secara bergantian setelah mendengar pertanyaan itu tiba-tiba rasa penasarannya semakin besar tentang bagaimana menjadi seorang ayah. Ia menopang dagunya menanti jawaban yang akan diberi oleh kedua sahabatnya itu.


“Tentu saja, kehidupanmu akan terasa berbeda” ucap Dave


Mark menganggukkan kepalanya setuju “Kau akan merasa sebagai pria sejati jika berhasil mengabulkan keinginan anakmu, saat dia masih bayi kau akan merasa gelisah tidak ada di sisinya bahkan sejam saja. Dan sekarang aku merasa berguna jika melihatnya tertawa karenaku” jelasnya.


Sebuah senyuman yang tercetak jelas di wajah Axel mengembang semakin lebar, rasa keinginannya menjadi seorang ayah kini sudah berada di level paling atas. Seketika membuatnya berharap jika saat ini benih yang ia tanam berkembang dengan baik di dalam sana dan segera memberinya kabar yang sangat menyenangkan itu.


“Apa Bianca belum isi?” tanya Sherena yang sedari tadi memperhatikan raut wajah Axel sembari menenangkan anaknya yang merengek dalam pelukannya itu.

__ADS_1


Axel mengedikan bahunya “Entahlah, aku tidak tahu” ucapnya santai.


“Bagaimana bisa kau tidak tau? Kau kan suaminya seharusnya kau yang paling tau tentang itu” celetuk Dave.


Axel mengernyitkan keningnya tak mengerti sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, kenapa ia yang seharusnya paling tahu tentang kehamilan istrinya? Bagaimana itu mungkin? Kan yang hamil istrinya bukan dirinya.


“Apa kau tidak melihat perubahan dari istrimu?” tanya Dave lagi namun Axel masih menatap bingung ke arahnya “Apa dia bersikap aneh atau mual-mual?” tanyanya.


Axel menggelengkan kepalanya “Tidak, dia tidak melakukan kedua itu” ucapnya.


“Berarti kau harus sering melakukannya” celetuk Brandon sembari tertawa.


Seketika raut wajah Axel berubah menjadi kesal, ia kembali mengingat kejadian sebelumnya. Manusia-manusia yang ada di hadapannya sekarang ini penyebab utama kenapa ia tidak bisa memiliki anak dengan cepat karena mereka mengganggunya tadi. Di saat yang sama Bianca kembali dengan toples berisi cookies di pelukannya bersama Mikha yang berjalan di sampingnya, lalu bergabung dengan mereka. Mikha tak beranjak jauh darinya dan duduk di pangkuannya mata semua orang di sana mengarah kepadanya dan Mikha.


“Astaga, menggemaskan sekali!” ucapnya sembari menyuapkan Mikha cookies.


“Kau kan bisa membuatnya” celetuk Brandon


Bianca menatap Brandon dengan keningnya yang mengerut ketika ia menyadari maksud ucapan Brandon itu seketika wajahnya bersemu merah padam.


“Benar bukan kalau Axel sangat ganas jika di ranjang?” tanya Brandon lagi lalu mendapat tatapan tajam dari Axel.


Jangan di tanyakan lagi bagaimana perasaan Bianca saat ini entah kenapa rasanya seperti tertangkap basah warga sedang melakukan hubungan badan. Semua orang yang ada di sana kecuali Bianca dan Mikha tertawa saat melihat wajah Bianca yang sangat merah itu, ia selalu menjadi bahan godaan sahabat-sahabat suaminya itu bahkan Axel juga ikut menertawainya.


“Kau ingin punya anak berapa?” tanya Mark menatap Axel


Axel memikirkan pertanyaan itu dengan serius sebelum menjawabnya “Mungkin enam atau tujuh” celetuknya.


Bianca menoleh dan melotot ke arah suaminya itu, ia sama sekali tidak menyangka jika suaminya akan menjawab sembarang seperti itu padahal sebelumnya ia memikirkan serius pertanyaan itu. Apa pria itu serius? Astaga, yang benar saja memangnya melahirkan semudah itu.


Axel tertawa ketika melihat ekspresi wajah istrinya yang terkejut seperti itu, pria itu menaikkan sebelah alisnya lalu menyeringai menatap istrinya “Itu benarkan sayang?” tanyanya.


“Wah, dasar bajingan gila” cibir Brandon pada Axel


Gelak tawa kembali terdengar bahkan ruang tamu itu menjadi ramai dan suasananya menjadi hidup ketika mereka berbincang-bincang seperti ini. Perbincangan mereka terus berlanjut membicarakan berbagai hal yang menyenangkan untuk mengisi waktu yang membosankan ini.


Kini semua terasa semakin nyata karena tidak ada yang terjadi lagi saat mereka sedang berkumpul seperti ini bahkan saat mereka bersama seperti ini hanya ada kebahagiaan, tidak ada lagi ketegangan atau pun yang tersakiti kini semuanya akan baik-baik saja sekarang begitu juga ke depannya.


Setelah sahabat-sahabat Axel itu pulang ke rumah masing-masing, sebelum tidur Axel benar-benar menepati perkataannya. Mereka melakukannya lagi dan lagi dengan harap agar benihnya segera membentuk di dalam sana.

__ADS_1


__ADS_2