
Keesokan harinya Sheryl Lee datang pagi-pagi sekali, Bianca mengerutkan keningnya saat mengintip sedikit di jendela sebelum membuka pintu tersebut. Untuk apa wanita itu datang sepagi ini bukankah biasanya suaminya yang akan menjemput dia saat berangkat kerja?
“Wah terima kasih sudah membukakanku pintu, kau sudah cocok sekali jadi pelayan” ucap Sheryl menghina Bianca
Wanita ular itu masuk menyelonong setelah beberapa langkah ia menghentikan langkahnya dan memalingkan kepalanya sedikit “Oh ya, jika setelah bercerai kau tetap ingin tinggal di sini juga boleh. Kau bisa kok menjadi pelayan pribadiku” ucapnya.
Sheryl berlalu pergi masuk ke dalam. Bianca tidak menanggapi satu pun perkataan dari wanita itu, ia hanya diam dan tetap memasang wajah datar. Ia tidak ingin terbawa emosi apalagi menampilkan wajah sedihnya di depan wanita itu, ia tidak ingin wanita itu kalah.
Setelah duanya Bianca pun berjalan menuju dapur namun langkahnya terhenti saat di ruang makan melihat wanita ular itu menyuruh pelayan rumah ini untuk melayaninya sesuka hatinya bahkan ia juga memarahi mereka yang tidak mendengarkannya.
Bianca hendak ikut campur tapi bi Asih menahannya dan membawanya ke dapur. Bianca pun mencoba mengabaikan perilaku Sheryl dan memasak bersama bi Asih di dapur hingga akhirnya ia mendengar bentakan dari arah ruang makan yang letaknya tak jauh dari dapur.
“Hey, kau bisa cepat tidak?! Kenapa sih memperkerjakan orang tua lamban seperti itu” omelnya
Bianca mengepalkan erat tangannya saat ia hendak berbalik bi Asih lagi-lagi menahannya lalu menggelengkan kepalanya. Bianca tak tega melihat bi Asih yang terburu-buru menyiapkan makanannya dan saat hendak berbalik mengantarkan masakannya ke meja bi Asih tak sengaja justru menabrak bahu Sheryl yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
'prangg'
Piring itu terjatuh dan pecah membuat Bianca terpekik kaget, ia membalikkan tubuhnya dan melihat semua berserakan di lantai. Bianca dengan cepat berjongkok membantu bi Asih yang sedang membersihkan pecahan di lantai.
“Apa kau tidak bisa berhati-hati?!” bentak Sheryl
“Dasar bodoh! Kau berhenti saja bekerja, sudah tua bukannya tidur di rumah malah sok-sokan ingin bekerja”
Telinga Bianca yang mendengarnya terasa panas, ia geram lalu bangkit dan menatap tajam wanita itu. Siapa dirinya? Nyonya rumah saja bukan kenapa sesuka hati seperti itu memerintah orang lain. Bianca terperangah baru kali ini ia melihat selingkuhan yang tidak tahu malu seperti ini, bukankah seharusnya selingkuhan itu menyembunyikan diri karena malu?
Bianca tak dapat menahan tangannya yang dengan cepat bergerak menampar pipi Sheryl ‘Plaakkk’
“Kecilkan suaramu! Apa kau tidak bisa menghormati orang lain terlebih dia lebih tua darimu. Apa kau tidak pernah di ajarkan sopan santun?!” ucap Bianca balik membentak Sheryl.
__ADS_1
Sheryl menatap Bianca menyalang “Kau menamparku?” tanyanya marah
“Kau pantas mendapatkannya. Belajarlah menghormati yang lebih tua, kau pikir kau segalanya di sini?”
Sheryl geram “K-kau ja**ng, berhenti mengajariku!” pekiknya
Bi Asih panik dengan cepat ia menahan tangan Bianca “Nyonya sudah, lagi pula ini salah saya”
“Dia benar, itu salahnya karena tidak becus jadi pelayan. Jika tidak kau saja yang melayaniku!” ucapnya.
Bianca menatap tajam Sheryl dan tepat sekali kekasih wanita itu baru saja turun dari kamarnya dengan keadaan yang acak-acakan karena mendengar kegaduhan di rumahnya tanpa merapikan dirinya ia langsung turun ke bawah mengeceknya.
“Ada apa, kenapa ribut sekali?” tanya Axel datar.
Axel melangkahkan kakinya mendekat ke arah dapur ia melihat bahwa kekasihnya juga berada di sana, Sheryl yang mendengar suara Axel langsung berlari berhambur ke pelukannya. Sedangkan Bianca yang melihat itu hanya menghela nafasnya kasar, ini wanita itu untuk mengadu dan memelas ia hanya memandang remeh ke arah suaminya dan selingkuhannya itu.
“Honey, pipiku sakit sekali wanita itu menamparku dengan keras. Lihatlah pipiku jadi merah begini” rengek Sheryl menunjuk ke arah Bianca mengadukan perbuatan Bianca kepada Axel sesuai tebakan Bianca.
