Di Paksa Menikah

Di Paksa Menikah
Ep.92 Ayana Eden Kevlar


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu kondisi Bianca semakin membaik, setelah kejadian terakhir kondisinya tetap membaik dan kini sudah beberapa hari ia di pindahkan ke ruang inap. Axel menekan tombol di tepi ranjang untuk mengubah posisi kasurnya menjadi sedikit tegak agar istrinya itu bisa duduk bersandar dengan nyaman.


“Ah maaf, apa kau merasa tidak nyaman? Bagian mana yang sakit?” tanyanya cemas ketika mendengar istrinya itu meringis kesakitan.


Bianca melirik ke arah Axel dan tersenyum lembut "Tidak, perutku hanya sedikit nyeri" ucapnya


Axel menghela napasnya lega "Itu akibat operasimu, sayang" ucap Axel sembari mengecup kening Bianca dengan sayang


“Putriku?”


Axel tersenyum "Tenang saja, bayi kita sehat tapi masih dalam pengawasan dokter”


Bianca hendak menangis “Maafkan aku, seharusnya aku tidak keras kepala terus-terusan ingin ke butik” lirihnya


Axel menggelengkan kepalanya dan menangkup wajah Bianca "Tidak sayang, itu bukan salahmu jadi jangan mengatakan itu. Jika kau menyalahkan dirimu seperti itu maka di sini akulah yang paling bersalah dan anak kita nanti akan sedih jika mengetahui ibunya mengatakan hal itu”


Bianca memegang tangan Axel dan menggelengkan kepalanya, ia seperti ini juga bukan kesalahan suaminya itu “Aku ingin melihatnya”


"Baiklah mommy, tapi kau harus makan terlebih dahulu setelah itu kita melihatnya” ucap Axel


Bianca menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Axel, Bianca menelan bubur itu sembari tersenyum ke arah suaminya yang masih menyuapinya itu. Bianca menghabiskan buburnya dengan lahap dan setelah selesai Axel mengelap ujung bibir istrinya yang sedikit belepotan dengan jarinya.


Axel menarik tangan Bianca “Jangan seperti itu lagi, kau membuatku takut. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku apalagi dalam keadaan seperti itu”


Ia mengecup punggung tangan istrinya itu berkali-kali “Terima kasih juga karena sudah bangun, pasti itu sangat sulit bukan? Berjanjilah jangan pernah terbaring lama seperti itu lagi”


Bianca menganggukkan kepalanya lemah "Hem, tidak akan pernah" ucapnya mantap.

__ADS_1


Axel merengkuh Bianca dan menghirup aroma istri yang ia rindukannya itu, ia memejamkan matanya dan menikmati hal ini sebentar.


“Aku sangat mencintaimu” gumamnya sembari melepaskan pelukannya.


Tiba-tiba suster datang dan mendekat ke arahnya, "Nyonya Bianca, sudah masuk waktunya makan siang kami akan membantu Anda memompa ASI untuk putri Anda."


Bianca mengernyitkan dahinya "Apa aku tidak bisa menyusuinya secara langsung?


"Tidak untuk saat ini, Nyonya. Bayi Anda akan kesulitan mengisap dan menelannya”


“Apa karena anakku lahir prematur?”


Suster tersebut menganggukkan kepalanya "Anda tenang saja, Nyonya. Putri Anda tidak ada gangguan kesehatan dan kami masih melakukan perawatan intensif pada bayi Anda."


Bianca menghela nafasnya sedih “Tapi apa aku bisa menyentuhnya?"


Bianca tersenyum dan menganggukkan kepalanya "Tidak apa-apa, setidaknya aku bisa menyentuh putriku."


Setelah mendapatkan ASI, Bianca pergi ke arah ruang bayi untuk melihat putrinya. Ia tersenyum ketika Axel mendorong kursi rodanya di belakang.


Dokter itu membuka pakaian pasien Bianca dan menaruh bayinya tetap di dadanya, Bianca tersenyum ketika bayi itu tidur begitu tenang di dekapannya.


Mata Bianca berkaca-kaca, ia tidak pernah merasakan perasaan aneh yang memenuhi dadanya saat ini “Dia cantik sekali”


Axel merasakan keharuan yang teramat sangat dengan cepat menghapus air matanya yang hampir terjatuh itu dan menatap putrinya “Dia sangat cantik sepertimu” ucapnya.


Bianca tersenyum dan menggelengkan kepalanya “Dia sangat mirip denganmu”

__ADS_1


Dokter itu menyarankan Axel untuk melakukan hal yang seperti Bianca “Dia ringan sekali” ucapnya dengan suara yang bergetar.


Dokter tersebut tersenyum "Beratnya tiga kilogram, itu cukup berat untuk ukuran bayi prematur."


Axel melihat putrinya itu bergerak "Mungkin dia mengenali ayahnya" ucap dokter tersebut yang membuat mereka tersenyum.


Bianca menatap Axel "Kau ingin memberi namanya siapa?"


“Kau saja yang memberikan nama untuknya”


Axel berpikir sejenak "Hem kalau begitu... bagaimana dengan Ayana Eden Kevlar?” tanyanya pada Bianca


“Bunga yang cantik di taman Eden” ucapnya lagi menjelaskan arti nama anaknya.


Bianca tersenyum dan menganggukkan kepalanya setuju entah kenapa nama itu sangat cocok untuk putri mereka itu "Aku menyukainya”


Mereka tidak bisa berlama-lama menghabiskan waktu bersama putri kecil mereka yang cantik itu, dokter tersebut kembali mengambil bayi itu dan menaruhnya di dalam inkubator guna terhindar dari infeksi.


Bianca tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca “Sekarang keluarga kecil kita sudah lengkap” ucapnya


Axel berjongkok di hadapan Bianca "Terima kasih sudah menyempurnakan hidupku dengan kehadiran buah hati kita, aku akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu. Aku berjanji ke depannya tidak akan ada kejadian seperti itu lagi”


Axel mengecup punggung tangan Bianca "Kita akan membesarkannya bersama-sama, hem?"


Bianca menganggukkan kepalanya dan menghapus air matanya, ia memeluk Axel dengan erat dan menumpahkan seluruh perasaannya pada Axel.


“Aku sangat mencintaimu, sayang”

__ADS_1


Bianca menganggukkan kepalanya ia tahu itu dan ia sudah merasakan banyak cinta dari suaminya “Aku juga sangat-sangat mencintaimu”


__ADS_2