Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.75 Jangan-jangan...


__ADS_3

“Nona, ini dokumen yang Anda minta tempo hari”


Wanita itu mengambil amplop coklat besar itu lalu menyuruh orang itu pergi dari apartemennya, ia membuka amplop itu lalu melihatnya dengan serius seketika wajahnya memerah akibat menahan amarahnya.


“Argh... Sialan!” pekiknya.


Dengan gerakan cepat ia merobek kertas itu di sana tertulis bagaimana perkembangan perusahaan yang sangat ingin ia hancurkan itu namun sayangnya perusahaan itu justru berkembang semakin pesat. Hatinya terasa sakit, dadanya menjadi semakin sesak, dan matanya menjadi menggelap karena rasa sakit, amarah, dan dendamnya bercampur menjadi satu.


“Kau lihat saja nanti, ini bukan akhir! Kebahagiaanmu dan keluargamu itu tidak akan bertahan lama karena aku akan pastikan kau akan membayarnya! Aku akan segera menghancurkanmu!!" ucap wanita itu penuh dendam


...****************...


Bianca kini tengah menatap suaminya dengan tatapan memelas setelah kembali bersama pria di hadapannya ini melarangnya untuk kembali bekerja di butik dengan alasan ia mampu menghidupinya, ia tidak akan kehabisan uangnya jika harus memiliki istri yang hanya diam di rumah saja. Tapi masalahnya saat ini bukan itu, ia merasa sangat bosan jika harus terus di rumah seperti ini ia ingin kembali mengurus butik milik ibunya itu dan alasannya menyelesaikan studinya dengan giat adalah untuk itu.


“Sayang” panggilnya memelas


Axel melirik ke arahnya sembari menyesap kopinya “Hem, ada apa?” tanyanya.


Bianca menatap suaminya itu dengan tatapan ragu “I-itu, apa aku boleh kembali ke butik?” tanyanya dengan suara yang semakin pelan.


“Tidak”

__ADS_1


Bianca terkejut mendengar Axel yang menjawabnya dengan cepat “Kenapa? Apa kau tidak tau aku juga sangat bosan di rumah terus, tidak ada yang bisa kulakukan” keluhnya.


Axel menatap istrinya dengan lembut “Sayang, tetaplah di rumah saja. Kau bisa mengurus taman atau menggambar desain dari rumah jika kau ingin atau jika perlu aku akan membuatkanmu ruang kerja” ucapnya.


“Bukankah sudah kukatakan, aku bosan jika di rumah kenapa terus memintaku berdiam diri di rumah?” tanya Bianca perlahan mulai kesal.


“Banyak hal yang bisa kau lakukan di rumah, kau ingin melakukan apa katakan saja padaku” ucapnya belum sempat Bianca menjawabnya ia menjawab terlebih dahulu apa yang ingin di katakan istrinya itu “Kecuali itu, kau tidak boleh kembali ke butik” ucapnya kekeh.


“Ya, ya please.. hem?” ucapnya tetap memohon namun suaminya itu mengabaikan permohonannya itu.


Bianca mengernyitkan keningnya, bibirnya mengerut tak suka “Kenapa kau egois sekali? Memangnya kenapa jika aku kembali ke butik? Apa yang salah dengan itu? Aku tau kau bisa menghidupiku tapi aku juga bosan jika terus di rumah, aku kan sudah punya pekerjaan jadi apa salahnya jika aku ingin kembali bekerja?” ucapnya panjang lebar.


Axel bangkit dari duduknya lalu mendekati istrinya itu, ia mengecup singkat kening Bianca dan berlalu pergi mengabaikan permintaan istrinya.


Axel memejamkan matanya dan menghela nafasnya kasar lalu berbalik menatap istrinya yang berada beberapa langkah darinya, saat ia berbalik badan dengan otomatis langkah istrinya itu pun ikut terhenti.