Bianca hanya memutar bola matanya malas ia sudah menyangkanya jika pria itu akan membela kekasihnya itu “Aku tidak asal melayangkan tanganku, aku hanya melakukannya ke orang yang pantas menerimanya”
Entah apa yang merasuki Bianca hari ini, ia terlihat jauh lebih berani daripada sebelum-sebelumnya. Jika terus seperti ini tidak ada satu pun yang berani menginjak-injaknya lagi, Bianca terlihat sangat keren hari ini.
“Jaga ucapanmu! Kau pikir kau siapa?” bentak Axel
Bianca memutar malas bola matanya, pria itu membentaknya “Kau saja tidak mengetahui apa yang terjadi, Tuan” ucap Bianca menekankan kata tuan.
“M-maaf tuan ini salahku, nyonya hanya membantuku saja” ucap bi Asih mencoba meleraikan majikannya itu.
Axel tidak menghiraukan ucapan bi Asih. Ia tetap melanjutkan apa yang ingin ia katakan, ia bahkan memerintahkan pelayan di rumah itu untuk melayani kekasihnya dengan benar. Bukan hanya sampai di situ pria gila itu bahkan membentak Bianca menyuruhnya untuk menghormati dan menuruti keinginan wanita ular itu.
__ADS_1
Sepertinya suaminya itu benar-benar sudah gila karena cinta “Ck. Kenapa aku harus melakukan itu”
“Kenapa kau tidak suka? Kau harus ingat, kau sangat tidak pantas ada di rumah ini” ucap Axel asal, entah kenapa ia merasa kesal dengan sikap Bianca hari ini yang terus membalas setiap perkataannya.
Perkataan Axel terlalu kasar meskipun hatinya sakit harus mendengar itu tapi ia tetap berusaha tegar ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan kedua sejoli itu. Terlebih di depan Axel ia tidak ingin lagi menunjukkan air matanya, pria itu selalu mempermainkannya karena dia lemah.
“Lalu kenapa kau tidak mengusirku? Dengan senang hati aku akan keluar dari penjara ini” bentak Bianca balik.
“Penjara katamu? Jika bukan karena statusmu kau pikir aku ingin membiarkanmu di sini”
Sheryl tersenyum penuh kemenangan ia menatap bangga ke arah Bianca sedangkan bi Asih dan pelayan lainnya panik bukan kepalang. Mereka bahkan tidak bisa ikut campur untuk meleraikan kedua majikannya itu.
“Sekarang kau boleh menyakitiku sepuas hatimu tapi suatu saat nanti kau akan tau betapa menjijikkannya kau”
Axel geram ia tidak menyukai perkataan Bianca itu seolah-olah mengutuknya “Lalu kau mau apa?! Kau ingin berpisah lalu mengambil hartaku? Apa dari awal ini tujuanmu? Setelah bosan berpura-pura baik sekarang menunjukkan belangmu?!”
Bianca sudah habis kesabarannya ia tak menyangka jika Axel memandang dirinya seperti itu, ini bukan pertama kalinya tapi ia sama sekali tidak habis pikir jika selama ini seperti itulah dirinya dimata Axel padahal setahunya pernikahan ini tidak dikarenakan perusahaan ayahnya yang bangkrut.
Karena sampai sekarang pun perusahaan ayahnya baik-baik saja sebelumnya pun ia tidak pernah mendengar ayahnya mengeluhkan perusahaannya. Lalu kenapa suaminya itu berpikir sebegitu buruk tentangnya?
“Silahkan saja! Urus saja perceraian itu secepatnya dan lebih naik aku berpisah denganmu dati pada aku harus menanggung sakit ini lebih lama lagi”
Bianca meninggalkan Axel yang terdiam setelah beberapa langkah ia menghentikan langkahnya lalu berbalik “Dan satu lagi, aku tidak tau kenapa kau berpikir seperti itu tapi aku sama sekali tidak menginginkan hartamu jadi. Aku hanya melakukan tugasku sebagai istrimu dan aku tidak perlu imbalan” ucap Bianca sedikit serak di akhir kalimat.
Axel terdiam, mulutnya bungkam saat mendengar perkataan Bianca ia sama sekali tidak menyangka jika istrinya itu akan mengatakan hal seperti itu. Aneh bukan? Seharusnya ia senang saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut Bianca jadi ia tidak perlu lagi ragu untuk melayangkan surat cerai tapi entah kenapa situasi seperti ini justru membingungkannya.
Bianca menutup cepat pintu kamarnya lalu berlari ke arah kasurnya. Ia menyelusupkan wajahnya ke bantal lalu menangis sejadi-jadinya, ia tidak menyangka kata-kata seperti itu keluar dari mulutnya. Seharusnya ia mempertahankan pernikahannya ini malah memberi kesempatan pada Axel untuk menceraikannya, dia sangat bodoh.
Bianca sama sekali tak menyangka kalau mulutnya ini akan membuat pernikahannya hancur tidak bisa di pertahankan lagi, sekarang ia hanya berserah kepada Tuhan menunggu jalan takdir pernikahannya. Ia hanya akan mengikuti alurnya saja sekarang atau nanti hasilnya tetap sama mereka akan berpisah juga.
__ADS_1
“Bereskan kekacauan ini” ucap Axel memerintah pelayannya yang menunduk ketakutan. Lalu ia berjalan kembali menuju kamarnya dengan Sheryl yang menunggunya di ruang keluarga.