“Jika aku bilang tidak, ya tidak. Mengerti kan?” ucap Axel dengan nada tegasnya.


Bianca tertegun melihat Axel seperti itu, apa harus mengatakannya dengan suara yang menyeramkan itu? Wajahnya seketika memerah tak tau kenapa tapi rasanya ia ingin menangis saat ini, dadanya terasa sesak.


Axel mengusap wajahnya gusar, ia tidak niat untuk bicara seperti itu hanya saja ia sedikit kesal karena Bianca tidak mendengarkannya dengan baik. Ia melangkahkan kakinya ingin mendekati Bianca namun ia urungkan karena istrinya itu keburu pergi dari hadapannya.

__ADS_1


“Astaga, Bianca” panggilnya sembari berkacak pinggang.


Axel menatap Bianca yang berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya, ia menghela nafasnya kasar. Mungkin dirinya terlihat seperti suami yang mengekang istrinya tapi ia melakukan ini semua demi Bianca juga, ia tidak ingin jika terjadi sesuatu yang buruk kepada istrinya itu. Dan bahkan sebelumnya ayahnya juga sempat mengingatkan untuk lebih memperhatikan istrinya karena di saat perusahaan berkembang pesat seperti ini takutnya para pesaing melakukan hal yang di luar dugaan mereka.


Axel melihat ke arah jam tangannya, ia sudah sangat terlambat dan memutuskan untuk langsung ke kantor saja dan tidak menyusul istrinya itu. Sebenarnya ia ingin menyusul istrinya itu tapi karena sudah sangat terlambat ia memutuskan untuk ke kantor saja meskipun dia bosnya tapi tetap saja ia harus memberi contoh yang baik untuk karyawannya dan ia harus tepat waktu.


Di sisi lain Bianca meringkuk di atas ranjangnya seperti bayi, ia terus menggerutu dan menangis. Entah kenapa ia selalu menjadi sangat emosional akhir-akhir ini bahkan ia juga tidak bisa mengontrolnya dengan baik.


Bianca menatap pintu kamarnya lama namun pintu itu tak juga kunjung di buka, ia menunggu suaminya itu berharap menyusulnya namun nihil.


“Hah, dasar aku membencimu! Brengsek! Jelek! Menyebalkan!” gerutunya tak henti-hentinya.


Bianca bangkit dari baringnya dengan cepat ia mengambil posisi duduk ketika tiba-tiba ia merasakan mual seakan sarapannya tadi akan keluar semua. Ia menutup rapat bibirnya, kepalanya terasa pusing, ia beranjak dari kasurnya saat rasa itu semakin memuncak dan tidak bisa di tahan lagi.


Bianca berlari menuju kamar mandi dengan cepat dan memuntahkan semua isi perutnya, ia menatap tidak suka ke arah muntahannya itu lalu membiarkannya mengalir dengan air. Ia mencuci mulutnya setelahnya ia pun membasuh wajahnya menyeluruh, ia tidak menyukai keadaannya ini.


Bianca meletakkan punggung tangannya di keningnya “Padahal aku tidak panas, dingin juga tidak. Aku juga tidak makan sebanyak itu” gumamnya kebingungan sembari menatap pantulan dirinya di kaca.


Bukan hanya mual dan pusing saja, perutnya juga terasa kram dan tulang pinggulnya terasa sedikit nyeri. Apa ini tanda-tanda datang bulan? Bianca menggelengkan kepalanya cepat, itu tidak mungkin karena hari ini bukan jadwalnya datang bulan.


Bianca menutup mulutnya tak percaya, ia melupakan sesuatu sekarang sudah tanggal dua puluhan dan jadwal datang bulannya seharusnya tanggal empat belas tapi ini sudah lewat seminggu.

__ADS_1


“Apa jangan-jangan...” ucap Bianca menggantungkan ucapannya saking kagetnya, ia tak percaya akhirnya mereka mendapatkannya.


__ADS_2